Manajemen Lalu Lintas/Prinsip transportasi yang berkelanjutan

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Keberlanjutan merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam rangka menyambut masa depan yang lebih baik untuk generasi yang akan datang, jangan generasi kita menghabiskan semua sumber daya yang ada dan tidak menyisakan untuk anak cucu kita.

Isue penting dalam transportasi berkelanjutan[sunting]

Beberapa isue penting yang menjadi dasar dalam menciptakan transportasi berkelanjutan[1] [2], yaitu:

Aksesibilitas bukan mobilitas[sunting]

Bahwa yang perlu disediakan adalah bagaimana menciptakan aksesibilitas khususnya terhadap aksesibilitas terhadap penggunaan angkutan umum, bukan terhadap pengguna angkutan pribadi. Dengan demikian akan mendorong pengguna kendaraan pribadi untuk menggunakan angkutan umum dengan langkah-langkah membatasi akses terhadap parkir kendaraan pribadi.

Transportasi orang bukan kendaraan pribadi[sunting]

Salah satu prinsip penting yang perlu didorong adalah bagaimana kebijakan harus diarahkan untuk menciptakan keberpihakan terhadap pelayanan angkutan orang yang menggunakan angkutan umum dan kebijakan yang tidak mendukung penggunaan kendaraan pribadi dan menyulitkan masyarakat untuk menggunakan kendaraan pribadi. selain itu efisiensi dan effektifitas penggunaan waktu perjalanan yang lebih cepat saat ini juga menjadi isu penting untuk menjadikan public transportation (trasportasi publik) menjadi alasan pokok dalam menjadikan angkutan publik sebagai moda transportasi utama. sebagaimana yang sudah diterapkan di Jepang. kereta api menjadi transportasi utama. tidak ada alasan lain kenapa masyarakat lebih memilih kerta api selain alasa efisiensi waktu, dengan kereta api mereka dapat berpindah dari satu pulau ke pulau yang lain dalam waktu singkat, berbeda jika mereka naik kendaraan pribadi.

Manfaatkan lahan untuk kepentingan umum[sunting]

Lahan perkotaan sebaiknya digunakan seluas-luasnya untuk kepentingan masyarakat bukan untuk jalan bagi kendaraan pribadi, ataupun untuk tempat parkir, tetapi lebih banyak digunakan untuk tempat berjalan kaki, membangun kawasan pejalan kaki, bersepeda ataupun tempat bermain untuk anak-anak yang lebih ramah terhadap lingkungan serta bisa menurunkan angka kecelakaan secara nyata.

Hentikan subsidi untuk kendaraan pribadi[sunting]

Subsidi untuk kendaraan pribadi sangatlah besar, khususnya subsidi yang diberikan pemerintah untuk bahan bakar, untuk pembangunan infrastruktur jalan, membangun tempat parkir maupun prasarana lain untuk mendukung penggunaan kendaraan pribadi yang tidak efisien. Subsidi ini sebaiknya malah dialokasikan untuk membangun angkutan umum dan mendukung operasional angkutan umum yang lebih efisien dalam penggunaan ruang, penggunaan bahan bakar dan sumber daya lainnya.

Dampak ekonomi transport yang berkesinambungan[sunting]

Ada berbagai dampak ekonomi yang ditimbulkan dengan dikembangkannya sistem transportasi yang berkelanjutan, yaitu:

  1. Membuka peluang bisnis baru, termasuk bisnis angkutan umum baru, warung, restoran, dan pertokoaan akan mendapatkan pelanggan yang lebih banyak karena tingkat kepadatan yang tinggi.
  2. Menurunkan biaya transportasi,
  3. Meningkatkan produktivitas tenaga kerja karena waktu yang hilang di perjalanan dapat berkurang, termasuk juga berkurangnya stress yang timbul selama perjalanan dan ditambah lagi masyarakat berjalan kaki lebih jauh yang akan menurunkan biaya kesehatan.
  4. Menurunkan biaya untuk pembangunan dan perawatan infrastruktur.
  5. Biaya untuk pelayanan masyarakat yang lebih rendah, seperti untuk patroli polisi bersepeda, pengumpulan sampah yang lebih gampang, penyediaan air bersih yang lebih mudah.

Strategi penerapan transportasi berkelanjutan[sunting]

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menuju transportasi berkelanjutan[3] yaitu:

Mengurangi kemacetan[sunting]

Mengurangi kemacetan dapat ditempuh dengan:

  • Informasi transportasi dan manajement
  • Managemen mobilitas
  • Pembatasan akses
  • Promosi angkutan umum
  • Distribusi barang dan logistic
  • Manajemen parkir
  • Road pricing

Menurunkan penggunaan enerji dan emisi gas buang[sunting]

Menurunkan penggunaan enerji dan emisi gas buang dapat ditempuh dengan:

  • Manajemen mobilitas
  • Promosi penggunaan sepeda dan kendaraan tidak bermotor
  • Kekantor bareng yang di negara-negara maju dikenal sebagai Car pooling,
  • Bahan bakar yang bersih dan berwawasan lingkungan seperti penggunaan bahan bakar nabati, bahan bakar gas, kendaraan listrik serta kendaraan yg bersih lainnya seperti hibrida.
  • Promosi angkutan umum yang lebih gencar agar pemakai kendaraan pribadi mau beralih ke angkutan umum.
  • Penerapan retribusi pengendalian lalu lintas serta berbagai kebijakan tarif dan fiskal lainnya.

Penurunan emisi local dan peningkatan kualitas hidup dipusat kota[sunting]

Penurunan emisi local dan peningkatan kualitas hidup dipusat kota dapat ditempuh dengan:

  • Pembatasan akses
  • Distribusi barang dan logistic
  • Manajemen parkir

Peningkatan efisiensi transportasi[sunting]

Peningkatan efisiensi transportasi dapat ditempuh dengan:

  • Integrasi angkutan multi modal
  • Manajemen mobilitas
  • Promosi penggunaan sepeda
  • Bareng kekantor
  • Pembatasan akses
  • Promosi penggunaan angkutan umum
  • Road pricing

Meningkatan daya saing angkutan umum terhadap kendaraan pribadi[sunting]

Meningkatan daya saing angkutan umum terhadap kendaraan pribadi dapat ditempuh dengan:

  • Sistem informasi transportasi
  • Integrasi angkutan multi moda
  • Manajemen mobilitas
  • Bareng kekantor
  • Pembatasan akses
  • Promosi penggunaan angkutan umum
  • Road pricing

Kurangi tekanan parkir[sunting]

Kurangi tekanan parkir dapat ditempuh dengan:

  • Dorong penggunaan sepeda
  • Bareng kekantor
  • Manajemen mobilitas
  • Manajemen parkir


Referensi[sunting]

  1. Key issues in Sustainable Transportation [1]
  2. Todd Litman, Sustainable Transport:A Sourcebook for Policy-makers in Developing Cities Module 2b: Mobility Management, Deutsche Gesellschaft fürTechnische Zusammenarbeit (GTZ) GmbH
  3. Commission of the European Community,Green Paper on urban mobility: Towards a new culture for urban mobility, Brussel 2007