Mitologi Yunani/Dewa Olimpus/Artemis

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Dewi Artemis.

Artemis adalah dewi hewan liar, alam liar, dan kelahiran. Artemis adalah putri Zeus dan Titan Leto, keturunan Titan Koios dan Foibe. Artemis adalah saudari kembar Apollo. Artemis merupakan dewi yang perawan.

Artemis juga adalah dewi perburuan dan pengejaran. Artemis sering berburu bersama saudaranya. Dia membawa busur perak buatan para Kiklops. Namun tangkai panahnya dibuat dari emas. Para gadis dan nimfa hutan seringkali ikut menemani dalam perburuannya.

Para gadis pengikut Artemis berusaha untuk tetap perawan seperti dewi yang mereka sembah. Akan tetapi, banyak dewa, khususnya Zeus, yang sering memperkosa para gadis pengikut Artemis.

Artemis bersama seekor rusa.

Artemis merupakan pelindung hewan muda. Dia akan membunuh siapapun yang berani membunuh hewan yang sedang hamil ataupun yang masih anak-anak.

Artemis mengendarai kereta perang emasnya dari Smyrna ke Klaros, untuk menemui saudaranya sebelum mulai berburu, sementara kuda-kudanya dibiarkan minum di Meles. Artemis juga adalah pelindung semua hewan liar di hutan, namun rusa, beruang, anjing, dan babi hutan adalah hewan kesukaannya. Artemis seringkali disebut Nyonya Hewan Buas. Pohon keramatnya adalah salam, sama seperti saudaranya.

Artemis juga adalah dewi kelahiran. Ketika Leto sedang hamil anak kembarnya, Eileithyia, sang dewi kelahiran, dilarang oleh Hera membantunya sebab kecemburuannya terhadap Leto yang telah hamil dari suaminya, Zeus. Akibatnya, Leto mengalami rasa sakit dan penderitaan yang luar biasa ketika melahirkan Artemis di pulau Ortygia. Leto terus menderita rasa sakit selama sembilan hari setelah itu di pulau Delos, hingga akhirnya Artemis membantunya melahirkan adik kembarnya, Apollo.


Panah Artemis memberikan kematian yang cepat namun menyakitkan bagi wanita muda. Panah Apollo juga melakukan hal yang sama kepada pria muda. Ketika Niobe menyombong bahwa dia melahirkan tujuh putra kuat dan tujuh putri cantik, lebih banyak daripada Leto, Artemis membunuh semua anak perempuan Niobe, sedangkan Apollo membunuh semua anak lelakinya.

Artemis melindungi keperawanannya dengan kekejaman mendadak. Artemis bisa menjadi dewi yang sangat pemarah. Ketika Aktaion, cucu Kadmos, secara tak sengaja melihatnya sedang mandi, Artemis mengubahnya menjadi seekor rusa. Aktaion kemudian mati dikoyak-koyak oleh anjing-anjingnya sendiri.

Artemis terlibat dalam kematian dua orang raksasa, Otis dan Ephialtes. Ketika itu mereka mengejarnya di dalam hutan. Artemis lalu memperdayai mereka supaya saling membunuh dengan tombak mereka.

Ketika Oineus, raja Kalidon, lupa berkurban untuknya, Artemis menghukumnya dengan mengirim seekor babi hutan raksasa untuk menyerang daerah pedesaan Kalidon. Babi Kalidon kemudian diburu oleh para pahlawan Yunani dalam Perburuan Babi Kalidonia.

Kadang-kadang hukuman ini belumlah cukup, jadi sang dewi bahkan meminta kurban yang lebih besar. Dia kadangkala tak puas jika belum ada manusia yang dikurbankan.

Jadi ketika Agamemnon lupa berkurban untuknya, Artemis mengirim angin kencang untuk mencegah armada Yunani keluar dari pelabuhan di Aulis menuju Troya. Artemis hanya mau melepas halangan itu jika Agamemnon mengurbankan putrinya (Iphigeneia). Dalam beberapa versi, Artemis memindahkan Iphigeneia ke Tauris, dan mengganti pengurbanannya dengan seekor rusa. Dalam cerita yang kemungkinan lebih asli, Iphigeneia mati dikurbankan di Aulis. Terlepas dari versinya yang beragam, Agamemnon kehilangan putrinya akibat Artemis dan armada Yunani pun dapat berlayar ke Troya. Menurut Euripides, Iphigeneia bertugas sebagai pendeta di kuil Artemis di Tauris, di sana dia harus melaksanakan ritual kurban manusia, dan yang dikurbankan adalah orang asing yang datang ke Tauris. Praktik ini dilakukannya hingga saudaranya datang menyelamatkannya.

Jadi bisa dilihat dari kultus Artemis yang mengharuskan kurban manusia bahwa Artemis merupakan seorang dewi yang haus darah. Dari semua dewa di Olimpus, selain Artemis hanya ada satu dewa lainnya yang menyukai kurban manusia, yaitu Ares, dewa perang.

Artemis nampaknya adalah dewi para nimfa, karena banyak pengikutnya yang ikut berburu bersamanya, khususnya para nimfa hutan dan nimfa gunung. Mereka seringkali merupakan kawannya, kapanpun sang dewi ingin berburu. Berdasarkan Himne Kallimakhos untuk Artemis, Artemis muda mengumpulkan enam puluh putri Okeanos dan Tethis, dan dua puluh nimfa Amisos, sebuah sungai di Kreta, sebagai kawan dan pengikutnya. Semua Okeanid itu berusia sembilan tahun.

Para nimfa ini seringkali berusaha meniru Artemis - menikmati perburuan bersama nyonya mereka dan berupaya untuk tetap menjadi perawan.

Akan tetapi, banyak nimfa yang tidak berhasil menjaga keperawanan mereka seperti dewi pujaan mereka, karena para dewa seringkali dengan bernafsu memperkosa para nimfa itu. Sebagian besar nimfa tidak kuasa menghindari nafsu para dewa yang perkasa, namun Artemis hampir tidak pernah merasa kasihan terhadap permasalahan para nimfa itu. Kallisto pernah menjadi salah satu kawan favorit Artemis, hingga suatu hari Zeus memperkosanya. Menurut beberapa sumber, setelah itu Artemis kemungkinan mengusir Kallisto yang malang atau membunuh bekas kawannya itu.

Artemis sebagai dewi bulan mengendarai kereta perangnya.

Ketika Artemis masih muda, dia menemukan segerombolan rusa di perbukitan Parrhasia, di dekat bantaran Anauros yang berkerikil hitam. Ada lima ekor rusa di sana, mereka lebih besar daripada banteng dan tanduknya berupa emas. Artemis berhasil menangkap empat di antaranya, yang kemudian dia gunakan untuk menarik kereta perangnya. Sementara rusa kelima kabur ke bukit Kerinitia, dan kemudian dikenal sebagai Rusa Kerinitia. Hewan ini dikeramatkan untuk sang dewi. Herakles pernah menangkap rusa ini dalam rangka tugas ketiganya untuk raja Euristheus di Tiryns.

Berdasarkan penulis lainnya, Artemis memperoleh rusa-rusa itu dari nimfa Pleiad, Taygete, karena sang dewi telah membantunya.


Artemis adalah dewi bulan dan kadang-kadang disamakan dengan Selene dan Hekate, yang juga merupakan dewi bulan.

Artemis juga sering disamakan dengan dewa Britomartis ("Gadis Manis") dari Kreta, yang merupakan salah satu gadis kesukaan Artemis setiap kali sang dewi pergi berburu di Kreta. Minos, raja Kreta, bernafsu dan hendak memperkosa nimfa tersebut. Britomartis melompat ke laut, tempat para nelayan menemukannya dan menolongnya dengan menggunakan jaring mereka. Britomartis kemudian diubah menjadi seorang dewi oleh Artemis, dan namanya diganti menjadi Diktynna, yang bermakna "Wanita Jaring." Kebingungan muncul karena Artemis kadang-kadang disebut dengan julukan Artemis Diktynna, suatu julukan yang dia pakai dalam banyak kultusnya di Kreta. Mungkin Diktynna hanyalah nama lain dari Artemis, karena atribut mereka hampir sama persis.

Pada kenyataannya, Artemis menyerap aspek atau atribut dari beberapa dewi Minos. Selain Britomartis/Diktynna, ada pula dewi kelahiran Kreta, Eleuthia atau Eileithyia.

Dalam mitologi Romawi, Artemis dikenal sebagai Diana. Nama Artemis sendiri kemungkinan muncul pada Zaman Perunggu Akhir, yang mana nama A-TI-MI-TE ditemukan pada lembaran Linear B di Pylos. Julukannya antara lain Auge, Karyatis, Lucina (kelahiran, Romawi) dan Foibe (dewi bulan).

Artemis memegang busur.

Menurut banyak tradisi non-Yunani, Artemis bukanlah dewi perawan, melainkan seorang dewi ibu. Beberapa patungnya menggambarkan Artemis dengan lebih dari dua payudara, menunjukkan bahwa dia adalah dewi kesuburan dan seksualitas, seperti misalnya yang ada di Ephesos. Artemis kemungkinan berasal dari Asia, dan dia kadangkala dikaitkan dengan Kibele, dewi ibu Phrygia.

Artemis kadang-kadang digambarkan dengan busur di tangannya, ditemani oleh hewan liar. Artemis adalah nyonya kerajaan hewan. Dalam beberapa gambar, Artemis tampak memiliki sepasang sayap besar. Gambaran dewi bersayap memang sering muncul dalam seni arkaik.

Artemis kemungkinan dipengaruhi oleh Nyonya Hewan Liar dari kreta, yang merupakan dewi hewan liar dari Zaman perunggu. Nyonya Hewan Liar ini atau disebut Potnia theron kemungkinan berasal dari kerajaan-kerajaan di Timur Dekat. Potnia biasanya digambarkan telanjang. Seringkali dia ditampilkan sedang berdiri, ditemani oleh hewan liar, dan dalam penggambaran lainnya, sang dewi sedang memegang hewan di kedua tangannya, meskipun dewi ini biasanya digambarkan telanjang. Hewan yang menemani dewi ini beragam mulai dari rusa, singai, bahkan sampai hewan mitos seperti Griffin.

Jika Artemis diamati secara keseluruhan, maka akan ditemukan bahwa banyak fungsi dan perannya saling bertentangan. Artemis adalah dewi perawan, namun dia juga adalah dewi kelahiran dan kesuburan. Artemis adalah dewi perburuan namun dia juga merupakan pelindung hewan liar.

Menurut beberapa penulis kuno, Artemis adalah dewi suku Amazon. Suku ini menyembah Artemis dengan suatu tarian. Disebutkan bahwa merekalah menaruh patung sang dewi di kuilnya di Ephesos. Kuil itu sendiri disebut-sebut sebagai salah satu bangunan terbesar, serta dimasukkan ke dalam Tujuh Keajaiban Dunia Kuno.

Artemis sangat menyukai pegunungan dan hutan, namun ada juga banyak kota dimana dia merupakan pelindungnya. Kallimakhos menyebut Artemis sebagai Penjaga Jalanan dan Penjaga Pelabuhan. Tempat lainnya yang keramat bagi Artemis anta lain pulau Delos, di sana dia disembah bersama saudaranya; kota Gortyn, tempat dia biasanya disembah sejak Kreta Zaman Perunggu Pertengahan; Munykhia, pelabuhan di Athena.


Patung Artemis

Apollo memiliki saudari kembar bernama Artemis, yang juga sama-sama anak Zeus dan nimfa Leto. Artemis tak pernah menikah dan tak memiliki anak. Ia adalah dewa alam liar yang senang berburu. Sebagian orang menyamakan Artemis dengan bulan.

Artemis sudah disembah di Yunani sejak Zaman Perunggu Akhir. Kemungkinan Artemis datang ke Yunani beserta bangsa India-Eropa penyerbu pada Zaman Perunggu Awal sekitar 2000 SM, namun diduga pula bahwa Artemis memiliki banyak kesamaan dengan dewi Asia Barat, Nyonya Hewan Liar. Kemungkinan orang Yunani kuno mencampurkan gagasan mereka tentang Artemis dengan gagasan dari Asia Barat yang pernah mereka dengar.

Beberapa kisah tentang Artemis antara lain kisah Phaidra, kisah Niobe dan kisah Aktaion.