Moda Transportasi/Sistem Multi Moda

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Untuk mendorong angkutan multimoda perlu didukung dengan perangkat prasarana yang tepat. Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang mempunyai 17.508 pulau dengan luas daratan Indonesia adalah 1.922.570 km² dan luas perairannya yang jauh lebih besar lagi yaitu 3.257.483 km² dimana perairan laut Indonesia belum dimanfaatkan sebagai infrastruktur transportasi secara maksimal, masih banyak angkutan barang jarak jauh termasuk angkutan barang antar pulau yang menggunakan angkutan jalan raya, padahal kalau ditinjau dari sisi ilmu transportasi biaya angkut menggunakan laut merupakan pilihan yang paling murah bila mengangkut barang dalam jumlah dan jarak tertentu dibanding melalui kereta api ataupun jalan raya, dan ini menjadi lebih baik lagi bila menggunakan peti kemas.

Pendekatan yang digunakan[sunting]

Pendekatan yang digunakan dalam transportasi dalam pengembangan angkutan multi moda adalah :

  1. Mengoptimalkan jaringan infrastruktur yang ada untuk meningkatkan efisiensi sistem transportasi;
  2. Mengurangi perjalanan yang tidak perlu dengan membangun suatu sistem informasi angkutan barang;
  3. Menggeser muatan ke moda yang lebih efisien seperti kereta api dan moda angkutan laut;
  4. Pengembangan jalur utama dan hub atas dasar pendekatan keekonomian;
  5. Pengembangan sistem yang berwawasan lingkungan, dan berkeselamatan;
  6. Didukung dengan lingkungan kerja yang baik, tenaga profesional.

Peti Kemas[sunting]

Mark Levinson [1] dalam bukunya The Box mengatakan: the container made shipping cheap, and by doing so changed the shape of world economy atau kalau diterjemahkan bahwa penggunaan peti kemas mengakibatkan pengangkutan murah yang mengakibatkan perubahan ekonomi dunia. Pandangan ini juga harus dimanfaatkan di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan angkutan barang dalam peti kemas dalam negeri.

Keunggulan peti kemas dalam sistem transportasi adalah intermodalitasnya yang sangat baik, karena bisa diangkut melalui jalan, kereta api maupun laut, karena memiliki dimensi yang baku, berat maksimal yang baku pula sehingga overloading seperti yang sering terjadi dijalan raya bisa dihindari, tidak memerlukan gudang karena bisa ditumpuk (sampai 7 lapis peti kemas) di lapangan terbuka, waktu bongkar muat yang singkat. Ssehingga angkutan barang dengan peti kemas dapat diangkut dengan berbagai moda dalam rangkaian pelayanan dari pintu ke pintu. Ini pulalah yang mengakibatkan tren angkutan peti kemas domestik sudah menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun, di Pelindo III sebagai contoh mengalami pertumbuhan sebesar rata-rata 10,5 persen per tahun dalam 3 tahun belakangan ini. Tingginya pertumbuhan ini diakibatkan waktu yang lebih cepat serta biaya yang lebih rendah.

Peralihan ke peti kemas akan mendorong turunnya harga barang, seperti yang bisa kita saksikan terjadi di Maumere, NTB daerah yan g baru saja mengubah sebagian dari angkutan kargo umum (general cargo) ke angkutan peti kemas, hal ini menjadi perhatian para pedagang dan produsen barang untuk wilayah-wilayah lainnya yang mengharapkan kesiapan pelabuhan dalam menerima dan mengirim barang melalui peti kemas.

Ukuran peti kemas[sunting]

Untuk meningkatkan fleksibilitas peti kemas berbagai bentuk atau ragam peti kemas dikembangkan seperti barang umum, curah cair atau gas, curah kering, berpendingin, berventilasi, dan berbagai variasinya. Ukuran yang paling banyak digunakan adalah yang 20 kaki dan 40 kaki, tetapi sekarang juga digunakan peti kemas yang panjangnya 45 kaki. Di daerah terpencil digunakan peti kemas militer yang panjangnya hanya 10 kaki.

Ukuran peti kemas standar yang digunakan ditampilkan dalam tabel berikut:

Peti kemas 20 kaki Peti kemas 40 kaki Peti kemas 45 kaki
inggris metrik inggris metrik inggris metrik
dimensi luar panjang 19' 10½" 6.058 m 40′ 0″ 12.192 m 45′ 0″ 13.716 m
lebar 8′ 0″ 2.438 m 8′ 0″ 2.438 m 8′ 0″ 2.438 m
tinggi 8′ 6″ 2.591 m 8′ 6″ 2.591 m 9′ 6″ 2.896 m
dimensi dalam panjang 18′ 10 5/16" 5.758 m 39′ 5 45/64 12.032 m 44′ 4″ 13.556 m
lebar 7′ 8 19/32 2.352 m 7′ 8 19/32 2.352 m 7′ 8 19/32 2.352 m
tinggi 7′ 9 57/64 2.385 m 7′ 9 57/64 2.385 m 8′ 9 15/16 2.698 m
bukaan pintu width 7′ 8 ⅛″ 2.343 m 7′ 8 ⅛″ 2.343 m 7′ 8 ⅛″ 2.343 m
tinggi 7′ 5 ¾″ 2.280 m 7′ 5 ¾″ 2.280 m 8′ 5 49/64 2.585 m
volume 1,169 ft³ 33.1 m³ 2,385 ft³ 67.5 m³ 3,040 ft³ 86.1 m³
berat kotor 52,910 lb 24,000 kg 67,200 lb 30,480 kg 67,200 lb 30,480 kg
berat kosong 4,850 lb 2,200 kg 8,380 lb 3,800 kg 10,580 lb 4,800 kg
muatan bersih 48,060 lb 21,800 kg 58,820 lb 26,680 kg 56,620 lb 25,680 kg

Berat[sunting]

Berat maksimum peti kemas muatan kering 20 kaki adalah 24,000 kg, dan untuk 40 kaki (termasuk high cube container), adalah 30,480 kg. Sehingga berat muatan bersih/payload yang bisa diangkut adalah 21,800 kg untuk 20 kaki, 26,680 kg untuk 40 kaki.

Jenis Peti Kemas[sunting]

Kereta api yang sedang menarik peti kemas tangki 20 kaki yang berdampingan dengan petikemas barang umum

Berbagai variasi bentuk peti kemas digunakan untuk barang-barang yang spesifik namun menggunakan ukuran yang standar untuk mempermudah handling dan perpindahan moda angkutan.

Jenis peti kemas

  • Peti kemas barang umum untuk diisi kotak-kotak, karung, drum, palet dls, jenis yang paling banyak digunakan
  • Peti kemas tabung gas
  • Peti kemas tangki untuk curah cair
  • Peti kemas berventilasi untuk barang organik yang membutuhkan ventilasi
  • Peti kemas Generator
  • Peti kemas berpendingin
  • Peti kemas terbuka untuk pengakutan barang curah
  • Peti kemas yang diperlengkapi dengan isolasi
  • Peti kemas dengan pintu disamping
  • Collapsible ISO

Jenis peti kemas Tabung gas, tangki, generator biasanya tidak dilengkapi dengan dinding samping, depan belakang dan atas.

Prasarana pemadu moda[sunting]

Salah satu kelemahan dari moda angkutan perairan adalah tidak bisa dilaksanakan untuk angkutan dari pintu ke pintu sehingga harus diintegrasikan dengan moda lainnya untuk menjadi lebih fleksibel.

Terminal petikemas[sunting]

Terminal peti kemas adalah terminal dimana dilakukan pengumpulan peti kemas dari hinterland ataupun pelabuhan lainnya untuk selanjutnya diangkut ke tempat tujuan ataupun terminal peti kemas (Unit Terminal Container disingkat secara umum "UTC") yang lebih besar lagi.

Aktivitas di terminal peti kemas

Terminal Peti Kemas Terdiri:

  • Dermaga untuk sandar.
  • Lapangan penumpukan
  • Kran dan perangkat untuk memindahkan petikemas

Terminal peti kemas yang berkembang dengan pesat dalam beberapa tahun belakangan ini adalah Terminal peti kemas JICT, KOJA di Jakarta,Bojonegara di Cilegon, TPS di Surabaya, TPK Semarang, TPK Belawan, dan TPK Palaran di Samarinda.

Ro-Ro[sunting]

Pelaksanaan multimoda pada awalnya terkendala dengan pemindahan muatan dari moda yang satu dengan moda lainnya yang membutuhkan waktu bongkar muat yang lama, keadaan ini berubah dengan berkembangnya tehnologi kapal Ro-ro. Kapal Ro-ro pada awalnya dikembangkan oleh angkatan perang untuk memobilisasi kendaraan perang dengan menggunakan Landing Craft Tank (LCT).

Konsep ini yang kemudian dikembangkan untuk angkutan kendaraan yang menggelinding masuk dan menggelinding keluar dari kapal. Untuk mempermudah kendaraan measuk dan keluar kapal maka kapal diberi jembatan (moveble bridge) yang menghubungkan kapal ke dermaga. Sistem ini sangat menguntungkan untuk perjalanan pendek, sedang untuk perjalanan panjang, masalah yang ditemukan adalah pemanfaatan ruang kapal tidak optimal karena seluruh mobil yang tidak perlu diangkut ikut dibawa dalam kapal sehingga kemudian langkah yang dikembangkan untuk perjalanan jarak jauh adalah dengan tidak membawa head trucknya, sehingga kapal hanya membawa trailer beserta muatannya.

Peti kemas[sunting]

Perkembangan yang kemudian berkembang adalah untuk perjalanan jarak jauh yang lebih efisien dalam penggunaan ruang kapal adalah Peti kemas / Container.

Bab8.3.jpg

Peralatan bongkar muat peti kemas[sunting]

Perangkat bongkar muat peti kemas tergantung kepada berapa besar pergerakan peti kemas, pada saat arus masih kecil cukup digunakan kran/crane sederhana, dan semakin tinggi arus peti kemas harus digunakan perangkat dengan kapasitas lebih tinggi. Berikut ditunjukkan jenis-jenis pemindah peti kemas yang biasa digunakan di terminal peti kemas.

  • Kran peti kemas dalam bahasa Inggris disebut Container Crane atau Portainer adalah kran yang digunakan untuk membongkar atau memuat peti kemas dari dan ke dermaga ke kapal peti kemas atau memindahkan peti kemas dari satu tempat ketempat lain di dalam terminal peti kemas.
Peti kemas yang diangkat, dipindah adalah peti kemas ISO yang berukuran panjang 20, 40 dan 45 kaki yang dari truk chasis bergerak dibawah kran, kemudian diangkat keatas dan kemudian ke kapal dan sebaliknya. Kran bergerak diatas rel, sehingga posisi kran hanya bisa bergerak menelusuri dermaga.
  • Rubber Tyred Gantry crane (derek RTG) adalah gantry mobile crane digunakan untuk penumpukan peti kemas dalam lapangan penumpukan terminal peti kemas. RTGS digunakan pada terminal peti kemas dan lapangan wadah penyimpanan yang bergerak mengangkangkan diatas jalur rel / jalan dan penyimpanan kontainer, atau ketika kepadatan maksimum penyimpanan dalam tumpukan peti kemas yang diinginkan.
  • Reach stacker merupakan perangkat untuk memindahkan petikemas ke tuk ataupun untuk memindahpan petikemas dilapangan penumpukan peti kemas. Reach stacker berbentuk dan bekerja seperti forklift.
  • Forklift peti kemas merupakan forklift yang digunakan untuk memindahkan peti kemas dilapangan penumpukan atau di gudang/pabrik.
  • Mobil kran merupakan kran yang bisa berpindah, digunakan untuk memindahkan peti kemas di pelabuhan kecil atau di gudang/pabrik.
  • Truk doli adalah truk yang dipergunakan di pelabuhan/terminal peti kemas untuk memindahkan peti kemas dari dan ke lapangan penumpukan ke Krane untuk dinaikkan atau diturunkan kekapal. Sangat efisien karena dapat menarik dan memindahkan sekaligus 4 peti kemas standar (20ft) atau 2 peti kemas 40 kaki.

e-freight[sunting]

Dalam mempercepat proses angkutan barang khususnya yang terkait dengan dokumentasi dari barang yang diangkut maka dalam dekade belakangan ini dikembangkan aliran dukumen tanpa kertas (paperless document). Sehingga menjadi kerangka yang tepat untuk memungkinkan pelacakan barang secara real time, dan terbentuk suatu sistem transportasi angkutan bersih[2]:

  • Masukan dalam pengembangan konsep single window dan administrasi satu atap; dengan menciptakan dan menjalankan dokumen angkutan tunggal dalam bentuk elektronik (waybill elektronik), dan menciptakan kerangka kerja yang tepat untuk penyebaran pelacakan dan tehnologi pelacakan.
  • Mermastikan rezim multi moda dalam rangka memanfaatkan moda kereta api, air, dan transportasi jalan yang merupakan moda kombinasi yang umum digunakan pada saat barang harus dipindahkan melalui laut dari satu daerah/kawasan/negara ke daerah/kawasan/negara lain.

Indonesian National Single Window[sunting]

Diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2008[3], yaitu Sistem nasional Indonesia yang memungkinkan dilakukannya suatu penyampaian data dan informasi secara tunggal (single submission of data and information), pemrosesan data dan informasi secara tunggal dan sinkron (single and synchronous processing of data and information), dan pembuatan keputusan secara tunggal untuk pemberian izin kepabeanan dan pengeluaran barang (single decision making for customs clearance and release of cargoes).

Portal INSW adalah sistem yang akan melakukan integrasi informasi berkaitan dengan proses penanganan dokumen kepabeanan dan pengeluaran barang, yang menjamin keamanan data dan informasi serta memadukan alur dan proses informasi antar sistem internal secara otomatis, yang meliputi sistem kepabeanan, perizinan, kepelabuhanan/kebandarudaraan, dan sistem lain yang terkait engan proses penanganan dokumen kepabeanan dan pengeluaran barang. Situs resmi dari Indonesian National Single Window dapat di akses pada alamat http://www.insw.go.id/index.jsp.

ASEAN Single Window (ASW)[sunting]

ASEAN Single Window (ASW) adalah suatu environment dimana sistem NSW dari negara anggota ASEAN dioperasikan dan di-integrasikan, sehingga mampu meningkatkan kinerja penanganan atas lalulintas barang antar negara Anggota ASEAN, utk mendorong percepatan proses customs clearance dan cargo release.

Referensi[sunting]

  1. "Levinson, The Box, How the Shipping Container Made the World Smaller and the World Economy Bigger, Princeton University Press, New Jersey, 2006."
  2. e-FREIGHT is an Integrated project within the EU's 7th Framework programme [1]
  3. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Penggunaan Sistem Elektronik Dalam Kerangka Indonesia National Single Window