Rekayasa Lalu Lintas/Survai lalu lintas

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Untuk mendapatkan informasi mengenai karakteristik lalu lintas maka diperlukan untuk mendapatkan berbagai informasi mengenai prasarana, lalu lintas yang bergerak diatasnya serta perilaku pengguna. Informasi tersebut dianalisis untuk memperoleh unjuk kerja lalu lintas, bila unjuk kerja berada dibawah standar pelayanan minimal, selanjutnya diusulkan perubahan geometrik atau pengaturan penggunaan ruang jalan.

Pada bab ini akan diuraikan jenis-jenis survai yang diperlukan, informasi yang dikumpulkan dalam survai, merumuskan formulir survai, tata cara melakukan survai, serta pengolahan dan penyajian hasil survai yang dilakukan dalam rangka memperbaiki unjuk kerja lalu lintas.

Survei inventarisasi prasarana jalan[sunting]

Merupakan survei untuk mengumpulkan data mengenai dimensi dan geometrik jalan, terdiri dari antara lain:

  • panjang ruas jalan;
  • lebar jalan;
  • jumlah lajur lalu lintas;
  • lebar bahu jalan;
  • lebar median;
  • lebar trotoar;
  • lebar drainase,
  • alinyemen horisontal;
  • alinyemen vertikal.

Bagian potongan melintang jalan ditunjukkan dalam gambar berikut:

Bagianjalan.jpg

Survei arus lalu lintas[sunting]

Untuk mendapatkan informasi besaran arus lalu lintas perlu dilakukan survei untuk mendapatkan data yang representatif mengenai besaran arus lalu lintas. Besaran arus lalu lintas dipengaruhi oleh waktu, musim (musim hujan atau musim kemarau ataupun musim hari-hari besar keagamaan), hari pelaksanaan survei(hari pasar), pusat kegiatan, perumahan ataupun pada daerah wisata dan berbagai faktor lainnya; jenis kendaraan yang berlalu lintas (klasifikasi kendaraan);

Informasi yang dikumpulkan[sunting]

Informasi yang dikumpulkan meliputi:

  • Arus pada ruas
  • Pergerakan dipersimpangan
  • Arus lalu lintas
  • Komposisi kendaraan
  • Volume jam puncak (VJP)
  • Lalu lintas Harian Rata-rata (LHR)
Pengukur arus lalu lintas pneumatis

Metoda pelaksanaan survei[sunting]

Ada dua metode yang biasanya digunakan untuk melakukan survey, yaitu

  1. Survei manual dengan menggunakan tenaga surveyor untuk menghitung arus lalu lintas yang melalui suatu potong jalan, survey ini membutuhkan biaya tenaga kerja yang besar, tapi dapat dilakukan dengan mudah. Permasalahan yang ditemukan dengan survai yang dilakukan secara manual adalah keakuratan dari hasil survai yang sangat tergantung kepada motivasi surveyor yang melakukan survai.
  2. Survei mekanis/elektronis, merupakan survai yang mempergunakan peralatan mekanis ataupun elektronis untuk mengukur jumlah kendaraan yang melewati suatu potong jalan ataupun kawasan di persimpangan. Peralatan survai yang digunakan berupa:
    1. Tabung pneumatik, merupakan perangkat mekanis pengukur arus lalu lintas dengan menempatkan suatu pipa pneumatik ditempatkan memotong jalan, pengukuran dilakukan bila roda kendaraan yang menginjak tabung yang kemudian direkam,
    2. Loop induksi, merupakan perangkat elektronis yang bekerja atas dasar induksi dari mesin mobil pada saat melewati loop. Loop ditanam dibawah permukaan jalan,
    3. Gelombang infra merah/ultra sonik, merupakan perangkat elektronis yang bekerja dengan memancarkan gelombang infra merah ataupun ultrasonik ke kendaraan yang lewat. Dengan metode ini selain besar arus juga dapat diklasifikasi serta kecepatan lalu lintas,
    4. Kamera video, yang digunakan dengan mengubah data menjadi terukur dalam prosesor. Dengan metode ini selain besar arus juga dapat diklasifikasi serta kecepatan lalu lintas

Survei manual[sunting]

Untuk mendapatkan gambaran besar arus lalu lintas dan seberapa besar pengaruhnya terhadap kapasitas jalan, maka kendaraan di klasifikasikan menjadi beberapa golongan sebagai berikut:

Klasifikasi/golongan Jenis kendaraan
1 Sepedamotor, scoter
2 Sedan, jeep, station wagon
3 Oplet, mikrolet
4 Pick up, box
5a Bus kecil
5b Bus besar
6 Mobil truk 2 sumbu
7a Mobil truk 3 sumbu
7b Mobil gandengan
7c Mobil tempelan
8 Kendaraan tidak bermotor

Waktu pelaksanaan survei arus tergantung kepada tujuan pelaksanaan survei, untuk mendapatkan arus lalu lintas harian maka survei dilakukan sepanjang hari, namun dapat dilakukan penyederhanaan dengan melakukan survei 16 jam, sebelum puncak pagi terjadi sampai dengan sesudah puncak sore, hasil kemudian dikonversikan untuk mendapatkan lalu lintas harian, untuk wilayah perkotaan biasanya survei dilakukan antara hari Selasa sampai dengan Kamis, sedangkan hari Jumat memiliki ciri tersendiri karena adanya kegiatan sholat Jumat, hari Sabtu sebagian perkantoran libur dan hari Minggu mempunyai ciri tersendiri yang sangat terpengaruh dengan kegiatan di kawasan yang dilakukan survei.

Survei dengan camera[sunting]

Salah satu pendekatan yang digunakan dalam melakukan survei adalah dengan menggunakan camera video yang di digitalisasi untuk kemudian bisa di peroleh informasi mengenai besarnya arus lalu lintas. Camera ditempatkan diatas jalan diarahkan kepada lalu lintas yang akan diukur besar arusnya[1]. Untuk mendeteksi arus lalu lintas dibentuk virtual loop, setiap kali loop dilewati kendaraan akan terdeteksi processor video yang kemudian dihitung sebagai sebuah kendaraan.

Penyajian data arus lalu lintas[sunting]

Contoh profil jam-an sepanjang hari (24 jam) di kawasan perkotaan

Data disesuaikan dengan kebutuhan penggunaan data tersebut, seperti:

  • 15 menit ter padat,
  • Volume per jam,
  • jam puncak, merupakan saat terjadinya arus puncak dalam satu hari, biasanya di perkotaan terdapat dua puncak yaitu puncak pagi yaitu pada saat berangkat kerja/sekolah dan puncak sore pada saat pulang kerja,
  • volume harian, merupakan volume selama 24 jam,
  • volume rata-rata harian yang biasanya dihitung selama periode survei yang panjangnya 3 atau 4 hari yang kemudian di rata-ratakan
  • volume rata-rata harian dalam setahun,
  • Volume mingguan,
  • Volume bulanan.

Volume yang sifatnya detail, menitan, 15 menitan merupakan informasi yang diperlukan dalam penetapan waktu pada APILL, sedangkan volume harian rata-rata dalam setahun dibutuhkan dalam merencanakan jalan, sedangkan jam puncak digunakan untuk menentukan rasio volume per kapasitas.

Survei Kecepatan[sunting]

Kecepatan ada besaran vektor yang menunjukkan seberapa cepat benda perpindahan. Besar dari vektor ini disebut dengan kelajuan dan dinyatakan dalam satuan meter per detik (m/s atau ms-1), atau kilometer perjam (km/jam)

Ada beberapa jenis kecepatan yang dikumpulkan dalam studi lalu lintas diantaranya: kecepatan sesaat, kecepatan perjalanan, kecepatan ruang waktu. Survei kecepatan biasanya digunakan untuk mengukur kecepatan lalu lintas yang menjadi indikator utam kinerja lalu lintas, tapi disamping itu digunakan untuk analisis potensi kecelakaan, dan digunakan juga untuk analisis kecelakaan.

Kecepatan sesaat[sunting]

Radar Microdigicam yang digunakan di Brazil

Salah satu indikator kinerja lalu lintas yang penting dalam rekayasa lalu lintas adalah kecepatan sesaat, oleh karena itu pengukuran kecepatan sesaat merupakan satu yang diukur. Kecepatan sesaat biasanya digunakan untuk analisis perilaku masyarakat dalam berlalu-lintas didaerah rawan kecelakaan, tetapi juga digunakan dalam perencanaan perilaku masyarakat dalam penggunaan persimpangan. Tetapi juga digunakan untuk melakukan penegakan hukum terhadap pelanggaran kecepatan, untuk itu biasanya digunakan radar speed gun ataupun perangkat yang lebih canggih lagi dengan menggunakan perangkat elektronik yang dilengkapi dengan camera.

Satuan kecepatan[sunting]

Rumus yang digunakan untuk mengukur kecepatan adalah:

v = \frac{ds}{dt}.

Beberapa satuan kecepatan lainnya adalah:

  • meter per detik dengan simbol m/detik
  • kilometer per jam dengan simbol km/jam atau kph
  • mil per jam dengan simbol mil/jam atau mph

Metode pengukuran kecepatan sesaat[sunting]

Ada beberapa cara yang digunakan dalam pengukuran kecepatan sesaat, diantaranya:

  1. Secara manual dilakukan dengan mengukur waktu tempuh jarak tertentu yang dilakukan berkali-kali untuk mendapatkan gambaran kecepatan rata-ratanya dan simpangan bakunya serta percentil ke 85 nya[2]. Semakin banyak contoh yang diambil semakin baik, biasanya digunakan sekurang-kurangnya 30 contoh. Permasalahan dalam pengukuran seperti ini adalah akurasi pengukuran. Dua pengamat ditempatkan terpisah pada jarak tertentu, misalnya 50 m mengapit simeteris titik pengamatan. Pengamat pertama memberi tanda kepada pengamat kedua untuk mengaktifkan stop watch saat kendaraan melewati pengamat pertama. Pengamat kedua mematikan stop watch saat kendaraan melewati pengamat kedua. Kecepatan dihitung dengan membagi jarak (50 m) dibagi waktu tempuh antara posisi pengamat pertama dan kedua dianggap sebagai kecepatan sesaat. Pengamat pertama atau kedua bisa digantikan cermin yang ditempatkan serong dengan sudut 45 derajat.
  2. Secara mekanis dilalukan dengan menggunakan perangkat mekanis seperti dua pipa pneumatik yang dipasang pada jarak tertentu kemudian jeda waktunya diukur antara kedua pipa dilewati oleh roda kendaraan,
  3. Secara elektronik yang dilakukan dengan menggunakan perangkat elektronik seperti speed radar gun ataupun dengan menggunakan ultrasonic ataupun infra merah.

Analisis data kecepatan sesaat[sunting]

Posisi persenti 50 (rata-rata) dan persentil 85

Setelah data dikumpulkan maka langkah selanjutnya di klasifikasi kan kedalam tabel distribusi deskriptif seperti berikut:

Rentang kecepatan Titik tengah Frekuensi frekuensi kumulatif Persentase kumulatif Persentil
≤ 25 23 1 1 0,6
26 - 30 28 3 4 2,3
31 - 35 33 8 12 6,8
36 - 40 38 20 32 18,1
41 - 45 43 35 67 37,9 50
46 - 50 48 47 114 64,4 persentil
51 - 55 53 33 147 83,1 85
56 - 60 58 17 164 92,7 persentil
61 - 65 63 8 1172 97,2
66 - 70 68 4 176 99,4
≥ 70 73 1 177 10,0

Dari tabel diatas maka dapat di estimasi bahwa Kecepatan pada 50 persentil jatuh pada kecepatan antara 43 sampai 48 km/jam atau kalau dihitung dengan formula berikut :

Kecepatan perjalanan[sunting]

Kecepatan perjalanan adalah kecepatan efektif kendaraan yang sedang dalam perjalanan antara dua simpul yang dihitung dari dengan menghitung dari jarak antara kedua simpul dibagi dengan waktu tempuh antara kedua simpul tersebut. Didalam perhitungan waktu tempuh tersebut sudah termasuk waktu tundaan/delay yang terjadi selama menempuh antara kedua simpul tersebut. Perhitungan kecepatan perjalanan merupakan informasi yang digunakan dalam perencanaan perjalanan, termasuk dalam membuat jadwal perjalanan angkutan umum. Oleh karena itu survei kecepatan merupakan perangkat yang diperlukan oleh para perencana dalam merencanakan sistem transportasi, khususnya dalam penyusunan jadwal angkutan umum.

Rumus yang digunakan dalam menghitung kecepatan perjalanan sama seperti pada perhitungan kecepatan sesaat hanya saja jarak dan waktu yang digunakan lebih jauh dan lebih lama, berikut ditunjukkan rumus yang digunakan untuk mengukur kecepatan:

Kecepatan perjalanan = \frac{Jarak}{Waktu}

Metode yang digunakan dalam mengukur kecepatan perjalanan:

Kendaraan contoh[sunting]

Dalam metode ini surveyor dengan menggunakan kendaraan berjalan dengan kecepatan yang sama dengan lalu lintas lainnya, dan diusahakan agar jumlah kendaraan yang menyalib dan disalib sama, untuk mendapatkan kecepatan rata-rata pada ruas yang di survei. Waktu dicatat pada formulir setiap simpul yang dilewati termasuk dimana hambatan dan penyebab hambatan. Contoh formulir bisa dilihat dalam tabel berikut ini.

Surveikendcontoh.jpg

Untuk mendapatkan nilai yang bisa diterima secara statistik maka data perlu dikumpulkan beberapa kali, angka yang biasanya digunakan adalah paling sedikit 6 (enam) sampel.

Traking kendaraan[sunting]

Perangkat tracking kendaraan berbasis GPS kendaraan sekarang ini banyak dipasarkan, dan bisa digunakan untuk mengukur kecepatan perjalanan. Untuk mendapatkan gambaran kecepatan perjalanan di wilayah perkotaan dapat dilakukan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan yang menggunakan sistim traking kendaraan seperti yang banyak digunakan pada perusahaan taxi kota. Data tracking kemudian diolah untuk mendapatkan berbagai informasi perjalanan, diantaranya kecepatan perjalanan, asal tujuan perjalanan, kecepatan sesaat dan lain sebagainya.

Pelaksanaan survei dapat dilakukan dengan cara yang lebih mudah lagi yaitu dengan menggunakan perangkat GPS yang biasa digunakan untuk navigasi kendaraan bisa juga diperoleh data jarak tempuh, waktu perjalanan, kecepatan kendaraan, kecepatan tertinggi.

Contoh penerapan survey kecepatan perjalanan[sunting]

Diagram ruang waktu

Menginventarisasi kinerja operasional pada jalan Pakubuono Jakarta Selatan yang diangkat dari Pembenahan Transportasi Jakarta[3] meliputi:

  • Membagi ruas Pakubuono kedalam bagian ruas jalan;
  • Mengukur kecepatan lalu lintas pada bagian ruas jalan;
  • Mengukur waktu tundaan di persimpangan;
  • Angka kecelakaan yang terjadi pada masing-masing bagian ruas/simpang dalam bentuk Black Spot Map yang dirinci lebih lanjut dari type kecelakaan yang terjadi (Apakah Depan dengan depan, depan dengan samping atau samping dengan samping), jenis kendaraan yang mengalami kecelakaan;

Dari seluruh informasi kinerja selanjutnya dibuat Diagram Ruang Waktu sebagaimana terlihat dalam gambar. Semakin curam kurvanya semakin rendah kecepatan perjalanan pada bagian ruas jalan tersebut, yang diakibatkan gangguan kelancaran. Sedang untuk data kecelakaan diolah secara tersendiri dengan melakukan analisis konflik yang terjadi.

Survey parkir[sunting]

Survey parkir dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai karakteristik parkir disuatu kota atau kawasan. Karakteristik parkir merupakan ukuran-ukuran atau besaran-besaran yang bisa digunakan dalam merencanakan kebutuhan fasilitas ruang parkir serta digunakan dalam mengendalikan kebutuhan ruang parkir. Apalagi dengan permintaan ruang parkir yang sudah sedemikian tingginya. Hal ini perlu, sebab jika persoalan parkir tidak ditangani dengan baik, bisa memicu terjadinya kemacetan lalu lintas di jalan. Apalagi dengan makin banyaknya ruas jalan di beberapa kota besar yang belakangan banyak di dipakai untuk parkir (on street parking). Sehingga diperlukan penatan parkir yang baik, apalagi dengan makin terbatasnya ruang parkir dibandingkan jumlah kendaraan yang terus bertambah.

Bangkitan parkir[sunting]

Pada saat ini, sebagian besar pengaturan sistem perparkiran yang terdapat di pusat-pusat perbelanjaan, perkantoran, dan lain sebagainya, masih dilakukan secara konvensional. Padahal untuk kelancaran dan kenyaman parkir, diperlukan manajemen dengan system penangan yang juga modern. Sehingga perlu adanya bangkitan parkir atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai Parking Generation. Maksudnya adalah bangkitan parkir yang terjadi di suatu kawasan, perkantoran, perbelanjaanan, sekolah, daerah wisata, ataupun tata ruang lainnya.

Informasi lain yang penting dalam bangkitan parkir adalah akumulasi parkir, sehingga dapat diperoleh profil penggunaan ruang parkir sepanjang hari secara akurat, lama parkir dan informasi yang terkait dengan jenis kendaraan yang parkir. Guna mendapatkan informasi bangkitan parkir yang akurat, perlu dilakukan survei parkir. untuk mendapatkan informasi besarnya bangkitan parkir, jenis kendaraan yang parkir, lamanya parkir, serta informasi pendukung lainnya. Dengan informasi ini, selanjutnya dapat direncanakan:

  • Jumlah ruang parkir yang dibutuhkan berdasarkan beberapa variabel seperti waktu.
  • Dasar untuk penerapan kebijakan parkir seperti kebijakan pembatasan ruang parkir, kebijakan tarif parkir dan kebijakan jangka waktu parkir.

Faktor yang mempengaruhi bangkitan parkir[sunting]

Bangkitan parkir tergantung kepada beberapa faktor,di antaranya meliputi:

  • Besarnya kawasan terbangun yang biasanya terkait erat dengan tingkat pemilikan kendaraan pribadi.
  • Banyaknya dan kepadatan kegiatan yang berada di kawasan tersebut.
  • Besarnya daya tarik masyarakat untuk menuju kawasan tersebut.
  • Jumlah karyawan tetap maupun tidak tetap yang bekerja di kantor, atau kegiatan di kawasan tersebut.
  • Tingkat pemilikan kendaraan pribadi ataupun milik perusahaan/dinas masyarakat metropolitan atau kota yang bersangkutan. Pemilikan kendaraan berupa mobil dan atau sepeda motor. Pemilikan kendaraan pribadi masih belum mencapai titik jenuhnya, sehingga pertumbuhan masih akan berlangsung yang ditandai dari tingginya tingkat pertumbuhan kendaraan bermotor.
  • Jenis kegiatan, apakah itu perkantoran, pusat perdagangan, sekolah atau apartemen.
  • Kebijakan perparkiran yang diberlakukan oleh pemerintah daerah yang bersangkutan.

Pengumpulan data[sunting]

Pengumpulan data bangkitan parkir dapat dilakukan di tempat asal perjalanan ataupun di tempat tujuan. Survei parkir di tempat tujuan, dilakukan untuk mengetahui besarnya permintaan ruang parkir untuk masing-masing jam dalam satu (1) hari, menurut hari dalam satu minggu, dan menurut bulan dalam satu tahun. Karakteristik kebutuhan parkir dalam satu (1) minggu, dapat dilihat dalam contoh gambar berikut.

Contoh bangkitan parkir di perkantoran per 100 meter persegi luas lantai perkantoran.

Karakteristik harian dalam satu minggu dikawasan perkantoran akan mempunyai ciri khusus yaitu bahwa pada hari sabtu dan minggu tingkat pengguanaan ruang parkir akan rendah. Sedangkan untuk kawasan perbelanjaan akan berbeda, yang biasanya justru lebih ramai pada hari Sabtu dan Minggu.

Volume Parkir[sunting]

Volume parkir adalah jumlah kendaraan yang parkir di suatu tempat atau kawasan parkir tertentu selama waktu tertentu. Sedangkan waktu yang biasanya digunakan adalah satu hari. Karakteristik volume parkir tergantung kepada tempat di mana pelataran parkir/gedung parkir tersebut berada. Misalnya di perkantoran, pusat perbelanjaan, daerah wisata, sekolah, pasar dan lain sebagainya. Kalau di perkantoran, akan tinggi pada hari kerja sedang pusat perbelanjaan/mall akan tinggi pada akhir minggu.

Survei volume parkir[sunting]

Biasanya masalah utama dari parkir adalah keterbatasan ruang parkir dibandingkan dengan jumlah kendaraan yang membutuhkan ruang parkir. Sehingga perlu dilakukan survei untuk mendapatkan informasi mengenai volume parkir. Hal ini bisa dilakukan dengan mengumpulkan jumlah kumulatip kendaraan yang parkir di tempat atau kawasan tersebut. Pendekatan lain yang dapat dilakukan dengan volume parkir adalah dengan mengumpulkan jumlah kendaraan yang masuk pelataran/gedung melalui pintu/gate masuk parkir dengan menggunakan rumus berikut:

VP={\sum_{i=1}^n {E_i}}

Dimana:

VP:Volume parkir
Ei:jumlah kendaraan yang masuk ke pelataran/gedung parkir dalam periode i
n:jumlah periode jam pengamatan

Informasi volume parkir, sangat diperlukan untuk merencanakan kebutuhan ruang parkir. Di samping itu, data volume parkir beserta data lama parkir dan akumulasi parkir, digunakan untuk menghitung besarnya jumlah ruang parkir yang perlu disediakan. Dalam hal ini, data volume parkir menjadi informasi yang sangat diperlukan untuk pengendalian parkir dalam rangka kebijakan manajemen lalu lintas yang baik. Hal ini juga telah dipraktikkan di Indianapolis International Airport, yakni dengan menurunkan tarif parkir untuk menaikkan volume parkir dalam kaitannya untuk meningkatkan penumpang yang menggunakan angkutan udara. Bisa juga sebaliknya menaikkan tarif untuk menurunkan volume parkir.

Lama parkir[sunting]

Waktu yang diperlukan atau lama parkir yang disebut juga sebagai durasi parkir yang dalam bahasa Inggrisnya disebut sebagai Parking duration, merupakan informasi mengenai lamanya parkir kendaraan di suatu tempat parkir. Tentu lamanya parkir tergantung kepada maksud perjalanan yang dilakukan. Misalnya untuk parkir di tempat kerja biasanya lebih panjang ketimbang belanja di mall. Apalagi parkir yang sekadar beli rokok atau roti di warung, durasi waktunya lebih pendek lagi.

Contoh distribusi lama parkir suatu pusat perbelanjaan.

Informasi mengenai lama parkir diperlukan guna merencanakan ruang parkir untuk suatu bangunan/gedung parkir ataupun kegiatan lain. Termasuk parkir untuk pengunjung pameran ataupun gedung olahraga yang kebutuhan parkirnya tidak rutin. Misalny gedung yang khusus didesain untuk ajang pameran, biasanya dikunjungi orang hanya kalau ada pameran. Begitu pula misalnya gedung olah raga ataupun pertandingan olahraga, itupun masih dipengaruhi oleh menarik tidaknya kegiatan itu. Sehingga, muatan parkirnya pun, akan sangat tergantung dengan situasi tersebut.

Cara memperoleh data lama parkir[sunting]

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk memperoleh data lama parkir suatu kendaraan. Tapi yang paling mudah dan akurasinya tinggi, yakni dengan system computerized. Data lama parkir biasanya dikelola dalam suatu basis data berbasiskan komputer dengan mencatat waktu kendaraan masuk dan keluar ke pelataran/gedung parkir hingga kendaraan keluar. Kemudian dapat dihitung dengan formula:

 LP = {W_k - W_m}

dimana :

LP = Lama parkir
Wm = Waktu saat kendaraan masuk
Wk = Waktu saat kendaraan keluar

Sedang untuk mendapatkan lama parkir rata-rata dapat digunakan formula sebagai berikut:

 \bar{LP} = \frac{\sum_{i=1}^n{E_i \cdot LP_i}}{\sum_{i=1}^n {E_i}}.

Dimana:

Ei = frekuensi kendaraan yang parkir kelas i
LPi = lama parkir pada kelas i
{\sum_{i=1}^n {E_i}} = jumlah kendaraan yang parkir selama periode pengamatan.
Penggunaan informasi lama parkir[sunting]

Informasi lama parkir ini sangat berguna untuk membuat manajemen parkir yang baik. Data informasi lama parkir, digunakan untuk merencanakan kebutuhan ruang parkir dan juga sistem pengaturan keluar masuknya kendaraan. Selain itu, data lama parkir bisa digunakan untuk menghitung besarnya tarif yang akan terapkan kepada penggun jasa parkir. Khususnya untuk tempat parkir yang harus membayar berdasarkan lama parkir. Satuan yang biasanya digunakan dalam perhitungan tarif adalah jam seperti yang banyak digunakan di perkantoran atau di pusat perbelanjaan di kota-kota besar Indonesia. Di sejumlah negara maju., bahkan menggunakan satuan 15 menit-an ataupun tiap menit. Selain itu, digunakan sebagai acuan[4] untuk menerapkan pembatasan lamanya parkir misalnya untuk menaikkan atau menurunkan muatan maksimum 5 menit, parkir di depan toko, maksimum 1 atau 2 jam saja. Dalam hal ini, biasanya digunakan meter parkir.

Akumulasi parkir[sunting]

Akumulasi parkir merupakan jumlah kendaraan yang parkir pada suatu saat tertentu, di suatu tempat gedung parkir atau pelataran parkir. Informasi mengenai akumulasi parkir ini digunakan untuk merencanakan ruang parkir yang dibutuhkan pada suatu tempat ataupun untuk menerapkan pengendalian parkir di suatu kawasan. Survei akumulasi parkir

Untuk mendapatkan informasi mengenai akumulasi parkir, perlu dilakukan survei untuk mendapatkan profil kendaraan yang parkir dalam satu hari. Angka capaian tertinggi jumlah kendaraan yang parkir, disebut sebagai akumulasi tertinggi parkir. Angka ini bervariasi menurut kegiatan tempat, di mana ada pelataran/gedung parkir. Sebagai gambaran, perkantoran mencapai puncaknya pada siang hari sedang pertokoan/mall akumulasi hari kerja lebih rendah dari akumulasi pada akhir minggu (weekend) pada sore hari dan pemukiman/apartemen pada malam hari.

Besarnya akumulasi[sunting]

Besarnya akumulasi parkir diberikan dengan formula sebagai berikut:

AP=E_i -E_x

Di mana:

AP adalah akumulasi parkir
Ei adalah jumlah kendaraan yang masuk ketempat parkir
Ex adalah jumlah kendaraan yang keluar tempat parkir

Jika sebelumnya sudah ada kendaraan yang diparkir di lokasi parkir, maka jumlah akumulasi yang ada tersebut dijumlahkan dalam jumlah akumulasi parkir. Kendaraan yang ada di dalam, kadang karena sudah ada kendaraan yang datang sebelum dilakukan survei atau ada kendaraan yang menginap ataupun rusak dan ditinggal pemiliknya.

AP ={N+E_i}-Ex

Di mana:

N = jumlah kendaraan yang ada sebelumnya
Akumulasi parkir di perkantoran

Waktu pelaksanaan survei[sunting]

Waktu pelaksanaan survei tergantung kepada jenis kegiatan di mana survei itu dilakukan. Kalau di perkantoran, biasanya kegiatan lebih dominan pada jam kerja, pasar pada pagi hari. Di sekolah pada saat masuk dan keluar sekolah, hunian/apartemen pada malam hari.

Perputaran parkir[sunting]

Perputaran parkir atau dalam bahasa Inggris disebut parking turnover, adalah suatu angka berapa kali berganti kendaraan yang parkir dalam satu satuan waktu tertentu. Biasanya perputarannya dalam satu hari. Angka ini akan tinggi pada tempat parkir di kawasan perbelanjaan, kantor pelayanan umum, dan angka ini rendah untuk perkantoran yang ruang parkirnya digunakan oleh karyawan sendiri.

Cara memperoleh data perputaran parkir[sunting]

Adapun untuk memperoleh data ini, yakni dengan cara data dikumpulkan dengan metoda patroli[5] setiap 30 menit dengan mencatat nomor kendaraan pada setiap ruang parkir. Dengan survei ini, sekaligus dapat diperoleh angka perputaran parkir serta informasi lama parkir dengan satuan waktu 30 menit-an. Cara lain untuk mendapatkan data perputaran parkir adalah dengan menggunakan formula:

T = \frac{{VP}}{{JRP}}

Dimana:

T : adalah besarnya perputaran parkir
VP : adalah Volume parkir
JRP : adalah Jumlah ruang parkir yang tersedia

Penggunaan informasi perputaran parkir[sunting]

Informasi perputaran parkir, akansangat membantu dalam merencanakan kebutuhan ruang parkir. Semakin rendah perputaran parkir, akan semakin banyak ruang parkir yang dibutuhkan. Di samping itu, informasi perputaran parkir dibutuhkan untuk mendapatkan informasi jumlah kendaraan yang parkir. Misalnya parkir di pinggir jalan untuk digunakan sebagai masukan dalam menetapkan jumlah pendapatan parkir yang bisa diperoleh untuk sistem yang beroperasi atas dasar tarif tetap yang biasanya digunakan pada parkir di pinggir jalan. Dalam suatu kantor pelayanan umum ataupun kawasan perbelanjaan/pertokoan yang perputaran parkirnya tinggi, maka biasanya dipisahkan parkir untuk tamu yang datang di gedung itu dengan parkir untuk karyawannya. Parkir untuk tamu, biasanya ditempatkan sedekat mungkin dengan pintu masuk pelayanan ataupun pintu masuk perbelanjaan ataupun pertokoan.

Survei asal tujuan[sunting]

Survai asal tujuan atau dalam bahasa Inggris disebut Origin-destination survey adalah survai yang mempelajari pola perjalanan dengan mempelajari asal dan tujuan perjalanan yang digunakan sebagai sumber informasi utama dalam proses perencanaan transportasi secara luas untuk transportasi nasional, regional maupun lokal, survei juga digunakan dalam perumusan analisis dampak lalu lintas. Ada beberapa cara untuk melakukan survai asal tujuan, dan terkadang dalam pelaksanaannya di kombinasikan pelaksanaannnya untuk meningkatkan kualitas survai.

Cara pelaksanaan survei[sunting]

Survai wawancara dipinggir jalan[sunting]

Disebut juga road side interview merupakan survai untuk mengumpulkan informasi perjalanan yang dilakukan masyarakat yang melakukan perjalanan dengan menggunakan kendaraan pribadi ataupun angkutan umum. Seperti halnya survai wawancara rumah tangga dilakukan pada hari normal. Informasi yang dikumpulkan :

  • jumlah penumpang
  • tingkat pendapatan
  • asal tujuan setiap penumpang
  • maksud perjalanan
  • waktu perjalanan

Untuk melengkapi hasil survai dilakukan juga sekaligus pengukuran arus lalu lintas.

Survai wawancara rumah tangga[sunting]

Merupakan survai yang membutuhkan biaya yang besar, namun dapat menghasilkan kualitas hasil survai yang baik.

Pendekatan[sunting]

Disebut juga home interview survey merupakan survai untuk mengumpulkan data perjalanan yang dilakukan setiap anggota keluarga pada hari yang normal. Hari normal adalah hari senin, selasa, rabu dan kamis.

Informasi yang dikumpulkan:

  • jumlah anggota keluarga
  • jumlah pemilikan kendaraan
  • pekerjaan anggota keluarga
  • Tingkat pendapatan keluarga
  • Perincian perjalanan setiap anggota keluarga:
    • jumlah perjalanan yang dilakukan setiap anggota keluarga
    • asal- tujuan perjalanan setiap anggota keluarga
    • moda yang digunakan dalam setiap perjalanan
  • waktu perjalanan dilakukan

Ukuran sampel[sunting]

Besaran sampel yang dikumpulkan tergantung kepada ukuran kota seperti ditunjukkan dalam tabel beriukut:

Jumlah penduduk kota Ukuran sampel
< 50 000 10 - 20 %
50 000 - 300 000 3 - 12 %
300 000 - 500 000 2 - 6 %
500 000 - 1 000 000 1,5 - 5 %
> 1 000 000 1 - 4 %

Survai kartu pos[sunting]

Survai asal tujuan dapat pula dilakukan dengan meminta penumpang angkutan pribadi maupun angkutan umum untuk mengisi suatu quesioner yang kemudian dikirim kekantor pengumpul informasi dengan cuma-cuma.

Survai plat nomor kendaraan[sunting]

Merupakan salah satu pendekatan dalam survai asal tujuan dengan menempatkan surveyors/camera untuk mencatat atau merekam nomor kendaraan yang melewati titik survai. Titik survai ditempatkan sedemikian sehingga dapat didapatkan informasi asal tujuan perjalanan. Data selanjutnya diolah dengan program sederhana untuk mendapatkan informasi asal tujuan perjalanan, dengan semakin maju perangkat lunak modelling asal tujuan ini, pelaksanaan survey dapat dilakukan dalam kawasan yang lebih luas, sepanjang titik-titik pengamatan ditempatkan dengan lokasi yang mempertimbangkan tujuan antara yang bisa jadi tidak terekam.

Survei berat dan dimensi kendaraan[sunting]

Survei dimensi dan berat kendaraan berfungsi untuk mendapatkan informasi mengenai terjadinya pelanggaran terhadap dimensi kendaraan maupun terhadap kelebihan muatan sumbu ataupun muatan kendaraan. Dampak kelebihan dimensi terutama terdahap peningkatan angka kecelakaan lalu lintas khususnya pada jalan-jalan 2 lajur dua arah yang masih terdapat diseluruh wilayah Indonesia. Sedangkan kelebihan muatan berdampak terhadap pengrusakan jalan yang lebih awal. Sebagai contoh[6] pada jalan dengan daya dukung muatan sumbu antara 8.000 kg (jalan kelas III) sampai 10.000 kg (jalan kelas II) setiap peningkatan berat sumbu sebesar 10 persen akan meningkatkan dampak terhadap kerusakan jalan sebesar 20 sampai 25 %. Dalam kondisi bergerak dampak terhadap pengrusakan jalan akan bertambah sebesar 5 % sampai 40% dari muatan statis. Dampak kerusakan darat berkurang bila digunakan sumbu tandem, walaupun tetap akan mengakibatkan pengrusakan yang lebih rendah sekitar 5 % dari sumbu tunggal.

Peralatan[sunting]

Timbangan jinjing[7] yang digunakan untuk menimbang sumbu kendaraan

Untuk melakukan survey berat dan dimensi kendaraan ini diperlukan peralatan untuk melakukan penimbangan kendaraan serta peralatan untuk mengukur dimensi kendaraan.

  1. Untuk pelaksanaan survei dapat menggunakan Jembatan Timbang yang sudah ada dan tersebar diseluruh wilayah nusantara. Untuk pelaksanaannya diperlukan perijinan penggunaan jembatan timbang dari Dinas Perhubungan Propinsi setempat untuk bisa menggunakan perangkat jembatan timbang.
  2. Perangkat timbangan jinjing yang mudah dibawa ke mana-mana, sehingga pelaksanaan dapat dilakukan ditempat yang acak. Permasalahan dalam menggunakan survei dengan perangkat jinjing adalah perlu waktu yang lama untuk melakukan pengumpulan data.

Pelaksanaan survei[sunting]

Pelaksanaan survey akan lebih mudah kalau dilaksanakan dijembatan timbang, karena semua fasilitas sudah tersedia, namun untuk pelaksanaan dengan menggunakan timbangan jinjing lebih sulit karena beberapa hal berikut ini:

  1. harus dicari tempat disisi jalan yang memungkinkan untuk dilakukan survei dengan tidak mangganggu kelancaran arus lalu lintas
  2. harus berada pada jalan lurus dengan jarak pandang bebas yang cukup,
  3. harus terletak pada bidang yang datar, tidak pada tanjakan atau turunan.

Referensi[sunting]

  1. Traffic Counts and Traffic Surveys [1]
  2. Handbook of Simplified Practice for Traffic Studies [2]
  3. Pembenahan Transportasi Jakarta [3]
  4. Todd Litman, Parking Management: Strategies, Evaluation and Planning, Victoria Transport Policy Institute, Victoria, 2008
  5. Abubakar,I. dkk, Menuju Lalulintas dan Angkutan Jalan yang Tertib, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Jakarta, 1996
  6. British Columbia ministrry of Transport and Highways, Vehicle Weights and Dimension Study, Alberta 1986 [4]
  7. Unique Instruments [5]