ANTARA KABUT DAN REMBULAN
ANTARA KABUT DAN REMBULAN
“Pyar,” bunyi serentetan hiasan yang berjajar di atas bufet. Semua hiasan itu pecah berserakan dihantam tangan egoisme . Abris tak mau mengakui bukti chatnya dengan Karin yang dituduhkan istrinya. Padahal Eda, istrinya telah menemukan kata mesra di hpnya.
“Kamu jangan fitnah sama suami sendiri,” kata Abris.
umpat Abril sambil melotot.
“Itu kesepakatan kita waktu nikah mas,” jawab Eda.
“Kamu, tinggal kasih keturunan aja kamu nggak bisa. Perempuan macam apa? kalau kau tak suka dengan caraku kau diam, atau pergi sana,” lanjut Abris.
Wajahnya benar-benar memerah menahan marah. Matanya selalu melotot bagai leak. Siap menerkam semua yang ada depannya. Telunjuknya tak henti mehakimi Eda dengan segala kekurangan dan segalanya.
Melihat Eda sesenggukan dengan tangis derai air mata, tak setitikpun meluluhkan hati.Justru gerahamnya berkerut-kerut, kedua tangannya mengepal.
“Buk” tangan itu menonjok kuat sofa yang berada di sampingnya. La]u tangannya mulai mengeluarkan baju Eda dari lemari. Dilempar tepat pada wajah perempuan yang dihinanya itu.
Eda yang menangis sesenggukkan sudah tak mampu untuk berkata-kata. Mengambil satu persatu pakaian yang dilemparkan kepadanya. Dimasukkan ke dalam koper yang baru saja dilempar oleh Abris.
“ Kau hanya boleh pergi membawa baju-baju mu saja, perhiasan dan semuanya kau ditinggal. Aku yang mau beli, kau tidak bekerja,” kata Abris.
Abris yang begitu marah memandang ke luar jendela. Sesekali dia melirik kepada Eda yang secara acak memasukkan barang-barangnya ke dalam koper.
“Ini ini konde warisan orang tua saya,” kata Eda.
Semua itu dikatakan karena, Abris melotot saat melihat Eda membawa sebuah kotak dari dalam kamar.
“ Cepat kamu pergi, keluar dari rumah ini sebelum kamu berubah pikiran dan menjadi budakku untuk selamanya,” kata Abris.
Eda segera menyeret kopernya ke luar dari rumah. Di pundak kanannya bergelantungan sebuah tas besar. Dia sempat menyeka air matanya sebelum melangkah ke luar pagar. Langkah kaki kirinya mulai ke luar dari batas teras rumah. Tanpa menoleh ke kiri ke kanan, dia menuju ke arah kanan. Berjalan hampir seratus meter namanya terdengar dipanggil.
Zulkan baru saja mematikan mesin BRV yang dikendarai. Tiba-tiba pandangannya fokus kepada cewek yang baru saja ke luar dari pintu rumah Abris. Seorang cewek memakai pakaian seadanya. Menyeret sebuah koper dengan menenteng sebuah tas besar di bahu kanannya. Pikirannya dipenuhi rasa heran. Dia dengan cepat membuka pintu mobil, tapi terhenti sampai di situ. Dia tidak jadi melanjutkan untuk turun dari mobil. Pandangannya melihat kembali kepada cewek itu. Cewek yang didekati oleh Abris dan diambil HP yang berada di tangannya.
Kejadian itu sangat cepat. Suara Abris yang terdengar samar tak jelas terdengar. Dari nada bicaranya Abris marah. Kelihatan dari wajahnya. Dia sangat emosi, sampai-sampai dia tidak melihat Zulkan yang sudah parkir di depan pagar rumah.
Zulkan mengurungkan niatnya. Dia penasaran dengan kejadian itu. Cewek itu bernama Eda. Istri Abris sahabatnya sejak SMA. Dia tahu betul kisah cinta mereka. Eda yang dulu sekretaris Abris yang resign dari pekerjaan setelah menikah. Dia ingin mengabdikan sebagai istri seutuhnya.
Penampilan Eda juga tak seperti sekarang. Saat masih menjadi sekretaris cewek yang berkulit sawo matang itu selalu berpenampilan sederhana tapi elegan. Hanya memakai kemeja polos dan rok sederhana saja. Sepatu kets putih yang dia sukai selalu mengamankan kakinya. Tak banyak koleksi pakaian sepatu maupun tasnya, tapi penampilannya sangat menarik, selalu rapi.
Sejak dia menikah dan resign, perlahan penampilannya berubah. Semakin lama semakin saja berubah. Hanya waktu tertentu saja dia berdandan. Dasar memang orang yang menarik, ketika memakai daster pun masih terlihat sisa-sisa kecantikannya. Tinggi badannya sedang. Sesuai dengan berat badannya. Lesung pipit di pipi kiri menjadi ciri khas yang menarik perhatian.
Sayangnya saat itu Abris yang dulu menyatakan cinta di saat Zulkan masih taraf pendekatan. Zulkan pun akhirnya hanya bisa diam. Mendukung sahabatnya itu merangkai rumah tangga.
Wajah Zulkan tersenyum mengingat pertama kali dia berjumpa dengan Eda. Saat Eda dan dirinya masuk ke sebuah fakultas yang sama. . Zulkan berjabat tangan berkenalan.
Tiba-tiba Zulkan tersadar, Eda sudah tak terlihat oleh pandangan matanya. Dia kembali menstater mobilnya. Membatalkan undangan Abris. Sebenarnya Zulkan mendatangi rumah itu untuk mendatangi undangan sahabat lamanya itu. Ingin menikmati ketan susu khas Malang yang dimasak oleh Eda. Makanan kesukaan Abris dan Zulkan saat masih bersama-sama kuliah di kota dingin. Kenyataan yang lain. Zulkan menyusuri jalanan untuk mencari Eda. Belum jauh juga. Masih sekitar 100 meter. Eda terlihat duduk di pinggir jalan sambil menunduk. “ Mengapa di sini?” tanya Zulkan basa-basi. Tak ada respon dari orang yang ditanya. Justru Eda melinangkan air mata. “Masuk ke mobill,” perintah Zulkan. Zulkan segera mengangkat koper dan memasukkan ke dalam bagasi. Eda masih saja duduk di pinggir jalan. Tak beranjak dengan perintah Zulkan. Zulkan pun mengulurkan tangan membimbing memasuki mobil. “Ada apa?” tanya Zulkan. Tetap saja tak terdengar suara cewek itu. Justru air matanya berlinang deras membasahi pipinya. Sesekali diusap dengan tangan yang sudah terlihat basah. Zulkan mengambil tisu, memberikan pada cewek itu seiring lajunya mobil yang dikendarai. Roda mobil berhenti di Wina Joglo resto. Sebuah tempat makan andalan di kota mereka tinggal. Tempat ini lumayan nyaman. Ada beberapa tempat privat cocok untuk pembicaraan serius maupun makan santai. Eda masih diam ketika disodori daftar menu. Tak seperti biasanya. Beberapa kali datang ke tempat itu, dia selalu mereview masakan. Dia biasanya yang mengatur pesanannya. Terpaksa kali ini Zulkan yang memesan sesuai kesukaan Eda, Gurami asam manis, es cendol, kentang goreng. Sedangkan Zulkan sendiri lebih suka menu khas lodho ayam kampung, urap, rempeyek udang dan sambal tomat.
“Da, ada apa sebenarnya. Mungkin aku bisa membantumu?”
Eda masih saja diam bergeming. Matanya yang sudah memerah terus mengucurkan air mata.
“Kalau Abris salah, ada kata kasar nanti aku peringatkan dia.Kita sudah seperti saudara. Aku sama Abris sahabat SMA, kuliah, bahkan sekarang masih kerjasama. Apakah kau masih ragu dengan aku. Aku janji tidak menceritakan ini pada Abris kalau itu bersifat rahasia. Tapi kamu bilang, apa masalahnya,” jelas Zulkan.
Eda masih diam. Dia kelihatan masih ragu mengungkapkan hal yang sebenarnya.
“Proyeknya gagal? Atau mertuamu kembali tak suka padamu?” tanya Zulkan.
Eda menggelengkan kepala.
“Lalu?”
Hanya air mata perempuan yang tersakiti yang menjawab setiap pertanyaan.
"Sebenarnya ada masalah apa?" tanya Zulkan yang kesekian kalinya.
"Tentang Kesia," jawab Eda singkat.
Lama keduanya diam. Zulkan sebenarnya tahu hubungan mereka. Sebagai sahabat beberapa kali mengingatkan secara langsung maupun tidak langsung. Janji pertemuan dengan Abris hari ini pun akan sedikit membahas tentang kecurigaan Eda. Rupanya semua sudah terlambat. Antisipasi kemarahan Eda sudah terjadi. Perjalanan sudah menjadi bom waktu yang sudah meledak.
"Siapa itu?" tanya Zulkan pura-pura tidak tahu.
"Dia sering janjian makan bersama Abris. Aku hanya bertanya, tapi sungguh diluar kecurigaan ku. Dia mengakui kalau sudah lama berhubungan dengan perempuan itu. Mencaciku tak mampu mempunyai keturunan. Selama ini aku rasain kerja karena keluarga. Ingin menjadi istri seutuhnya. Tapi....," katanya sambil sesenggukan.
Akhirnya dia menghentikan cerita karena tangisan yang lebih berkuasa.
Beberapa saat Zulkan membiarkan Eda menangis. Hanya itu yang mungkin melegakan hatinya.
"Kau masih diuji oleh Tuhan. Pasrahkan kepadaNya," kata Zulkan.
Selesai makan Zulkan segera mengajak pergi. Tidak baik kalau terlalu lama. Banyak pertimbangan menurutnya. Eda istri sahabatnya. Keadaan selalu menangis akan menimbulkan prasangka. Keadaan Eda juga sangat tak stabil.
"Ku antar kau kemana?" tanya Zulkan setelah mereka duduk di dalam mobil.
Eda menggelengkan kepala. Pandangan kembali kosong. Dia tak tahu tujuan. Tak mempunyai saudara dekat yang bisa dituju atau teman dekat.
Zulkan menjadi berpikir keras. Cewek disampingnya tak mungkin di bawah kerumah. Dia tinggal sendiri. Belum menikah. Tinggal di sebuah perumahan. Kalau sampai tahu tetangga akan menimbulkan fitnah.
"Kau tak punya teman yang ditinggali sementara? Kau butuh teman kala keadaanmu seperti ini." tanya Zulkan.
Eda kembali diam. Zulkan mencoba membuka daftar kontak di hpnya. Siapa tahu dari sekian nama ada inspirasi muncul. Ada teman yang bisa membantunya.
"Sel, kau dirumah atau dirumah sakit," tanya Zulkan kepada orang yang dihubungi lewat telepon.
"Aku diluar kota sampai Minggu depan,ada apa?" jawab dari seberang sana.
"Enggak, cuma mau konsultasi, tangkiu," kata Zulkan sambil menutup telepon.
Suara itu samar di dengar oleh Eda.
"Turunkan aku aku di Mutiara saja, tapi.." kata Eda tak dilanjutkan.
Dia sadar kalau dia tak bawa uang sepeserpun. Semua barang berharga sudah ditinggal di rumah.
"Mutiara, jangan-jangan. Bahaya bagi cewek. Keadaan begini kau harus ada yang mendampingi," kata Zulkan.
Mutiara, sebuah hotel lokal yang sering digunakan orang-orang tak bertanggung jawab. Banyak transaksi yang tidak benar. Sering pula kamar kebobolan pencuri.
Kali ini harapan satu-satunya mobil diarahkan ke rumah Muzaina kakak perempuannya. Tak lama mobil BRV milik Zulkan sudah terparkir dihalaman. Dia masuk tanpa basa basi melewati pintu samping.
"Kak Muz aku minta bantuin," katanya.
Wanita yang dipanggil kak Muz begitu terkejut. Wanita setengah baya yang sedang duduk diruang tengah itu berjingkat kaget.
"Untung kakak dirumah. Bantu aku kak," pinta sang adik manja.
Zulkan menceritakan secara singkat tentang tujuannya. Cerita sedikit kejadian yang dialaminya siang ini. Cerita manjanya kepada kakak setengah merayu.
"Plis kak, aku nggak tega," rengeknya.
Sang kakak meloloskan permintaan adiknya itu karena dia juga kenal betul dengan Abris.
"Minta sendiri pada bik Tin untuk menyiapkan kamar.” jawab kak Muz.
Zulkan menciumi pipi kakak nya itu bagai anak kecil sebagai ucapan terimakasih. Sang kakak menonjok pipi sang adik tanda kasih pula. Tak berapa lama Zulkan mengajak Eda memasuki ruangan.
"Assalamualaikum," ucap Eda.
Muzaina sedikit tersenyum mendengar sapa Eda. Dia semakin percaya cewek yang di bawa adiknya, cewek baik-baik. Wajah kusut dan daster kumal yang dipakai Eda sedikit membuat Muz heran. Tak pernah membayangkan. Abris yang selalu datang dengan dandanan kece mempunyai istri yang tak terawat. Pada hal menurut cerita, dulu juga seorang sekretaris.
“Nama saya Eda,” kata Eda sambil mengulurkan tangan.
Badan Eda membunguk tanda menghormati orang yang berada di depannya.
“Eh, Iya, iya……. ,”kata Muzaina terkejut.
“Ini kak Muz. Kakaku,” kata Zulkan.
“Silahkan tinggal di sini. Tapi maaf aku tak bisa selalu menemani. Aku kerja sampai malam,” kata Muzaina.
Eda segera dipersilahkan menuju kamar yang sudah disediakan untuk menenangkan diri..
Jam berputar tanpa henti. Tak pedulikan hati sedang sedih atau bahagia. Kesibukan terus mengejar bagai ombak yang tak berdamai dengan pantai. Pelan tapi pasti. Detak demi detak kadang tak terhiraukan. Hanya pandangan tajam sebentar pada angka yang tertera, lalu kembali terlena. Derap-derap kaki tak seirama melaju lebih cepat. Tersadar ketika betul-betul ingatan kembali pada tujuan.
"Bik Tin," terdengar suara Zulkan dari hp orang yang panggil dengan sebutan bik Tin.
Bik Tin menjawab seputar yang dia ketahui. Tentang Eda yang berangkat setelah sarapan. Pamit keluar tak menyebutkan tujuan. Saat bik Tin datang, Eda sudah menyapu seluruh ruangan. Kamar mandi sudah bersih. Setelah itu membantu bik Tin memasak untuk kak Muz. Semua itu diceritakan kepada Zulkan sang penelepon dengan gamblang.
Zulkan tiba-tiba menjadi cemas. Tangannya mengetuk-ngetuk meja. Mengurai antara saraf otak. Berharap melahirkan solusi paling tepat. Kembali dibuka daftar kontak, memilah nama yang mungkin bisa dihubungi.
"Kak Muz tahu kemana Eda pergi?" tanyanya.
Kak Muz hanya tahu kalau sebelum dia pergi dia pamit nanti keluar. Tak bercerita tentang tujuan. Tak memberitahu akan kepergian. Apalagi urusan pribadi. Kak Muz sebagai tuan rumah, menjaga betul privasi Eda. Apalagi dia dalam masalah. Belum berani banyak menanyakan sesuatu.
Pikirannya mulai melayang ke tingkah adik semata wayangnya itu. Tak biasanya dia perhatian kepada seseorang. Apalagi cewek seperti Eda. Cewek-cewek cantik yang menggodanya saja, dia selalu cuek. Berlanjut mengungkit-ungkit kembali pikirannya yang telah menyimpan kejadian kemarin. Padangan adiknya yang melirik memanggil Eda. Salah tingkahnya saat bercerita. Seakan dia benar membela istri sahabatnya itu.
Tangan kak Muz segera memencet memori dengan nama dik Zul.
"Zul, hati-hati mencampuri rumah tangga orang. Niatmu menolong nanti bisa salah paham," kata Kak Muz.
"Ok,"jawab Zulkan dengan hembusan nafas berat.
Zulkan melanjutkan menyetir mobil menuju rumah kak Muz. Pelan roda mobil itu dikendalikan. Jarak ke rumah kak Muz sekitar lima kilometer. Pandangannya menyusuri setiap pejalan kaki. Langkah kaki perempuan satu persatu dipandangi betul. Berharap satu diantara mereka ada Eda.
"Teeeeeet," klakson mobil di belakangnya berbunyi.
Rupanya tak disadari dia ngerem mendadak karena terkejut melihat cewek yang dicarinya memasuki sebuah gudang barang rongsokan. Dia membawa satu kantong plastik jumbo berwarna merah. Tak berapa lama mobil di belakangnya mendahului.
"Cuih," orang berada di samping kanan meludah ke arah Zulkan.
Untung tak membuka kaca mobil. Terpaksa Zulkan memarkirkan mobil agak jauh dari tempat yang dituju.
Sejak pagi Eda berjalan mengelilingi pasar tradisional. Menawarkan jasa angkat barang belanjaan, cuci piring di warung makan atau jasa lain. Satu persatu orang yang sekiranya membutuhkan ditawari. Beberapa pedagang hanya memandangnya dari atas sampai bawah. Seakan terheran melihat Eda. Tak sedikit berkelakar akan membayar mahal bila menjadi istri simpanan. Hati Eda terasa sakit. Nafasnya sedikit sesak mendengarnya. Dia tak boleh lagi mengeluarkan air mata, itu janji pada dirinya sendiri. . Semua sudah dia pikirkan semalam.
Setelah berjam-jam menawarkan jasa. Ada seorang nenek yang bersedia menggunakan jasanya. Mengantarkan barang belanjaan sampai ke luar pasar. Lumayan berat sebenarnya. Sampai-sampai peluh mengucur sampai membasahi kaos yang dipakainya.
"Berapa?" kata nenek itu.
"Sekilasnya," jawabnya.
Sang nenek mengeluarkan selembar uang lima ribuan.
"Terimakasih" kata Eda.
Dia mendatangi sebuah warung makan. Kembali menawarkan jasanya. Ada satu warung makan yang justru mencacinya.
"Jangan minta-minta di sini. Masih muda cantik malas cari kerja pabrik. Apa alasan untuk cari-cari," kata sang bos pemilik warung.
Eda menghela nafas mendengar tuduhan mencari kerja hanya sebagai alat menawarkan diri menjadi perempuan yang menjual diri.
Eda teringat dengan Maria, Selfi, Theresia teman akrabnya saat kuliah dulu. Bisa saja dia meminta bantuan padanya. Tapi untuk ke sana dia tak punya uang sepeserpun. Dia lupakan lamunan itu.
Dari cacian ada inspirasi yang muncul dalam benaknya. Pabrik, ya kata pabrik mengingatkan dia pernah bekerja menjadi sekertaris Abris. Tentu mempunyai pengalaman tentang perkantoran. Bisa melamar di pabrik. Tapi siang itu sudah tanggung waktu. Eda melanjutkan menawarkan jasa. Dia datangi lagi warung makan yang berserakan di sekitar pasar. 7
"Saya menawarkan jasa untuk bekerja apa saja," kata Eda sambil menunduk tanda hormat.
Ditengah kesibukannya lelaki itu sejenak melihat ke arah Eda.
"Ada KTP?" tanyanya.
"Maaf saya tidak membawa. Cuci piring saya mau pak," jawabnya.
Dengan rasa ragu sang pemilik warung menerima untuk hari itu saja.
Eda segera mengiyakan. Ini kesempatan bekerja untuk modal melamar pekerjaan kantoran atau menemui teman kuliahnya. Tugas Eda mengambil piring bekas makan para pembeli. Dibawa ke belakang untuk dicuci. Saat mengambil piring Eda selalu menyapa para orang yang datang.
"Silahkan bapak, mau pesan apa?" kata Eda ramah. Bahkan tiap orang yang lewat ditawari.
"Silahkan yang mau makan," suaranya keras.
Banyak orang yang semula ragu menjadi mampir ke warung itu. Sang pemilik dan pelayanan warung yang sudah lama bekerja merasa heran. Cara melayani seperti ala resto. Tapi mereka hanya berani berpandangan saat Eda melakukan hal yang dianggap konyol itu.
"Ini gaji kamu hari ini. Karena dagangan habis jam empat, aku beri kau lima puluh ribu. Bagaimana" tanya pemilik warung.
"Terimakasih," kata Eda.
Jam sudah hampir jam empat sore Warung mulai bersiap tutup. Biasanya sampai jam enam sore baru tutup.
Eda berjalan pulang. Dia tenteng kantong plastik jumbo yang berisi aneka sampah gelas plastik, sendok dan beberapa macam botol minuman. Sengaja dipilih saat membersihkan meja tadi. Derap kakinya melangkah pulang. Ia mampir gudang rosok yang tidak jauh dari area pasar.
"Ini hanya satu kilo lebih. Saya kasih tiga ribu duit. Besok bawa yang banyak. Banyak pula botol bekas berserakan. Ambil saja," kata pemilik.
Eda menghela nafas panjang. Kakinya melangkah keluar area rosok. Bibirnya tersenyum tipis. Air matanya mulai menyelimuti mata bening.
"Hem, hidup," katanya lirih sambil menyusuri trotoar.
Lamunannya terpenggal. Ada suara yang menyapanya.
"Eda, dari mana saja kau. Semua khawatir dengan keadaanmu. Kasihan bik Tin nunggu kamu. Kalau sampai ditinggal pulang, rumah dikunci kau tak bisa masuk. Ini apa?" kata Zulkan dengan panik.
Tangannya merebut uang di genggaman Eda. Eda hanya bisa diam. Pasrah dengan nada tinggi yang diucapkan Zulkan.
"Eda," kata rendah.
Zulkan tak habis pikir, Eda melakukan itu.
"Kita pulang," ajaknya.
Wajahnya kelihatan beku. Tak berkata lagi dalam perjalanan. Dia juga tidak melihat ke arah Eda sama sekali. Eda menjadi salah tingkah dibuatnya.
"Zul, maafkan aku," kata Eda sebelum turun dari mobil.
"Kita makan dulu," kata Zulkan.
Keduanya memasuki rumah menuju ruang makan.
"Maaf, mbak Tin pulang saja. Nanti saya yang membereskan ," kata Eda.
Keduanya menikmati hidangan makan. Leher Zulkan terasa ada tali yang mengikat. Sulit untuk menelan makanan. Perlahan makanan yang hanya sedikit itu ditelannya. Beda dengan Eda, yang begitu lahap dengan porsi banyak. Hati Zulkan semakin campur aduk. Melihat dari cara makannya jelas Eda kelaparan. Zulkan hanya berani melirik. Takut Eda tersinggung.
"Kau mandi dulu, kita ketemu nanti jam tujuh," kata Zulkan.
Keduanya masuk kamar masing-masing.
Setelah mandi, sholat, Zulkan merebahkan dirinya di kasur. Memandangi langit-langit kamar yang penuh warna. Sehari ini saja sudah beribu rasa bersemayam di hatinya. Mulai dari bangun tidur ke kantor. Menemui beberapa orang yang ingin kerja sama. Kesibukannya ternyata mempercepat waktu. Ditengah lamunan teringat Eda. Teringat senyum lepasnya, keceriaan dan daya humor. Seketika hilang ditelan cacian dari suaminya sendiri. Sekarang cewek cantik itu bersamanya satu rumah. Tanpa ada orang lain.
" Hem," Zulkan menghela nafas panjang.
Dia berdiri akan memenuhi janji bertemu Eda setelah sholat magrib. Ketika membuka pintu kamar, tak ada tanda orang lain di ruangan. Sepi, bagai suasana tengah malam. Kepalanya dijulurkan ke dapur, nihil. Lalu perlahan naik ke lantai dua.
"Tho, thok, thok..... ,": tangan kanannya mengetuk pintu kamar Eda.
Diulangi beberapa kali sambil di panggil. Sang punya suara tak jua membalasnya. Perlahan pintu kamar dibuka. Terlihat seorang bidadari sedang terlentang di atas kasur.
Zulkan perlahan mendekat, terlihat wajah putih berseri. Bibir tipisnya memerah bagai mawar yang sedang melakukan. Wajah polos tanpa bedak dan riasan. Nafasnya teratur dengan mata terpejam. Zulkan menutupkan selimut ke tubuh mungil itu perlahan. Sambil duduk ditepi ranjang, Zulkan menikmati wajah manis. Seakan tak berkedip melihat bidadari itu. Tangan Zulkan mulai mendekat waja Eda. Rambut yang berserakan di rapikan. Diusapnya dengan lembut rambut dengan membungkukkan badan. Kini wajah Zulkan dekat dengan wajah Eda. Semakin dekat wajah mereka, debat jantung Zulkan semakin berdetak kencang. Nafasnya tersengal-sengal. Apalagi melihat biar tipis Eda.
"Zul," kata Eda tersentak.
"Oh...aku, aku membangunkan mu? Aku hanya...." kata Zulkan tersengal.
"Maaf. Akan aku tertidur. Aku buatkan kopi untukmu," kata Eda.
"Kalau mengantuk tidur saja,"kata Zulkan sambil ke luar kamar
Eda segera bangkit. Dia menuju dapur. Membuatkan kopi hitam tanpa gula buat Zulkan.
Zulkan meredam debar di dada dengan memandangi berjuta lampu dari balkon lantai atas. Sebentar di memejamkan mata menghela nafas panjang. Menelisik dalam dirinya yang tiba-tiba ingin melindungi Eda.
"Kau masih ingat kesukaan ku," kata Zulkan setelah melirik kedatangan Eda.
'’Ya. Kopi hitam tanpa gula. Dulu kita bertiga sering menikmatinya bertiga.," kata Eda.
"Suasana kembali ke lima tahun lalu. bertiga menikmati kopi sambil melihat indahnya lampu aneka warna. Lihatlah jauh disana,"kata Zulkan.
Eda hanya mengarahkan saja wajah serius Zulkan. Lama mereka saling diam. Memandang jauh gedung yang gemerlap.
"Eda, kamu perlu cerita kepada orang yang kau percaya agar kau lega. Janganlah hanya diam, menyimpan sendiri. Sebenarnya apa yang kamu lakukan tadi sampai memulung. Kalau percaya kepada ku ceritakan. Mungkin aku bisa membantu" kata Zulkan.
Kata itu diucapkan dengan menghadap kepada Eda. Wajah cantik itu dipandangi dalam-dalam.
Gerak refleks Eda tak bisa ditolak Zulkan. Eda memeluk erat tubuh Zulkan yang kekar itu. Tangisannya kembali pecah.
"Aku tak mau merepotkan kamu terus. Aku harus bisa mandiri. Tapi......," katanya terbata. Kadang terhapus oleh tangisnya.
Zulkan hanya diam. Menunggu dengan sabar kata demi kata yang keluar dari bibir Eda.
"Menangislah kalau itu membuatmu lega," kata Zulfa sambil mengelus rambut Eda.
Eda terus memeluk Zulkan erat. Semakin kencang saat rambutnya dielus. Rasanya seperti anak ayam yang tidak mau ditinggal induknya. Mendapatkan perlindungan kala ada seorang yang melindungi. Takut kehilangan.
Bila Eda ingin mencari pekerjaan disarankan untuk melamar pekerjaan kantoran seperti yang dilakukan dulu. Zulkan juga memberikan sebuah ATM yang bisa dipakai Eda untuk semua keperluan.
"Sekarang tidurlah, kamu perlu istirahat, “kata Zulkan sambil mengusap air mata yang mengalir.
Kepul kopi sudah enggan ke luar menghentikan cerita malam itu. "Abris, kau tega membuat istrimu menderita," kata Zulkan sambil menahan emosi.
Di meja makan hari itu sudah disajikan makanan lengkap. Ada nasi, sayur dan beberapa lauk gorengan. Seperti biasa kak Muz pasti mengajak bik Tin untuk menemani sarapan. Satu lagi dari kursi terisi Eda.
Setelah makan, Eda diajak untuk pergi bersama kak Muz. Akan dipertemukan dengan temannya pemilik sebuah hotel yang cukup besar. Siapa tahu mereka saling cocok dalam pekerjaan, karena salah satu hotel akan ada pegawai yang cuti melahirkan.
"Dik Eda mau kembali bekerja?" tanya kak Muz.
Bagai di pucuk ulam pun tiba. Hal yang diharapkan ternyata ada tawaran. Pertanyaan itu bagai sebuah emas yang jatuh dari langit. Tentu saja diterima dengan senang hati.
"Iya mbak. Dengan senang hati," jawab Eda cepat.
Selama perjalanan hati Eda seakan bagai ombak laut selatan. Berdebar tanpa dasar yang jelas. Berandai-andai bila nanti di tes.
“Mampir ke kampus dulu sebentar. Ada mahasiswa yang akan konsultasi," kata kak Muz.
Eda hanya mengangguk tanda setuju. Akan bagaimana lagi, ibaratnya nyawanya saat ini tergantung dari kak Muz. Dia tinggal dan makan dari kak Muz.
Waktu menanti satu jam bagai setahun. Debar hati yang tak menentu membuat hatinya resah. Untungnya dia sengaja menanti di taman kampus. Bisa melihat penjuru kampus yang asri. Para mahasiswa lalu lalang di hadapannya. Pandangan Eda terhenti pada pohon besar di sebelah kanan dia duduk. Pohon yang dibawahnya ada beberapa bangku. Tempat itu mirip sekali dengan saat-saat dia duduk berdua dengan Abris. Datang seorang cowok yang memperkenalkan diri dengan nama Zulkan Azima Armananda. Zulkan yang sekarang menyambung semangat setelah hidupnya ketika terjerumus dalam neraka.
"Tut...tut..tut," hp yang berada di tasnya berdering.
"Dimana?" tanyanya dari seberang sana.
"Dikampusnya kak Muz. Akan dikenakan dengan temanya," jawab Eda.
Orang yang menelpon tadi, Zulkan. Orang yang memberikan hp itu kepada Eda. Agar sewaktu-waktu bisa menghubungi Eda.
Selesai dari kampus Eda bersama Kak Muz membelah kota Surabaya. Kota berhawa panas itu memberi sebuah harapan. Harapan kembali bekerja, mencari uang dan akhirnya kembali menjadi perempuan mandiri.
"Ini orang yang kau ceritakan kepadaku kemarin," tanya bapak Haryo Ardian.
Dia sahabat kak Muz. Pemilik beberapa hotel di Surabaya dan kota besar lainnya. Pandangan mata orang itu tertuju pada penampilan Eda dari ujung rambut sampai ujung sepatu.
"Dasarnya cantik, tapi....," kata pak Haryo.
"Dia resign sudah lima tahun. Kalau soal penampilan bisa ditata kemudian. Pernah menjadi asisten adikku. Coba dulu lah mas. Sambil nunggu pegawai mas cuti," kata kak Muz memotong pembicaraan pak Haryo.
Pak Haryo sedikit menjelaskan kunci bekerja padanya. Etika dan kedisiplinan yang utama. Bekerja jujur tak banyak tingkah. Mempunyai mental kuat. Kerja di hotel banyak godaan karena yang datang berbagai macam karakter dan tujuan. Sederhana saja, harus mempunyai pikiran yang positif.
Eda hanya menyimak pembicaraan mereka. Perasaan was-was menyelimuti setiap detak jantung. Takut ada penolakan. Ternyata perasaan hanya sebut morgana. Kini Eda sudah dua Minggu bekerja. Tak ada masalah baginya. Sebagai calon pengganti janitor cleaning service banyak belajar dari senior.
Pagi itu, seorang cleaning service menjatuhkan washcloth di depan toilet lobby. Dia benar-benar tak menyadari. Eda yang mengetahui segera mengambil sebelum ada tamu yang mengetahui. Dia berjalan menuju toilet bermaksud memberikan washcloth.
"Washclothnya jatuh. Lain kali hati-hati. Trolinya ini letakkan di pojok. Kalau ada orang yang akan ke toilet masih bisa lewat," kata Eda sambil mendorong troli perlengkapan cleaning service.
"Oh. Ternyata kau jadi babu juga disini. Memang bakatmu babu. Malu-maluin saja. Oh ya besok datang ke KUA. Aku mau resmi ceraikan kamu. Semua berkas sudah ku kirim sejak kau pergi," kata Abris.
Rupanya Abris sudah membututinya sejak tadi. Eda hanya bisa diam. Menundukkan kepala dengan sejuta rasa. Ingin hati berontak, tapi persendian terasa lemas. Bibirnya kelu untuk berkata.
Sepergian Abris, Eda masih terdiam. Kata cacian tudingan jemari merobek harga diri terus menghantui dirinya. Dia tersadar saat rekan kerjanya menanyakan keadaan. Walaupun rekanya baru diingatkan karena ketiduran ternyata peduli juga kepadanya. Eda segera melangkah ke ruangan. Dia duduk lemas di kursi kerjanya.
Sinar mentari siang untuk cukup kuat. Saat jarum jam menunjuk pukul empat masih bersinar terang. Seterang harapan para pekerja yang keluar dari kantor masing-masing. Begitu juga Zulkan. Dia mengemudi dengan berbagai lamunan. Angannya pada keadaan Eda yang mengirim pesan WA kepadanya. Meminta waktu untuk bertemu.
Bayangan kuat terngiang di benaknya. Eda berpamitan untuk kembali pulang ke rumahnya. Kembali kepada Abris suami sahnya. Memang cepat atau lambat Eda pasti akan pergi. Sekarang yang dirasakan Zulkan menjadi resah bila suatu saat Eda benar meninggalkan rumah kak Muz. Helaan nafas panjang mulai terdengar. Dia ingin menepis bayangan itu. Tapi tak semudah itu. Kembali dia teringat saat dia tahu Eda di usir, membawa kantong plastik merah hasil memulung, menggenggam uang hasil kerja. Sungguh tak rela, orang yang pernah di hatinya bernasib seperti itu. Walaupun dia sudah bisa menyinarkan rasa yang belum terucap karena dinikahi sahabatnya sendiri. Selama ini dia menghormati layaknya istri sahabatnya. Tapi kini lain. Wanita itu sekarang kembali di hatinya. Menghiasi hari-hari. Membuat harapan yang dulu berhasil disinarkan.
"Kau kembali menangis?" tanya Zulkan. Perempuan yang duduk di kursi balkon. Pandangannya jauh menuju matahari yang memerah di ufuk barat.
"Apa kau belum menyadari kalau kau wanita hebat?" tanyanya lagi.
"Abris mengundangku ke KUA besok. Aku akan dicerai," katanya lembut.
Langkah kaki Zulkan membawanya berdiri disamping Eda. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana. Kemeja kotak-kotak biru putih membuat dia kelihatan gagah.
"Semua tergantung padamu. Kamu wanita hebat. Kalau kau ingin kembali pada Abris, kembalilah...," kata Zulkan.
"Tapi dia tidak pernah menghargai ku. Selalu menghinaku...," kata Eda.
Zulkan mendekat pada Eda. Duduk tepat berhadapan dengan wanita cantik itu. Dipandangi wajah dalam-dalam.
"Jujurlah pada dirimu sendiri. Apapun keputusanmu, aku mendukungmu," kata Zulkan sambil menggenggam tangan Eda.
Dia tersenyum memberi semangat. Dalam hatinya sebenarnya pedih bak luka terkena asam.
Keesokan di tempat yang sama. Zulkan justru menunggu kepulangan Eda. Dia memandangi senja yang terbalut awan. Sinar jingga hanya samar terlihat dari sela gumpalan pekat. Seperti harapan perjaka menunggu pujaan hati. Resah tanpa kata.
Eda menaiki tangga. Kini badannya terasa ringan. Bilik hatinya kosong dengan dinding warna putih bersih. Tak setitik hitam ada di dalam. Senyum mengembang tipis. Kemenangan ada dalam dirinya. Hari ini dia menoreh tanda tangan di atas kertas perpisahan dengan Abris. Tanpa suatu syarat dan sepatah kata darinya. Semua tuduhan sebagai alasan perpisahan pernikahan hanya dijawab dengan kata “Ya benar.” Prosesnya sangat cepat. Tak serumit bayangan Eda sebelumnya. Air mata pun tak lagi berlinang, dia tahu semua itu tak ada manfaatnya sekarang. Masa depan lebih penting buat dirinya.
Langkah Eda berhenti. Dia menghampiri Zulkan yang berdiri mematung di balkon lantai atas. .
"Tuan maukah saya buatkan kopi manis?" kata Eda sambil tersenyum manja.
Zulkan tersenyum sambil mencubit dagu Eda. Dengan cekatan Eda segera melangkahkan kaki. Tapi kaki itu terhenti kala tangannya merasa ada yang menarik. Eda tak kuasai menyeimbangkan dirinya. Sekejap dia berada dipelukan Zulkan.
"Aku takut jatuh cinta," bisik Zulkan.
Eda segera melepaskan diri. Berlari menuju dapur. Tak sampai rindu datang pada diri Zulkan, wajah manis kembali tersenyum di hadapan Zulkan sambil membawa dua cangkir kopi panas. Sambil bercekerama, Eda mulai bercerita. Mulai dia melangkahkan kaki di pintu KUA sampai dia kembali meninggalkan pintu.
"Kamu betul, air mataku bukan untuk Abris. Aku akan simpan untuk kebahagiaanku," katanya sambil ceria.
"Jadi kau?" kata Zulkan.
"Mana berani aku menggoda perjaka kalau aku masih bersuami," kata Eda.
Keduanya memandang langit hitam. Tak terasa dari arah sebaliknya, rembulan sudah tersenyum. Indah bagai cerita mereka berdua. Kembali seperti saat belum Abris ada diantara mereka.
Saat pagi tiba. Hari sudah berganti. Semalaman Eda mulai mengulik kesalahan hidup yang tak mungkin diulang. Apalagi kak Muz cerita. Suaminya akan kembali ke tanah air. Dia akan berada diantara mereka. Hidup menumpang pada keluarga orang lain. Dia akan menjadi salah satu wanita dari satu lelaki di rumah itu.
Sementara kak Muz sendiri mulai pagi sudah berada di dapur. Dia akan menjamu tamu keluarga. Eda ya Eda yang sudah dianggap sebagai saudara sendiri yang baru menerima talak dari suaminya. Rasa simpati akan disampai dalam jamuan makan pagi di hari Minggu itu.
"Bik Tin. Panggil mbak Eda untuk sarapan," kata Kak Muz setengah berteriak.
Masih juga dia melangkahkan kaki, Eda sudah berada di depannya sambil membawa koper besarnya.
"Mbak Eda," kata bik Tin keras.
Teriakan itu membuat kak Muz melihat ke arah Eda. Dia sangat heran dengan Eda yang membawa koper besar.
"Maaf, saya bertemu kasih. Kak Muz sudah mengijinkan aku tinggal. Mencarikan pekerjaan dan memperlakukanku seperti saudara,"kata Eda.
"Loh kamu mau apa?" kata Kak Muz.
"Saya ingin mengawali semuanya dari nol," kata Eda.
Zulkan yang baru datang merasa heran. Eda berdiri di dekat tangga dengan menenteng koper.
"Ada apa?" tanya Zulkan.
"Tidak penting," jawab kak Muz.
Selanjutnya kak Muz tidak mengizinkan Eda pergi. Justru harus tinggal di rumah itu. Rumah akan ditinggal kak Muz pergi mengikuti suami karena sang suami tak jadi pulang. Rumah akan kosong. Dari pada rusak, Eda harus menempati sampai dia mampu mempunyai rumah sendiri. Bahkan selesai sarapan Eda aka diajak ke Mall untuk belanja persiapan menyusul suami ke luar negeri.
Sarapan hari itu disiapkan khusus untuk Eda. Bik Tin dan suaminya diajak semeja pula. Sekalian meminta doa agar diberi kesempatan kerasan di negeri orang.
Ramainya mall menyemangati Zulkan untuk semakin berani mendekati Eda. Sering dia mencuri kesempatan memandangi wajah cantik. Saat memilih baju bersama kak Muz, mata Zulkan tak terlepas dari curi pandang. Sebaliknya, Eda juga sering memandang pada Zulkan. Ketika pandangan beradu senyum Zulkan mengembang bak bunga mawar. Sedang Eda dengan malu-malu menunduk. Dimata Eda, hari itu Zulkan tampil sempurna. Memakai kaos putih dan celana jeans biru. Out fit favorit Zulkan semasa kuliah.
"Mau ukur baju ke AMONA. Aku tunggu di sana," kata kak Muz sambil menunjuk galeri AMONA.
Pasangan itu mengangguk. Tiba-tiba mata Eda tertuju pada hem merah motif kotak. Tangannya segera menyeret tangan Zulkan.
"Ayo ikut," kata Eda.
Sampai di dekat baju Zulkan tersipu. Ternyata selama ini Eda memperhatikan Zulkan. Dari luar dia teman biasa.
"Ukuran apa?" kata Eda
"XL," jawab Zulkan singkat.
Eda segera meminta pelayanan memproses pembelian Hem itu. Keduanya menuju kasir. Saling berebut saat pembayaran. Eda akan membayar baju itu, memberikan kepada Zulkan sebagai hadiah. Selama ini sudah banyak membantunya.
Zulkan merasa gengsi kalau yang harus dibayar seorang perempuan. Di depan kasir terjadi perdebatan. Saling memberi kartu tunai. Sampai-sampai kasir kebingungan.
"Ini gajiku pertama, kau harus menerima sebagai ucapan terimakasihku," kata Eda.
"Ok terimakasih kalau begitu nona. Tapi hanya kali ini," jawab sambil membungkukkan badan.
Semua tersenyum, termasuk penjaga toko yang melayaninya. Semua itu sirna seketika ketika seorang lelaki mendatangi.
“Oh, ternyata kau selingkuh juga selamat ini dengan sahabatku. Perempuan benalu," kata Abris dengan nada emosi.
Tangannya mencengkram baju Eda. Dengan reflek Zulkan menepis tangan Abris. Melindungi Eda.
"Kau sahabatku seperti saudara. Kali ini aku tak setuju . Tega-teganya kau usir istrimu sampai dia jadi pemulung di jalanan. Lelaki tak bertanggung jawab," kata Zulkan menandingi dengan nada emosi.
Perdebatan menjadi perhatian pengunjung mall. Dengan hitungan jari mereka mengerumuni mereka bertiga. Rasa ingin tahu permasalahan dan penyelesaian. Banyak yang mencibir perempuan selingkuh lalu pergi. Bisik-bisik antar teman hampir semua.
"Sudah-sudah," kata kak Muz singkat.
Tangan Zulkan dan Eda di tarik keluar mall.
"Kalian sudah dewasa. Introspeksi diri," kata kak Muz setelah sampai di rumah. Mereka duduk bertiga di sofa ruang tamu. Suasana hening kembali. Zulkan dan Eda menundukkan kepala.
Tak lama kemudian Eda meminta maaf kepada kak Muz. Dia merasa kejadian tadi disebabkan kesalahannya.
"Sekarang istirahat dulu. Kita ketemu besok pagi,"kata kak Muz.
Mereka bertiga masuk kamar masing-masing.
Dua hari mendatang suasana menjadi kaku. Eda berusaha untuk berkegiatan seperti biasa. Bangun pagi membantu bik Tin masak, sarapan bersama kak Muz kemudian berangkat kerja. Komunikasi hanya sekedarnya saja. Ucapan selamat pagi, berangkat kerja mengucapkan salam. Tak ada canda seperti hari sebelumnya.
"Dik Eda,"kata kak Muz pagi itu di dalam mobil.
Sengaja kak Muz menawarkan tumpangan berangkat kerja. Walaupun bukan yang pertama dia menumpang tapi sapa kak Muz pagi itu membuat hati Eda berdebar.
Eda menoleh sambil menundukkan kepala. Bibirnya terkatup beku. Maksud hati menjawab, suara tak keluar walau hanya mendesis.
"Saya tahu dik Eda wanita kuat. Jangan lupa kendalikan diri bila kejadian kemarin berseliweran di medsos. Fokus saja pada pekerjaan. Lebih baik diam atau tidak usah membuka medsos dulu," kata kak Muz.
Rasanya bagai disambar petir. Memang sejak kemarin dia tidak membuka semua medsosnya. Pikirannya terlalu kacau. Rasa ketakutan yang terpendam mungkin sudah terbukti karena tanda dari kata-kata kak Muz. Itu yang membuat Eda semakin kaku di seluruh badanya. Dia hanya mengangguk perlahan. Lalu turun di depan hotel dia bekerja.
Malam rasanya begitu lama setelah dia membaca WA dari Zulkan. WA singkat yang menimbulkan sejuta pertanyaan.
"Nanti malam aku ingin bicara," tulisan Zulkan.
Sehari rasanya gelisah. Tak bisa fokus bekerja walaupun sudah berusaha menghapus bayangan wajah Zulkan. Melupakan pesan yang telah hilang sejak kejadian di mall lima hari lalu. Ada sedikit rasa rindu yang terobati sebenarnya, tapi rasa penasaran tak mampu meluluhkan rasa gengsinya.
"Ok," hanya tulisan itu yang dikirim sebagai jawaban.
Senja yang kesekian kalinya. Terlihat indah di balkon lantai dua rumah kak Muz. Lagi-lagi Zulkan sudah berdiri menikmati jingga dilangit barat. Awan tipis yang menghiasi langit perlahan terbawa angin melintasi di depan matahari. Menjadi penghalang yang dinanti sebagai hiasan terindah saat senja. Ketika perlahan Eda sampai di tempat itu sapaan kopi panas sudah siap di sodorkan.
"Ini kopi untukmu," sambut Zulkan sambil menyodorkan kopi panas.
Diseruputnya kehangatan sambutan Zulkan.
"Eda," kata Zulkan berhenti.
Perempuan yang disebut namanya memandangi dalam-dalam wajah lelaki di sampingnya. Tapi lelaki itu bergeming. Hanya memandang matahari yang semakin tenggelam.
"Kita menikah,' katanya dingin.
Pandangan tak berubah. Hanya sebuah kalimat singkat yang terdengar. Cangkir yang dipegang menggunakan tangan kanan pun tak berubah posisi.
"Tidak. Tidak mungkin, persahabatanmu dengan Abris akan renggang. Aku tidak mau itu terjadi," kata Eda sambil mundur beberapa langkah.
Dengan nada bimbang Eda berpamitan masuk ke kamar. Meninggalkan senja yang dinikmati Zulkan sendirian. Malam semakin kelam . Matahari tanpa sinar terlihat. Langit gelap tanpa rembulan bagai hati Zulkan saat ini.
Kali ini Eda tak lagi bisa mengelak. Ajakan Zulkan yang disampaikan lewat kak Muz.
"Bersiaplah, Zulkan sejam lagi menjemputmu. Akan mengajak berlibur beberapa malam dengan teman masa kecilnya di kampung," kata Kak Muz.
Eda yang saat itu baru sarapan hanya diam. Perkataan kak Muz memberi arti kalau setuju dia dengan Zulkan. Di sudut hati yang lain, dia takut kalau Abris berulah lagi. Pertemanan keduanya sejak SMA akan terputus karenanya.
"Kak,' kata Eda.
Kak Muz berdiri tanpa peduli . Berjalan menuju ke kamar sambil menerima telepon dari suaminya.
Setengah sejam kemudian pintu kamar Eda terdengar diketuk beberapa kali.
"Eda, Eda...."suara seorang lelaki.
Lelaki itu kembali beberapa kali mengetuk. Tak kunjung pula ada jawaban. Ditariknya gagang pintu yang tak terkunci. Terlihat sepi dalam kamar. Kepalanya dimasukkan ke dalam kamar. Tiba-tiba dada lelaki itu berdetak kencang bagai akan meledak. Segere kepalanya ditarik. Pintu kembali ditutup perlahan. Rasa lemas sekujur tubuh merambat sampai ubun-ubun. Dadanya berdetak kencang.
"Plak....plak....plak," terdengar suara tangan Zulkan menampar pipinya sendiri.
Rasa sakit yang dirasakan membuktikan dia tidak bermimpi. Melihat lekuk tubuh indah yang dilihatnya tadi sebuah kenyataan bagai siluet seorang putri. Tubuh yang terbalut dalam gemericik air shower dalam kamar mandi. Memang kak Muz mendesain kamar mandi menggunakan kaca samar. Sehingga ketika ada orang yang mandi akan menjadi siluet diterangi lampu temaram kamar mandi.
Beberapa menit dibutuhkan Zulkan untuk kembali menata detak jantung kembali normal seperti semula. Saat suda tak terdengar gemericik air dia kembali mengetuk pintu. Beberapa kali diulang.
"Masuk," terdengar suara dari dalam.
Handle pintu diulir. Pintu terbuka, Zulkan tak melihat seorangpun di dalam.
"Eh..kau. Ku kira bik Tin. Maaf, aku...," katanya agak kebingungan.
Zulkan yang terperanjat melihat bidadari yang tiba-tiba muncul di depannya. Bidadari yang mengenakan piyama handuk dengan rambut dibalut kain handuk. Terlihat dadanya putih bersih sedikit terlihat. Lehernya jenjang. Wajah polos tanpa sedikitpun polesan. Cantik alami.
Dia mulai tergagap menjawab. Dia hanya mengantarkan kaos sebagai dress code pertemuan. Lalu membalikkan badan menuruni tangga. Selama perjalanan dia tersenyum puas.
"Zulkan ternyata kau bisa nakal juga," katanya lirih pada dirinya sendiri.
Bagaimana tak nakal, dia tahu kalau Eda sedang mandi, hanya beberapa menit saja dia kembali mengetuk pintu.
"Eda," tak sadar dia menyebut nama.
Setelah tiga jam perjalanan sampai di sebuah acara. Kali ini teman-teman Zulkan hanya terperangah. Tak seperti kalau sedang di grup Wa. Selalu membuli bujang lapuk yang tak laku-laku. Terlalu banyak pilihan tapi tak mau dipilih. Beberapa kali diperkenalkan beberapa teman, gadis dari berbagai kalangan pun tak berujung jawaban. Andai listrik tak ada setrum yang mengalir.
Kini bulian itu sirna dengan sendirinya. Semua tersenyum melihat sahabatnya itu menggandeng seorang cewek cantik.
"Kalau tak BO kan?" bisik salah satu teman saat bersalaman.
"Bisa jadi," jawab Zulkan seenaknya.
"Bangsat kau," kata temannya sekeras-kerasnya.
Sontak semua pandangan tertuju pada Zulkan. Eda yang tahu Zulkan dibuli hanya tersenyum saja. Padahal dalam hatinya berkecamuk juga. Takut kalau ada yang tahu cerita hidupnya. Benar juga, salah satu dari istri teman Zulkan bercerita dengan cewek yang di sampingnya.
"Alhamdulillah, akhirnya nikah juga. Dulu patah hati, gadis yang dia suka memilih sahabatnya," katanya.
Bagai disambar petir Eda mendengarnya. Perempuan itu pasti tahu tentangnya. Tentang kehidupan sebelumnya saat menjadi istri Abris. Dilain perasaannya, penyesalan mulai ada. Tahu kalau Zulkan sebenarnya suka padanya. Dia mencoba memejamkan mata. Mencari jejak masa yang terpatri dalam memori. Tingkah Zulkan yang sering menyapanya di kantin kampus. Sering duduk dibangku yang sama. Pojok ruangan. Bila Eda datang baru antri memesan makanan.
"Hai, ngelamun aja," suara perempuan mengagetkan.
Seorang perempuan berdandan menor. Make up tebal dengan alis tato. Perhiasan emas hampir seluruh jemari. Bibirnya merah mencolok.
“Saya Kasyansa. Selamat ya pengantin baru semoga langgeng. Zulkan itu memang dingin orangnya. Tapi kalau di cuekin ngejar juga," katanya sambil mengulurkan tangan sambil mencium kanan kiri tanda keakraban.
Eda menerima tanda persahabatan itu dengan hangat pula. Mempersilahkan duduk di kursi sampingnya. Senyum termanis disuguhkan.
"Zulkan itu setiap, lembut , dan perhatian banget. Pokoknya top deh. Aku tiga tahun di SMP jadi pacarnya. Ya setelah lulus hilang kontak. Baru bertemu sekarang. Sayangnya aku sudah punya dua anak," katanya tanpa sela.
Senyum Eda yang semula tulus menjadi agak masam. Tanpa ada yang bertanya menceritakan hal pribadi. Seharus privasi. Otaknya mulai menelisik tujuan wanita
Dari kejauhan sepasang mata memperhatikan gerik mereka berdua. Mimik saat bicara, reaksi Eda selalu diliriknya. Bibir bicara tapi mata tak terlewat sedikitpun membaca. Bola matanya benar selalu tertuju pada Eda.
Rupanya sepasang itu masih ingat sifat Kasyansa. Terlalu mendramatisir cerita.Sifat asli sejak menjadi teman SMP. Selama SMP sering dipanggil ke BK karena buat membuat masalah.
Kedipan mata dan uluran tangan sepasang mata memberi kode kepada Eda untuk berjoget.
"Zul...., rindu banget ya rasanya," kata Kasyansa.
"Ok. Aku bahagiakan istriku dulu," jawab Zulkan dingin menanggapi sapaan teman SMPnya itu.
Tangan Eda segera di tarik ke area joget. Bergabung dengan pasangan lain. Keduanya langsung terlihat asyik . Hanyut dengan irama lagu.
Zulkan memandangi setiap gerak yang dilakukan Eda. Semua terasa menarik baginya. Pandangan penuh cinta yang tak bisa disembunyikan. Terlihat dari binar wajah yang selalu tersenyum bahagia.
Sementara hati Eda sejuta rasa. Antara takut masa lalunya terbaca dengan rasa nyaman disamping Zulkan.
Bercampur aduk menyebabkan detak jantung kadang berdebar. Senyum manisnya selalu menutupi rasa dalam dada.
Tiba-tiba musik pelan, perlahan berganti irama dansa. Semua pasangan berpelukan mengikuti alunan musik, termasuk Zulkan. Dia segera meraih kedua tangan Eda, di letakkan di atas pundaknya. Pinggang dipegangnya erat-erat. Kaki melangkah ke kiri ke kanan mengikuti irama.
Suasana yang sebelumnya riuh perlahan senyap. Mereka merasakan syahdu bersama perasaan masing-masing.
"Aku sayang padamu," bisik Zulkan.
Tetiba suara mendarat di telinga. Wajah Eda memerah seketika. Seakan disambar petir. Detak jantung menjadi seribu kali lebih cepat. Membuatnya salah tingkah. Dia berusaha melirik kiri kanan. Melihat reaksi pasangan lain. Ternyata semua dalam sikap yang sama. Menikmati indahnya malam seiring irama lagu yang mengalun. Melupakan indahnya bintang. Senyum rembulan. Kerlip lampu yang membalut kota. Detak jantung tak stabil. Kadang berseri melebihi irama dansa kala bisa mengalir seirama musik. Detak jantung Eda kembali berdebar kala mendengar desah nafas Zulkan yang bergemuruh. Pelukan erat sampai terasa menyesakkan pinggang.
Malam itu malam tersingkat yang dirasa Eda dan Zulkan. Semenit serasa sejam dibuatnya. Tak terasa jarum jam menunjuk tengah malam. Satu persatu pasangan dansa menghilang dari arena. Melanjutkan syahdunya malam di balik pintu kamar. Zulkan segera merenggangkan pelukan. Menarik tangan Eda menuju kamar yang tadi disediakan untuk nya, kamar 09. Kala Eda memasuki kamar, pintu segera ditutup. Badanya ditekan keras oleh Zulkan sampai menempel di tembok.
"Kita menikah," kata Zulkan.
Belum lagi bibir Eda menjawab. Bibirnya sudah tak bisa dibuka. Bibir Zulkan sudah mendarat lembut di bibirnya. Mereka hanyut dalam cerita keindahan cinta dengan menjelajahi hangatnya rayuan tanpa kata. Mata keduanya terpejam. Angan berkelana menyusuri aliran sungai. Air bening mengalir perlahan melewati lembah antar pegunungan yang rindang. Nafas menderu semakin laju. Mereka lari tak terkendali. Di sela nafas desahan mesra bisikan surga. Keduanya hampir masuk ke sebuah jurang.
"Zul.... maafkan aku," kata Eda.
Kedua tangan Eda berusaha mendorong badan Zulkan yang sudah berada di atas badanya. Dengan nafas yang masih tersengal Zulkan menelentangkan badan di samping Eda.
"Maafkan aku. Aku tak mampu menahan nafsuku," katanya tersengal.
Keduanya saling membisu. Menata nafas yang terasa hampir tak mampu dikendalikan.
Tiba-tiba Zulkan terperanjat bangun dari tidur semalam. Dia melihat kamar sudah terang. Lampu sudah menyala. Terlihat Eda sudah duduk didepan kaca sedang berdandan.
"Maaf kita kesiangan. Aku juga baru bangun," kata Eda.
Zulkan hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Eda. Tanpa kata masuk ke kamar mandi.
Eda yang sudah berdandan rapi ke luar kamar. Menikmati segarnya udara pagi di balkon kamar sambil menunggu Zulkan bebersih diri. Terlihat di kejauhan gunung Panderman yang diselimuti kabut. Kabut berjalan perlahan menerpa kulit. Semakin lama semakin membekukan kulit halus Eda. Tiba-tiba terasa rambutnya disibak dengan lembut.
"Kita pulang sekarang. Aku takut....," kata Zulkan terpenggal.
Eda segera menganggukkan kepala. Senyum dipaksakan untuk menutupi rasa malu akibat kejadian semalam.
"Maaf, aku tidak bermaksud ...," kata Eda.
Kata itu terhenti kala Zulkan memeluk erat dari belakang. Seakan dia tak rela meninggalkan suasana indah pagi itu.
"Aku yang menggodamu. Aku benar-benar tak mau kehilangan kesempatan kedua kalinya," kata Zulkan lirih.
Eda menjawab dengan elusan manja di wajah Zulkan. Mereka berdua mengembara pada anganya masing-masing.
Siang nan cerah. Langit membiru dihiasi awan putih bergerombol. Membuat lukisan bagai ombak laut yang tenang. Burung menari kesana kemari menikmati pagi. Hijau daun yang menyapa di pinggir aspal. Santai bergoyang diterpa angin pagi.
"Oh. Wanita benalu kamu masih punya wajah untuk bertemu denganku," kata Abris dengan emosi.
Kata itu diucapkan saat Zulkan dan Eda mendatangi kantor Abris.
"Bris..." kata Eda dengan nada tinggi pula.
Segera tangan Zulkan menghalangi langkah Eda yang akan menyerang balik. Lain dengan Zulkan. Dia menanggapi kata-kata Abris dengan menundukkan badan sambil mengulurkan tangan bersalaman.
"Besok kami menikah. Aku minta kau salah satu saksinya," kata Zulkan.
"Kamu sok pahlawan ya. Ternyata kau dalang semua ini. Hingga dia berani menentangku," kata Abris garang.
"Bris, kita berteman dan akan tetap berteman, walaupun kamu anggap ini permasalahan. Aku mohon besok kamu berkenan hadir," kata Zulkan.
Sebelum meninggal tempat Zulkan kembali mengulurkan tangan. Tapi emosi Abris tak mau mereda. Dia dengan garang menatap kepergian mereka berdua.
Pernikahan sederhana di kantor KUA berjalan lancar. Akad nikah dihadiri kerabat dekat. Eda sejak tadi sudah melirik ke arah undangan. Hatinya was-was bila Abris benar datang. Takut kalau dia membuat ulah di acara itu. Beberapa kali menelisik seluruh undangan, hasilnya tak ada wajah Abris diantara mereka. Legalah hati untuk sementara.
Acara benar sudah usai, Zulkan dan Eda bergandengan tangan ke luar dari ruang KUA. Diikuti para undangan. Tiba-tiba detak jantung keduanya berdebar kencang. Melihat sesosok lelaki yang berada di depannya. Pegangan tangan Eda semakin erat. Kode itu di baca oleh Zulkan. Sebagai suami harus mampu melindungi istri. Tangan kanan Zulkan menepuk tangan Eda. Debar hati Eda semakin menjadi. Kala sosok itu semakin mendekat. Sosok lelaki dengan membawa sebuah kotak di bawa dengan dua tangannya. Kala mereka sudah berhadapan dekat.
"Eda, ku kembalikan perhiasan yang pernah ku pinjam. Maafkan aku. Selamat atas pernikahanmu," kata Abris sambil menyerahkan kotak bening berisi perhiasan yang dimiliki Eda saat menikah dengan Abris.