Ambisi Arok : Penaklukan Tanah Jawa Merebut Takhta

Matahari
Baskoro. Berdesir dari timur. Menyingsing pagi yang baru bangkit dari peraduannya. Iki tanah jawi, ini tanah keramat, tempat bersemayamnya seribu gunung dan tempat jatuh bangunnya raja raja. inilah tempat bertaburnya mitos, mistis, dan kekuatan yang tak pernah bisa dibayangkan sebelumnya oleh umat manusia. Sampai pada akhirnya, zaman yang baru menuntut singgasananya dan zaman yang telah usang segera sirna.
“Apa yang engkau pikirkan Rok ?”
Lembon Samparan bertanya dengan raut wajah yang gelisah kepada anaknya, yang baru saja pulang.
“Ayah, dengarlah ini, aku sudah muak dengan apa yang terjadi di negeri ini, negeri ini begitu kaya, padi kemuning, air berlimpah ruah, tetapi mengapa yang mendapatkan hasil dari keringat kita adalah segerombolan sampah itu, mereka tak ikut bekerja, mereka tak sedikitpun merasakan cipratan lumpur yang membasuhi tubuh kita. Mereka tak sedikitpun menyucurkan keringatnya untuk bisa makan dan bertahan hidup hari ini. kita yang kerja, kitalah yang seharusnya sejahtera, bukan mereka yang Uro uro.” Jawab Arok dengan gusar. Ia makin kesal bahwa ia baru saja menyambangi orang tua angkatnya yang telah lama berselang ia tinggalkan dan pertemuan mereka diisi dengan harapan yang jauh dari keinginannya.
“Hey anakku, pikirkanlah keselamatanmu, apa kau tak tau apa yang sedang kau hadapi, diluar sana banyak keris kasat mata yang siap menghujammu dari belakang. ayah menyuruhmu menjadi prajurit kerajaan agar kau bisa hidup lebih baik, agar kau punya masa depan yang tak suram seperti ayahmu ini, agar derajatmu bisa terangkat nak, dan..” Dengan tak sabar Arok memutus kalimat ayahnya.
“Ayah, apa ayah pikir menjadi prajurit itu meninggikan derajat kita, apa ayah pikir dengan menjadi prajurit derajat kita akan terangkat, apakah ayah mempunyai pikiran bahwa, derajat mereka lebih tinggi dari kita. Bila itu yang ayah pikirkan, ayah telah salah besar. Mereka tak lebih tinggi dari kita. Mereka tak lebih dari sekedar perampok yang bertopeng prajurit, mereka merampas harta dan kebahagiaan rakyat untuk kesenangan mereka sendiri. kita masih lebih baik, merampok untuk bertahan dari hidup yang kian mencekik ini.
“Ayah”. Arok melanjutkanya, dengan nada bicara lebih tenang sekarang.
“Aku bahagia saat ini”
“Kau bicara apa Rok, aku tak mengerti maksud dari perkataanmu itu ?”
“Aku telah menemukan tujuan hidupku…. Aku telah menemukannya. Ia tepat berada di depan mataku, aku bisa melihatnya”.
“Apa yang sebenarnya….”, arok memotong perkataan ayahnya itu.
“Inilah yang selama ini kucari ayah. Selama ini hatiku tak pernah bisa tenang, aku selalu hidup dalam bayang bayang keresahan. ada pertanyaan yang selalu saja muncul dalam benakku dan ketika aku mengingatnya aku merasa kosong, . Untuk apa aku hidup!. untuk apa aku dilahirkan!. Apa tujuanku dilahirkan di muka bumi ini!. Apa tujuan sang Hyang Widhi melahirkanku di bumi Tumapel ini..... tetapi ayah….. hari ini….. sudah kutemukan. jawaban dari semua pertanyaan itu.” Dengan raut wajah penuh gairah Arok beranjak berdiri dan melangkah keluar seketika.
Lembon Samparan bergegas menyusul Arok yang telah duduk di atas kudanya dan mencoba mengurungkan niatan anak angkatnya itu.
“Aku akan bergabung dengan prajurit Tumapel, dan aku akan melepaskan rakyat Tumapel dari belenggu rantai penderitaan ini. akan ku entaskan pralaya dari bumi Tumapel ini, bahkan setanah Jawa sekalipun, bila nantinya ambisiku ini tak bisa tercapai maka keturunankulah yang akan meneruskannya, darahkulah yang akan berdesir membimbing mereka hingga mencapai kejayaannya.
Begitulah Hasrat, Nafsu dan Ambisi menggerakkan manusia. begitulah dari zaman ke zaman, manusia menciptakan sesuatu yang hebat darinya…
Delapan bulan kemudian Arok telah menjadi Hulubalang Jagaraga, setelah membawa pasukannya menumpas gerombolan Tunggul Ponggok yang sering merampok upeti Tumapel di lereng gunung Kelud. Tugas pertamanya menjadi Hulubalang Jagaraga adalah menjaga keamanan Taman utara yang dihuni calon permaisuri Tunggul Ametung. Dedes. Dedes adalah putri seorang Brahmana bernama Empu Parwa, ia dibawa paksa oleh Tunggul Ametung beserta prajuritnya ketika Empu Parwa sedang tidak berada di Panawijil. Brahmana, bisa dibilang merupakan golongan orang-orang dengan kasta tertinggi dan sangat dihormati oleh masyarakatnya. Tunggul Ametung ingin memanfaatkan hal ini, Ia berencana mengawini Dedes dan berharap terkena cipratan keagungan gelar Brahmaninya. Tunggul Ametung sendiri sebenarnya hanyalah seorang perampok yang diangkat menjadi adipati oleh Kediri. Memang keadaan Tumapel menjadi jauh lebih berkembang, Tumapel yang dahulunya adalah sarang para perampok yang ditakuti oleh kediri, kini terlihat lebih baik. Tetapi bagaikan buah labu berisi duri, Tumapel bagian dalam tak seindah luarnya, Kehidupan rakyat Tumapel sendiri malah makin susah, setiap bulannya mereka diwajibkan membayar upeti yang makin lama makin mencekik. Belum lagi para orang tua yang memiliki anak perawan, mereka selalu was was dikala prajurit Tumapel lewat dengan pandangan kamanya. Rakyat Tumapel kini hidup dalam bayang-bayang ketakutan yang bahkan lebih besar dari sebelumnya.
Langit telah memerah di taman utara, pertanda sang surya akan tenggelam dan berganti dengan sinar rembulan. Saat itulah Dedes keluar dari bilik agungnya. Telah beberapa bulan berlalu semenjak pertama kalinya ia datang. Sesekali ia mengusap perutnya yang mulai tumbuh membesar diiringi kulit perutnya yang terasa makin kencang. Ia keluar dari bilik, berjalan menuju ujung geladak yang tegak bersusun rapi di atas telaga dengan air jernih indah berkilauan. Tanpa disadarinya Arok mengawasi dari ujung bukit prajurit dengan wajah berkerut penuh kekhawatiran. Kakinya bersiap untuk berlari menuruni bukit.
Dedes masih memandangi langit sambil berjalan menuju ujung geladak, tetapi tiba-tiba pijakannya goyah, ia terkejut ketika bambu geladak yang ia pijak jatuh ke telaga. Dedes jatuh dengan suara air pecah terbelah badannya. Ia tak bisa berenang, jubah tenun putih membebed erat tubuhnya, teriakan minta tolongnya tak terdengar ketika ia tenggelam kian dalam ke dasar telaga. Arok dengan cepat menuruni bukit. ia terjun kedalam telaga, meraih Dedes yang sudah tak bergerak terlilit kain tenunannya. Laki laki itu berenang meluncur ke permukaan dengan lengan kirinya yang mengapit bahu Dedes. Ia berhasil meraih tonggak geladak dan membopong Dedes yang tak sadarkan diri. Ia membopongnya menuju ke dalam bilik.
Arok membaringkan Dedes di lantai, ia memeriksa nadi dan detak jantungnya dan kemudian menekan dadanya. Dedes tak bereaksi. Arok kembali menekan dadanya dan membuat Dedes tergeragap sadarkan diri. Ia terbatuk mengeluarkan air telaga yang tertelan. Perlahan Dedes mulai meraih kesadarannya. Umang pelayannya, yang sedari tadi berdiri mematung di sudut bilik bergegas mengambil kain kering untuk diselimutkan pada Dedes, Sementara Arok menuangkan air putih hangat di atas meja dan memberikannya kepada Dedes. Suasana begitu hening, tubuh Dedes masih gemetaran, Arok memandangi Umang dengan sorot mata tajam dan Umang hanya diam tertunduk.
Laki-laki itu kemudian mengambil cangkir yang telah kosong dari tangan Dedes, tanpa berkata apa-apa ia melangkah keluar. Sesaat sebelum melewati pintu keluar ia menoleh kearah Umang dan berkata, “Jaga Gusti Prameswari baik baik, nyawamu taruhannya, besok aku perintahkan prajurit untuk membenahi ujung geladak itu.” Umang hanya diam melihat sorot mata penuh ancaman dari Arok, dan kemudian ia menghilang dalam gelap.
Malam itu Umang tidak bisa tidur. Ia dicengkeram kegelisahan hati. bukan karena gugup menghadapi Dedes junjungannya, tetapi menghadapi Arok yang tiba tiba datang entah darimana dan memandanginya dengan sorot mata penuh kecurigaan.
Tanpa terasa malam yang panjang itupun telah usai. Umang mulai beranjak dari tempat tidurnya dengan leher yang kaku. Perlahan ia membuka pintu bilik dan berjalan menuju biliknya untuk mengambil beberapa pakaian, disaat itulah ia dicegat oleh Arok yang tiba tiba muncul dan bersila di pinggir jalan setapak disamping semak yang rimbun.
“Mau pergi kemana kau!”
Umang hanya diam, ia tak berani menggerakan tubuhnya sedikitpun. Arok menatapnya dengan sorot mata yang mengerikan.
“Aku tahu apa yang kau lakukan pada gusti ayu, bila aku mau, aku bisa membunuhmu kapanpun aku mau!”
Umang hanya menelan ludahnya yang tiba tiba saja terasa pahit, sementara Arok melanjutkan pertanyaannya yang bertubi tubi.
“Siapa yang menyuruhmu membunuh prameswari Dedes!”, Umang tertunduk.
“Apa aku harus memaksamu membuka mulut?!”, kali ini Umang menggeleng.
“Lalu siapa yang menyuruhmu?!”, sekali lagi Umang hanya menggeleng.
“ Jadi tidak ada yang menyuruhmu?!”, Umang mengangguk samar, tapi itu sudah cukup bagi Arok.
“Aku tak mau tahu apa tujuanmu, tapi mulai hari ini, aku akan mengawasimu. Jagalah gusti ayu dengan taruhan nyawamu. Kembalilah ke taman utara!” Arok kemudian lenyap ditelan embun pagi yang masih tebal saat itu dan Umang segera kembali ke taman utara, tempat Dedes junjungannya masih terlelap.
Di pagi itu, Dedes termenung. Tidak pagi-pagi benar memang, ia terbangun, tetapi suasana segar masih saja terasa di taman utara itu. Ikan ikan berenang di telaga, terdengar dari kejauhan kemercik air yang ramai. Di pagi itu juga burung burung berkicauan bersahut sahutan, Sepasang merak berjalan dengan gemulai di tengah taman, memamerkan bulu indahnya yang tak mau kalah dengan keindahan taman di utara tumapel itu. Taman itu memang sangat indah, semua yang ada disana telah di tata dengan sempurna, tetapi sepertinya tidak bagi Dedes. Taman itu layaknya sebuah kurungan. Mengekang penghuninya agar tidak pergi kemana mana. Penjaga ditempatkan di sudut sudut taman itu. Dedes hanya bisa merenung sepanjang hari. Sebelumnya menangis adalah kesehariannya, tetapi air matanya pun kini sudah tak bisa keluar lagi, kesedihannya terlampau besar untuk bisa ia tangisi. Hanya Umanglah orang yang setia menemaninya. Umang adalah seorang pelayan. Belum lama ini ia mengabdikan dirinya pada Tumapel, sebelumnya dia adalah seorang kembang desa. Ia adalah anak dari Lembon Samparan. Umang memang tidak dengan sukarela menyerahkan diri. Tunggul Ametung mendapatkannya dengan kelicikan ketika ia bermain judi dengan Lembon Samparan.
“Umang, aku tidak tahu apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapi hidup di Tumapel ini.” Dedes melihat Taman yang indah itu dengan pandangan kosong, sementara Umang sedang menggenggam cangkir berisi teh hangat, untuk dihaturkan pada junjungannya itu.
Setelah menelan seteguk teh itu, Dedes melanjutkan perkataannya “Entah siapa yang dapat dipercaya di Tumapel. aku sama sekali tidak mengenal tempat ini” Dedes tertunduk, ia terdiam sesaat dan kemudian melanjutkan ocehannya.
“Dua kali laki-laki itu datang menolongku. Apa kau tahu siapa dia?!” memalingkan pandangannya kepada Umang, yang kemudian menjawabnya dengan anggukan.
“Siapa dia?”
“Seorang Hulubalang Tumapel”
“Apakah kau tahu namanya ?”Umang menggeleng.
“Apakah dia kaki tangan Tunggul Ametung ?”
“Saya tidak tahu gusti”
“Ya, kau sama tidak tahunya denganku” mereka terdiam sesaat kemudian Dedes melanjutkan“Aku ingin pulang. Aku ingin ke Panawijil. Aku sangat merindukan Mbok dan semuanya. Aku ingin tahu bagaimana kabar mereka, sehat atau tidak. Masih ingatkah mereka denganku. Masihkah mereka mengkhawatirkanku. Kalau kau bisa mengatakan sesuatu, katakanlah Umang !”
Umang memberanikan diri berbicara “ Gusti ayu, saya tidak tahu harus bagaimana, tetapi saya menduga ada seseorang yang bisa saya meminta tolong”
“Apakah Hulubalang itu?”
Umang mengangguk.
“Kenapa ?”
“Gusti adipati tidak pernah tahu kalau gusti ayu pernah terjatuh ke dalam telaga. Hulubalang itu tidak pernah melaporkannya.”
“Kau benar. Aku ingin secepatnya bertemu dengan hulubalang itu. Apakah kau tahu bagaimana caranya ?”
Umang mengangguk, terbersit di dalam pikirannya apa yang semestinya ia lakukan. Ia merasa bersemangat. Ia beranggapan bahwa inilah saatnya menebus kesalahannya yang lalu. Ia tidak akan mengecewakan junjungannya lagi. Ia telah sadar akan kebodohannya, dan ia menaruh harapan besarnya kepada Dedes.
Mendung menggelayut, rintik hujan mulai turun mengembun. Meskipun matahari belum tenggelam, sore itu suasana sudah tampak petang. Tidak selang beberapa lama, hujan deras akhirnya turun juga, bersamaan dengan itu, tiba tiba munculah laki laki itu. Umang telah berhasil menyampaikan pesan junjungannya. Ia berhasil menyampaikan pesan itu lewat seorang prajurit di taman utara, namanya Basundara, Umang sudah lama menaruh hati pada pemuda itu, ia percaya kepadanya dan kepercayaannya itu benar-benar terbukti.
Hujan kian deras, Guntur menggelegar di kejauhan. Tidak seorang pun kini dapat melihat bilik di taman utara itu. Pedhut kini menyelimutinya.
“Gusti ayu memanggil saya ?” Arok menyapa, ia berdiri di belakang Dedes yang sedang termenung di bale bale dekat biliknya.
Seketika Dedes menoleh, ia melihat laki-laki itu dengan pandangan was-was, ia masih belum percaya sepenuhnya. Dedes masih setengah sadar. Lama ia termenung membisu di bale-bale itu. Pandangannya masih kosong ketika Arok datang dan menyapanya.
Arok kemudian duduk bersila di lantai dekat bale-bale tempat duduk Dedes. Dedes tidak terlalu memperdulikannya, ia masih bergelut dengan resah pikirannya yang belum usai sepenuhnya, tetapi tiba tiba air mata mengalir dari matanya, ia menangis sesenggukan dengan tiba-tiba.
“Aku…. Dedes tak dapat bicara. Tangisnya makin menjadi. tiba-tiba terbersit di pikirannya, kepedihan-kepedihan yang telah ia alami, teringatlah kembali semua rasa sakit yang selama ini berhasil ia redam, tetapi kini kembali meletup-letup.
“Saya mengerti” jawab Arok lekat memandangnya. Ia mengangguk samar. Mereka saling bertatapan. Dedes dapat merasakan dari tatapan matanya keteduhan yang rindang. Dedes merasa tidak sendiri ketika ia menatap sorot mata laki-laki didepannya itu. Ia kemudian membalas anggukannya dan menjatuhkan beberapa air matanya yang masih mengalir tak henti.
“Saya mengerti, gusti ayu.” Arok tak melepaskan lagi pelukan matanya. Ia beri keberanian kepada Dedes untuk mengeluarkan isi hatinya.
“Aku…..aku ingin membunuhnya.” Dedes tersedak tangisnya, ia mengeluarkan semua kesedihannya, yang telah lama ia simpan tanpa ia keluarkan.
Arok menangis dalam hatinya, melihat wanita pujaannya menangis menahan sakit hatinya yang dalam. “pasti akan kubunuh dia untukmu Dedes, bukan hanya untukmu tapi untuk seluruh rakyat Tumapel yang merasakan penderitaan yang sama denganmu. Akan kubebaskan bumi Tumapel ini. Dia harus membayar lunas derita kita. satu satunya cara penebusan itu hanyalah kematiannya. Tunggul Ametung, akan kubunuh kau.” Arok berkecamuk dengan hatinya yang penuh kobaran api kemarahan. Hatinya menuntut keadilan yang pasti.
“Aku tidak tahu siapa dirimu! Mungkin saja kau kaki tangan Tunggul Ame…..”
“Saya ada untuk gusti ayu dan saya bukan kaki tangan Tunggul Ametung.” Arok memotong kalimat Dedes yang tampak masih curiga.
Tiba tiba terlontar begitu saja kesah Dedes yang selama ini hanya bisa terpendam tanpa ada yang sempat mendengar jeritan jiwanya.
“Maukah kau mencari bapaku?”
“Sendiko, Gusti ayu.”Arok menjawab singkat
“Aku tidak tau siapa dirimu. Tapi aku…..”
“Gusti ayu dapat mempercayai saya,” dengan lirih laki-laki itu cepat-cepat menambah kalimat terakhirnya meski tudingan Dedes masih tajam menghujam.
Begitulah percakapan itu berlangsung, adu pendapat terjadi, silang menyilang perasaan terpampang. Kedua orang manusia ini saling bertukar pikiran, sampai pada akhirnya mereka terbawa pada suatu percakapan yang dianggap mengerikan.
Arok berkata dengan nada agak tegas, “Adipati memang layak untuk mati.”
“Kau?” Dedes terkejut mendengar timpalan Arok. Laki-laki itu mendongak memandangnya dengan penuh keyakinan.
“Ya, laki-laki itu memang layak untuk mati”
Mereka terdiam berpaku pandang. Dedes tertegun tak percaya laki-laki di depannya menyalakan api yang tak terasa asing dihatinya.
“Apa kau akan membunuhnya?” Tanya Dedes dengan gugup.
“Pasti gusti….. pasti hamba akan membunuhnya. Tidaklah hamba menjadi seorang Hulubalang jikalau bukan untuk membunuh orang itu. Laki-laki itu telah memberikan banyak penderitaan bagi seluruh rakyat Tumapel. Matahari harus kembali bersinar di tanah Tumapel.” Arok menjawab dengan penuh keyakinan. Wajahnya menunjukkan ambisi dan kemauannya yang kuat. Bagaikan setetes air yang jatuh ke dalam telaga, meninggalkan riak air yang menyebar ke segala penjurunya. Begitulah yang Dedes rasakan. Aura laki-laki itu terpancar kental dan kuat. Membuat siapa saja yang berada di dekatnya, merasa percaya dan menaruh harap. Begitu juga dengan Dedes. Tanpa sadar ia menaruh kekaguman pada Arok.
Rencana pembunuhan telah dibuat. Mengerikan memang apa yang mereka bicarakan, tetapi inilah yang sebenarnya ditunggu-tunggu bumi Tumapel. Tanah itu serasa jengah dengan kekacauan yang berkecamuk diatasnya, ia tak tahan melihat manusia yang hidup menangis penuh penderitaan.
Umang hanya terdiam. Ia duduk dibalik bilik mendengar dengan samar rencana mengerikan pembunuhan adipati itu. Hatinya berkecamuk. Angan-angan kebebasan menderu pikirannya. Ia sama seperti wanita-wanita korban adipati lainnya yang hanya menginginkan kematiannya.
Sudah genap tujuh bulan usia kandungan Dedes. Perayaan penyambutan kelahiran si jabang bayi itupun akan segera dilaksanakan. Upacara tingkeban telah dilaksanakan pagi-pagi hari. Beberapa orang pendeta telah melakukan ritual, guna menjaga keselamatan ibu dan jabang bayinya itu. Tunggul Ametung kini berjalan menuju bilik di taman utara. Ia ingin melihat Dedes dan jabang bayinya yang sudah tidak lama lagi akan dilahirkan.
Dedes hanya mendengus masam ketika melihatnya, batinya “tidakkah kau sadar kegembiraanmu terbangun dari susah hatiku?”
Sesaat kemudian Tunggul Ametung datang menghampirinya. Dedes hanya diam, dan membiarkannya duduk bersisihan dengannya. “malam ini aku akan merayakan lahirnya putra Tumapel. Aku ingin sekali kau turut bersamaku ke Balairung Agung. Tapi bila kau lebih nyaman berada disini aku akan menemanimu saja.”
Dedes terbungkam kepanikannya. Keputusan Tunggul Ametung itu mengagetkannya. Ia tidak ingin laki-laki itu berada di Taman utara menemaninya.” bagaimana Hulubalang itu melaksanakan rencananya?, haruskah laki-laki ini mati didepanku?, apa yang sebaiknya kulakukan?.” Dedes begitu gelisah. Ia sama sekali tak sanggup berpikir. Bahkan ia biarkan Tunggul Ametung sehari itu di taman utara menungguinya. Hingga matahari mulai meredupkan diri sebagai pertanda jatuhnya malam, Tunggul Ametung berpamitan padanya akan pergi menilik persiapan perayaan menjamu pembesar dan punggawa kadipaten. “Aku akan melihat persiapan di balairung agung dan akan kembali secepatnya kemari.” Dedes hanya menatap bukit di depannya, batinnya, “tidak, kau tidak akan pernah kembali kemari. Kau akan segera mati”.
Di luar taman utara semua orang bersiap menyiapkan perayaan menyambut kelahiran anak adipati beberapa bulan mendatang. Arok sedang sibuk mempersiapkan kekuatan terakhir yang telah lama ia siapkan. Hulubalang jagaraga itu telah mengganti secara berkala prajurit jaga kadipaten dalem dengan pasukannya. Ia bahkan berhasil menghimpun prajurit khusus balasukawa terlatih untuk ditempatkan di berbagai tempat strategis. Ia melatih mereka dengan kemampuan tertinggi. Tiap prajurit dapat mengalahkan sepuluh prajurit sekaligus. Bahkan Baladikanya memilki kemampuan seorang berbanding tiga puluh prajurit sekaligus.
Sebelumnya, Arok juga telah memesan sejumlah besar persenjataan kepada Empu Gandring, seorang Empu yang telah sekian lama membuat senjata bagi Tumapel. ia dikenal dengan kesaktiannya membuat beragam ageman. Arok memesan semua itu bukan tanpa sebab, itu semua adalah bagian dari rencana besarnya guna merebut Tumapel dan mempersiapkan perang besar melawan Kediri. Arok juga memintanya untuk membuatkan sebuah keris. Keris yang nantinya akan melegenda.
Hari menjelang sore. Bumi Tumapel akan segera menyaksikan peristiwa besar. Adipati meninggalkan balairung agung, bergegas menuju biliknya untuk mempersiapkan diri menikmati pesta yang ia gelar. Papangga dan Basundara berjalan mengiringinya di belakang. Sesaat hanya selangkah memasuki pintu biliknya, Tunggul Ametung jatuh tersungkur di tengah pintu dengan keris menancap tepat di jantungnya. Terdengar erang dan kembali sunyi secepat ia mati. Basundara dan Papangga berteriak memanggil dua prajurit tunggak kemit yang segera datang menghampiri. Mereka sangat terkejut melihat junjungan mereka tersungkur dilantai dengan darah menggenang.
Papangga memerintah mereka, “Kadipaten tidak aman, cepat panggil Hulubalang Jagabaya Kebo Ijo kesini dan jangan memberitahu apapun padanya sampai ia datang agar Tumapel tidak gempar. Aku sendiri yang akan memberitahu Hulubalang Jagaraga Arok. Basundara, kau berjagalah di sini seperti tidak ada apapun agar tidak menarik perhatian prajurit yang lain, jangan perbolehkan siapapun masuk sampai Hulubalang Jagabaya Kebo Ijo atau Hulubalang Jagaraga Arok datang. Jangan sampai berita mangkatnya adipati keluar dari bilik ini sebelum mereka datang.” Segera mereka berpencar meninggalkan Basundara di tepi pintu.
Tidak menunggu lama, dua orang prajurit datang mengiringi Hulubalang Jagabaya Kebo Ijo. Tak kepalang terkejutnya ia saat melihat Tunggul Ametung tergeletak di tengah pintu bilik hanya dijaga oleh seorang prajurit.
“Dimana penjaga yang lain?”
“Yang lain sedang memanggil Hulubalang Jagaraga.” Jawab Basundara singkat.
Kebo Ijo tak berlama lama terhenyak.
“bantu aku mengangkatnya!”
Basundara membantu Kebo Ijo membopong adipati yang telah berlumuran darah itu. Mereka meletakkan tubuh tak bernyawa sang adipati di atas peraduanya. Saat Kebo Ijo membungkuk memeriksa kemungkinan junjungannya masih hidup, tiba-tiba ia tersentak kaget, Arok menerjang sambil berteriak kearahnya dengan keris terhunus. Kebo Ijo tak dapat menghindar dari hunusan keris Arok yang menancap tepat di punggungnya. Sebelum terhuyung mundur ia sempat mendengar Arok membentaknya, “Apa yang kau lakukan! Kau membunuh Adipati!”
“Aku tidak membunuhnya! Aku…..” Hulubalang Kebo Ijo mendekap dadanya. Ia tak sempat meneruskan kalimatnya saat ajal dengan cepat menjemputnya.
“Bunuh mereka! Mereka telah lalai menjaga keselamatan Gusti Adipati.” Pengawal Arok yang datang berombongan dengannya langsung menebaskan pedang ke leher Basundara dan kedua prajurit yang berjaga di depan pintu tanpa sempat mereka membuka suara.
Arok, Papangga dan pasukan khusus balasukawa, menjadi saksi kematian adipati Tunggul Ametung di tangan Kebo Ijo, Hulubalang Jagabayanya sendiri.
“Saat ini Hulubalang Jagabaya telah mati. Aku, Hulubalang Jagaraga akan mengambil alih tugasnya untuk mengamankan Tumapel. Tumapel dalam keadaan bahaya. tidak diragukan lagi kemungkinan Hulubalang Jagabaya telah menghimpun kekuatan untuk makar. Aku tidak ingin terjadi kerusuhan di Tumapel. Jangan sampai kematian adipati Tunggul Ametung dan Hulubalang Jagabaya tersebar sebelum malam ini berakhir. Gusti permaisuri pun perlu diberitahu dengan sangat hati-hati mengingat gusti ayu sedang mengandung putra adipati. Aku perintahkan kalian untuk menangkap semua anak buah Hulubalang Jagabaya. Kita tidak tahu berapa kekuatan yang ia himpun selama ini untuk menggulingkan Gusti adipati Tunggul Ametung dari takhta Tumapel.
“Baladika garanggati bawalah pasukanmu untuk menyelidik Empu Gandring!”
“Untuk apa kami harus pergi ke rumah Empu Gandring?”
“Ia yang selama ini membuat persenjataan Tumapel, geledah rumah dan gudangnya. Kalau ia menyimpan senjata dalam jumlah besar dan tak memilki tanda cap kadipaten, bunuh saja. Kita tidak ingin pihak musuh mengambil persediaan senjata mereka untuk melawan Tumapel. Kirim pasukan tambahan bila memang dugaanku ini benar. Aku tidak ingin ada yang mengungsikan persenjataan mereka keluar kadipaten. Kita akan menggunakannya untuk melawan Kediri yang mungkin akan mengambil alih Tumapel. Jadi kalian bersiap saja dari sekarang menerima serangan kediri atau justru kita yang akan menyerang mereka secepatnya. Kita akan tunggu titah Gusti ayu prameswari. Aku sendiri yang akan memberitahukan masalah ini. Pergilah kalian dan papangga, urus mayat mereka”
“Baik, kami berangkat.”
Mereka berpencar,
Kembali sunyi.
Papangga memanggil ayahnya yang sedari tadi bersembunyi di balik bilik jubah adipati.”situasi sudah aman, ayah, Sekarang keluarlah.”
Lembon Samparan keluar dengan memakai pakaian prajurit tunggak kemit kadipaten. Laki-laki itu memeluk putranya yang sekian lama telah ia lepas menjadi prajurit Tumapel. ia menyuruhnya menjadi prajurit Tumapel untuk membantu kakangnya Arok yang lebih dulu pergi ke Tumapel. Lembon Samparan sendiri seringkali diminta bantuannya oleh Arok, itu juga yang membuatnya saat ini berada di Tumapel.
“Ayah tampak gagah memakainya. Pakaian itu lebih baik daripada baju hitam dan celana hitam selutut butut itu”
“kau pun tampak gagah menjadi prajurit Tumapel kepercayaan Hulubalang Jagaraga Arok, kakangmu.”
“semua akan baik baik saja, ayah. Kita sudah melalui bagian paling berbahaya dari cita cita kakang Arok”
“aku pun tak menduga masih punya nyali untuk melaksanakan permintaannya.”
“dan lemparan ayah begitu tepat sasaran hingga membuat adipati langsung tak berkutik. Aku akan banyak belajar kepada ayah nanti.”
Arok duduk bersila di bawah pohon yang rindang, terbentang dihadapannya Bumi Tumapel yang telah sumringah. Matahari lebih cepat muncul pagi ini, sinarnya menyilaukan mata. Arok tersenyum menatap matahari. Ia tahu bahwa itulah matahari yang selalu ingin ia lihat, Matahari untuk suatu zaman yang baru. Ia tahu akan banyak halangan yang membentang, tetapi didalam hatinya ia sudah tak takut apapun. Di dalam hatinya hanya ada keadilan membentang seluas cakrawala.
Angin berhembus, melepaskan dedauanan dari tangkainya. Arok telah berhasil menaklukkan Tumapel. kuasa Tumapel kini telah berada padanya. “Menggempur Kediri adalah tujuan berikutnya. Menang atau kalahnya, biarlah takdir yang menentukan.” Arok beranjak dari silanya, segera setelah itu ia menyusul sang Ratu Tumapel. Mereka kemudian mengumumkan kematian Tunggul Ametung yang kemudian disambut dengan gegap gempita oleh seluruh rakyat Tumapel. Arok dan Dedes bergandengan tangan, mereka menyongsong zaman yang baru,
inilah awal dari kisah penaklukan tanah jawa. inilah awal seseorang yang bernama arok menitiskan darah para raja setanah jawa. Inilah awal dari raja raja yang nantinya akan menaklukan daratan yang disebut nusantara. Dan inilah awal cerita dari sebuah wangsa yang akan berkuasa selama satu abad lamanya…..