Apa yang Membuat Seorang Manusia Menjadi Manusia?
(Meninjau Sistem Pendidikan di Sekolah yang Mampu Membentuk Watak, Sikap Mental dan Visi Anak di Masa Depan)
[sunting]
A. Latar Belakang
[sunting]Pendidikan memegang peran yang sangat penting karena pendidikan menjadi kunci majunya sebuah bangsa.[1] Peradaban bisa semaju saat ini, karena pendidikan serta banyak ilmu berkembang dengan pesat. Insan-insan bangsa yang berkualitas juga merupakan hasil dari pendidikan di suatu bangsa. Maju tidaknya sebuah bangsa dapat dilihat salah satunya dari bagaimana kualitas pendidikan di suatu negara. Para Founding Fathers Indonesia juga telah memahami peran sentral pendidikan dalam memajukan bangsa. Hal tersebut terbukti dari dimuatnya pendidikan dalam Undang
Undang Dasar 1945 pasal 31 yang mengatur hak serta kewajiban warga negara Indonesia dalam memperoleh serta mengenyam pendidikan. Oleh karena itu, founding fathers menempatkan pendidikan sebagai sarana dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.[2]
Indonesia merdeka di tahun 1945 hingga kini 2022, artinya sudah lebih dari 70 tahun Indonesia menjalankan sistem pendidikan nasional. Namun dampaknya yang dapat dirasakan peserta didik dan pembangunan bangsa masih belum signifikan. Bahkan mutu sumber daya manusia (SDM) Indonesia dinilai masih rendah jika dibandingkan dengan negara tetangga kita yakni Singapura. Parahnya negara kita dikenal sebagai pengekspor tenaga kerja murah untuk jenis pekerjaan kasar ke negara lain. Hal ini tak lain karena lulusan peserta didik di Indonesia tidak dibekali dengan soft skill (pekerjaan-pekerjaan yang lebih mengandalkan cara berpikir ketimbang penggunaan otot) yang mumpuni, sehingga Indonesia masih sedikit sekali memiliki dan menghasilkan tenaga kerja yang ahli. Dilihat dari latar belakang pendidikan, para TKI yang bekerja di luar negeri masih didominasi lulusan SD dan SMP dengan angka 65%, sehingga sebagian besar TKI yang bekerja di luar negeri bekerja di sektor formal, yakni asisten rumah tangga. Sementara data yang dilansir oleh World Economis Forum (WEF) menunjukkan bahwa Indonesia menempati urutan 65 dari 130 negara yang disurvei. Pemeringkatan ini dilakukan berdasarkan empat indikator yakni kapasitas pekerja berdasarkan pendidikan, tingkat partisipasi kerja dan tingkat pengangguran, kapasitas kemampuan pekerja berdasarkan melek huruf dan edukasi, serta tingkat pengetahuan pekerja. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas tenaga kerja Indonesia masih terbilang rendah jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya yaitu Singapura (11) dan Malaysia (33).[3]Berdasarkan data dari Kementerian Ketenagakerjaan jumlah penganggurana di tahun 2019 untuk lulusan SMA dan SMK berada di kisaran 24%-28,2%, pendidikan diploma sebesar 3,1% sementara sarjana sebesar 10,5%.[4] Fenomena ini terjadi karena pendidikan yang rendah sehingga menyebabkan kompetensi serta produktivitas rendah.
Sistem pendidikan di Indonesia memandang bahwa anak yang pintar adalah anak yang pandai dalam pelajaran matematika, mendapat nilai yang bagus di berbagai pelajaran, menuruti seluruh regulasi sekolah yang ada, sehingga anak terkesan seperti seorang “robot” yang akan selalu patuh terhadap semua yang dikatakan sang pemilik atau dalam kasus ini guru. Anak jadi kehilangan kreativitas serta imajinasinya karena sejak usia dini anak-anak Indonesia diminta untuk “mengunyah” mentah-mentah pelajaran yang ada di buku ataupun yang diajarkan oleh guru. Hal ini justru mampu mematikan kreatifitas serta imajinasi anak. Padahal jika ditinjau lebih lanjut ada aspek aspek lain dalam diri manusia yang tak kalah bagus dan pentingnya jika dibandingkan dengan prestasi akademik. Misalnya, prestasi di bidang seni, olahraga, musik maupun bidang-bidang non akademik lainnya. Hal-hal seperti ini sering kali tidak diapresiasi dan tidak mendapat motivasi dari sekolah. Akibatnya sebagian besar peserta didik di
Indonesia kehilangan visi dalam kehidupannya di masa depan. Karena sebenarnya mereka tidak benar-benar ingin terjun ke dalam pelajaran-pelajaran yang disajikan dalam sekolah. Sehingga di usia yang dianggap sudah mampu menentukan “hidupnya” sendiri mereka masih bingung dan tidak mengerti akan apa yang akan ia kerjakan. Ia ingin jadi apa di masa depan, bidang apa yang akan digeluti di masa depan. Semua masih kabur. Mereka tidak mengerti akan jadi manusia seperti apa nantinya disaat manusia dari negara lain sudah bisa berkarya lewat hal yang ia cintai. Berdasarkan pemaparan di atas, penulis ingin mengajukan satu pertanyaan yakni, “bagaimana sistem pendidikan mampu membentuk karakter, cara berpikir bahkan visi seorang anak di masa depan?”
B. Metode
[sunting]Penulisan makalah ini menggunakan tinjauan dari filsafat empirisme. Secara etimologi, istilah empirisme berasal dari bahasa Yunani yakni emperia yang berarti pengalaman.[5] Filsafat empirisme memandang bahwa manusia lahir seperti kertas kosong (tabula rasa). Konsekuensinya adalah meletakkan posisi anak sebagai objek pendidikan.[6] Rumusan klasik empirisme ini berasal dari Aristoteles kemudian dilanjutkan oleh John Locke. Lewat karya utamanya yang berjudul “Essay Concerning Human Understanding” Locke menyatakan bahwa segala sesuatu yang kita pelajari dalam hidup merupakan hasil dari hal hal yang kita amati menggunakan panca indera maupun pembelajaran yang diberikan oleh orang-orang di sekitar kita. Sebelum kita merasakan sesuatu, pikiran kita merupakan “tabula rasa” atau kertas kosong.[7]Pengajar baik itu guru, orang tua maupun orang-orang terdekat yang berada di sekitar anak berperan sebagai pena yang akan menuliskan pengalaman yang membentuk karakter dalam diri seorang anak, sehingga empirisme meyakini bahwa baik buruk seorang anak ditentukan oleh siapa yang menggoreskan pena di kertas kosong tersebut. Sehingga pendidikan dalam filsafat empirisme memegang peran yang sangat penting dalam membentuk karakter, perilaku serta cara berpikir seorang anak.
Tinjauan filsafat empirisme sangat cocok dan sesuai dengan keseluruhan bahasan dalam makalah ini karena makalah ini mengkritisi bagaimana sistem pendidikan di Indonesia berjalan. Sistem pendidikan inilah yang membentuk atmosfer pembelajaran dalam seluruh sekolah di Indonesia mulai dari SD hingga SMA sehingga pendidikan menjadi salah satu “pena” yang menuliskan pengalaman serta pelajaran terhadap peserta didik, selaras dengan filsafat empirisme. Pendidikan tersebut mampu membentuk karakter, cara berpikir serta berperilaku dari peserta didik. Dari serangakain proses tersebut bisa kita lihat realitanya bahwa sebagaian besar peserta didik di Indonesia, terutama yang sudah menyelesaikan pendidikannya di tingkat SMA maupun SMK tidak sepenuhnya paham dengan apa yang akan ia lakukan di masa depan. Padahal masa-masa tersebut sangat krusial dalam menentukan arah hidup seorang manusia.
C. Pembahasan
[sunting]Bagaimana kaitan antara sekolah dengan Industri?
[sunting]Setelah terjadinya perang dunia pertama dan perang dunia kedua, yang berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama, ekonomi dan keadaan dunia menjadi hancur. Hal ini memicu seluruh negara di dunia untuk berlomba-lomba meningkatkan produksinya guna mengembalikan stabilitas negaranya. Sehingga kebutuhan akan pekerjapun semakin meningkat. Sekolah hadir dan didirikan untuk menjawab masalah ini. Anak-anak dipersiapkan untuk memiliki skill yang sesuai dengan dunia industri sehingga dapat menggerakkan roda perekonomian.[8] Apalagi meninjau sistem pendidikan di Indonesia yang hanya menitik beratkan pada nilai. Anak dituntut untuk dapat menghafal materi yang diberikan oleh guru sesuai kurikulum nasional, dituntut untuk mendapat nilai yang bagus agar nantinya bisa mendapat tempat atau jabatan yang bagus pula di dunia industri. Mereka dibentuk layaknya “robot” yang diprogram sedemikian rupa agar mampu menghafal materi dari pelajaran-pelajaran yang ada di sekolah sehingga mereka mudah tergantikan karena tidak dibekali dengan soft skill, dan banyak dari mereka yang tidak tahu visi mereka di dunia.
Tujuan pendidikan seharusnya menjadikan anak yang memiliki imajinasi berbudaya, kreatif dan inovatif agar mereka bisa mandiri dan menentukan visi hidup mereka sendiri. Sering kali peserta didik di Indonesia yang sudah menempuh pendidikan SMA atau SMK masih bingung dalam menentukan masa depannya. Mau kuliah atau kerja. Jika memilih kerja, bingung dengan pekerjaan yang akan digelutinya karena tidak memiliki skill yang mumpuni. Jika memilih kuliah sering kali juga masih bingung dengan jurusan apa yang akan diambil, parahnya banyak juga yang terpaksa pindah atau keluar dari universitas karena merasa salah pilih jurusan.
Sistem pendidikan di Indonesia belum berhasil menciptakan peserta didik yang memiliki kemampuan menimbang keputusan dengan terlatih, membuat anak paham akan kelebihan serta potensinya untuk dapat meningkatkan kebahagiaannya kelak. Sehingga yang terjadi adalah realita di negara kita ini, sebagian besar usia produktif (15-64 tahun) menganggur atau maksimal menjadi buruh kasar dengan upah yang minim. Jika sumber daya manusia Indonesia saja masih bingung dengan arah dan tujuannya sendiri maka kapan Indonesia mulai membangun peradaban yang lebih baik?
Kesalahan dan hal yang perlu dibenahi dari sistem pendidikan di Indonesia
[sunting]Pertama kesalahan yang sangat fatal bagi saya adalah murid di Indonesia diajarkan untuk menjadi textbook person. Semua murid di Indonesia pasti merasa bahwa jawaban yang benar adalah jawaban yang sesuai dengan apa yang dituliskan dalam teks pelajaran atau yang sesuai dengan pandangan sang guru. Saya punya satu pengalaman. Ketika itu, ada soal yang menuliskan “wastafel berada di bagian.....rumah” saya menjawab berada di bagian tengah rumah, karena memang wastafel rumah saya terletak di bagian tengah rumah, antara ruang tamu dengan dapur. Namun jawaban ini disalahkan oleh guru saya karena menurut persepsinya watafel selalu berada di bagian belakang rumah. Agak konyol memang, tapi ini memang pengalaman empiris yang pernah saya alami. Tak hanya itu, ujian juga tidak terlepas dengan pilihan ganda yang jawabannya menyesuaikan dan selalu mengikuti pilihan yang disajikan. Ketimbang mempelajari poin-poin penting, lagi-lagi pelajaran harus berkutat dengan hafalan, misalnya harus hafal sejarah lengkap dengan nama tokoh, tanggal lahir, tanggal kematian dan segala tetek bengeknya agar bisa menjawab pertanyaan sejarah. Harus hafal UUD 1945 lengkap dengan titik komanya agar bisa menjawab pelajaran PKN.
Sistem textbook atau hafalan ini saya rasa mampu mematikan kreatifitas anak. Seperti gambar yang saya sajikan di atas, ini adalah karya legendaris anak SD di seluruh Indonesia. Bahkan sayapun juga menggambar pemandangan ini ketika ada pelajaran seni mulai dari SD kelas satu hingga kelas enam. Komposisinya pun tidak pernah berubah pasti ada dua gunung dengan matahari ditengahnya, sawah, rumah dipinggir sawah, dengan pohon disebelahnya, dilengkapi burung yang terbang setinggi awan. Dan lebih lucunya lagi, hampir satu kelas menggambar hal yang sama. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena itulah yang diajarkan kepada mereka, sehingga yang dianggap benar adalah gambaran pemandangan yang demikian. Padahal namanya pelajaran seni harusnya bebas tergantung imajinasi sang anak.
Kedua, guru yang tidak kompeten. Hal ini banyak terjadi terutama di daerah pelosok desa maupun daerah luar jawa. Bahkan ketika saya sekolah di SMP dan SMA di kota yang besar sekalipun, masih ada saja guru yang ditempatkan tidak sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya. Misalnya saja pada saat itu, guru pengampu mata pelajaran seni budaya dan prakarya (KWU) adalah guru yang mengajar pelajaran IPA atau IPS. Akibatnya lagi-lagi siswa dituntut untuk menghafal untuk dapat lulus dalam penilaian akhir semester. Padahal kedua mata pelajaran ini seharusnya lebih banyak di praktek bukan teori belaka, seperti pelajaran IPA yang jelas-jelas butuh rumus, teori dan konsep.
Ketiga, kesenjangan fasilitas di satu sekolah dengan sekolah lain. Perbedaan ini terlihat dengan sangat jelas apalagi di sekolah “favorit” dengan sekolah yang “tidak favorit”. Narasi-narasi mengenai hal ini masih sangat lazim terjadi di Indonesia. Ada sekolah yang memiliki seluruh fasilitas yang dapat menunjang kegiatan pembelajaran, tapi ada juga sekolah yang bahkan tidak memiliki ruang lab untuk melakukan praktikum. Sekolah di Indonesia sering kali dipisahkan oleh jurang fasilitas. Apalagi melihat sekolah-sekolah yang berada di Papua. Jika dilihat perbedaannya bak bumi dan langit. Sehingga tak heran jika dampak pendidikan di Indonesia masih belum merata dan masih terkonsentrasi hanya di Pulau Jawa. Kualitas lulusannyapun akan sangat jauh berbeda. Seharusnya ini menjadi salah satu fokus utama pemerintah karena peserta-peserta didik inilah yang menjadi penggerak bagi pembangunan masing-masing daerahnya di masa depan.
Terakhir, jam sekolah yang tidak masuk akal, apalagi setelah diterapkannya sistem lima hari sekolah atau yang biasa dikenal dengan “Five days School”. Memang hari sekolah dikurangi, namun lama waktu belajar mengajar selama lima hari tersebut ditambah, lalu apa bedanya dengan enam hari sekolah? Lebih dari itu, saya melihat kebijakan ini sebagai sesuatu yang tidak efektif dan tidak seharusnya diterapkan, karena anak sangat tersita waktunya di sekolah hanya untuk mempelajari pelajaran-pelajaran textbook ketika sampai di rumah, anak sudah kelelahan dan tidak ada waktu lagi untuk bisa mengembangkan diri, menggali potensi, membaca buku, bahkan bermain. Belum lagi jika ada pekerjaan rumah yang diberikan. Pelajaran-pelajaran yang disajikan di sekolah merupakan hal yang dangkal, sehingga bagi saya, setiap anak perlu memperdalamnya sendiri menurut hal yang ia sukai dan cintai. Sedangkan dengan sistem waktu sekolah yang saat ini, anak menjadi tidak memiliki waktu bahkan untuk mengenali dirinya sendiri, apa yang ia mau, apa yang ia suka kerjakan, apa yang membuatnya untuk tertarik belajar. Semua itu tidak dapat dilakukan karena hampir 50% dari 24 jam waktu yang dimiliki anak dihabiskan di sekolah.
Perbedaan sistem pendidikan di Indonesia dengan sistem pendidikan di Eropa
[sunting]Sistem pendidikan di Indonesia dan sistem pendidikan di Australia memiliki perbedaan yang sangat jelas. Di Indonesia ujian menjadi salah satu hal yang sangat penting. Di setiap jenjang pendidikan di Indonesia selalu ada ujian dan nilai selalu saja diagungkan karena menentukan jenjang selanjutnya. Indonesia masih menganut sistem yang sangat usang dan tidak membuat anak mandiri.
Jika dilihat dari gambar di atas, semua dibebankan pada perguruan tinggi. Sedangkan masa SD hingga SMA dihabiskan dengan mempelajari pelajaran pelajaran yang telah menjadi kurikulum nasional dan sering kali tidak berguna di kemudian hari. Belum lagi PR yang dibebankan setelah sedemikian panjangnya waktu yang dihabiskan di sekolah. Akibatnya anak tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi yang ada di dalam dirinya. Anak tidak memiliki waktu untuk berpikir dan merancang masa depannya sendiri. Inilah kesalahan fatal yang terjadi dalam sistem pendidikan di Indonesia.
Seperti yang disajikan dalam gambar, sistem pendidikan yang diterapkan di Eropa lebih menekankan pada eksplorasi diri di jenjang SD, di masa ini anak dapat belajar tanpa adanya paksaan karena mereka dapat mengeksplor apapun yang ia mau. Banyak hal dan pelajaran baru yang ia lakukan, sehingga meski masih berada di jenjang SD banyak anak yang sudah paham tentang dirinya sendiri. Apa yang ia sukai, apa yang menarik baginya, hal yang ia cintai, dan ingin ia geluti. Semua sudah tergambar jelas bahkan di jenjang SD sekalipun. Sehingga jenjang berikutnya yakni SMP dan SMA anak tinggal menentukan bidang apa yang ingin ia geluti dan memperdalam hal yang sudah menjadi pilihannya.
Realita yang terjadi di Indonesia adalah ketika lulus SMA atau SMK anak baru berpikir, ingin kuliah atau bekerja. Jika ingin melanjutkan kuliah, ingin fokus di jurusan apa? Semua itu baru dipikirkan dalam kurun waktu yang singkat, tidak ada kematangan dalam memilih jurusan. Akibatnya seringkali mahasiswa di Indonesia memilih jurusan karena terlihat keren, karena perintah orang tua, atau karena teman. Mereka tidak benar-benar tahu apa yang sebenarnya ingin mereka geluti, sehingga tak sedikit juga yang merasa salah jurusan dan lain sebagainya. Fenomena ini saya kira lahir dari sistem yang diajarakan kepada peserta didik dari SD hingga SMA. Sekali lagi mereka hanya diajarkan bagaimana cara mendapatkan nilai yang bagus sesuai dengan buku ajar atau apa yang dikatakan guru bukannya malah mencari tahu apa yang sebenarnya disukai, apa yang sebenarnya ingin digeluti, dan apa yang menjadi minatnya.
D. Kesimpulan
[sunting]Sesuai dengan apa yang dikatakan John Locke dalam filsafat empirisme, bahwa manusia adalah sebuah kertas kosong (tabula rasa) yang belum mengerti pandangan dan gagasan apapun sebelum memperoleh pengalaman yang ditangkap oleh panca indra. Oleh karena itu, orang tua serta setiap orang yang berada di sekitar anak menjadi hal yang sentral bagi anak karena mereka bertugas sebagai pena yang menuliskan serta mewarnai "kertas kosong” (anak) tersebut. Bahkan ada pepatah yang mengatakan “buah tidak jatuh jauh dari pohonnya” karena memang seorang anak akan meniru perilaku orang-orang yang berada di sekitarnya, dalam hal ini orang tua, sehingga seorang anak dapat memiliki karakter,perilaku, bahkan cara bicara yang cenderung mirip dengan orang tuanya. Semua hal yang ia terima lewat panca indra merupakan hal yang membentuk kepribadian, cara berpikir dan berperilaku sorang anak, sehingga tak heran jika mengatakan manusia merupakan cerminan dari pendidikan yang ia terima.
Selain orang tua atau keluarga, guru dan sekolah juga memegang peran yang sentral terhadap pembentukan karakter, kepribadian serta visi seorang anak. Karena pada usia dinipun, peran ibu sebagian sudah diambil oleh pendidikan prasekolah seperti TK, bahkan semakin bertambah usia seorang anak, fungsi pembentukan karakter dan sikap mental berangsur-angsur diambil oleh sekolah atau lembaga sejenisnya. Sehingga bagi masyarakat modern, tanggung jawab pembentukan karakter dan sikap mental seorang anak menjadi tanggung jawab bersama antara keluarga dan sekolah. Banyak hal dan banyak juga waktu yang dihabiskan seorang anak dalam menempuh pendidikan di sekolah sehingga banyak juga pengalaman serta pelajaran yang menjadi input bagi otaknya. Input tersebut yang menjadi pola seorang anak dalam berpikir, bertindak dan berkata. Tak heran sekolah disebut sebagai rumah kedua bagi anak. Karena memang pendidikan terbukti mampu membentuk karakter, perilaku bahkan visi seorang anak di masa depan.
Referensi
[sunting]- ↑ Hidayat, T. 2013. Evaluasi Sistem Pendidikan Nasional Indonesia. 2 nd International Seminar on Quality and Affordable Education (ISQAE 2013), 1-10
- ↑ Soedijarto.2007. Memahami Makna yang Tersurat Dari Pasal 31 Ayat ( 4) UUD 1945 Tentang Anggaran PendidikanJakarta, ISPI, p. 28
- ↑ Bendesa, I. (2015). Sumberdaya manusia berkualitas dan berkarakter. Piramida, 10(1), 1-7.
- ↑ Hartomo, G. 2020 Pengangguran Banyak Didominasi Lulusan SMA sampai Sarjana, (https://nasional.sindonews.com/read/206308/15/pengangguran-banyak-didominasi-lulusan-sma-sampai sarjana-1603451450)
- ↑ Suaedi. 2016 Pengantar Filsafat Ilmu. Bogor: PT Penerbit IPB Press
- ↑ Siddig. M,Salama.H, T. 2018 Paradigma dan Metode Pendidikan Anak dalam Perpektif Aliran Filsafat Rasionalisme, Empirisme dan Islam. Althariqah.2018.vol3(2).2308:1-18
- ↑ Gaarder. J. 1991: Dunia Sophie. Indonesia:Mizan.
- ↑ Vanny. 2020. Filosofi Pendidikan Charlotte Mason,( Filosofi Pendidikan Charlotte Mason (vforvanny.blogspot.com) diakses pada 1 Desember 2022