Asal Mula Padas Bajul di Sungai Keting, Jember
Dahulu kala, ada sebuah sungai di wilayah Jember. Sungai itu bernama Sungai Keting. Tak seperti sungai-sungai lainnya di Pulau Jawa yang besar, Sungai Keting cenderung beraliran sedang. Uniknya, di sungai inilah bertemunya dua aliran sungai yang dikuasai dua sosok penguasa.
Tersebutlah dua sosok penguasa, yakni seekor buaya putih dari Sungai Bondoyudo dan seekor ular sakti raksasa yang merupakan penguasa dari Sungai Jatiroto. Sungai Bondoyudo alirannya berasal dari area Lumajang, sedangkan Sungai Jatiroto berasal dari area Jember.
Kedua hewan tersebut ternyata sama-sama ingin mengabdi pada Sang Penguasa Laut Selatan. Sayangnya, penguasa laut yang hanya akan memilih salah satu di antaranya. Pilihannya akan jatuh kepada siapa yang lebih datang lebih dahulu menghadapnya.

Akhirnya, hari yang dinantikan telah tiba. Dua penguasa besar dari Sungai Bondoyudo dan Sungai Jatiroto akhirnya membuat kesepakatan. Barangsiapa yang sampai menghadap ke Sang Penguasa Laut Selatan lebih dahulu, dialah pemenangnya.
“Ha, ha, ha! Lihat saja! Akulah yang akan memenangkan perlombaan ini!” seru Buaya Putih dengan pongah.
“Kau?! Ha, ha! Sombong sekali! Kau belum tahu kehebatanku. Akulah yang akan menjadi pengabdi Sang Penguasa Laut Selatan!” sahut Ular Sakti raksasa.
Perlombaan pun dimulai. Mereka adu kecepatan menuju ke Sang Penguasa Laut Selatan. Sosok ini juga kerap kali disebut Nyi Blorong. Perlombaan tersebut berlangsung sangat seru. Karena baik Buaya Putih dan Ular Sakti sama kuatnya, perlombaan tersebut mengakibatkan berbagai kejadian yang hebat. Iklim mulai berubah. Awan hitam bergulung-gulung. Kilat berkejaran di angkasa. Banjir bandang menghadang. Air bah tumpah ke segala arah.
Perlombaan yang sengit ini terjadi hingga menciptakan kedahsyatan. Akhirnya, perlombaan usai. Pemenangnya adalah Ular Sakti raksasa. Akhirnya Ular Saktilah yang berhasil menjadi pendamping utama Nyi Blorong, Sang Penguasa Laut Selatan. Sementara itu, Buaya Putih tetap menjadi penguasa daratan.
Buaya Putih yang kalah dalam perlombaan tersebut dapat menjadi pendamping Nyi Blorong, tetapi ia harus melalui jalan tapa. Setelah melalui tapabrata dalam waktu yang sangat panjang, Buaya Putih akhirnya sampai di Sungai Keting. Karena dilakukan dalam waktu yang sangat lama, ia akhirnya membatu.
Konon inilah yang disebut dengan Padas Bajul. “Padas Bajul” berasal dari Bahasa Jawa, di mana “padas” bermakna lapisan tanah yang telah membatu, sedangkan “bajul” artinya buaya. Padas Bajul diyakini masih terus bergerak ke arah Laut Selatan hingga kini.[1]