Lompat ke isi

Asal Usul Desa Tangga Batu

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

LEGENDA DESA TANGGA BATU

[sunting]
Menceritakan asal usul Desa Tangga Batu yang ada di Kecamatan Seluma Selatan. Ada sebuah tangga yang disusun atas tumpukan batu dan menuju ke arah masjid
Dulu, berdiri sebuah masjid dan disertai dengan berdirinya sebuah tangga menuju ke masjid

Dusun Tanggo Batu ini agak bebeda di Kabupaten Seluma, karno banyak nyo berayak nanyoka masalah tentang Dusun Tanggo Batu. Jadi Tanggo Batu ni sebenaro bukan buatan manusio, tapi buatan jak di alam. Jadi Tanggo Batu itu tu sebenaro ado tigo jungku diimpit pinggir aiak Seluma. Jadi iduplah jemo tigo jungku itu. Nyo pertamo, jungku o itu Rentanin dio lah puyang kami, nyo keduo Jungku Kuris, dan jungku ketigo namo o Jungku Reguak dan jadilah tigo punduk. Nyo bekehidupan di situ, naiak tughun ke aiak Seluma, itu tu memang la ado tanggo, nyo la disebut Tanggo Batu. Tanggo itu nuju ke pagha masjid. Udim itu bekembanglah. Akhir o la ado kiro-kiro 30 keluargo. Jadilah tigo jungku tadi bekeendak an muat pemekaran dusun di pinggir jalan. Jadi dio ngusulka ke pemerintahan ngan didukung pesirah (kepala dusun). Jadi waktu diusulka lum pacak nyadi dusun, karno wargo o lum banyak nian atau lum memenuhi syarat nian jadi dusun. Aturan o waktu dulu ado 40 tetanggo atau 40 ghumah. Jadi behubung bedampingan Dusun Tanggo Batu ngan Dusun Padang Genting, akhir o masyarakat bemusyawarah mufakat di situ.

Tangga Batu ini agak unik di Kabupaten Seluma, dikarenakan banyak yang datang menanyakan masalah tentang Desa Tangga Batu. Jadi Tangga Batu ini sebenarnya bukan buatan manusia, tapi buatan alam. Jadi Tangga Batu itu berdirinya ada 3 jungku (garis keturunan) di dekat pinggir air Seluma. Jadi berkembanglah hidup orang 3 jungku itu. Yang pertama, jungkunya itu Rentanin puyang kami, yang kedua Jungku Kuris, dan yang ketiga Jungku Reguak dan jadilah 3 pondok. Berkehidupanlah di situ, naik turun ke air Seluma itu memang sudah ada tangga, Tangga Batu. Tangga itu menuju ke arah masjid. Nah setelah itu dusunnya berkembang. Akhirnya sudah ada kira-kira ada 30 keluarga. Jadi 3 jungku tadi berkeinginan membuat pemekaran dusun di pinggir jalan. Jadi dia mengusulkan ke pemerintahan dengan dipandu oleh pesirah (kepala dusun). Jadi waktu diusulkan belum bisa jadi dusun, karena warganya belum cukup banyak atau belum cukup memenuhi syarat jadi dusun. Aturan waktu itu ada 40 tetangga atau 40 rumah. Jadi berhubung berdekatan Desa Tanggo Batu dengan Desa Padang Genting, akhirnya masyarakat bermusyawarah mufakat di sana itu.

Jadi, nginduklah ke Dusun Padang Genting. Dusun Padang Genting besatu ngan Dusun Tanggo Batu waktu itu, sebenar o yang lair duluan tu Dusun Tanggo Batu dibandingka ngan Dusun Padang Genting. Tapi Padang Genting tu memang la di pinggir jalan, akhir o besatulah ngan Dusun Padang Genting. Mangko o pacak diakui oleh pemerintahan waktu itu, yaitu pesirah.

Jadi, menginduklah ke Desa Padang Genting. Desa Padang Genting bersatu dengan Desa Tangga Batu pada saat itu, yang sebenarnya lahir duluan itu Desa Tangga Batu daripada Desa Padang Genting. Tetapi Padang Genting itu sudah di pinggir jalan, akhirnya bersatulah dengan Desa Padang Genting. Dapatlah diakui oleh pemerintahan pada saat itu, yaitu pesirah.

Mangko itu tahun 1974, diresmika ngan Bupati Bengkulu Selatan tejadilah Dusun Padang Genting. Nah akhir o karno zaman ni bekembang terus, gaek-gaek nyo idup saat itu, di pinggir aiak itu, aiak itu digunoka untuk jalan. Nah waktu nalak itu kan gunoka rakit, digunoka untuk minum dan segalo bagai o, itua mako o milia di pinggir aiak.

Jadi, pada tahun 1974, diresmikan oleh Bupati Bengkulu Selatan terjadilah Desa Padang Genting. Nah akhirnya dikarenakan perkembangan zaman, bapak-bapak yang hidup pada saat itu, di pinggir air, airnya dipakai untuk jalan. Nah waktu mencari itu kan pakai rakit, pakai ini untuk minum segala macam itu, itulah makanya memilih di pinggir air.

Akhir o bekembang terus sampai bemusuhan agi. Tanggo Batu ni sebenar o memang ndak munco sughang, nido ndak begabung. Akhir o bejanjilah ngan Pesirah Sahri, Pesirah Sahri ndak dipiliah agi jadi pesirah waktu itu. Pemilihan agi kan? Kalu tepiliah katoyo Tanggo Batu buliah dimekarka jak di Dusun Padang Genting. Dulu o, tahun 1974, dibuliahka ngan pesirah itu, dijadika pemekaran. Mako o asli o namo Dusun Tanggo Batu, sampai iluak kini ni.

Akhirnya mengalami perkembangan sampai mereka bermusuhan lagi. Tangga Batu ini sebenarnya memang mau berdiri sendiri, tidak mau bergabung. Berjanjilah dengan Pesirah Sahri, Pesirah Sahri mau dipilih lagi jadi pesirah waktu itu. Pemilihan lagi kan?Kalau terpilih katanya Tangga Batu boleh dimekarkan dari Desa Padang Genting. Pada tahun 1974, diizinkan oleh pesirah itu, jadi pemekaran. Makanya asli lah nama Desa Tangga Batu, sampai sekarang.

Jadi, la 8 kali pemilihan kepala desa. Kalu dulu tu pemilihan depati, udim itu pemilihan langsung jak kepala desa. Udim itu barulah diakui Dusun Tanggo Batu tahun 1974.

Jadi, sudah 8 kali pemilihan kepala desa. Kalau dulu pemilihan depati, kemudian pemilihan langsung pemilihan kepala desa. Sesudah itu baru diakui Desa Tangga Batu tahun 1974.

Saat tahun 1974 tu persyaratan o harus didirika sebuah masjid. Alhamdulillah masyarakat Tanggo Batu sepakat. Tanggo Batu tu memang la betul-betul tanggo, la udim dikinaki masyarakat tanggo tu la didirika, masjid la udim didirika pulo.

Pada tahun 1974 itu persyaratannya harus berdiri satu buah masjid. Alhamdulillah masyarakat Tangga Batu sepakat. Tangga Batu itu memang betul-betul tangga, sudah dilihat oleh masyarakat tangga itu sudah berdiri, masjid sudah berdiri.


Legenda didapat dari penuturan Dustan, 70 tahun, budayawan dari Kabupaten Seluma