Ayam Goreng Tepung Guru Juana
Menumpang Mini Bus butut, Guru Juana terjepit di antara barang-barang penumpang lainnya. Perjalanan dari Kota Jambi ke Desa tepi hutan tempatnya mengajar lebih kurang 7 jam. Di mobil bus yang sudah lama ia harus berjibaku menahan bau, barang yang entah apa. Ia menggurutu di dalam hati, "apa sih yang dibawa orang-orang dari kota,"
Padahal tanpa sadar dia juga membawa banyak barang, 1 tas ransel besar yang berisi baju dan alat peraga mengajar untuk muridnya. Ada pula satu jas jinjing yang berisi penuh makanan dan bahan makanan untuk bekal mengajar. Bahan makanan adalah hal utama di dalam kelas. Makanan disediakan karena, anak-anak rimba tidak memiliki waktu belajar khusus. Mereka harus ikut orang tua bekerja untuk mencari makanan. Kalau mereka pergi belajar, bisa jadi mereka tidak dapat makanan.
Oh ya, memang seperti itulah keadaannya. Di rimba sebetulnya tidak ada orang yang malas, setiap hari dihabiskan untuk bekerja, siang malam untuk mencari makanan. Sebab anak-anak ikut pergi mencari makanan, karena itu agar anak-anak bisa belajar dengan nyaman Guru Juana menyediakan makanan sebelum kelas.
Sayangnya Guru Juana tidak bisa memasak, masakan yang paling ia banggakan adalah telur rebus. Karena itu, ia inisiatif untuk membelikan satu ember ayam goreng untuk anak-anak. Ayam goreng kegemarannya dari kecil hingga sekarang. Ayam goreng yang selalu ia makan ketika merayakan sesuatu. Juana masih ingat rasa senangnya ketika dibolehkan makan ayam goreng ketika ikut Papa Mama ke Mall di kota.
Sekarang ia ingin anak-anak rimba yang ia sayangi itu ikut merasakan rasa senang dan rasa ayam yang pernah ia rasakan, "Sudah tak sabar bertemu mereka," gumam Guru Juana. Tanpa sadar ia senyum-senyum sendiri, melupakan kekesalannya terhadap bus yang sempit karena banyak barang itu.
Menjelang matahari terbenam, Bus itu sampai di pintu rimba. Setelah melewati perkebunan sawit yang luas dan panjang, Guru Juana tiba di Pondok Belajar Bukit Dua Belas. Seperti dugannya, meski tiba sore hari ada Majar dan Celekung yang menantinya. Pondok Belajar tidak mengenal waktu masuk dan waktu pulang, selama ada guru itu adalah waktu belajar.
Dua murid rimba itu secara siap dan sigap membantu Guru Juana menurunkan ransel dan tas jinjing dari mobil dan mengangkutnya ke pondok belajar. Melihat cekatan dua murid kesayangannya, Guru Juana terharu dan membuka tas jinjingnya untuk mengeluarkan ayam goreng tepung.
"Ayo kita makan," kata Guru Juana mengajak ke duanya.
Anak-anak pun semangat, mata mereka berbinar-binar. Guru Juana mengeluarkan bungkusan ayam, terlihat ayam goreng tepung yang gurih dan kriuk. Aromanya pun sudah membuka selera. Tambah lagi Majar dari tadi belum makan, sebab saat ini di hutan tidak sedang musim buah-buahan.
Ia ambil sepotong ayam goreng, "Ini ayam goreng kesukaan ku, kalian pasti akan suka," celetuk Guru Juana.
Celetukkan Guru Juana itu kemudian membuat Majar meletakkan kembali ayam ke tempatnya. Padahal ayam itu sudah hampir masuk mulutnya. Majar kehilangan semangatnya tiba-tiba.
"Loh kenapa Majar?" tanya Guru Juana heran.
Dengan raut wajah murung, "Mika ndok bilang kalau ini ayam, akeh tidak bisa makan ayam,"
Mendengar kalimat itu Guru Juana makin heran. Tidak bisa makan ayam? Bagaimana bisa? Bukankan di rimba mereka juga makan hewan-hewan lain dan kadang juga hewan liar, kenapa tidak bisa makan ayam.
"Kami berpantang makan makanan yang dimakan orang luar, termasuk ayam," katanya. Setelah mengatakan itu Majar dan Celekung pamit pergi, masuk ke dalam hutan. Ke rumah mereka. Meninggalkan Guru Juana sendiri dengan satu ember kecil ayam goreng. Guru muda itu bertanya-tanya, kemudian ia teringat buku peninggalan Guru Nun yang belum sempat ia baca. Buku yang berisi tentang cara hidup Orang Rimba.
Sekarang mendadak saja ayam yang semula menurutnya paling gurih menjadi hambar, "Ternyata yang kuanggap enak, belum tentu baik untuk orang lain,"
Ia mesti banyak belajar sebelum mengajar. Lagi-lagi anak-anak itu mengajarkan ia banyak hal.