Bakpia Ajaib dari Dapur Nenek
Saat libur sekolah adalah saat yang paling ditunggu oleh Hasna. Ibunya yang seorang guru tentunya sangat sibuk dengan pendaftaran murid baru. Sedangkan ayahnya yang seorang pelaut, hanya pulang tiga bulan sekali. Jadi, untuk mengisi waktu libur sekolahnya, Hasna akan diantar oleh ibunya ke rumah neneknya.
Rumah neneknya di desa masih terasa tradisional. Walaupun di bagian depan rumah neneknya sudah dipasang ubin, di bagian belakang atau lebih tepatnya dapur masih berupa tanah liat. Pun neneknya masih memasak menggunakan tungku - untuk beberapa makanan tertentu. Walau ibu Hasna sudah membelikan kompor gas untuk neneknya memasak.
Satu hal yang paling disukai oleh Hasna adalah ketika neneknya mengajak untuk membuat Bakpia bersama. Suatu pagi, Hasna terbangun oleh aroma manis yang menyusup dari dapur.
“Hmm… bakpia!” serunya, sambil berlari kecil. Dilihatnya sang nenek sedang mengaduk adonan di mangkuk besar.
“Hasna mau bantu?” tanya Nenek sambil tersenyum.
Hasnya mengangguk bersemangat. Tangan kecilnya dengan cekatan mengambil gula, kacang hijau, dan sedikit bubuk misterius dari toples kecil bertutup merah.
“Nenek, ini apa?” tanya Hasna penasaran.
“Bubuk rahasia keluarga kita,” jawab Nenek sambil mengedipkan mata.
Mereka membentuk bakpia bulat-bulat, lalu memasukkannya ke dalam oven. Tapi begitu pintu oven terbuka… woosh! Sebuah cahaya keluar, dan dari dalamnya, bakpia-bakpia itu melompat ke meja!
“Selamat pagi, Hasna!” kata salah satu bakpia dengan suara riang.
Hasna terkejut, tapi tertawa. “Bakpia bisa bicara?”
Ternyata, bubuk rahasia dari Nenek membuat bakpia menjadi hidup. Para bakpia itu mengajak Hasna berjalan-jalan keliling desa. Mereka melompat-lompat di jalan, menyapa anak-anak, bahkan membantu pedagang pasar mengangkat keranjang.
Namun, saat matahari mulai tenggelam, bakpia-bakpia itu mulai menguap. “Waktunya kami kembali,” kata mereka.
Hasna dengan hati-hati mengumpulkan mereka ke dalam kotak.
“Kenapa mereka harus kembali, Nek?” tanya Hasna.
“Karena besok ada anak-anak lain yang juga butuh sedikit keajaiban,” jawab Nenek.
Sejak hari itu, Hasna tahu bahwa dapur Nenek bukan sekadar tempat membuat kue. Itu adalah pintu menuju dunia yang manis, hangat, dan penuh kejutan.
