Lompat ke isi

Banyuwangi, Permata Warisan Budaya/Festival Ndog-Ndogan

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Banyuwangi sebagai sebuah daerah dengan sejarah panjang dan luas memiliki beragam budaya di dalamnya. Berbagai lapisan masyarakat merayakan kebudayaan mereka dengan caranya salah satunya adalah budaya Endog-endogan yang dibuat untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Meski Banyuwangi berasal dari Kerajaan Majapahit dengan agama Hindu-Buddha yang kuat, namun untuk saat ini, jumlah penganut agama Islam adalah yang terbesar.[1]

Pelaksanaan

[sunting]

Festival Endog-endogan dilaksanakan sejak 12 Rabiul Awal dan dilaksanakan selama sebulan penuh dan secara garis besar merupakan telur atau endog yang ditusuk dengan sebilah bambu yang mirip seperti tusuk sate dengan ukuran panjang dan dihias bunga dari kertas yang disebut sebagai kembang endog. Beberapa telur kemudian ditancapkan pada batang pohon pisang yang disebut jodhang. Nantinya, akan diarak mengeliling kampung dengan kendaraan sembari diiringi sholawatan. [2]

Sejarah

[sunting]

Secara sejarah, berdasarkan wawancara goodnesfromindonesia [3]dengan budayawan Banyuwangi, Hasan Basri, endog-endogan diprakarsai oleh K.H. Abdullah Faqih untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang membawa kebahagiaan dan keberkahan bagi seluruh umat.

Dalam tiap prosesnya, terdapat makna mendalam. Tiap lapis telur, seperti: kulit melambangkan iman, putih telur melambangkan Islam, dan kuning telur melambangkan Ihsan. Batang pohon pisang melambangkan sebagai tumbuh kembali dan bermakna patang menyerah.

Semangat dan antusiasme masyarakat dapat dilihat dari jumlah peserta sebanyak 1000 peserta yang berasal dari berbagai dusun di Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng pada saat pelaksanaan kegiatan Festival Endog-endogan di tahun 2024[4]. Hal ini menjadi berita baik karena masyarakat Banyuwangi yang tidak hanya merayakan namun melestarikan budaya tersebut. Menjadikan masa depan budaya Banyuwangi cerah, dan sustainability sebagai sesuatu yang bisa digapai bagi semua kalangan di Banyuwangi.

Referensi

[sunting]
  1. Suwito, Rindi. (2024). Menelisik Sejarah dan Tradisi Endhog-endhogan di Banyuwangi, Penuh Makna. Berita Jatim [Online]. Tersedia: Menelisik Sejarah dan Tradisi Endhog-endhogan di Banyuwangi, Penuh Makna
  2. Ari, Robertus. (2024). Tradisi Endog-endogan Banyuwangi, Ini Keunikannya!. IDN Times [Online]. Tersedia: Tradisi Endog-endogan Banyuwangi, Ini Keunikannya! | IDN Times
  3. Kusumo, Rizky. (2024). Tradisi Endog-endogan, Warga Banyuwangi Hias Telur untuk Meriahkan Maulid Nabi Muhammad SAW. GoodnesfromIndonesia [Online]. Tersedia: Tradisi Endog-endogan, Warga Banyuwangi Hias Telur untuk Meriahkan Maulid Nabi Muhammad SAW
  4. BeritaBWI. (2024). Endhog-endhogan, Tradisi Warga Banyuwangi Peringati Maulid Nabi. Banyuwangikab [Online]. Tersedia: Endhog-endhogan, Tradisi Warga Banyuwangi Peringati Maulid Nabi | Berita Banyuwangi