Lompat ke isi

Banyuwangi, Permata Warisan Budaya/Kebo-keboan

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Banyuwangi bukan hanya daerah yang terkenal dengan bentang alamnya yang indah, mulai dari pantai hingga pegunungan, tetapi juga terkenal sebagai daerah yang sampai saat ini masih melestarikan tradisi, upacara adat dan budaya. Setiap tahun selalu ada kalender pelaksanaan upacara adat dan budaya. Upacara adat dan budaya ini adalah ciri khas yang diwariskan turun menurun dari generasi terdahulu hingga saat ini. Di balik banyaknya tradisi dan budaya yang dilakukan selalu memperlihatkan adanya nilai-nilai kehidupan yang selalu dijaga. Banyak sekali tradisi yang dilakukan setiap tahun bahkan setiap bulannya. Salah satu tradisi yang unik dan menarik yaitu Kebo-keboan yang dilakukan di Desa Alasmalang.

Asal-usul dan Makna

[sunting]

Seperti namanya, tradisi Kebo-keboan adalah tradisi yang berkaitan dengan Kebo atau kerbau. Hewan kerbau memiliki keterikatan yang cukup erat dengan Banyuwangi, hal ini dikarenakan Banyuwangi merupakan wilayah agraris dengan potensi pertanian yang cukup besar. Suku Osing yang merupakan Suku asli Banyuwangi seringkali menggantungkan kehidupan mereka pada sektor pertanian.

Dahulu, di Desa Alasmalang terjadi wabah penyakit yang menyerang seluruh warga dan tanaman. Wabah ini menjadikan semua petani gagal panen. Mereka yang menggantungkan hidupnya dengan hasil panen kebingungan, beras yang menjadi makanan pokok juga menjadi langka dan berakhir banyak warga uang meninggal akibat wabah ini.

Masyarakat zaman dahulu, dengan kepercayaannya seringkali percaya dengan perkataan  sesepuh atau tokoh  masyarakat yang mereka percayai. Mbah Karti, sesepuh desa saat itu setelah melakukan semedi untuk mendapatkan petunjuk akhirnya mengarahkan warga untuk mengadakan syukuran. Acara syukuran ini dikhususkan agar para petani berperan menjadi kerbau sebagai bentuk mengagungkan Dewi Sri yang dikenal sebagai Dewi Kesuburan dan dianggap pelindung para petani serta simbol kemakmuran. Setelah pelaksanaan syukuran, wabah dan hama pada tanaman berangsur menghilang. Sejak saat itu Suku Osing yang berada di Desa Alasmalang melakukan syukuran tersebut sebagai acara tahunan yang harus mereka lakukan sebagai bentuk syukur atas panen yang melimpah dan ritual tolak bala [1].

Pelaksanaan dan Tahapan Acara

[sunting]

Pelaksanaan upacara adat Kebo-keboan dahulu dilaksanakan pada tanggal 10 suro atau 10 muharram. Namun, sekarang terjadi pergeseran tanggal dan hari. Hal ini berkaitan dengan kesibukan para warga masyarakat dan berhubungan juga dengan animo penonton yang datang. Pertimbangan ini yang menjadikan pelaksanaan dilakukan setiap hari minggu yang terdekat dengan bulan suro [2].

Upacara adat selalu menarik perhatian umum, terutama dalam tahapan pelaksanaanya, begitu juga dengan upacara adat kebo-keboan. Tahapan pelaksanaan upacara adat ini meliputi pra acara, acara inti dan tahap akhir.

1. Pra Acara

Tahapan pra acara dilakukan satu bulan sebelum pelaksanaan, dimulai dari pemilihan ketua panitia dan pembuatan perlengkapan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan upacara adat. Perlengkapan ini meliputi pembuatan gapura di setiap pintu jalan masuk. Gapura yang dibuat berbeda dengan gapura biasanya, gapura ini merupakan gapura yang terbuat dari palawijo yang memiliki makna symbol sebagai keberhasilan panen di Desa Alasmalang. Perlengkapan lainnya meliputi pembuatan pentas dan kereta Dewi Sri

2. Acara Inti

Acara inti dimulai dari penanaman polowijo di setiap jalan dusun memanjang pada empat penjuru (barat, timur, selatan dan utara). Penanaman polowijo diibaratkan bahwa jalan tersebut merupakan symbol dari lahan pertanian. Setelah penanaman polowijo selesai, masyarakat akan melaksanakan bersih desa yaitu selametan yang dilakukan di jalan dusun dengan membawa nasi tumpeng.

Prosesi selanjutnya adalah pawai ­ider bumi yaitu pawai mengelilingi dusun melalui empat penujuru yaitu timur, barat, utara dan selatan. Pawai ini dimulai dari arah barat sebagai titik kumpul. Dalam pawai ider bumi ikut serta rombongan petani putra dan petani putri serta pengendali kerbau. Pawai ini dimaksudkan untuk mengawal lambang Dewi Sri.

Tahapan selanjutnya pada acara inti yaitu pengubangan, namun sebelum pengubangan dilakukan peras kebo. Banyak warga yang berebut untuk memperoleh peras untuk dibalurkan pada bagian anggota tubuh, terutama wajahnya.

Tahapan terakhir dalam acara inti yaitu membajak sawah. Manusia yang sudah dandan seperti kerbau (kebo-keboan) akan membajak sawah dan pawing akan membacakan mantra. Kerbau tersebut akan menjadi liar dan masuk dalam kubangan

3. Tahap Akhir

Akhir dari tahapan pelaksanaan upacara adat kebo-keboan yaitu pawang-pawang kerbau akan menjinakkan kembali kerbau-kerbau tersebut lalu menadikannya dan memberi makan serta dimasukkan ke dalam kandang[2].

Penutup

[sunting]

Upacara adat atau tradisi kebo-keboan bukan hanya tradisi yang setiap tahun dilaksanakan oleh masyarakat Desa Alasmalang. Tetapi, tradisi yang penuh dengan simbol budaya dan rasa sykur masyarakat setempat. Sampai saat ini, kebo-keboan tetap menjadi tradisi yang dilestarikan dan menjadi daya tarik Banyuwangi khususnya kebudayaan.

Referensi

[sunting]
  1. https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/kebo-keboan-ritual-unik-penolak-hama-dari-tanah-banyuwangi/
  2. https://journal.unugiri.ac.id/index.php/an-nas/article/download/2773/1343/10701
  1. [1]
  2. 2,0 2,1 [2]