Banyuwangi, Permata Warisan Budaya/Meras Gandrung
Sendra Tari Meras Gandrung Banyuwangi
[sunting]Sendra Tari Meras Gandrung merupakan event budaya yang masuk dalam daftar festival tahunan Kabupaten Banyuwangi. Meras Gandrung sendiri adalah tradisi ritual adat bagi seorang penari Gandrung yang dinyatakan lulus dan mampu membawakan tari Gandrung dalam pertunjukan apa pun. Kini, tradisi tersebut diangkat menjadi sebuah event budaya dalam bentuk sendra tari Meras Gandrung yang dilaksanakan setiap satu bulan sekali, berlokasi di Taman Gandrung Terakota. Sebuah situs budaya yang terletak di bawah kaki Gunung Ijen.
Lokasi Taman Gandrung Terakota
[sunting]Taman Gandrung Terakota adalah situs budaya yang melestarikan ikon seni tari Gandrung. Tempat ini berupa taman hijau terbuka dengan 1.000 pahatan patung Gandrung bergaya realis, terbuat dari tembikar atau terakota. Patung-patung ini tersebar di beberapa titik, baik di tengah maupun tepi persawahan, dengan fasilitas amfiteater terbuka yang difungsikan sebagai panggung pementasan kesenian Banyuwangi.[1] Taman Gandrung Terakota terletak di bawah kaki Gunung Ijen, tepatnya di Dusun Blimbingsari, Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi.
Meras Gandrung bagi Masyarakat Banyuwangi
[sunting]Meras Gandrung tidak hanya menonjolkan keindahan visual melalui gerak koreografi. Tradisi ini menjadi simbol kelulusan seorang penari Gandrung, menandakan bahwa ia diakui sebagai penari profesional dan siap tampil di panggung mana pun, baik acara adat maupun festival besar.
Meras Gandrung merupakan tradisi budaya yang mengakar kuat bagi masyarakat Banyuwangi. Awalnya, tari Gandrung adalah ungkapan rasa syukur kepada Dewi Sri atas kesuburan tanah dan hasil panen yang melimpah. Namun, Gandrung juga menjadi ikon perjuangan rakyat Blambangan dalam mempertahankan tanah air dan melawan penjajahan melalui seni. Seiring waktu, tradisi ini berkembang menjadi sarana pelestarian kesenian Banyuwangi agar terus beregenerasi melalui penari muda.
Tari Gandrung sarat nilai filosofis dan magis, tidak hanya dalam gerakan, tetapi juga pada setiap elemen pendukungnya yang mencerminkan nilai budaya Banyuwangi. Meski sempat vakum karena stigma negatif terkait ilmu magis yang dahulu melekat pada Kabupaten Banyuwangi, pertunjukan ini kembali hadir dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat maupun wisatawan domestik hingga mancanegara. Tradisi ini menjadi salah satu aspek yang memperkuat citra Banyuwangi sebagai destinasi wisata budaya.
Sendra tari Meras Gandrung kembali digelar pada Oktober 2018 dan terus berlangsung hingga 2025. Tradisi ini memiliki dua versi: versi asli yang dilakukan tertutup khusus bagi penari yang telah matang, dan versi sendratari di Taman Gandrung Terakota yang ditampilkan sebagai bagian dari festival budaya Banyuwangi.
Proses Pertunjukan Sendra Tari Meras Gandrung
[sunting]Sendra tari ini berlangsung selama 1–1,5 jam dan terbagi dalam beberapa babak. Pertunjukan diawali dengan penari memasuki panggung dalam barisan laki-laki dan perempuan. Barisan laki-laki membawa payung kain putih panjang yang ditopang empat batang kayu, dikibarkan menutupi barisan penari perempuan yang membawa daun pisang utuh. Di belakangnya, rombongan pembawa dupa dan penari Gandrung pria berkumis mengikuti sambil diiringi gending khas Banyuwangi. Mereka menari berlenggak-lenggok mengikuti irama musik, menggambarkan ujian yang harus dihadapi seorang calon penari Gandrung profesional.
Dalam prosesi ini, penari digambarkan mengasah kemampuan: menguasai gerak tari, berlatih sebagai sinden untuk memperindah cengkok suara, dan menjalani ritual gurah suara untuk membersihkan tenggorokan ritual yang konon sangat menyakitkan dalam versi aslinya. Selanjutnya, penari mengikuti serangkaian ritual lain, termasuk pupuhan dan paju gandrung.
Paju Gandrung menjadi babak terakhir pertunjukan. Pada tahap ini, penari melempar sampur (selendang) secara acak, dan siapa pun yang terkena sampur harus bersedia menari berpasangan dengan penari Gandrung. Dalam ritual aslinya, Paju Gandrung dilakukan semalam suntuk, sedangkan dalam sendratari durasinya dipadatkan tanpa mengurangi makna.
Cek untuk nonton Sendra Tari Meras Gandrung tahun 2025, jangan lewatkan untuk datang ke Banyuwangi dan menyaksikan pertunjukan budaya yang magis dan sarat akan makna ini.
- Januari: Minggu, 26 Januari 2025
- Februari: Sabtu, 15 Februari 2025
- April: Rabu, 2 April 2025
- Mei: Minggu, 11 Mei 2025
- Juni: Minggu, 8 Juni 2025
- Juli: Jumat, 4 Juli 2025
- Agustus: Minggu, 17 Agustus 2025
- September: Minggu, 7 September 2025
- Oktober: Minggu, 5 Oktober 2025
- November: Minggu, 30 November 2025
- Desember: Minggu, 28 Desember 2025
Referensi
[sunting]- Astin Soekanto. (2025, 12 Februari). Meras Gandrung Hiburan Magis di Kaki Gunung Ijen Banyuwangi. Astin Soekanto. Diakses dari Astin Soekanto Astin Soekanto: https://astinsoekanto.com/sendratari-meras-gandrung-banyuwangi/
- Taman Gandrung Terakota. Home | Taman Gandrung Terakota. Diakses dari Gandrung Terakota Gandrung Terakota: https://gandrungterakota.com/home/
- Yasmin, L. (2023, 16 September). Mengenal Meras, Tradisi Pengukuhan Penari Banyuwangi untuk Menjadi Gandrung Paripurna. TIMES Indonesia. Diakses dari TIMES Indonesia: https://timesindonesia.co.id/wisata/469130/mengenal-meras-tradisi-pengukuhan-penari-banyuwangi-untuk-menjadi-gandrung-paripurna