Lompat ke isi

Banyuwangi, Permata Warisan Budaya/Petik Laut

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Petik Laut adalah tradisi sakral yang digelar setiap tanggal 15 bulan Suro sebagai bentuk rasa syukur masyarakat pesisir Banyuwangi atas limpahan rezeki dari laut. Ritual ini melibatkan doa bersama, pengajian, dan pelarungan sesaji ke tengah laut, yang melambangkan harmonisasi antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Petik laut merupakan acara selamatan berbentuk ritual atau upacara dengan serangkaian acara seperti pelarungan sesaji dan pembacaan doa-doa yang bertujuan sebagai penghargaan terhadap laut atas hasil alam yang melimpah serta sebagai bentuk syukur kepada Tuhan atas limpahan rezeki dan permohonan agar selalu diberi keselamatan

Lebih dari sekadar tradisi, Petik Laut menjadi identitas budaya yang kuat sekaligus pengingat akan pentingnya hidup selaras dengan alam. Acara ini tidak hanya menguatkan spiritualitas para nelayan, tapi juga menarik banyak pengunjung untuk merasakan keindahan budaya dan religi khas tanah Blambangan.

Tradisi ini sudah belangsung sejak lama jauh sebelum tahun 1901 dan masih terpelihara dan lestari dalam kehidupan masyarakat muncar. Petik laut merupakan akulturasi dari berbagai budaya yang meliputi budaya jawa, budaya lokal, dan islam. Perkembangan petik laut terus terjadi dengan melewati berbagai budaya yang berkembang seperti halnya hindu-buddha dan islam.

Upacara petik laut diselenggarakan dengan serangkaian acara yang dilaksanakan selama tiga hari dengan puncak acara pada hari ketiga yaitu pelarungan sesaji ke laut. Prosesi upacara petik laut pada hari pertama, masyarakat mengadakan pengajian di masjid dengan membaca tahlil dan surat yasin, pada hari kedua terdapat acara khataman Al Qur'an, dan pada hari terakhir adalah puncak acara dimana masyarakat nelayan melakukan pelarungan sesaji ke laut.

Dengan kekayaan nilai spiritual, sosial, dan budaya yang terkandung, Petik Laut bukan hanya perayaan tahunan, tetapi juga simbol kearifan lokal yang menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam.[1][2]

Referensi

[sunting]
  1. https://ejournal.umm.ac.id/index.php/JICC/article/view/24628
  2. https://jurnal.ittc.web.id/index.php/jpdsk/article/view/536