Lompat ke isi

Bayangan di Lorong

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Hujan deras turun malam itu ketika Rani kembali ke asrama kampus. Lorong panjang menuju kamarnya tampak lebih gelap dari biasanya; lampu neon yang biasanya menyala satu per satu, kali ini hanya setengahnya yang hidup. Suara tetesan air dari atap terdengar berulang, seolah ada seseorang yang sengaja menirukan langkah kaki.

Saat Rani melewati kamar 207—yang sudah lama kosong karena penghuninya pindah mendadak—ia mendengar suara bisikan samar. Suara itu seperti memanggil namanya.

“Rani…”

Ia berhenti, menahan napas. Pintu kamar 207 setengah terbuka, padahal petugas asrama sudah menyegel semua kamar kosong. Rasa penasaran melawan rasa takutnya. Dengan hati-hati, ia mendorong pintu itu.

Di dalam, hanya ada kasur tua yang dilapisi debu tebal. Tapi yang membuatnya membeku adalah bayangan seseorang yang berdiri di pojok ruangan—padahal tidak ada siapa pun di sana.

Bayangan itu bergerak, seakan melambaikan tangan. Rani mundur perlahan, namun tiba-tiba pintu menutup sendiri dengan keras. Ruangan menjadi gelap total.

Saat Rani menyalakan senter ponselnya, di dinding tertulis kalimat dengan cat merah:

“Kembalikan barangku, atau kau akan menyusul.”