Lompat ke isi

Belajar Sabar dari Bara

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Sinopsis

[sunting]
Manfaat air rebusan biji ketumbar

Bara adalah anak semata wayang. Bara termasuk anak yang tidak pernah sabar dalam melakukan segala hal, termasuk ketika makan. Berulang kali ayah dan ibu menasihatinya untuk mencuci tangan terlebih dahulu sebelum makan, ia tak pernah pedulikan. Akibatnya, ia sakit perut. Ayah yang mengetahui Bara sakit perut langsung panik dan melapor pada Ibu. Dengan sigap, Ibu langsung merebus air dan biji ketumbar. Diberikannya ramuan ketumbar yang menyehatkan itu pada Bara. Sejak saat itu, Bara sembuh karena ramuan ketumbar pemberian Ibu. Bara menyesali perbuatannya dan berjanji akan bersikap lebih sabar lagi. Ia bertekad untuk mematuhi nasihat ayah dan ibunya.

Nilai Moral

[sunting]

Ketidaksabaran memicu penyakit dalam tubuh.

Lakon

[sunting]
  1. Bara
  2. Tobi
  3. Ibu
  4. Ayah
  5. Bu Guru

Cerita Pendek

[sunting]

Stop, Bara!” suara Ibu yang mencoba menghentikan.

Saat itu, Bara hendak menyuapkan makanan ke mulutnya.

“Cuci tangan dulu!” perintah Ibu.

Tanpa peduli Bara tetap meneruskan makan.  

“Tak apa lah, Bu. Tanggung nih. Sudah mau berangkat sekolah juga,” balas Bara tetap sambil makan.

Pagi itu, Ibu menemani Bara sarapan di meja makan. Ayah sudah berangkat lebih dulu ke tempat kerjanya.

Bara adalah anak semata wayang. Ia termasuk anak yang tidak pernah sabar. Segala hal ingin diselesaikan dengan terburu-buru. Begitu juga ketika makan.

Berulang kali ayah dan ibu menasihatinya, tapi tak pernah dipedulikan. Padahal, tidak jarang Bara mengeluh sakit perut sehabis makan. Tetapi, rasa sakitnya selalu bisa dialihkan.

Dari luar rumah, terdengar suara Tobi, “Bara, ayo berangkat!”

Mendengar panggilan itu, Bara pun menyahuti, “Sebentar!”

Cepat-cepat ia habiskan makan dan mencuci tangan. Ia kenakan tas punggung, lalu berpamitan pada Ibu.

Di teras rumah, ketidaksabaran Bara kembali terlihat. Ia pakai sepatu dengan diinjak di bagian tumit. Persis seperti memakai sandal.

Tobi hanya melihat dari balik kacamata minusnya.

Bara dan Tobi adalah teman sekelas yang rumahnya berdekatan. Saat ini, mereka duduk di kelas 6 SD. Jarak rumah mereka pun tidak terlalu jauh dengan sekolah. Dapat ditempuh dengan berjalan kaki.

Mereka memiliki ukuran tubuh berkebalikan. Bara bertubuh gendut, sedangkan Tobi kurus. Saat jalan berdampingan, seakan membentuk angka sepuluh.

Sesampainya di sekolah, di dalam kelas, Bara merasa sakit perut. Tetapi dengan cepat, dapat teralihkan oleh keasyikan cerita teman-temannya.

Tanpa sabar, Bara langsung ikut nimbrung. Asyik tertawa bersama temannya. Sampai-sampai tak disadarinya, Bu Guru sudah masuk kelas.

“Baaraa …” tegur Bu Guru dengan lembut.

“Iiii ... yyyya, Bu!” seketika tawa Bara terhenti. Sambil menahan malu, ia menuju tempat duduknya.

Anak-anak yang lain sibuk menutupkan tangannya di mulut. Menahan tawa karena tingkah Bara.

Bu Guru menunggu keadaan tenang. Tak berapa lama, pelajaran pun dimulai. Bu Guru membukanya dengan pengumuman.

“Anak-anak, hari ini adalah kegiatan belajar mengajar terakhir. Besok, kalian akan mengikuti ujian sekolah. Jadi, persiapkan dengan sebaik mungkin, ya!” pinta Bu guru.

“Ya, Bu!” jawab anak-anak.

“Jangan lupa belajar di rumah. Ibu harap, hasil nilai kalian bisa bagus semua. Siap!” lanjut Bu Guru.

“Siap, Bu!” jawab anak-anak lagi.

Kegiatan belajar berlanjut dengan tenang. Sesekali saja anak-anak tertawa sewajarnya. Memang, Bu Guru sengaja membuat suasana belajar lebih menyenangkan.

***

Bel menunjukkan waktu untuk pulang. Semua anak bersiap. Termasuk, Bara dan Tobi.

Teriknya matahari tak menyurutkan semangat anak-anak untuk pulang. Dari dalam kelas, tampak anak-anak keluar menuju gerbang sekolah. Sebuah titik pisah menuju rumah masing-masing.

Bara dan Tobi tetap berjalan beriringan keluar gerbang sekolah. Di antara panas dan lapar, mereka ingin cepat-cepat sampai rumah.

Di depan rumah Bara, Tobi memisahkan diri. Bara langsung melepas sepatunya di teras dan masuk. Ia letakkan tas punggungnya di kursi. Selanjutnya, ia mengambil makan tanpa melepas seragam sekolah.

Ibu mengingatkannya lagi, “Bara, sabar dulu kalau mau makan. Ganti seragammu dan cuci tangan kaki dulu.”

“Sudah lapar, Bu!” balas Bara yang sudah memegangi piring nasinya.

Ibu yang sedang mengangkati jemuran di luar pun hanya bisa berdecak, “Hemmm ...”

Sementara Bara, tetap melanjutkan makannya.

Alhasil, ia mengeluh sakit perut. Karena masih bisa tahan, ia langsung menuju kamarnya.

Ketika hendak melepas seragam, sakit perutnya semakin bertambah. Kali ini tak dapat dialihkan. Dibaringkan tubuhnya di atas kasur.

Hingga sore hari, sakitnya tak juga reda. Ia takut besok tidak dapat berangkat sekolah.

Ayah yang baru pulang mendatangi kamar Bara yang terbuka. Kaget melihat Bara tidur masih mengenakan seragam sekolah.

Dilihatnya Bara gelisah. Posisi tidur tak tentu arah sambil memegangi perutnya.

“Kamu kenapa, Bar? Sudah sore gini kok belum ganti baju?” tanya Ayah.

“Bara sakit perut, Yah!” jawab Bara dengan tetap memegangi perut.

Begitu mendengar jawaban Bara, Ayah langsung panik. Didatanginya Ibu yang sedang sibuk di dapur.

“Bu, Bara sakit perut yang nggak biasa tuh kayaknya. Kita bawa ke dokter aja, ya!” pinta Ayah dengan nada panik.

Tiba-tiba, Ibu teringat petuah orang tuanya dulu.  Petuah tentang khasiat biji ketumbar.

“Tenang, Yah. Ibu jadi ingat pesan neneknya Bara dulu. Jika sakit perut, tidak ada salahnya mencoba air rebusan biji ketumbar,” balas Ibu.

“Hah, biji ketumbar?” tanya Ayah heran.

“Ya, biji ketumbar. Ibu coba dulu, ya! Nanti kalau belum membaik, baru kita bawa ke dokter,” jawab Ibu.

Dengan sigap, Ibu langsung merebus air dan biji ketumbar. Setelah didinginkan beberapa menit, ramuan itu diberikannya pada Bara.

Di kamar Bara, Ayah dan Ibu memperhatikan. Beberapa menit kemudian, sakit perut Bara membaik. Ia bisa tersenyum lagi sambil berganti baju.

Ayah pun senang melihat perubahan Bara.

“Berarti kita tak perlu ke dokter, nih. Ibu hebat!” puji Ayah.

“Ibu hanya mencoba petuah orang tua. Alhamdulillah, manjur,” balas Ibu.

“Terima kasih, Bu. Berkat ramuan itu Bara nggak sakit lagi,” ucap Bara.

“Ini pelajaran buatmu. Jika tidak ingin sakit perut lagi, kamu harus bisa sabar sebelum makan. Bersihkan tangan dulu dari bakteri-bakteri jahat, ya!” pinta Ibu.

“Ya, Bu. Bara janji akan belajar untuk sabar. Tidak hanya saat makan. Bara akan belajar lebih sabar lagi untuk semuanya,” balas Bara.

“Bagus kalau gitu. Oh, ya. Ramuan itu tidak hanya untuk mengobati sakit perut lho. Masih banyak khasiat lainnya untuk kesehatan!” lanjut Ibu.

“Memang apa aja, Bu?” tanya Ayah penasaran.

“Bisa menurunkan kadar kolesterol, mencegah infeksi usus besar, menurunkan kadar gula darah, memiliki kandungan vitamin C yang baik untuk tubuh, dan bisa merelakskan otot dan tulang yang tegang,” jawab Ibu.

“Wah, banyak banget ya khasiatnya!” balas Ayah terkagum.

“Begitulah yang Ibu tahu, Yah. Sebagai langkah pencegahan, tidak ada salahnya jika kita rajin mengonsumsi ramuan ajaib itu. Tentu saja dengan dosis atau takaran yang dianjurkan oleh dokter. Kalau kebanyakan, yang ada kita malah menceret,” canda Ibu.

Semua pun tertawa bahagia. Sejak saat itu, Bara sembuh karena ramuan ketumbar pemberian Ibu. Bara menyesali perbuatannya dan berjanji untuk bersikap lebih sabar. Ia bertekad untuk mematuhi nasihat ayah dan ibunya.

Hari pun memasuki petang. Suasana keceriaan dalam rumah Bara menandai pergantian waktu. Malam disambut dengan gembira.

Tahukah Kamu?

[sunting]

Ketumbar atau dalam bahasa ilmiahnya disebut Coriandrum sativum dipercaya memiliki kandungan antioksidan yang dapat menurunkan kadar kolesterol bila dicampurkan ke dalam makanan tertentu. Tidak hanya itu, air rebusan ketumbar juga bermanfaat untuk kesehatan.

Kandungan antioksidan dalam ketumbar tidak hanya bisa menurunkan kadar kolesterol, tetapi juga bisa melancarkan sistem pencernaan. Kandungan antioksidan ini nantinya akan bekerja dengan memproduksi enzim untuk melancarkan sistem pencernaan. Dengan rutin mengonsumsi air ketumbar, Anda bisa terhindar dari infeksi usus besar.

Ketumbar juga mengandung serat yang cukup tinggi yang akhirnya bisa menurunkan kadar gula darah. Nantinya, ini akan menyeimbangkan kadar gula pada penderita diabetes. Namun, ada baiknya untuk berkonsultasi terlebih dahulu pada dokter sebelum meminum air rebusan ketumbar.

Air ketumbar juga dipercaya mengandung antibakteri yang bisa membantu meredakan penyakit akibat bakteri jahat. Gangguan ini termasuk infeksi kulit maupun penyakit perut yang disebabkan oleh bakteri. Selain itu, konjungtivitis juga bisa diobati dengan meminum air rebusan ketumbar.

Ketumbar juga memiliki kandungan vitamin C yang baik untuk tubuh. Kandungan vitamin C dalam air rebusan ketumbar mengandung antioksidan yang membantu meningkatkan sistem imunitas dalam tubuh. Jadi, meminum air ketumbar secara rutin bisa mencegah virus penyebab penyakit batuk dan pilek dalam tubuh.

Air rebusan ketumbar memiliki sifat analgesik dan kandungan asam linoleate-nya bisa merelakskan otot dan tulang yang tegang. Tetapi, penggunaan ini tetap berkonsultasi terlebih dahulu pada dokter agar mendapatkan dosis yang tepat. Karena, kondisi kesehatan setiap orang berbeda-beda.

Referensi

[sunting]

[1]

  1. https://www.klikdokter.com/info-sehat/kesehatan-umum/manfaat-air-rebusan-ketumbar-bagi-kesehatan