Lompat ke isi

Belajar di Rumah: Panduan Pendidikan Keluarga (Seri PAUD)/isi

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Apa itu Pendidikan dan Tujuannya

[sunting]

Ki Hajar Dewantara menjelaskan bahwa pendidikan dan pengajaran memiliki arti yang berbeda dalam memahami tujuan pendidikan. Pengajaran (onderwijs) adalah bagian dari pendidikan yang berfungsi memberikan ilmu untuk mengembangkan kecakapan hidup siswa, baik lahir maupun batin. Sementara itu, pendidikan (opvoeding) mencakup segala upaya untuk membimbing kekuatan alami anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan tertinggi, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat.

Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan dan pengajaran adalah persiapan untuk hidup manusia, baik dalam masyarakat maupun dalam budaya. Pendidikan menjadi wadah untuk menumbuhkan kebudayaan dan nilai-nilai kemanusiaan yang bisa diwariskan. Pendidikan bertujuan untuk memerdekakan manusia, baik secara lahir maupun batin, agar dapat mandiri dan tidak tergantung pada orang lain. Melalui pendidikan, siswa diharapkan dapat tumbuh secara utuh, memuliakan diri dan orang lain, serta mampu mengatur hidupnya sendiri tanpa perintah orang lain.

Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk menuntun kodrat anak agar mereka mencapai kebahagiaan dan keselamatan tertinggi. Pendidik hanya berfungsi sebagai pemandu yang membantu mengembangkan kekuatan kodrat anak, sehingga mereka dapat memperbaiki diri dan hidup dengan baik.

Mengenal Ragam Pendidikan

[sunting]
Ragam Pendidikan, Quraeni, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons
Ragam Pendidikan, Quraeni, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons

Pilihan cara mendidik anak usia dini sangat bervariasi. Jika Anda mencari informasi tentang “kurikulum taman kanak-kanak”, Anda akan menemukan jutaan sumber yang membahas berbagai jenis kurikulum untuk anak-anak pra-sekolah ini. Beberapa kurikulum didasarkan pada filosofi dan gagasan pendidikan yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh pendidikan atau metode tertentu, seperti Montessori, Waldorf, Charlotte Mason, dan Reggio Emilia.

Selain itu, ada kurikulum yang dikembangkan oleh lembaga pendidikan seperti HighScope, Bank Street, dan Creative Curriculum, yang biasanya berasal dari sektor swasta (non-pemerintah). Pemerintah di berbagai negara juga memiliki kurikulum untuk pendidikan pra-sekolah.

Setiap kurikulum memiliki ciri khasnya masing-masing. Anda dapat memilih di antara berbagai pilihan tersebut atau mencari alternatif lain melalui internet, baik yang gratis maupun berbayar. Ada pula model pendidikan yang berbeda, yakni Unschooling. Berbeda dengan kurikulum yang terstruktur, Unschooling menggunakan pendekatan yang lebih fleksibel dan berfokus pada pembelajaran yang dipimpin oleh anak, di mana proses belajar dipicu oleh minat anak itu sendiri.

Unschooling berasumsi bahwa keinginan untuk belajar adalah sifat alami pada anak. Sejak lahir, ketika anak mulai berinteraksi dengan lingkungannya, mereka memiliki naluri untuk mengeksplorasi dan ingin mengetahui berbagai hal.

Dunia nyata dan lingkungan sekitar adalah tempat belajar terbaik bagi anak. Karena anak cenderung berinisiatif dan ingin mengeksplorasi, peran orang tua adalah menyediakan lingkungan yang mendukung dan mengurangi campur tangan yang bisa menghalangi proses belajar alami anak.

Apa itu Pendidikan Informal

[sunting]

Sebagai sebuah model pendidikan alternatif, homeschooling memiliki model yang berbeda dibandingkan sekolah. Salah satu perbedaannya adalah penempatan keluarga sebagai sentral dalam proses penyelenggaraan pendidikan.

Sebagai sentral pendidikan, keluarga memiliki peran yang sangat penting dan krusial. Keluarga terlibat dalam setiap tahap pendidikan, mulai dari penetapan visi dan tujuan yang ingin dicapai, pelaksanaan kegiatan pendidikan sehari-hari, hingga evaluasi. Peran ini akan terus dijalankan oleh keluarga seiring dengan perkembangan anak dan proses homeschooling yang mereka jalani. Ini adalah kesempatan sekaligus tantangan dalam pelaksanaan homeschooling.

Salah satu pertanyaan yang sering muncul mengenai homeschooling adalah kurikulum apa yang harus digunakan, terutama untuk anak usia dini. Apa kurikulum dan panduan yang tepat untuk keluarga dalam menjalani homeschooling pada anak usia 0 hingga 6 tahun?

Karena homeschooling berbasis pada keluarga dan setiap keluarga berbeda, tidak ada satu model atau panduan yang wajib diikuti. Setiap keluarga bebas memilih pendekatan yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kondisi mereka.

Salah satu prinsip penting dalam homeschooling adalah "boleh". Keluarga memiliki kebebasan untuk memilih aliran parenting dan kurikulum yang digunakan dalam homeschooling. Bahkan jika memilih untuk tidak menggunakan kurikulum formal dan menerapkan pendekatan unschooling, itu juga diperbolehkan.

Ada beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan oleh keluarga homeschooling saat memilih kurikulum, yaitu:

  1. Menyadari nilai-nilai yang penting bagi keluarga
  2. Memahami berbagai pilihan yang tersedia
  3. Memilih yang paling sesuai dengan keluarga

Proses tsb tidak harus dilakukan dalam urutan tertentu. Bisa dimulai dengan mengenali nilai-nilai keluarga atau mengeksplorasi pilihan-pilihan yang ada dengan membaca buku tentang parenting. Prosesnya juga dapat dilakukan sebelum memulai homeschooling atau sambil berjalan. Bisa selesai dalam satu waktu atau menjadi proses berkelanjutan yang terus dikaji ulang selama homeschooling.

Yang terpenting adalah ketiga langkah tersebut (mengenali nilai-nilai keluarga, mengenali pilihan, dan memilih yang sesuai) dijalankan, dengan cara yang disesuaikan dengan karakter dan kebiasaan keluarga

Hal paling mendasar yang perlu diingat oleh orang tua tentang tujuan yang dipentingkan dalam proses pendidikan keluarga anak usia dini bukanlah mendidik anak menjadi juara di bidang akademis. Homechooling bukan perlombaan lebih cepat membaca, lebih jago berhitung  dan menjadi anak yang bisa dipamerkan kepada orang lain.


——————————————————


Membuat Rencana Pembelajaran di Rumah』『Memahami Perkembangan Anak