Lompat ke isi

Bersyukur: Penenang Hati Di Tengah Mengejar Mimpi

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Kaki seribu melata di hutan

Dunia seakan bergerak lebih cepat seiring perkembangan zaman yang semakin modern. Berbagai bidang tumbuh mendekati cara kerja yang lebih efektif dan efisien, sama hal nya dengan manusia yang menjalaninya. Manusia tanpa sadar mengikuti alur waktu yang di bangun dan menempatkan diri di dunia serba cepat, dengan melupakan fakta bahwa esensi sebagai makhluk hidup akan membutuhkan jeda dan istirahat. Fokus utama pada ambisi dan mimpi terkadang membuat lupa untuk mengurus jiwa diri sendiri, segera tersadar ketika semua sudah terasa berat, semua langkah terasa serba salah, mimpi yang seharusnya menjadi bahan bakar penyemangat hidup, malah bisa berbalik menjadi beban yang harus dituntaskan. Hal tersebut diperparah dengan kondisi lingkungan saat ini, dengan adanya kondisi setelah pandemi dan terbukanya media sosial, sering menjadi akar menyumbang memperburuk kesehatan mental.  Tidak perlu melihat dari skala dunia untuk mengetahui bagaimana hal ini harus menjadi urgensi, di Indonesia sendiri berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, lebih dari 19 juta penduduk berumur 15 tahun ke atas mengalami gangguan mental emosional, dan 12 juta lebih mengalami depresi [1], hal itu menunjukkan manusia modern dituntut untuk mempunyai kemampuan mengelola emosi yang baik guna bertahan di dalam hiruk pikuk yang ada.

Sekarang, jika di tengah semua permasalahan yang terjadi, manusia yang mengalami dikenalkan bahwa salah satu cara untuk meringankannya adalah dengan bersyukur, dapat dipastikan seratus persen pembaca akan berhenti dan tidak meneruskan membaca hingga akhir. Hal itu karena bersyukur sering dianggap sebagai omong kosong belaka, seakan bisa memecahkan semua masalah. Jika tidak bahagia maka bersyukur, sama hal nya dengan jika depresi maka kurang ibadah, padahal semua tidak sesederhana itu apalagi bagi orang yang memang mengalami nya dan sedang dalam keadaan penuh tekanan. Bersyukur seakan hanyalah beban yang harus dipaksakan untuk dijalankan di berbagai situasi, entah itu pemuka agama ataupun orang tua semua mengatakan bersyukur sebagai solusinya. Di tambah perintah untuk bersyukur datang dari orang yang sedang dalam keadaan lebih mapan, kaya atau situasi lebih baik lainnya daripada orang yang sedang dituntut untuk lebih bersyukur, diikuti alasan bahwa itu penting, tapi tidak ada penjabaran pasti mengapa itu penting dan harus dilakukan, membuat orang makin tidak percaya bersyukur itu berguna.  

Namun, bagaimana jika ternyata bersyukur itu bukan suatu keharusan tapi adalah suatu kebutuhan, di mana dapat dikatakan bahwa kebutuhan itu akhirnya harus dipenuhi untuk mengistirahatkan diri sendiri. Walaupun dikatakan sebagai kebutuhan, tapi kenyataannya belum ada penjelasan tentang penerapan yang benar serta rasional, hingga sampai pada pertanyaan utama dalam tulisan ini. Bagaimana merasionalisasikan tindakan bersyukur sebagai salah satu langkah pengistirahat hati, agar lebih mudah menerapkannya dan bisa diterima oleh akal sehat?

Hal tersebut dapat menggunakan rasionalisme dengan didukung pendekatan psikologi sebagai penghubung ilmiah dalam penelitian ini. Rasionalisme dalam ranah filsafat memiliki pengertian bahwa akal (reason) merupakan alat terpenting untuk memperoleh dan melahirkan pengetahuan, rasionalisme menyatakan bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara berpikir atau alat dalam berpikir itu adalah kaidah-kaidah logis.[2] Rasionalisme sering dikaitkan dengan kontrasnya dalam perbandingan antara filsafat empirisme, namun dapat juga dikatakan bahwa keduanya saling berhubungan, hal itu dikarenakan jika empirisme mengedepankan pengalaman sebagai sumber ilmu, rasionalisme menggunakan pengalaman hanya sebagai penunjang karena logika dapat melahirkan pengetahuan dengan sendirinya. Rasionalisme telah lahir melalui sejarah yang panjang, namun bangkitnya pemikiran ini menandai dimulainya masa filsafat modern atau filsafat yang tidak terpengaruh dengan eksistensi keberadaan gereja. Tokoh-tokoh filsafat rasionalisme yaitu Rene Descartes   (1595-1650), Baruch Spinoza (1632-1677)  dan  Gottfried  Wilhelm  Leibniz (1646-1716). Sedangkan agar lebih dapat melakukan pendekatan pada topik yang diangkat, maka didukung juga dengan kajian psikologi sehingga tidak menghilangkan sisi ilmiah dalam analisisnya.

Kata bersyukur mungkin sudah sering di dengar berlalu-lalang entah itu sebagai perintah ataupun langkah spiritual. Namun dalam kenyataannya esensi dari bersyukur kurang mendapat perhatian untuk dipelajari lebih dalam, akibatnya manusia hanya melihat hal tersebut sebagai istilah dan ungkapan tanpa makna yang berarti. Untuk itu agar lebih mendalami dan mudah menerimanya, mari melihat bersyukur dalam sudut pandang berbeda yang juga melibatkan akal dalam memahaminya.

Bersyukur Sebagai Kebutuhan

[sunting]

Pikiran muda manusia menerima gambar dengan intensitas lebih banyak daripada pikiran tua, agaknya menjadi alasan mengapa kita merasa waktu terasa lebih cepat berlalu seiring bertambahnya usia.[3] Terkadang hal itu menjadi beban tersendiri terutama di tengah dunia modern yang kompetitif, memunculkan rasa bersalah karena kurang produktif atau merasa tertinggal dari orang sebaya. Di tambah target yang terpasang tanpa sadar bisa melukai diri sendiri, lalu ditengah semua kesibukan yang dibangun mulai lah muncul rasa rindu akan ketenangan hati, membuat otak berputar mencari solusi. Dan bagaimana jika salah satu cara mengatasinya adalah dengan kata yang selama ini ditolak akal karena tidak beralasan, yaitu bersyukur.

Sepanjang sejarah, pentingnya konsep bersyukur selalu dilihat sebagai pusat pemahaman kesejahteraan dan menjadi pusat filosofis serta religius hidup.[4] Namun konsep tentang urgensi bersyukur sering kurang tepat, di mana hal itu lah yang menjadikan bersyukur susah diterima. Daripada melihat bersyukur sebagai suatu keharusan, bagaimana jika kita menggeser sudut pandang kita menjadikan bersyukur sebagai suatu kebutuhan. Tapi mengapa kita butuh bersyukur? Jawabannya adalah karena bersyukur merupakan cara agar jiwa manusia dapat beristirahat. Bersyukur mengistirahatkan jiwa dengan menyuruhnya melambat dan menikmati waktu atau momen saat ini ketika manusia lupa karena pandangannya akan masa depan. Fokus dan pikiran yang mementingkan masa depan kadang membuat kita lupa akan pentingnya saat ini, melupakan momen-momen kecil yang menjadikan kehidupan itu layak dijalani, akhirnya karena hal tersebut kita pun sering berakhir dengan tekanan dan frustasi tiada akhir. Desakan untuk istirahat inilah yang tidak bisa dihindari dan menjadikan bersyukur sebagai suatu kebutuhan, bersyukur dapat diibaratkan sebagai mengambil istirahat napas panjang, di tengah usaha kita berenang menggapai mimpi mengarungi lautan kehidupan.

Dalam sisi ontologis filsafat sendiri, pemikiran tokoh rasionalisme Leibniz dengan monadologinya, yaitu ketika rentetan tiada akhir tak terbatas adalah Tuhan yang transcendent, atau Tuhan di luar makhluk dan merupakan dasar dari segala rentetan yang ada.[5] Dapat menjadi penghubung esensi bersyukur dengan sisi religiusitas. Di mana bersyukur adalah langkah pertama untuk mewujudkan harapan yang dipanjatkan kepada Tuhan, atau sebagai salah satu cara pengabul doa. Karena terkadang dalam berdoa, manusia sebagai hamba selalu menekankan tuntutan hingga lupa dengan hal-hal yang sudah ada dan patut disyukuri. Pertanyaan “Bagaimana tuhan senang hati memberi hal egois yang diinginkan, jika pemberiannya yang terlampau banyak tidak disyukuri?” membuat tekanan makin kuat dalam membenarkan kalimat: Bukan manusia harus bersyukur, tapi manusialah yang membutuhkan bersyukur.  

Penerapan Bersyukur

[sunting]

Setelah mengetahui seberapa penting bersyukur hingga patut dijadikan sebagai kebutuhan, maka sampai pada tahap yang sering diremehkan yaitu adalah menerapkannya. Syukur adalah salah satu emosi yang sering diabaikan dan kebaikannya sering diremehkan, sedangkan dalam penyampaian emosi itu sendiri adalah yang paling sulit dalam tahapan yang ada.[6] Mungkin untuk bisa memahami dan menerima merupakan hal mudah karena hanya diperlukan ketersediaan untuk lebih melapangkan hati dan pikiran, namun dalam hal penerapan yang memerlukan aksi atau usaha hal ini sering luput dalam perkembangannya, padahal menerapkan adalah kunci dari segala rasionalisasi ini, di mana semua akan sia-sia jika berhenti di pikiran saja. Untuk itu berikut beberapa langkah yang bisa mengantarkan diri untuk memudahkan dalam hal penerapan bersyukur :

Tidak Butuh Perbandingan Untuk Bisa Bersyukur

[sunting]

Jika konsep bersyukur yang sering di dengar dimulai dengan membandingkan kehidupan, maka hentikan dan ubah pola pikir tersebut. Bersyukur bukan dimulai dengan kita harus melihat orang yang lebih tidak beruntung, kita tidak memerlukan kemalangan atau penderitaan seseorang untuk memunculkan emosi bersyukur. Bersyukur dengan baik harus dimulai dengan melihat dan mengenal lebih dalam hubungan emosional dengan sekitar kita. Ingat bahwa kehidupan itu bukan untuk dibandingkan, setiap orang mempunyai garis waktu masing-masing yang tidak dapat tertukar atau tidak dapat dikompetisikan, selalu sadar bahwa membandingkan tidak pernah berakhir positif, walaupun jika hal itu bisa membuat perasaan lebih baik. Daripada melihat keatas dan merasa selalu kurang, atau melihat kebawah untuk merasa lebih beruntung, lebih baik berhenti membandingkan dan melihat sejajar di mana posisi kita sekarang, fokus dengan apa yang kita punya dan pemberian tuhan disekeliling kita.

Keseimbangan Mimpi dan Rasa Cukup

[sunting]

Rasa cukup bisa diusahakan datang secepatnya, kita tetap bisa merasa cukup walaupun belum mencapai target atau mimpi yang diinginkan. Rasa syukur yang nyata adalah perasaan yang muncul dari rasa cukup, bukan hanya ketika sedang mencapai sesuatu. Bersyukur tidak harus dengan mencapai apa yang diimpikan, karena pada dasarnya manusia tidak pernah puas hanya dengan mencapai satu keinginan. Ketika keinginan awal tercapai maka akan muncul keinginan lain, ketika keinginan kecil terealisasikan maka akan berlanjut dengan keinginan lebih besar, siklus tersebut akan selalu ada dalam kehidupan manusia, maka dari itu jika menunggu tercapainya keinginan baru dapat menjalankan syukur, maka niscaya syukur itu hanya bersifat sementara. Di sinilah peran rasa cukup sebagai pembatas, yang juga bisa menjaga rasa syukur tetap ada di setiap saat. Usaha untuk mewujudkan rasa cukup adalah dengan berterima kasih atas hadiah yang ada di dunia. Hadiah tersebut adalah pemberian, yaitu segala sesuatu di dunia ini yang datang dengan cuma-cuma tanpa ada usaha untuk mendapatkannya. Seperti rasa segar ketika meneguk segelas air di tengah panas, tubuh sehat untuk merasakan semua pengalaman kehidupan, waktu yang dihabiskan dengan keluarga, ataupun mendengar alunan melodi dari lagu favorit. Menghargai hal-hal kecil yang ternyata bernilai lah yang bisa menjadikan rasa bersyukur tetap ada di hati kita dalam jangka waktu yang selama-lamanya.

Bahagia Tidak Mengenal Rasa Malu

[sunting]

Ketika hal yang membuat bahagia tidak melanggar peraturan yang ada atau menyakiti orang lain, maka tidak perlu malu untuk mengakui kebahagiaan tersebut. Yang sering menjadi masalah dalam kehidupan modern saat ini adalah lupa bahwa standard kebahagiaan orang berbeda-beda, ada yang makan nikmat hanya perlu sambal terasi tetapi ada juga yang harus spaghetti, ada yang tersenyum dengan hal sederhana ada juga yang memerlukan biaya. Terkadang beberapa orang malu dengan apa yang di punya atau sukai, dan malah mengubahnya demi pendapat orang lain, padahal untuk apa malu jika itu dapat membuat bahagia. Awal dari susah bersyukur adalah memaksakan diri memenuhi standar orang lain, yang awalnya semua baik-baik saja mulai terasa bahwa ada yang kurang dan selalu membutuhkan lebih.

Merasionalisasikan bersyukur berakhir dengan diketahuinya bahwa bersyukur itu penting dan harus digolongkan sebagai kebutuhan. Berbeda dengan jika bersyukur dilihat hanya sebagai tuntutan yang menjadikan beban, melalui sudut pandang berbeda ternyata bersyukur bisa memunculkan berbagai manfaat yang dapat mengantarkan pada ketenangan hati dan salah satu sumber kebahagiaan. Selain itu pada penerapan yang sering memunculkan kesalah pahaman, ada juga cara agar bersyukur dapat dilakukan dengan lebih ringan dan mudah diterima hati serta akal, yaitu dengan tidak membandingkan, dapat mengenali rasa cukup, dan tidak perlu malu dengan standar kebahagiaan masing-masing. Namun pada akhirnya penelitian ini jauh dari kata sempurna, hasil pada penelitian juga bukan mutlak kebenaran namun hanyalah usaha untuk selalu mendekati kebenaran itu sendiri, jika kedepannya ada inovasi yang bisa lebih mengembangkan isi yang terkandung dalam artikel ini maka peneliti akan dengan senang hati menerima dan mengakui perkembangan tersebut, karena seperti rasionalisme Descartes yang menyatakan bahwa kita ada karena selalu munculnya kesangsian akan kebenaran itu sendiri.

Referensi

[sunting]
  1. Rokom. (2021). Kemenkes Beberkan Masalah Permasalahan Kesehatan Jiwa di Indonesia. Sehat Negeriku. Retrieved December 9, 2022. <https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20211007/1338675/kemenkes-beberkan-masalah-permasalahan-kesehatan-jiwa-di-indonesia/>
  2. Tafsir, A. (2005). Filsafat umum : akal dan hati sejak Thales sampai Capra. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  3. Bejan, A. (2019). Why the Days Seem Shorter as We Get Older. European Review, 27(2). Retrieved December 10, 2022. <187-194.doi:10.1017/S1062798718000741>
  4. Emmons, R. A., & Crumpler, C. A. (2000). Gratitude as a human strength: Appraising the evidence. Journal of Social and Clinical Psychology, 19(1), 56–69. Retrieved December 11, 2022. <https://doi.org/10.1521/jscp.2000.19.1.56>
  5. Poedjawijatna, I. (1994). Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. Jakarta: Rineka Cipta.
  6. McCullough, R. A. (2004). The Psychology of Gratitude. New York: Oxford University Press.