Lompat ke isi

Bombe'

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Permainan Beklan

Sepulang sekolah, Lala biasanya langsung menghabiskan makan siangnya lalu bergegas ke rumah Nisa, sahabatnya. Tapi siang ini berbeda. Ia duduk termenung di teras, terlihat sedang menyesal. Angin sore menyentuh rambutnya pelan.

Mama keluar dari dapur sambil membawa sepiring kecil kue bolu. Ia heran melihat Lala diam saja.

“Kenapa ki ndak pergi main-main lagi, Nak?” tanya Mama sembari meletakkan piring di meja rotan.

Lala menarik napas pelan. “Na bombe’ ka’ teman-temanku, Mama.”

Mama mengerutkan kening. “Ih, kenapa bisa nak?”

“Kemarin... tidak sengaja bola gebo’ nya Nisa ku kasih jatuh di got. Basah ki, kotor juga.”

“Sudah ji ki’ minta maaf?”

Lala hanya mengangguk. Wajahnya terlihat murung.

Mama duduk di sebelahnya. “Ya sudah, ini ada kue bolu. Makanmi dulu, nak. Mungkin Nisa masih jengkel. Lain kali kalau main-main ki lagi, hati-hati ki’ nah. Kalo bolanya kotor, bantu ki bersihkan sama-sama.”

Lala menerima kue mamanya sembari mengangguk. Ia terlihat masih murung

Beberapa menit berlalu. Dari kejauhan, terdengar suara yang akrab memanggil.

“Lalaaa!” suara Nisa, disusul suara Sitti. “Ayo main, Lalaa!”

Lala terkejut. Ia berdiri cepat dan berlari membukakan pintu pagar.

“Lala kenapa ki ndak ke rumahku? Ayo mi lagi main sama-sama.” Tanya Nisa.

“Saya kira marah ki sama saya? Nda kita bombe’ ja’?”

Nisa menggeleng sambil tersenyum. “Nda lah. Ayo mi main lagi di rumahku.”

“Iya, Lala, ada Tika di sana menunggu.” Sitti ikut menimpali.

“Kenapa nda ke sini juga Tika, Sitti?” tanya Lala sambil meraih sendalnya.

“Sakit ki lututnya kodong. Jatuh ki tadi di sekolah,”

“Jadi... main apa ki sebentar?”

“Main yang nda ada lari-lari nya supaya bisa juga Tika ikut main” kata Nisa.

Sitti mengangkat jari mengusulkan. “Bagaimana kalau main beklan? Ada kan beklanmu Lala?”

“Beklanku dibawa ki sama kakakku ke sekolah…” Jawab Lala. Ia nampak berpikir sejenak, lalu memberikan solusi. “Tapi masih ada piceng-ku! Itu mi saja di’?”

“Boleh!” seru Nisa dan Sitti hampir bersamaan.

Lala segera masuk mengambil piceng-nya, lalu mereka bertiga berjalan beriringan menuju rumah Nisa. Lala merasa lega, ia tidak dibombe' oleh Nisa. Ia juga senang karena akan bermain kembali bersama ketiga temannya sekaligus mengibur Tika yang sedang sakit.

Makassar, 1 Agustus 2025


Tentang Penulis

[sunting]

Hikmah Must. Hikmah sedang mencicil tulisan bertema anak-anak untuk Wikibuku.