Lompat ke isi

Bukan siapa-siapa

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Tentang

[sunting]

Puisi naratif ini terinspirasi dari kisah Putri Mandalika, dari sudut pandang rakyat jelata yang menyukai sang bangsawan.


Bukan Siapa-Siapa

[sunting]

Di sebuah rumah tua, di kursi makan yang renta,

seorang nenek menatap cucunya dengan mata penuh guratan waktu.

Ia mendengar kabar, bahwa cucunya menambatkan hati

pada puteri Mandalika, bidadari bumi yang tak terjangkau.

Dengan suara serak, ia bertanya:

“Sedang mabukkah engkau?

Tahukah kau beda bulan di langit dengan undur-undur di tanah?”


Namun sang cucu, dadanya penuh sesak,

tak lagi sanggup berpura-pura menerima takdir kecilnya.

Ia meledak, menggugat garis yang memisahkan raja dan hamba,

sebab tulang semua manusia rapuh dengan cara yang sama.


Nenek menggeleng,

ia tahu dunia tak adil,

tapi ia belajar pasrah pada batas:

orang kecil tak pantas bermimpi istana.

Puteri Mandalika, katanya,

adalah bintang yang terlalu jauh.


Tapi cucu itu memberontak,

katanya budaya telah menjadi latah,

napasnya api yang membakar diri,

kata-katanya duri yang menembus telinga yang tak peduli.

Ia berteriak bahwa semua akan mati,

mati tanpa daulat,

bahkan untuk sekadar bermimpi.


Nenek kembali menegakkan suaranya,

menyebut bangsawan sebagai teladan,

menyuruh hormat pada derajat yang diwariskan.

Ia bandingkan kerikil dengan batu sungai,

anjing dengan sapi,

derajat yang tak sama sejak mula.


Namun cucu itu tak menyerah:

jika bangsawan hanya menoleh pada sesamanya,

maka lebih baik mereka pulang ke kayangan.

Sebab di bumi ini,

semua masih bertulang, masih berdarah,

masih manusia.


Tapi nenek menutup pintu restu.

Katanya, sebaris pun takkan keluar dari bibirnya.

Ia takut cucunya bikin gerah sang puteri,

takut dirinya ikut dipermalukan.


Dan cucu itu, sekali lagi,

melontarkan seruan yang sama:

latah, latah, latah!

dengan napas api,

dengan kata yang menjadi duri,

hingga seolah seluruh dunia

mati—

mati tanpa kuasa

untuk bermimpi.