Lompat ke isi

Bunga Rampai Kearifan Lokal Nusantara/Grebeg Sudiro: Harmonisasi Masyarakat Tionghoa - Jawa Di Surakarta

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Surakarta, Kota Multikultur

[sunting]
Peta Surakarta tempo dulu telah memuat nama-nama wilayah yang hingga kini masih eksis, Wikimedia Commons, CC BY-C0 1.0

Dalam catatan sejarah, pada masa kolonial terdapat kebijakan untuk menempatkan etnis secara terpisah untuk mempermudah pengawasan. Di Surakarta, masyarakat Eropa berada di wilayah Lodji Wetan, masyarakat Tionghoa di sebelah utara Kali Pepe, masyarakat Madura berada di Sampangan, masyarakat Bali di wilayah Kebalen, dan masyarakat Arab di Pasar Kliwon. Politik segregasi yang dilakukan selain untuk mempermudah pengawasan Belanda juga bertujuan agar tidak terjadi asimilasi antar etnis.

Pasar Gede sebagai ikon di wilayah Sudiroprajan

Menurut Joebagio[1] wilayah Surakarta yang dihuni oleh berbagai macaam etnis disebabkan lokasinya yang berada di pinggir Sungai Bengawan Solo dan telah menjadi jalur perdagangan pada masa kolonial. Di antara beragam etnis yang bermukim di Surakarta, interaksi antara Tionghoa dan Jawa merupakan dinamika sosial yang paling mencolok. Terdapat sebuah kawasan bernama Sudiroprajan yang berhasil mengelola keberagaman menjadi sebuah aset yang berharga.

Wilayah Sudiroprajan merupakan contoh nyata dari sebuah masyarakat multikultural yang terbentuk melalui proses historis yang panjang. Interaksi antara etnis Jawa dan Tionghoa yang telah berlangsung selama bergenerasi telah melahirkan rasa saling pengertian dan penghormatan. Kesadaran kolektif akan keberagaman inilah yang menjadi dasar bagi terbangunnya tatanan sosial yang inklusif di Sudiroprajan.[2]

Perayaan Grebeg Sudiro

[sunting]
Pembagian kue keranjang saat Grebeg Sudiro yang diikuti oleh masyarakat lintas etnis di Surakarta
Kue keranjang, makanan khas imlek

Grebeg Sudiro berasal dari dua kata, yakni kata grebeg yang berasal dari bahasa Jawa gumrebeg yang berarti perayaan. Sedangkan kata Sudiro merujuk pada Kampung Sudiroprajan. Sejak tahun 2007, masyarakat Sudiroprajan telah konsisten menyelenggarakan Grebeg Sudiro sebagai bentuk perayaan tahunan menjelang Imlek. Menjelang Grebeg Sudiro, kedua etnis bahu-membahu menyiapkan gunungan sebagai bentuk syukur kepada alam, salah satu isi gunungan adalah kue keranjang , makanan khas masyarakat Tionghoa. Gunungan yang berisi beragam makanan ini kemudian diarak dan diperebutkan di depan Pasar Gede. Selain sayur dan buah, sebanyak kurang lebih 4000 kue keranjang akan dibagikan dalam Grebeg Sudiro, gunungan kue keranjang terlebih dahulu didoakan di Klenteng Tien Kok Sie.[3]

Nilai-Nilai Positif Grebeg Sudiro

[sunting]
Karnaval budaya dalam Grebeg Sudiro cerminan Bhinekka Tunggal Ika
Animo masyarakat menyaksikan Grebeg Sudiro

Terdapat nilai-nilai positif dari pelaksanaan Grebeg Sudiro di Surakarta, antara lain :

1. Penguatan Toleransi dan Kerukunan
[sunting]

Grebeg Sudiro dalam pelaksanaannya sangat inklusif, masyarakat Tionghoa dan Jawa berbaur dalam kepanitiaan dan acara tersebut menjadi ruang berkumpul etnis lainnya untuk memeriahkan karnaval budaya.

2. Pelestarian Budaya
[sunting]

Budaya Tionghoa dan Jawa di Surakarta berpadu secara harmonis tanpa dominasi pada salah satu budaya. Karnaval yang diselenggarakan dapat memfasilitasi berbagai macam budaya dan lokalitas masyarakat di Surakarta.

3. Penguatan Identitas
[sunting]

Identitas masyarakat Sudiroprajan semakin dikenal karena adanya cerminan toleransi dalam Grebeg Sudiro, stigma negatif antara etnis Tionghoa dan Jawa yang tidak dapat hidup berdampingan terpatahkan dengan adanya kearifan lokal tradisi Grebeg Sudiro.

4. Promosi Pariwisata
[sunting]

Grebeg Sudiro yang menjadi agenda tahunan Kota Surakarta secara tidak langsung menjadi agenda pariwisata yang mampu menarik animo turis baik lokal maupun internasional karena keunikannya sehingga akan berdampak pada perekonomian di Surakarta.

5. Penguatan Ekonomi Lokal
[sunting]

Adanya karnaval budaya dalam Grebeg Sudiro mampu menumbuhkan penguatan ekonomi lokal yang menguntungkan para pedagang. UMKM akan menyediakan cinderamata khas imlek, cinderamata khas Surakarta, kue keranjang, makanan dan minuman khas Surakarta, bahkan lokasi parkir dan tempat penginapan akan mendapat keuntungan dari Grebeg Sudiro.

Daftar Pustaka

[sunting]
  1. Joebagio, H. (2017). The Diversity of Surakarta Community: A Blessing toward Democracy.American International Journal of Social Science, 6(1), 16–22. https://aijssnet.com/journal/index/489
  2. Hakim, L. D. R. (2020). Grebeg sudiro dan representasi keberagaman di sudiroprajan, kota surakarta. Indonesian Journal of Religion and Society, 2(1), [1]
  3. Gama, Betty, and Henny S. Kusumawati. "Makna Simbolik Komunikasi Antarbudaya pada Perayaan Grebeg Sudiro di Kota Solo." Jurnal Pewarta Indonesia, vol. 1, no. 1, 2019, pp. 23-33. https://doi.org/10.25008/jpi.v1i1.3