Bunga Rampai Kearifan Lokal Nusantara/Mengungkap Keunikan Tradisi Masyarakat Dieng
1. Apa itu Tradisi Ruwatan Rambut Gimbal?
[sunting]Tradisi ruwatan rambut gimbal (potong rambut gimbal) adalah tradisi memotong rambut gimbal yang tumbuhnya secara alami bagi masyarakat Wonosobo dan sekitarnya. Menurut cerita rakyat yang berkembang, rambut gimbal ini adalah titisan dari Kyai Kolodete, dimana tumbuh gimbalnya secara alami atau bukan buatan sendiri. [1]
2. Di Mana Lokasi adanya Tradisi Ruwatan Rambut Gimbal?
[sunting]Tradisi Ruwatan Rambut Gembel (Gimbal) yang berkembang dalam masyarakat dataran tinggi Dieng yang secara administratif terletak di kabupaten Wonosobo (Dieng Wetan) dan kabupaten Banjarnegara (Dieng Kulon), Jawa Tengah. Dimana anak-anak disana yang terlahir memiliki rambut gembel (gimbaI) dianggap mendapatkan warisan dari roh Kyai Kolodete, sosok yang dianggap sebagai sesepuh mula mula yang pembuka pemukiman di Dieng.



3. Kapan Ruwatan Rambut Gembel dilaksanakan?
[sunting]Ruwatan Rambut Gembel biasanya baru dilaksanakan setelah sang anak mengajukan permintaan tertentu dan bila dia telah mencapai usia 6 – 7 tahun, atau juga bila sang anak telah menjalani masa Pupak, yaitu masa ketika gigi susu anak tersebut sudah tumbuh. Mengapa harus atas permintaan sang anak gimbal? Karena bila tidak atas permintaan, maka rambut gembel yang sudah di cukur itu akan tumbuh kembali bahkan disertai gejala-gejala yang lebih buruk lagi. Pada umumnya yang menjadi permintaan adalah seekor anak ayam, kambing, sepeda, atau mainan. Selain itu juga sang anak gembel minta dipentaskan suatu tarian tradisional (Lengger) atau Wayang Kulit.
4. Mengapa Tradisi Ruwatan Rambut Gimbal dikatakan Istimewa?
[sunting]Jika seseorang memiliki anak yang berambut gembel maka saat akan mencukur/memotongnya, terlebih dahulu harus memenuhi beberapa syarat yaitu yang pertama orang tua menanyakan kepada si anak yang berambut gembel dengan pertanyaan “Gembelnya minta apa?” yang biasanya akan dijawab dengan spontan, misalnya seperti: Ayam goreng, Sepeda, Pertunjukan wayang, sebakul Telur Ayam, Lenggeran dan lain sebagainnya. Syarat selanjutnya membuat upacara selamatan pencukuran rambut gembel dengan 3 macam jenis tumpeng sebagai unsur sesaji, masing-masing tumpeng itu adalah; Tumpeng Bucu Putih, Tumpeng Bucu Kuning, dan Tumpeng Bucu Robyong. Disamping tiga macam tumpeng tersebut sebagai unsur sesaji utama, terdapat juga persembahan lain seperti Jajan Pasar yang terdiri dari berbagai macam kue, aneka buah-buahan, telur, ingkung ayam, kelapa muda dan lain-lain. Setelah semua sesajian itu siap sang maka sang anak siap pula melaksanakan ritual pemotongan Rambut Gembel dengan. Rambut gembel dari anak-anak yang telah mengikuti ritual pemotongan itu ditampung di atas panci yang didalamnya sudah di isi dengan kembang setaman, yang melambangkan penyucian tengah dan telah di lakukan. Hingga nanti rambut gembel di dalam panci itu akan dilarung (dihanyutkan) ke air Telaga Warna atau ke sungai Serayu dengan disertai oleh sesaji. Hal ini merupakan makna simbolik telah dikembalikannya Gembel kepada roh penitisnya, yaitu Kyai Kolodite. Setelah seluruh prosesi upacara ruwatan itu dijalankan, maka tidak lama setelah itu, rambut sang anak akan tumbuh normal. Sebaliknya jika tidak dipenuhi akan berakibat sakit, dan setelah sembuh akan kembali tumbuh gembelnya.
Referensi
[sunting]- ↑ Ahmad Taqwin, et al. "Tradisi Potong Rambut Gimbal dalam Perspektif Dakwah Masyarakat Desa Tlogojati ", (ARKANA Jurnal Komunikasi dan Media. hal 44), Februari 2024.