Bunga Wisteria
Tentang Penulis
[sunting]Rainer Maria Rilke (1975-1926)
Bunga Wisteria
[sunting]
Aku bisa mendengar setiap langkah kaki mereka dari bawah. Sejak putriku dan menikah, inilah hal kebiasaan yang hingga kini aku lakukan – menguping, mengikuti suara arah langkah kaki mereka. Menghitung langkah demi langkah dan membayangkan apa yang sedang mereka lakukan. Dari ruang dapur menuju ruang utama, kemudian ke toilet, kembali ke dapur, dilanjutkan ke ruang utama hingga menuju ke kamar tidur, sesekali terdengar derit ranjang berkarat berukuran dua meter yang dibuat ibuku ketika masih muda bersama neneknya, dengan kasur empuk di atasnya. Tentu aku bisa membedakan suara langkah putriku dan suaminya, langkah kaki putriku cepat dan ringan, sedangkan suaminya terkadang terdengar seperti sedang menyeret langkah, seperti seolah putriku membelikannya sepasang sliper yang kebesaran untuk kakinya. Terdengar berjalan kemudian berhenti, bertemu dan saling menjauh. Aku bahkan menutup semua jendela di ruanganku untuk bisa mendengar lebih baik. Karena suara sekecil apapun akan menggguku, bahkan suara trem dari kejauhan bisa menggangguku ada sebuah stasiun pemberhentian trem tak jauh dari sini. Kami tinggal di daerah pinggiran Kota, tepatnya di sebuah villa daerah pemukiman tua yang dibangun pada masa sebelum perang. Sebagian besar bangunannya sudah tak berpenghuni, banyak yang tertutupi oleh tanaman-tanaman liar. Ada anak tangga yang tua dan dingin yang menghubungkan lantai dasar dan lantai atas. Aku mendiami tempat lantai dasar, sedangkan lantai atas aku berikan kepada mereka untuk ditempati.
Di dekat anak tangga depan pintu masuk, tumbuh sebuah pohon1 yang besar. Tanaman yang tak hanya indah tapi juga tumbuh liar. Tanaman ini berbunga setiap musim panas, masing-masing tangkai penuh dengan bunga, menggantung memanjang seperti sepasang punting perempuan. Dahan pohon ini bisa tumbuh hingga sepanjang satu meter, seseorang harus ingat untuk tidak membiarkan jendela atau pintunya di beranda rumahnya terbuka. Jika tidak dahan pohon akan tumbuh mencari celah, meringsak masuk dalam rumah setiap jendela maupun pintu yang tidak tertutup rapat, dan aku mendapat kesan seolah mereka ingin merampas memiliki perabotan rumah, duduk pada kursi-kursi, hingga meja.. Ahh, aku jadi ingin mengundang tanaman ini untuk singgah pada cangkir teh terbaik yang kumiliki, aku akan memberikan camilan biskuit Turki yang renyah.
Aku membayangkan ia akan duduk di dalam cangkir teh ku, kemudian aku akan mengalihkan pandanganku pada langit-langit yang ada di sana. Ya, dari setiap langkah kaki mereka yang membosankan dan monoton, putriku tidak dapat membuatnya terhibur, aku akan membuatkannya kembali sebuah kehidupan mereka yang baru, yang menyenangkan. Jika langkah mereka tidak terdengar cukup lama, itu artinya mereka sedang menonton televisi, dan duduk di sofa. Tangan putriku berada pada bahunya, kakinya menempel pada pahanya. Di atas meja ada segelas bir, dan segelas jus jeruk di sebelahnya, lembar kertas koran tengah terbuka di tengah suara acara televisi tersebut. Putriku saat ini mungkin sedang merawat kukunya (aku ingat ia selalu terobsesi dengan kuku-kuku miliknya) dan dia suaminya kini sedang membaca. Ketika terjadi keheningan di dapur, itu artinya mereka sedang makan. Ketika terdengar deritan kaki kursi di lantai yang keras, artinya salah satu dari mereka bangkit untuk mengambil garam. Dan jika terdengar suara air dari keran yang berasal dari kamar mandi – salah satu dari mereka tengah mandi. Aku masih belajar untuk mengenali yang mana dari keduanya yang sedang mandi – jika putriku yang mandi, adalah suara keran yang singkat, sedangkan jika suaminya, ia berdiri di bawah guyuran shower untuk waktu yang cukup lama daripada yang diperlukan. Aku bertanya-tanya, apa yang mungkin sedang dirinya lakukan? Terdengar seperti suatu hal yang rapuh dan dapat ikut hanyut dalam sebuah aliran air, seperti sabun yang lembut yang ikut tergerus. Apa ia sedang menggosok punggungnya? Mencuci rambutnya? Atau diam, merenung dan berpikir bersama tiap tetesan air yang meluncur melalui tubuhnya? Kemudian sebuah suara kran terhenti, demikian desiran air, keheningan kembali mengisi ruangan. Ia kini pasti berdiri di depan cermin dan bercukur. Aku bisa membayangkannya dengan sangat detail - pertama ia akan memberi krim cukur pada wajah tampannya dan kemudian pisau cukur itu akan bergerak dengan sangat hati-hati hingga pada akhirnya muncul sebuah kulit yang lembut dan segar.
Sekarang ia keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk terlilit pada pinggangnya, melangkah keluar tanpa mengenakan alas kaki, dengan beberapa tetesan air yang masih terdapat pada punggungnya (kemudian aku bisa membayangkan saat aku tiba-tiba memeluknya dari arah belakang untuk waktu sesaat, meskipun aku tak kasat mata, dan ia tak dapat melihatku, akan tetapi aku dapat merasakan tubuhnya). Dia seseorang yang masih tampak masih lugu, pelukan tanganku kemudian turun ke bawah meraih pinggulnya. Meskipun tampaknya terdengar langkah kaki setelah ia bercukur kemudian putriku datang, dan dengan diam dan sembunyi mempupuri wajahnya kembali dengan krim cukur, kemudian ia menyentuh menggoda dia, menyelipkan tangannya di bawah handuk dan kemudian menjadi sebuah awal untuk dirinya melanjutkan menuju ke atas ranjang dan terdengar cuara tawa lembut, suara erangan dari percintaan mereka. Mereka adalah sepasang suami istri. Aku rasa ini adalah hal yang wajar, aku bergumam pada diriku sendiri. Aku kemudian bergegas pergi keluar menuju taman. Aku meraih sarung tangan karet dan mengenakannya dan mulai mencabuti rumbut. Aku menggunakan salah satu jari telunjukku untuk membuat lubang di atas tanah dan meludah di dalamnya. Kemudian tanganku meraba-raba mencoba mencari apa yang bisa aku raih di permukaan tanah. Aku menemukan akar dahlia yang cukup gemuk. Aku merasa pusing saat aku hendak bergegas berdiri mencabutnya dengan cepat.
Putriku adalah seorang gadis cantik yang memiliki rambut hitam, jika dilihat sekilas penampilannya seseorang akan tahu jia ia memiliki wajah ketimur-timuran, dan saat berada di dekatnya kau akan mencium bau harum mirip bunga kesturi. Panjang, lurus, rambut indah, memiliki sepasang mata mitam cerah (persis ayahnya). Usia putriku kini duapuluh-enam tahun, tapi aku tahu itu hanya sebuah ilusi. Sebenarnya, ia jauh lebih muda daripada itu – aku melihat sendiri pernah suatu malam saat dirinya terhenti pada masa tumbuh kembangnya tepat ketika ia berusia tujuh belas tahun. Ia seolah seperti sedang meluncur menggunakan sepasang sepatu es di kedua kakinya menuju masa depannya tanpa pernah mengalami hambatan yang berarti. Dan aku yakin ia masih tetap sama dengan gadis tujuh belas tahun saat itu, dan yang aku yakin ia juga akan mati sebagai gadis yang masih berusia tujuh belas tahun.
Saat ia mengetahui dirinya tengah hamil, putriku bergegas menuruni anak tangga ke untuk menemuiku, dengan mengenakan pakaian bagian perutnya sedikit terbuka. Kemudian ia menirukan mengikuti pose perempuan hamil yang menjadi tren saat ini, dengan menggembungkan sedikit pipinya, berdiri dengan kaki tumpuan pada kaki sebelah dan dengan tangan di pinggulnya, mengatakan: “aku sedang tidak sehat.” Aku merajang air dan memuatkannya teh herbal chamomile untuknya. “Oleg sangat peduli padaku, aku tahu ia sangat mencintaiku”. Meskipun tak lama kemudian ia mengalami keguguran. Setelah suaminya mengantarnya ke rumah sakit, dia kembali. Menunggu dengan cemas kabar dari sekitar pesawat telepon, tak lama setelahnya mendapat kabar dari telepon, terdengar suara botol kaca dari arah anak tangga. Ia minum bir sendirian malam hari di sofa sendirian saat menonton televisi. Aku membawakan makan malam untuknya, dan secangkir teh yang kubuat dengat jariku untuk mengaduknya, kemudian kujilat tipis pada ujung jari tersebut. Aku membaringkan dirinya untuk tidur di sofa., ia melihatku dari bawah saat aku mengurangi kerapatan ikat pinggang kulitnya, ia bergumam lemah “terima kasih” dan tidur terlelap. Saat aku hendak kembali ke bawah, aku berjalan mengedarkan pandangan sekeliling ruangan atas yang mereka tempati saat malam itu. Aku melihat pada setumpuk rapi pakaian dalam di lemari, beberapa kosmetik di kamar mandi, noda sebuah jari pada cermin, beberapa helai rambut di kamar mandi, setumpuk pakaian kotor pada sebuah keranjang anyaman, dompet dari bahan kulit berwarna hitam yang melengkung seperti akibat sering didudukinya di saku belakang celananya.
Aku merasa terganggu dengan tubuhku sendiri, merasa lelah. Aku akan merasa sangat senang jika bisa berbaring di sana tanpa tubuh. Aku merasakan tubuh ini bisa berdebar-debar seolah ingin meledak saat kami berpapasan di anak tangga. Ia berbicara kepadaku dengan jarak yang amat dekat, karena pada jarak itu aku bisa tercium dengan jelas bau tubuhnya. Sebuah hembusan lembut harum yang melayang udara dari balik pakaian menggangguku seperti sebuah pengait kancing yang terlepas. Juga berbagai macam gerakan postur tubuh yang dibuatnya – dengan sikap lugu, tepukan lembut perhatian di punggung, dan tangannya di antara kedua pahaku. Aku memintanya untuk menutup jendela lantai atas yang tepat di bawahnya ada dahan pohon wisteria pada malam hari, menngosongkan kotak surat secara rutin, juga melakukan ini dan itu.
Aku menginginkan dirinya sejak pertama kali bertemu dengannya. Apakah ada hal yang salah dengan itu? Pada akhirnya seorang anak perempuan adalah bagian dari ibunya juga, sebagaimana seorang ibu adalah bagian dari anak perempuannya – tak ada hal yang aneh jika hasrat yang meluap tiba-tiba itu muncul sama pada keduanya secara bersamaan, seperti sebuah sungai yang meluap dan menegelamkan segala sesuatu yang ada pada tempat yang lebih rendah. Aku telah mengalami semua itu pada hal-hal yang sudah aku alami di masa lalu, dan aku juga mengerti seseorang tidak bisa berbalik untuk melawan hasratnya sendiri – alih-alih melawan, seseorang harus bisa untuk mengendalikan arus itu – membiarkan diri terbawa oleh arus dan mengendalikannya, karena aku tahu arus itu tidak dapat dipuaskan atau juga dihentikan. Siapapun yang berpikir lain dari itu, aku yakin tidak lebih dari menipu dirinya sendiri. Akan tetapi suami putriku justru berpikir sebaliknya.
Saat pertama kali putriku kembali dari Rumah Sakit, masuk bergegas menemuiku ke dalam ruang dapurku. Kami mengajakku menarikan tarian untuk menghibur rasa sedihnya, dalam sebuah pelukan kami mengayunkan kaki ke kanan dan ke kiri secara tidak beraturan dan monoton seperti sedang melakukan tarian ballet di dalam dapur, bergerak dari jendela hingga ambang pintu, dan mengulanginya sekali lagi sebelum di ia hendak naik untuk ke atas. Kami saling membelai rambut kepala satu sama lain, saling menenggelamkan diri pada harum tubuh satu sama lain, pada kerah bajuku dan syall yang dikenakan putriku. Aku bisa merasakan dadanya menurunkan bentuk bagian bawah dari perutnya. Tapi ketika dikejutkan oleh kemunculan suaminya di ambang pintu, kami saling menjauh satu sama lain diserang oleh rasa malu dan dengan segera dia menggandeng putriku untuk segera beranjak dari tempat tersebut, dan aku bisa mendengarnya dengan jelas dari setiap ketukan langkah pada anak tangga lagi.
Pada saat malam hari ia akan turun dari anak tangga menuju kamarku, aku yakin dia sangat ketakukan jika putriku tahu apa yang kami lakukan, aku bisa mengetahuinya cukup dari bau alkohol yang sering tercium dari mulutnya. Aku menghampiri dan memeluk pinggangnya dengan kakiku, menenangkannya, seolah seperti aku masih seorang gadis remaja. Saat pagi keesokan harinya, aku bisa mendengar suara air kran shower dari atas – bahkan terdengar jauh lebih lama dari hari-hari sebelumnya, hening tanpa suara apapun di sekitarnya jauh lebih lama dari hari sebelumnya.
Dia mungkin berpikir dengan caranya sendiri – setiap keinginan bisa dipuaskan, setiap keinginan dapat dipenuhi, sebagaimana seorang laki-laki pada umumnya.
Musim dingin hampir tiba, aku mulai bersiap menutup seluruh jendela, dan lagi sebelum itu aku harus memotong semak tunas dahan wisteria yang tumbuh dengan pisau. Meskipun ranting yang mengganggu sudah terpotong, tetap saja ada beberapa ranting yang mengetuk-ngetuk pada jendela mengikuti irama angin kuat yang berhembus kencang pada awal musim rontok, ia tidak memiliki kesempatan untuk mengunjungi kamarku lagi. Seolah seperti sebuah angin musim rontok sedang mengawasinya dari ambang pintu.
Apakah putriku mengetahuinya? Jika benar dia adalah memang bagian dari diriku – aku yakin dia tahu. Aku pernah suatu kali mendengarnya seperti bangun di tengah malam dan berteriak: “Ma!”, tapi itu bukanlah seperti sedang memanggilku, aku hanya terkejut dan berdiam diri, enggan untuk menghampirinya. Tak lama kemudian terdengar suaranya lagi berteriak: “Ma!” seperti suara seseorang yang berteriak kata: “Aaaa!” atau “Oh!”. Kemudian suami putriku lah yang ada di sana yang memeluknya dan berbisik menenangkanya: “tidak apa-apa, tidurlah, tidurlah lagi.”
Musim dingin datang secara perlahan, membuat langit cerah menjadi semakin gelap. Menjadikan waktu malam lebih panjang, dan memendekkan siang hari menjadi sebagaimana suara langkah kaki yang semakin terdengar jarang ada di atas ruangan. Putriku tidak berbicara kepadaku, jadi aku merasa tidak memiliki kewajiban untuk berbicara dengannya juga. Aku menatap ke luar jendela terlihat tampak leher putriku saat ia tengah keluar rumah. Ada lubang yang dibuatnya pada tanah menggunakan ujung parasolnya saat melintasi jalan menuju pemberhentian bis, dan meludah di daerah dekatnya. Aku bisa mendengar suara berisik dari ranjang tempat tidur ruangan atas yang baru saja dirapikan sebelum putriku pergi tadi.
Saat putriku tidak ada, aku tidak pernah lupa membuatkan suaminya secangkir kopi. Aku memberikan dua sendok teh gula dan mengaduknya perlahan hingga rasa manisnya membuat lunak rasa pahitnya. Dia meminum dan negaknya dengan rakus. Tanpa mengalihkan pandangannya dari gelas, menandaskan hingga sampai dasar gelasnya. Aku selalu membuat sebuah pilihan yang tidak ambigu, yang bisa dipahami dirinya dengan mudah, dan bukan karena aku menginginkan lebih, tapi untuk membuatnya membebaskan dari rasa bersalah, dan membiarkan dirinya merasa nyaman sebagai seseorang yang berada sebagai posisi korban. Aku duduk di dekatnya mengangkat meletakkan kakiku malalui celah pahanya, mengusapkannya maju dan mundur perlahan pada kakinya. Aku tidak ingin ia menjadi lemah, aku ingin membuat dirinya menjadi kuat.
Pada saat putriku kembali dan membuatkan suaminya secangkir kopi. Seringkali Ia akan membuatnya manis dengan dua sendok teh gula dan kemudian hilang dalam lamunannya, mengaduknya hingga terlalu lama, hingga pahit dan manisnya menjadi lenyap.
Demikianlah kejadian-kejadiannya berlanjut hingga musim semi. Pernah pada suatu hari yang sama, pada minuman kopi yang dibuat oleh ku dan putriku tidak memberikan dua sendok gula sebagaimana hari sebelumnya. Berhubung itu terjadi dalam hari yang sama, itu memberikan sebuah pertanda jelas baginya, jika seorang anak perempuan adalah bagian dari ibunya dan ibunya adalah bagian dari putrinya. Tidak ada penjelasan lain yang bisa diberikan. Ia mengalami kekecewaan dua kali saat bersamaan. Satu untuk putriku, dan satu untuk diriku.
Pernah pada suatu hari tanpa mengenakan alas kaki, suami putriku berlari bergegas menuruni anak tangga dan menghempaskan tubuhnya pada diriku, membiarkan waktu-demi waktu terlewati di antara pelukan lengan satu sama lain, ia menangis dan terisak. Kami terdiam mematung, aku sekaligus mengusap-usap punggung menenangkannya, meringkuk satu sama lain cukup lama, dalam piyama dan gaun tidur kami. Ia hanya berbisik mengucapkan kata lirih: “ini telah berakhir, ia telah mati,” aku mengulangi dengan kata ucapan yang sama nya seperti sebuah gema: “ia telah mati”.
Akan tetapi kami berdua mengetahui sesuatu hal yang putriku tidak ketahui, suaminya masih hidup dan kini sekarang ia telah mati – sebuah kehidupan setelah kematian tidak berbeda seperti seseorang yang terbangun dari mimpinya dan mengatakan ia bermimpi telah melihat sebuah kehidupan sebelum kematiannya saat ini. Kematian pada sebenarnya adalah sebuah ilusi dan seseorang bisa memainkannya tanpa menemui masalah yang berarti. Dan akulah yang memulai semua permainan ini secara tanpa aku sadari, seolah-olah aku lah yang mengendalikan aturan permainan ini, dan kemudian aku memintanya untuk turut serta bermain. Ia dengan cepat memahami bagaimana itu semua bisa terjadi, dan kini setelah saling memandang dan kami mengetahui apa yang sedang terjadi, kami secara bersamaan memandang menelusuri alur celah-celah yang ada pada atap langit-langit, berdoa untuk putriku supaya lekas kembali. Meskipun apa yang kami lakukan ini semua meninggalkan pertanyaan padaku, seperti mengapa kami menatap langit-langit saat berdoa, karena kematian tidak mengenal puncak, juga dasar, atas maupun bawah, tidak juga kiri maupun kanan, ia ada di luar semua itu. Aku terdiam sejenak menatap dan mengatakannya pada diri kami berdua untuk menerima segala hal yang terjadi. Aku mengajaknya untuk bersama-sama mencoba memukul dinding dan lantai dengan tangan kami, dan mencoba berteriak bersama alih-alih hanya berbisik. Aku berkata pada dia untuk berdoa dengan khikmat, supaya pada nantinya kata-kata dari perasaan harapan ini akan sampai kepada putriku, dan makna di dalamnya. Dengan kata lain, aku meyakini sebagaimana orang lain pada umumnya, mungkin bagi putriku sebuah kematian adalah tidak kurang dan tidak lebih hanya lenyap dari dunia saja. “Olegu,” aku mengulanginya dengan lirih tapi terdengar jelas, “Olegu, kini situasinya menjadi jauh lebih rumit”.
Aku bergumam pada diriku sendiri, bagaimana kamu bisa meyakinkan seseorang yang sudah lenyap, bisa muncul dan terlahir kembali? Akan tetapi lihatlah kau putriku, seorang perempuan cantik jelita dengan paras indah ketimurannya, suamimu bisa memahami tanpa kesulitan sebuah ide aneh ini, hal mitis tentang kelahiran dan kematian – tentang segala sesuatu di dunia ini dapat terjadi di luar kehendaknya, dan di dalam kepala kami disana ada sebuah akar abadi yang menentukan bagaimana seuatu hal yang akan terjadi.
Pada akhirnya kembali pada apa yang diyakini oleh seseorang. Tidak ada sebuah kebenaran lain. Seperti keramaian yang aku dan suami putriku buat saat memukul dinding dengan tangan kami, berteriak dan menangis. Ia mengulangnya seperti seorang anak kecil, untuk meyakinkan apa yang ada di benaknya: “Ayo bangun, bangunlah, tidaklah benar bahwa kamu kini telah meninggal, berpikirlah menggunakan nalarmu.” Aku menjawab kata-katanya tersebut: “Olegu, aku mohon, coba lihatlah hal itu dari sudut pandang lain, cobalah sedikit berusaha.”
Pada akhirnya dia muncul keluar dari ruangannya. Penampilannya terlihat tampak kusam masai, seolah seperti seseorang dari yang keluar dari sebuah layar televisi. Tubuhnya tampak gemetar. Ia marah dan tampak merasa bingung. Ini pertama kalinya aku melihat dirinya seperti itu. Suaminya bergegas mengikuti di belakang putriku. Aku secara mendadak menghampiri memeluknya dari belakag, seolah ingin tahu apakah ia telah melupakan tubuhnya, hasrat miliknya ketika bersamaku. Akan tetapi semuanya tampak baik-baik saja. Ia mrmbalas sentuhanku, perasaan sedih dan cemas tadi telah lenyap. Seolah-olah menerima sebuah hadiah dariku, aku dorong tubuhnya terlentang di lantai dan aku cium ia pada bibirnya dan ia membalas ciumanku dengan penuh. Hingga tenggelamkan bibirnya ke dalam bibirku. Kemudian putriku melihat itu semua melangkah mundur menyadari bahwa suaminya dan belum berakhir.
Sudah musim semi, kini saatnya untuk membuka jendela ruangan, mengganti udara ruangan dalam ruangan menjadi segar, dan memberi kesempatan tunas wisteria yang baru untuk tumbuh.