Bungka dan Bunga

Lancarmanis, sebuah kota yang dikenal dengan pabrik-pabrik majunya berjejeran menutupi perbatasan kota. Komplek perumahan, gedung, hotel, dan apartemen dibuat berkerumun oleh pabrik putih itu. Sinar matahari menari di antara kilauan atap yang mengisi udara, kucing dan anjing serta tikus saling memangsa karena hanya tersisa mereka.
Seorang remaja dikenal dengan nama, Bungka. Pemuda berusia 20-an yang menawan, berdiri tegak dengan postur yang kuat dan percaya diri. Wajahnya berseri-seri, selalu terhiasi senyum manis yang mengundang. Rambut keritingnya menari-nari, mengapit jidat lebar yang memberi kesan bijaksana. Mata sipitnya berbinar, menyimpan kecerdasan dan kebaikan hati, menyoroti keaslian parasnya yang unik. Aura positifnya memancar, membuatnya menjadi pusat perhatian di setiap langkahnya.
Ia muda tapi suka meminta, dengan wajah yang memancarkan pesona dan senyuman yang merona. Tapi Bungka berbeda, ia bukanlah pengemis biasa yang suka duduk dan berdiri di muka lampu merah sana. Ia memiliki kebiasaan meminta bunga dari orang-orang di sekitarnya. Entah bunga matahari, anggrek, melati, apa yang diberi tetap diterimanya. Bahkan bunga Teratai juga diambil, tapi sesuai kadarnya.
Setiap pagi, saat uap kopi masih menempel di kaca spion kendaraan warga, Bungka berkeliling di lingkungan tempat tinggalnya. Dengan langkah ringan dan penuh senyuman, ia mengetuk pintu rumah tetangga, mengucapkan salam dengan lembut, dan meminta bunga.
"Permisi. Bolehkah saya meminta satu bunga?" tanyanya, suaranya lembut seperti aliran sungai yang tenang di luar kota.
Ketukan pertama tidak ada jawaban yang diterima. Entah orang di rumah itu masih terjaga di mimpi buruknya ataupun lagi berada di dapur. Bungka tidak berani mengira karena bagaimanapun semua orang memiliki kebohongannya masing-masing.
“Permisi. Bolehkah saya meminta satu bunga?” tanyanya, di rumah samping orang yang pertama.
“Ambil saja terserah mau berapa!” jawab keras orang kedua dari jauh dalam rumahnya. Mungkin ia lagi bersiap-siap meluncurkan kebohongannya.
Begitu-begitu saja kegiatan pengemis itu, dari pagi sampai ia merasa cukup dengan isi tas yang dibawanya itu. Permintaan dari rumah ke rumah itu sering kali disambut dengan celaan. Oleh ibu-ibu yang mulutnya seperti kudanil yang menguap
"Untuk apa pengemis meminta bunga?"
“Jauhkan anakku dengan orang ini!”
“Sepertinya dia perlu diperiksa akal sehatnya!”
“Masih muda bukannya mencari gadis bernama Bunga malah mencari bunganya,” bisik orang-orang di sekitarnya, tertawa mengejek.
Bukan Bungka kalau tidak senyum. Kadang ada yang dijelaskannya mengapa ia mengumpulkan bunga ini, kadang juga ada yang tidak perlu dijelaskannya karena semua manusia itu berbeda dalam cara pandangnya. Entah apa yang dipikirkannya setiap bunga yang ia kumpulkan jadi karangan bunga itu bagian dari Impian masa kecilnya untuk menciptakan taman yang indah atau hanya kegabutan orang sakit jiwa. sebuah tempat di mana keindahan dan ketulusan dapat bersatu.
Setiap hari, Bungka berkeliling dari rumah ke rumah, blok ke blok, dan komplek ke komplek. Sudah hamper setiap hari ia menghadapi ejekan dan tatapan sinis yang lebih kuat.
"Kau hanya pengemis, Bungka! Apa yang bisa kau lakukan dengan bunga-bunga itu? Kau pikir kau seorang malaikat?!" teriak seorang pria tua dari balik pagar.
“Pengemis Gila!!! Bukannya meminta uang malah meminta bunga!”
Bukan Bungka kalau tidak selalu tersenyum. Seolah tidak peduli dengan ejekan itu. Ia tahu bahwa setiap karangan bunga yang ia kumpulkan ada tujuan besar yang menghadang mereka.
Terlihatlah Bungka berdiri menghadap suatu tempat berisikan lahan kosong. Tempat bunga berharap mereka bisa berkembang disaat polusi setiap saat mengambang. Tanah yang masih berwarna coklat keemasan. Harum lembap tanah yang mengingatkan manusia dengan bekas hujan yang baru saja turun dan reda.
Di sinilah tempat ia memulai kerajaannya. Tempat mengumpulkan karangan bunga yang telah diminta, bunga yang didapatkan dari hasil mengemis payahnya. Bungka tersenyum lebar, mata sipitnya berbinar kegembiraan. Dia menatap "gunung bunga" yang tercipta dari hasil mengemisnya. Bunga-bunga warna-warni, dari mawar merah hingga lavender biru, bertumpuk tak beraturan, namun tetap memancarkan kesegaran. Bunga lili putih berdampingan dengan bunga matahari kuning, seolah saling menyapa. Bunga-bunga itu seakan masih hidup, memancarkan keindahan dan keajaiban. Bungka merasa bangga dan bahagia, senyumnya semakin melebar
Terlihat tumpukan beberapa jenis bunga yang bahkan tidak terstruktur layaknya kehidupan sebuah bunga. Ia mengumpulkan berbagai jenis bunga: mawar merah yang melambangkan cinta, melati putih yang melambangkan kesucian, dan anyelir yang melambangkan harapan. Setiap bunga yang ia pilih memiliki cerita dan makna tersendiri. Ia merawat setiap karangan bunga dengan penuh kasih, seolah-olah ia sedang merawat impiannya sendiri.
Dengan tangan terampil, Bungka menyusun bunga-bunga yang dikumpulkan dari mengemisnya menjadi karangan yang indah. Bunga mawar merah, lavender biru, dan lili putih disusun harmonis, menciptakan komposisi yang elegan. Setiap helai daun dan tangkai bunga ditata dengan cermat, memancarkan keanggunan.
Karangan bunga itu memancarkan keindahan tak terduga, seolah diciptakan oleh tangan seorang seniman. Siapa sangka, bunga-bunga yang dulunya tergeletak di trotoar kini berubah menjadi mahakarya yang berkilau. Bungka menatap karyanya dengan bangga, senyumnya mengungkapkan kepuasan.
"Dari kecoklatan menjadi keindahan," seolah-olah ingin terucap oleh mata sipitnya yang berbinar kegembiraan. Bungka mulai merangkai bunga-bunga yang ia kumpulkan menjadi karangan yang indah.
Orang-orang sekitar terpesona oleh keindahan warna-warni yang tiba-tiba muncul di tengah keseragaman abu-abu dan hitam. Mereka berduyun-duyun menuju tempat Bungka, takjub melihat karangan bunga yang rapi dan elegan. Warna-warni cerah tersebut seolah membawa kehidupan baru ke dalam kehidupan mereka yang monoton.
"Indah sekali!" seru seorang pengunjung.
"Siapa sangka Bungka memiliki bakat seperti ini!" tambah yang lain.
Beberapa orang tertarik untuk membeli karangan bunga tersebut, bahkan ada yang menawarkan untuk melelangnya. "Saya rela membayar berapa pun untuk membawa pulang keindahan ini!" kata seorang kolektor.
Bungka tersenyum, bangga dengan karyanya. "Semua ini hasil karya tangan saya, dari bunga-bunga yang saya kumpulkan dengan penuh cinta."
Tempatnya kini menjadi pusat perhatian, membawa kebahagiaan dan keindahan ke dalam kehidupan masyarakat sekitar. Bungka telah menghidupkan kembali warna-warni di tengah keseragaman.
Rupanya, tujuan Bungka mengumpulkan karangan itu adalah untuk dijual, mengubah bunga-bunga yang ia kumpulkan menjadi sumber kehidupan. Ibaratnya seorang pengemis yang meminta bunga dari rumah ke rumah, tanpa rasa malu, Bungka berhasil mengubah karangan bunga yang sedikit-sedikit menjadi puluhan karangan bunga yang indah. Dari modal penjualan harga diri dan rasa malu, ia mendapatkan keuntungan yang besar.
Di tengah kesibukannya, Bungka tidak pernah melupakan satu karangan bunga yang ia simpan untuk dirinya sendiri. Ia memberi nama karangan bunga itu Raihan, yang berarti bunga yang berbau harum.
Setiap kali Bungka merasa lelah atau putus asa, ia akan memandang Raihan dan mengingat kembali perjalanan yang telah dilaluinya. Ia tahu bahwa setiap kesulitan yang ia hadapi adalah bagian dari proses untuk mencapai keindahan yang lebih besar. Raihan bukan hanya sekadar bunga, tetapi juga lambang harapan dan keteguhan hati.
Karangan bunga yang diberi nama “Raihan” itu mengambil pena hitam dan menulis kisah Bungka mengenai bagaimana perjuangan tidak tahu malunya yang menghidupkan kembali warna di kota itu.
Lancarmanis, Desember 2024