Cahaya Senja
Cahaya Senja
[sunting]Di sebuah Desa bernama Desa Lentera, tinggal seorang gadis cantik benama Senja, dia merupakan anak sulung dari dua bersaudara, dia dari keluarga yang sederhana bukan dari kalangan keluarga yang berada. Dengan kesederhanaannya itu keluarganya selalu rukun dan harmonis. Orangtuanya mengajari untuk selalu bersyukur dengan apa yang dimiliki. Sehingga dia tumbuh menjadi gadis yang pintar, baik hati dan selalu bersyukur dengan apa yang dimiliki.
Sekarang Senja duduk dibangku kelas XII di SMA Angkasa. Namun, karena kepintarannya Senja masih sering diutus jadi perwakilan dari sekolahnya untuk mengikuti olimpiade matematika. Seperti hari ini dia dipilih untuk mewakili sekolahnya untuk mengikuti olimpiade matematika. “Senja!” Panggil Lia dari arah belakang.
“Iya Li, kenapa?” Jawab Senja ketika Lia sudah sampai di dekatnya.
“Kamu dipanggil sama Ibu Dewi di ruang guru” kata Lia
“Emang kamu habis darimana sih?” Tanya Senja pada Lia.
“Tadi aku ke toilet bentar, terus pas perjalanan ke kelas aku gak sengaja ketemu Ibu Dewi, dia bilang kalo kamu disuruh menemuinya di ruang guru” Lia menjawab dengan detail.
“Emang kenapa aku dipanggil?” Tanya lagi Senja pada Lia.
“Mana aku tau Senja…., Ibu Dewi gak bilang” jawab Lia dengan wajah lesunya.
“Hehehe iya deh. Kalo gitu, aku ke ruang guru dulu yah, kalo telat masuk kelas tolong izinin.”
“Siap bos” jawab Lia dengan posisi hormat ditambah muka cengirnya.
Pergilah Senja ke ruang guru menemui Ibu Dewi, diperjalanan Senja tidak sengaja melihat brosur lomba olimpiade di papan pengumuman. Dia membaca isi dari brosur itu dengan teliti. Setelah itu, dia melanjutkan perjalanannya yang sempat tentunda tadi. Sesampainya di ruang guru Senja langsung menemui Ibu Dewi. “Assalamu’alaikum Bu” kata Senja sambil membuka pintu ruang guru.
“Wa’alaikummussalam, masuk Senja.” Kata Ibu Dewi
“Mohon maaf Bu, tadi kata Lia Ibu memanggil saya?” Tanya Senja pada Ibu dewi.
“Iya, Ibu memang memanggil kamu” jawab Ibu Dewi dengan ramah.
“Ada apa ya Bu?” Tanya Senja.
“Gini Senja, beberapa hari lagi ada lomba olimpiade matematika di SMA Bina Bangsa, mungkin kamu udah lihat brosurnya di papan informasi?” Kata Ibu Dewi.
“Iya Bu, tadi Senja udah lihat”
“Nah! Gini Senja, Ibu ingin kamu yang mewakili sekolah kita untuk ikut olimpiade itu, Ibu harap kamu bersedia, dan hadiahnya juga lumanyan, nanti kamu bisa tabung untuk tambahan biaya sekolahmu” terang Ibu Dewi dengan penuh harap pada Senja.
“Baik Bu, Senja bersedia mengikuti olimpiade itu, dan semoga Senja biasa mengharumkan nama baik sekolah kita Bu.” Kata Senja pada Ibu Dewi.
“Kalo begitu Senja pamit ke kelas ya Bu, Assalamu’alaikum” pamit Senja dengan sopan
“Iya Senja, Wa’alaikummussalam”.
Setelah keluar dari ruang guru Senja bergegas ke kelasnya dikarenakan tidak lama lagi jam pelajaran akan di mulai.
Dua minggu yang lalu Senja berhasil meraih juara pertama pada lomba olimpiade matematika yang dia ikuti dan beberapa hari lagi dia akan mengikuti ujian akhir. Senja bukan termasuk anak yang mudah bergaul buktinya sudah tiga tahun dia sekolah di SMA Angkasa namun dia hanya memiliki beberapa teman akrab di sekolahnya itupun hanya teman sekelasnya. Sekedar info di sekolah Senja dari kelas X sampai XII gak ada yang namanya perubahan kelas. Maksudnya, kalo kelas 10 duduk di kelas X IPS 1 maka, di kelas XI nanti dia masih akan tetap di kelas IPS 1 begitu pula kalo di kelas XII nantinya.
Bel pulang berbunyi, Senja bergegas merapikan buku-buku dan pulpennya karena ingin cepat-cepat pulang ke rumahnya.
“Buru-buru amat Nja. Ini masih jam empat loh, belum terlalu Sore” kata Lia pada Senja.
“Bukan gitu Li, ini mendung loh aku takut kehujanan, mana aku gak bawa payung lagi” jawab Senja.
“Kan kamu bisa pinjam payungku” Kata Lia lagi pada Senja.
“Kalo kita searah memang bisa, tapi ini enggak Li, kamu gimana sih” kata Senja dengan gemas.
“Oh iya aku lupa” jawab Lia dengan reflek menepuk jidatnya.
“Kalo gitu aku duluan yah” kata Senja pada Lia sambil berjalan keluar kelas.
Sesampainya di rumah, Senja langsung berganti pakaian dan membantu Ibunya mengambil pakaian yang dijemur di halaman belakang rumahnya.
“Adek kemana Bu?” tanya Senja pada Ibunya yang sedang melipat pakaian yang diambil Senja tadi.
“Ada di kamar, katanya adek ada pr mau selesaikan” jawab Ibu
“Ayah belum pulang?” tanya lagi Senja pada Ibunya.
“Tadi Ibu telpon katanya udah ada di jalan”
“Oh gitu” kata Senja
“Kamu udah makan?” Tanya Ibu pada Senja
“Belum Bu, aku tunggu ayah pulang biar nanti sekalian bareng makannya” Jawab Senja.
“Baiklah kalo itu mau kamu” Kata Ibu sambil tersenyum pada Senja.
Setelah Ayahnya sampai, Senja segera menyiapkan makanan dan mengajak Ayahnya makan bersama.
“Ayah pasti capek dan laparkan, yuk kita makan” kata Senja pada Ayahnya dan tak lupa muka senyuman manisnya.
“Kebetulan sekali ayah memang sangat lapar, kamu tau aja deh” kata Ayahnya
“Iya dong, Senja sama Ayahkan sehati” Kata Senja dengan percaya diri.
“Iya percaya kok” Kata adik Senja yang muncul dari belakang.
“Emang fakta kok. Wlee” Kata Senja menimpali perkataan adiknya sambil menjulurkan lidah untuk meledek adiknya.
“Lihat tuh Bu, kakak mengejek adek” Ngadu Adek Senja pada Ibu.
“Senja, jangan usili Adekmu” kata Ibu pada Senja.
“Hehehe bercanda Bu” jawab Senja
Begitu gambaran setiap hari keluarga Senja, dimana selalu ada Adik yang mengadu karena diusili, Kakak yang suka mengusili Adiknya, dan Ayah Ibu yang selalu jadi penengah.
Beberapa hari yang lalu Senja sudah selesai mengikuti Ujian Akhir dan pengumuman hasil Ujian Akhir menyatakan bahwa seluruh siswa dan siswi SMA Angkasa dinyatakan lulus seratus persen. Dan sekarang tibalah hari dimana Senja akan mengikuti acara pisah tamat siswa-siswi SMA Angkasa, acaranya sangat meriah ditemani tangis senang dan haru siswa-siswi serta para pembina SMA Angkasa. Senja diumumkan lulus dengan memperoleh nilai terbaik. Dengan perolehan nilai terbaiknya, Senja dinyatakan bebas tes di Universitas Negeri Cakrawala pada bidang studi Pendidikan Matematika. Senja sangat bersyukur dengan itu, dia bertekad akan belajar dengar lebih giat lagi untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik lagi. Ayah, Ibu serta Adiknya sangat bahagia dan bangga dengan prestasi yang dicapai senja.
Hari berganti, tibalah Senja di depan pintu gerbang Universitas Negeri Cakrawala. Di sinilah nantinya tempat dimana Senja melanjutkan perjuangan mendapatkan pendidikan dan pengetahuan yang lebih luas lagi. Dengan penuh semangat Senja melangkah masuk ke dalam pekarangan kampus. Awalnya Senja merasa takut, takut tidak punya teman, takut tidak ada yang ingin berteman dengannya. Namun, baru masuk pekarangan kampus Senja disapa dan diajak berteman oleh seorang gadis bernama Reina yang juga merupakan salah satu mahasiswa baru di kampus itu.
“Assalamu’alaikum” sapa seorang gadis cantik pada Senja
“Wa’alaikummussalam” jawab Senja dengan senyuman
“Kenalin namaku Reina Nadifah, aku biasa dipanggil Reina. Nama kamu siapa?” kata Reina dengan ramah
“Namaku Senja Yudistia, biasa dipanggil Senja. Salam kenal Reina”
“Salam kenal Senja. Kamu juga mahasiswa baru di sini?” tanya Reina pada Senja.
“Iya, kamu juga?” tanya balik Senja
“Iya aku juga. Kamu ambil jurusan apa?” tanya Reina dengan semangat.
“Aku ambil jurusan Pendidikan Matematika” jawab Senja
“Yey!! Akhirnya aku punya teman baru dan pas banget aku juga jururusan Pendidikan Matematika. Yuk kita masuk” kata Reina sambil bersorak riang.
“Ayo” jawab Senja.
Hari demi hari berlalu, dengan penuh semangat Senja belajar giat demi cita-citanya untuk mencapai kesuksesan dalam hidupnya. Namun, kehidupan Senja tidak selalu seindah impian yang dia harapkan. Dia baru menyadari bahwa uang sangat dibutuhkan untuk membuka pintu pendidikan yang lebih tinggi, maka dari itu mencari tambahan uang untuk biaya kuliah dan kebutuhan sehari-hari adalah suatu keharusan. Orangtuanya sudah memberikan yang terbaik yang mereka bisa, namun Senja merasa perlu untuk mencari uang tambahan. Dia memutuskan untuk mencari lowongan pekerjaan paruh waktu. Dengan semangat Senja akhirnya mendapatkan perkerjaan di sebuah warung makan. Itu bukanlah pekerjaan yang glamor, tapi dia tahu bahwa uang yang dia hasilkan akan membantunya mencapai impian pendidikan tingginya. Senja bekerja keras, bahkan di hari Minggu, disaat teman-temannya biasanya bersantai senja masih saja bekerja.
Pagi-pagi, ketika Matahari baru mulai muncul, Senja sudah berangkat ke kampus. Dia duduk di dalam kelas dengan semangat. Namun, ketika teman-teman sekelasnya berbicara tentang rencana berlibur di akhir pekan, Senja harus memikirkan alasan yang tepat untuk tidak ikut.
“Teman-teman, gimana kalo akhir pekan ini kita kita liburan ke Puncak?” tanya salah satu mahasiswa di kelas itu.
“Aku sih, ngikut aja” jawab salah satu mahasiswa yang disetujui oleh yang lain, terkecuali Senja.
“Kamu gimana Nja, ikutkan?” tanya Elin pada Senja.
“Hmm, maaf teman-teman sepertinya aku gak bisa ikut dulu, mungkin lain kali” jawab Senja dengan hati-hati.
“Gak asik, Senja gak ikut. Emang kenapa kamu gak bisa ikut Senja?” tanya Elin sedih.
“Aku harus masuk kerja akhir pekan ini” jawab Senja dengan rasa bersalah.
“Udah, kan Senja bisa ikut lain waktu. Iyakan Nja?” kata Reina pada teman-temannya.
“InsyaAllah Rein” Jawab Senja.
Di rumahnya, orangtuanya ingin dia fokus pada kuliah. Suatu ketika orangtua Senja tahu, kalau Senja bekerja sehabis pulang kuliah, Ayah Senja marah dan kecewa padanya.
“Senja, Ayahkan udah pernah bilang kamu hanya perlu fokus sama kuliahmu, tak perlu mikirin soal biayanya, Ayah masih bisa bekerja.” kata Ayah Senja dengan nada tegasnya.
“Aku mengerti ayah, tapi aku bisa kok mengatur waktu belajarku, aku hanya bekerja paruh waktu kok, aku tak ingin membebani ayah sepenuhnya. Ini hanya untuk membantu menambah uang tambahan kuliahku Ayah” kata Senja dengan hati-hati.
“Senja, kamu memang keras kepala. Tapi kalau itu yang kamu inginkan, Ayah dan Ibu sebisa mungkin akan selalu mendukungmu, tapi ingat pesan Ayah jangan terlena pada pekerjaan hingga melupakan kuliah, jangan terlalu memaksakan bekerja hingga lupa bahwa kesehatan lebih utama.” balas Ayah Senja dengan tegas dan penuh perhatian.
”Baik Ayah, aku akan ingat kata-kata Ayah” jawab Senja dengan senang. Senja tersenyum, merasa lega mendengar dukungan orangtuanya. Mereka mungkin marah sebentar, tetapi mereka akan tetap mendukungnya selama itu baik bagi Senja.
Sementara itu teman-temannya ingin dia bergabung dalam aktivitas sosial. Senja merasa tertekan oleh ekspektasi dari berbagai pihak. Suatu hari, di warung tempat Senja bekerja teman sekelasnya, Reina, datang berkunjung.
“Senja Kamu terlihat lelah, bagaimana dengan waktu luangmu? Kapan kita bisa kumpul lagi?”
Senja menggeleng kepala dengan lembut,"Rein, aku ingin sekali berkumpul denganmu juga yang lain, tapi aku harus bekerja untuk biaya kuliahku. Aku ingin punya teman yang bisa mengerti. Aku merasa terjepit di antara tuntutan keluarga, teman, dan beban keuangan."
Reina tersenyum, "Senja, kamu punya teman yang mengerti, ada aku. Aku mendukungmu sepenuh hati. Kita akan melewati perjalanan ini bersama."
Senja tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada Reina. Pertemanan Senja dan Reina semakin kuat. Mereka membentuk kelompok belajar dan menghabiskan waktu bersama saat Senja tidak bekerja. Mereka menjadi sumber inspirasi satu sama lain.
Meskipun perjalanan ini penuh dengan tantangan, Senja terus bekerja keras. Dia mempertaruhkan waktu istirahat dan kesehatannya, namun dia tidak pernah menyerah. Setiap ujian dan tugas adalah langkah menuju impian pendidikannya. Dan pada akhirnya, Senja berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan prestasi gemilang. Impiannya terwujud, dan dia memiliki teman-teman yang benar-benar memahami perjuangannya.
Senja tersenyum ketika melihat langit yang memancarkan cahaya senja. Dia tahu bahwa tantangan dan masalah yang dia hadapi akan selalu ada jalan keluarnya. Seperti Matahari yang akan selalu terbenam dan memberikan harapan baru di hari esok.