Lompat ke isi

Ruwatan di Ambang Kehilangan

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
(Dialihkan dari Cerita pendek)

Ruwatan di Ambang Kehilangan

Pagi itu, langit Jember terlihat lebih kelabu dari biasanya. Langit birunya sedang tertutup awan seakan mencerminkan pergolakan hati seorang pemuda yang baru saja kembali dari kota besar. Angin pagi yang biasanya menyegarkan kini malah terasa berat, seperti membawa aroma tanah basah yang diguyur hujan tadi malam. Di desa kecil ini, Desa Tempurejo, keluarga Bapak Purnomo tinggal. Desa ini adalah desa yang terjaga oleh budaya, hidup di desa ini terasa lebih lambat, tetapi penuh makna. Di desa ini pula terdapat sebuah tradisi yang sudah mengakar kuat sejak berabad-abad lamanya, tradisi ini disebut dengan ruwatan. Ruwatan adalah sebuah ritual penyucian diri, dilakukan oleh mereka yang percaya bahwa dosa-dosa dan karma buruk dalam hidup harus ditebus. Hal ini lah yang selalu dilakukan oleh keluarga Bapak Purnomo. Keluarga ini sudah turun-temurun melaksanakan tradisi ini sebagaimana leluhur mereka juga melakukannya.

Hari itu putera bungsu Bapak Purnomo yang bernama Fajar baru saja pulang dari Jakarta. Ia memang sudah cukup lama bekerja di kota besar, jauh dari rumah. Sejak Fajar kecil, ia tahu tentang kegiatan ruwatan yang selalu dilaksanakan oleh keluarganya setiap lima tahun sekali itu, tapi ia tidak cukup peduli, baginya itu hanya sebatas ritual kuno yang tidak ada kaitannya dengan hidup, semua itu ia rasa sangat tidak relevan di dunia modern yang selama ini dia tinggali. Namun, kepulangan Fajar kali ini berbeda, matanya yang biasanya berbinar penuh dengan cita-cita besar di kota orang kini terlihat kosong, lelah, dan penuh keraguan. Ia membawa berita buruk, rupanya usaha yang ia rintis di Jakarta bangkrut dan hubungan yang ia jalani enam tahun dengan kekasihnya itu berakhir dengan cara yang pahit. Seperti sebuah ledakan, semuanya hancur dalam sekejap. Ia memutuskan pulang ke kampung halamannya untuk merenung dan menenangkan diri.

Di luar  sana, suara ayam jantan berkokok keras mengiringi langkah Fajar menuju rumah. Rumah panggung tua yang terbuat dari kayu jati itu masih sama seperti yang ia kenal dulu. Namun, suasananya sekarang lebih hening, semua orang seolah sedang menunggu sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Fajar berjalan masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu, Ibunya duduk dengan tangan terlipat dipangkuan, menatapnya penuh harap. Bapaknya, Purnomo, sudah lebih dulu duduk sambil mengepulkan asap rokok, matanya menerawang jauh entah ke mana. Keheningan dalam ruangan ini membuat suasana semakin berat, Fajar dapat merasakan tatapan orangtuanya penuh beban. Fajar pun merasa canggung.

“Apa kamu sudah siap, Nak?” Tanya Pak Purnomo, membuka percakapan dengan suaranya tegas penuh penekanan.

Fajar terdiam sejenak, tak tahu harus menjawab apa, “Siap untuk apa, Pak?” Tanya Fajar akhirnya. Matanya menerawang ke luar jendela. Dadanya sesak, keadaan rumah ini semakin lama semakin penuh dengan kenangan dan harapan yang menambah keadaan semakin berat.

“Kami sudah menyiapkan semuanya untukmu, Nak. Nanti malam adalah waktu ruwatan. Kamu harus diruwat,” balas Pak Purnomo.

Di Jakarta, ia tidak lagi mengenal ritual ini, dunianya sudah penuh dengan teknologi dan hidup yang serba praktis, ia sebetulnya enggan untuk ikut dalam tradisi ruwatan keluarga yang sudah dilakukan turun-temurun, tetapi ia tidak punya alasan lain selain menerima keputusan Bapaknya itu.

Malam itu, di rumah Bapak Purnomo sudah dipenuhi oleh saudara-saudara jauh dan para tetangga yang datang untuk menghadiri acara ruwatan. Lampu minyak tanah telah terpasang di setiap sudut rumah sehingga berhasil menciptakan bayangan besar di dinding. Suara gemersik daun kelapa dan bunyi jangkrik semakin memberikan nuansa magis. Kiai Utsman yang sudah sepuh namun karismatik itu sedang berdiri di teras rumah, beliau sibuk mengamati orang-orang yang sedang mempersiapkan segala keperluan ruwatan. Di meja panjang terdapat beras kunir, ayam jantan, dan bunga segar dalam kuali yang terbuat dari tanah. Semua persiapan dilakukan dengan penuh khidmat mengikuti aturan yang sudah diajarkan oleh leluhur mereka.

Fajar memilih menepi dan menonton orang-orang itu dari dalam rumahnya. Semua persiapan telah selesai. Kiai Utsman yang bertugas memimpin ritual mulai mengucapkan doa dalam bahasa Jawa kuno, suaranya merdu, seolah semua kata memiliki kekuatan magisnya tersendiri, meski ia tak paham maksudnya apa. Setelah lantunan doa itu selesai dibacakan, Kiai Utsman pun berbicara. Suaranya sangat berwibawa tapi penuh kelembutan yang menenangkan.

“Ruwatan ini bukan sekadar menghapus karma buruk, tetapi untuk membuka jalan hidup yang lebih baik. Setiap orang yang datang membawa beban, dengan menjalani ritual ini akan membersihkan jiwanya dan memungkinkan kehidupannya ke depan lebih terang. Ruwatan ini adalah acara untuk membuka jalan dengan mata hati supaya segala sesuatu yang menghalangi dapat dilenyapkan. Di dunia ini kita selalu berjalan di medan yang terjal, kadang kita juga perlu merelakan bagian diri kita untuk mencapai kebahagiaan.”

Fajar menatap Kiai Utsman sembari menahan tawa getir di dalam dadanya, “Apa mungkin tradisi ini masih punya tempat di dunia yang terlalu sibuk dengan teknologi dan kemajuan? Orang modern pasti sudah lupa dengan hal-hal semacam ini,” gumamnya dalam hati.

Fajar masih terdiam, tetapi ia tidak bisa menepis perasaan gelisah yang tiba-tiba menyergap. Ada sesuatu di dalam dirinya yang tidak bisa ia lepaskan begitu saja, seperti bayang-bayang masa lalu yang terus mengikutinya. Sesuatu yang tidak pernah ia hadapi sebelumnya. Kiai Utsman yang melihat Fajar termenung, kemudian dengan lembut mengundangnya untuk mendekat. “Anakku, hidup ini tidak pernah adil. Kadang, kita terjatuh tanpa tahu alasannya, dan seringkali kita berjalan dengan beban yang tidak terlihat. Ruwatan ini bukan hanya tentang menebus kesalahan, tetapi juga memahami dan menerima jalan yang  telah kita pilih.” Fajar merasa ada ketegangan di dalam dadanya. Ia ingin melarikan diri seperti biasanya, ia ingin lari dari semua perasaan dan masalah yang ada di depannya, tetapi malam itu suasana yang penuh hening membuatnya merasa seperti dipaksa untuk menghadapi dirinya sendiri.

Acara ruwatan dimulai dengan doa-doa yang diucapkan dengan penuh pengharapan. Keluarga Bapak Purnomo dan tetangga duduk melingkar si halaman, meletakkan tangan mereka di atas sesaji dan memohon doa kepada Tuhan supaya kehidupan mereka diberkahi. Fajar melihat wajah-wajah penuh harapan dan setiap orang seolah memohon kesempatan kedua. Kini, Fajar diminta berjalan maju, tubuhnya seketika terasa kaku, langkahnya terasa berat, semua mata tertuju padanya. Kiai Utsman menatap mata Fajar dalam-dalam, seolah membaca seluruh perjalanan hidupnya. “Anakku,” ucap Kiai Utsman pelan, “Apa yang kamu cari di kota? Apa yang ingin kamu buktikan?” suaranya penuh kelembutan.

Fajar hanya bisa terdiam. Ia tak tahu harus menjawab apa, yang ia rasakan hanyalah kekosongan dan kesepian. Ia datang ke kota untuk mengejar impian, tetapi tanpa sadar, ia meninggalkan segala sesuatu yang membuatnya utuh. Keluarga, tradisi, dan kebersamaan semua ia korbankan. Kiai Utsman melanjutkan, “Nak, ruwatan ini bukan untuk membersihkan dosa, tetapi untuk membuka mata hati kita. Jika kamu tidak memaafkan dirimu sendiri, maka tak ada jalan yang akan terasa terang. Kehidupanmu bukan hanya tentang apa yang telah hilang, Nak, tetapi juga tentang apa yang datang setelah kamu mulai perjalanan baru.” Fajar hanya tertunduk, ia meresapi betul kata-kata itu. Ada keheningan dalam hatinya yang mulai menggema. Kiai Utsman mulai menyentuh kepala Fajar dengan lembut, memohon supaya kehidupan Fajar dibersihkan dari segala beban batin yang membelenggu. Selama kegiatan ritual itu, Fajar merasakan sebuah ketenangan yang luar biasa, seolah-olah seluruh tubuhnya dibebaskan dari sesuatu yang telah lama mengikat, sesuatu yang ia tak tahu apa, tetapi kini ia merasakannya.

“Saya sudah gagal, Kiai,” Fajar berkata perlahan dengan suara serak. “Semua yang saya lakukan terasa sia-sia.”

Kiai Utsman mengangguk pelan, menyentuh pundaknya. “Kegagalanmu bukanlah akhir, Fajar. Justru kegagalan itu adalah cara kamu menemukan jalan yang lebih benar. Kegagalan itu pintu menuju pembaruan.” Fajar merasakan tubuhnya diliputi oleh hawa panas yang menyentuh kulitnya. Telapak tangan Kiai Utsman menyentuh ubun-ubun kepala Fajar dan terus melantunkan doa-doa. Suara Kiai Utsman sekan menggetarkaan setiap sendi di tubuhnya, membawa kenangan-kenangan lama yang semakin bergejolak dalam hatinya. Keputusan-keputusan yang pernah ia buat, segala hal yang ia tinggalkan demi mengejar mimpi, kini terasa seperti beban yang terlau berat untuk dipikul. Suara doa Kiai Utsman  semakin lama semakin keras, semakin dalam, hingga seolah dunia berhenti berputar.

Setelah ritual selesai, suasana terasa lebih tenang. Malam pun semakin larut, Fajar merasakan ada kedamaian baru yang datang dalam dirinya. Saat ia kembali ke ruang tamu, ia merasa tidak lagi terbebani oleh bayang-bayang kegagalan. Ada sebuah pencerahan, sebuah pemahaman bahwa hidup tidak selalu tentang mencapai semua yang kita inginkan, tetapi tentang bagaimana kita menerima dan mulai berdamai dengan segala kekurangan yang ada. Ia menatap keluarganya yang kini duduk bersama dengan wajah penuh harapan.

“Terima kasih, Pak, Bu,” suara Fajar lembut. “Fajar janji akan belajar untuk menjalani hidup lebih baik lagi,” lanjutnya. Bapak Purnomo dan Siti isterinya mengangguk penuh harap. Mereka tahu, meskipun ruwatan ini tidak menyelesaikan segala hal, tetapi ini adalah langkah pertama Fajar menuju perubahan. Fajar menatap langit malam yang kini penuh bintang. Ia merasa ada kekuatan yang mengalir dalam dirinya, dan untuk pertama kalinya, ia merasa siap untuk menghadapi hidup yang baru. -TAMAT-