Lompat ke isi

Cincin dalam Perangkap

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

"Cincin dalam Perangkap" by Riky Mandai

Di Antara Cinta dan Karat.

Di Antara Cinta dan Karat.

Di atas lantai merah seperti genangan darah senja, tergeletak sebuah cincin yang berkilau bagai janji manis yang pernah dibisikkan di antara detak jantung yang lengah. Batu birunya, bening dan dingin, memantulkan cahaya seperti sepasang mata yang pura-pura setia. Ia berkilat lembut, seolah memanggil tangan yang haus akan cinta untuk meraihnya tak tahu bahwa di balik cahaya itu, rahang baja sudah menganga, sabar namun kejam, menunggu saat untuk menutup dan mengunyah tanpa belas kasih.

Dari kejauhan, kilas bayangan menatap. Ia tak mengedip, seolah tahu bahwa permainan sudah dimulai jauh sebelum langkah kaki awalan. Mungkin ia pernah mengucapkan kata “cinta”, atau mungkin hanya merangkai huruf-hurufnya... untuk menjerat hati yang tak pernah belajar membaca si dusta.

Di ruang gelap ini, cinta tak lagi beraroma mawar; ia berbau besi dan karat. Tak lagi berwarna merah muda, melainkan merah luka. Cincin itu bukanlah lingkar janji suci. Ia adalah umpan yang bersinar di tepi maut, kilau yang menarik jiwa untuk maju, hanya untuk jatuh ke dalam gigi-gigi besi yang siap merenggut segalanya.

Begitulah kadang cinta bekerja.

Terbungkus indah, tapi di dalamnya, rahang runcing terbuka.