Cincing Banca
Senja di kampung Tamamaung selalu punya warna yang berbeda. Hari itu langit jingganya lebih lembut, anginnya lebih ramah, dan aroma tanahnya membawa kenangan.
Di teras rumah panggung Tetta Baso, kami duduk melingkar. Lantunan lagu masa kecil itu kembali mengalun:
"Cincing banca', banca na kubanca'…"
Batu kecil berpindah dari telapak ke telapak, berirama, kadang disertai tawa kecil yang sulit ditahan. Aku, yang duduk merunduk di tengah, mencoba menebak tangan siapa yang menyembunyikan batu itu. Suara teman-teman bercampur dengan desir angin sore, membuatku seolah kembali ke umur sembilan tahun, saat satu-satunya yang kupikirkan hanyalah bagaimana caranya tidak jadi “pesakitan” terlalu lama.
“Cepat tebak, Lim!” seru Mita, sahabat kecilku yang kini sudah jarang pulang kampung.
Aku mengamati wajah mereka, tapi senja membuat semua bayangan memanjang, ekspresi jadi samar. Entah kenapa, yang kurasa hanya hangatnya kebersamaan.
Kali ini aku menepuk tangan Wira. Tepat. Sorakan kecil terdengar, tapi lebih dari itu, aku merasakan sesuatu yang lebih mahal dari kemenangan—rasa yang dulu sering lupa kusyukuri: sederhana, polos, dan penuh tawa.
Matahari perlahan tenggelam di balik pohon kelapa. Lagu Cincing Banca' pun berhenti, digantikan suara jangkrik dan obrolan ringan. Mungkin, suatu hari nanti, saat kami semua sudah dewasa dan sibuk dengan dunia masing-masing, kenangan senja ini akan kembali—membawa rasa rindu yang manis.