Lompat ke isi

Destinasi Wisata Bersejarah di Indonesia/Istana Pagaruyung

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Warisan Budaya Penuh Sejarah: Istana Pagaruyung

[sunting]

Apakah anda pecinta wisata sejarah? dan Anda sedang mencari destinasi wisata untuk liburan berikutnya, maka Istana Pagaruyung adalah salah satu tempat wisata bersejarah yang direkomendasikan.

Istana Pagaruyung tampak depan
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Istano_Rajo_Basa_Pagaruyung.jpg

Lokasi

[sunting]

Istana Pagaruyung terletak di Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Istana ini berjarak sekitar 5 kilometer dari Kota Batusangkar. Transportasi menuju Istana Pagaruyung menggunakan transportasi darat dari Kota Batusangkar. Disarankan menggunakan transportasi "Bendi" yang bisa ditemui dengan mudah di pasar Kota Batusangkar.

Sejarah Singkat

[sunting]

Istano Basa Pagaruyung dahulu merupakan kediaman dari Raja Alam, sekaligus pusat pemerintahan dari sistem konfederasi yang dipimpin oleh triumvirat (tiga pemimpin) berjuluk ‘Rajo Tigo Selo’. Sistem kepemimpinan ini menempatkan Raja Alam sebagai pemimpin kerajaan dengan dibantu dua wakilnya, yaitu Raja Adat yang berkedudukan di Buo serta Raja Ibadat yang berkedudukan di Sumpur Kudus. Kedua wakil ini memutuskan berbagai perkara yang berkaitan dengan permasalahan adat serta agama. Tetapi, jika suatu permasalahan tidak terselesaikan maka barulah Raja Pagaruyung (Raja Alam) turun tangan menyelesaikannya. Bangunan asli dari istana ini awalnya berlokasi di Bukit Batu Patah. Setelah insiden tahun 1804 istana ini didirikan kembali, tetapi terbakar habis pada tahun 1966. Pada 27 Desember 1976 upaya rekonstruksi ulang kembali dilakukan dengan ditandai peletakan tunggak tuo (tiang utama) oleh Gubernur Sumatera Barat saat itu, Harun Zain. Istana ini dibangun kembali di lokasinya yang baru di sisi selatan bangunan asli, yaitu di lokasinya saat ini. Pada 27 Februari 2007, istana ini kembali terbakar akibat tersambar petir. Upaya pembangunan kembali berlangsung antara tahun 2008-2012 dengan menelan dana lebih dari Rp. 20 Miliar. Arsitektur aslinya tetap dipertahankan meskipun sebagian besar peninggalan barang berharga di dalamnya musnah dan hanya tersisa sekitar 15 persen [1].

Arsitektur

[sunting]

Istana Pagaruyung memiliki 3 lantai, yang terdiri dari 72 tonggak dan 11 gonjong atap. Dinding Istana Pagaruyung penuh ukiran falsafah alam dan budaya minangkabau. Pada ruang bangunan istana terdapat anjung atau penaikan lantai pada sisi kanan dan kirinya.

Dari sekian banyaknya tiang, ada 1 tiang yang menonjol berwarna kuning. Tiang itu rupanya tiang pertama di rumah gadang ini. Tiang itu disebut "Tonggak tuo". Kayunya dicari yang paling tua di Negeri Pariangan.

Pada bagian dinding Istana Pagaruyung menjuntai kain-kain yang indah. Kain tersebut merupakan kain adat, dimana ada tiga warna yang paling menonjol dari warna kain yang ada yaitu merah, hitam dan kuning. Ketiga warna itu merupakan warna khas Minangkabau.

Lantai 1 Istana Pagaruyung dinamakan “Anjuang perak” tepatnya di bagian sisi kiri. Kegunaanya yaitu sebagai tempat ibu Suri (Bundo Kanduang) ketika mengadakan rapat. Untuk rapat kewanitaannya digunakan pada langgam pertama. Pada langgam kedua digunakan untuk tempat beristirahat. Pada langgam ketiga digunakan sebagai tempat tidur. Terdapat bagian khusus yang ada di tengah-tengha lantai satu. Bagian tersebut diberi nama sebagai “Singasana”. Bagian tersebut digunakan sebagai tempat kedudukan Bundo Kanduang.

Sisi kanan lantai satu dalam istana ini diberi nama “Anjuang Rajo Babandiang” yang memiliki 3 langgam. Bagian langgam pertama digunakan untuk tempat sidang. Sedangkan untuk langgam kedua digunakan sebagai tempat istirahat. Untuk langgam ke 3 digunakan sebagai tempat tidur para raja beserta permaisuri.

Untuk menaiki lantai 2, Anda akan melewati tangga kayu dengan suara deritan yang cukup keras ketika diinjak. Pengunjung harus berhati-hati ketika melewati tangga. Mekipun tidak terlau tinggi, namun tetaplah haruslah berhati-hati. Suasana di lantai dua cukup memanjang dan lapang, namun lebih kecil dari lantai satu. Di lantai dua tidak terlalu banyak barang-barang atau piranti. Lantai dua diberi nama “Anjungan paranginan”. Artinya sebagai tempat bercengkrama raja bersama putrinya yang sudah berkuarga maupun gadis pingitan.

Lantai ke tiga dari istana Pagaruyung dinamakan sebagai “mahligai”. Bagian ini digunakan untuk menyimpan peralatan kebesaran para raja. Dahulunya, kerajaan menyimpan mahkota ke dalam peti khusus yang diberi nama “aluang bunian”. Lantai 3 memiliki ukuran yang lebih kecil dan dilengkapi dengan satu meja bundar beserta 3 kursi antik.




Referensi

[sunting]
  1. https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/istano-basa-pagaruyung-jejak-kejayaan-konfederasi-luhak-nan-tigo/