Doa Sang Perempuan

Hai, aku seorang perempuan.
Seperti biasa, terdengar suara-suara yang akrab:
"Wahai ibu, kapan anakmu menikah?"
Desakan datang dari nenek, kakek, paman, bibi bahkan teman
"Lalu kamu, kapan menikah?"
Status perkawinan, status sipil!?
Seolah-olah itu menjadi ukuran utama seseorang.
Padahal, siapa yang pernah mewajibkan manusia
harus selalu berpindah dari lajang ke menikah?
Aku heran…
mengapa pertanyaan itu hampir selalu ditujukan pada kami, perempuan?
Seolah pria bebas melanjutkan sekolah,
bebas membangun karier,
sementara perempuan dianggap hanya punya satu pilihan:
menikah, setelah sekolah usai.
Tidak jarang aku mendengar kisah getir:
anak perempuan dinikahkan dini,
lalu diceraikan ketika suaminya memilih wanita lain.
Si pria kembali hidup bebas,
sementara sang perempuan menanggung luka,
mengasuh anak seorang diri,
menanggung nafkah yang semestinya bukan hanya beban satu pihak.
Mengapa harus perempuan yang selalu ditanya?
Mengapa hanya perempuan yang seakan wajib menanggung semua?
Di hatiku, doa ini terucap:
"Ya Tuhan, kuatkan langkah kami memilih jalan sendiri,
mendaki ilmu setinggi mungkin, bekerja dengan hati yang lapang,
mencintai dengan tulus: diri sendiri, atau dia yang pantas,
atau tetap sendiri dalam damai.
Jadikan pernikahan bukan beban,
bukan desakan, melainkan pilihan yang lahir dari kesadaran,
dan tumbuh menjadi kebahagiaan."