Tanah yang Dihormati, Tanah yang Dikhianati/Doa dari Akar
Tomi berdiri mematung di tepi pematang, menatap jauh ke arah pohon beringin tua yang berdiri di tengah lapangan desa. Kabut pagi menggantung rendah, menggigilkan ujung-ujung jarinya yang ia sembunyikan di balik saku jaket. Ada sesuatu tentang tempat itu yang selalu memanggilnya kembali, seakan-akan tanah itu mengenal namanya lebih baik daripada ia mengenal dirinya sendiri.
Sudah lima tahun sejak kepulangan terakhirnya ke desa. Setelah neneknya wafat, tak banyak lagi yang mengikatnya pada tanah ini. Tapi pagi ini berbeda. Ia datang bukan untuk mencari jawaban, melainkan untuk mendengarkan sesuatu yang lebih tua dari pertanyaan.
Di kakinya, dedaunan basah berbisik pelan. Pohon beringin itu masih kokoh, akarnya menjulur seperti tangan-tangan waktu yang menembus bumi. Dulu, neneknya sering berkata, “Di sanalah para leluhur mendengarkan.” Tomi tak pernah benar-benar percaya hingga pagi ini.
Ia melihat seorang perempuan berjalan perlahan dari arah timur. Langkahnya mantap namun penuh kelembutan. Di lengannya, tergantung sebuah bakul anyaman berisi kembang setaman, beras kuning, dan seikat dupa. Wajahnya tak asing, meski waktu telah menorehkan garis-garis halus di sana.
Itu Mbok Rahayu, tetua adat yang dulu sering datang ke rumah mereka setiap malam Jumat. Dulu Tomi menganggapnya hanya bagian dari tradisi yang perlahan memudar. Tapi sekarang, di tengah kabut dan sunyi pagi, langkah perempuan itu terasa seperti bagian dari sesuatu yang tak terputus.
Di bawah pohon beringin, Mbok Rahayu berlutut, mengatur sesaji dengan tenang. Tomi berdiri tak jauh, diam. Menyaksikan, mendengarkan.
Tomi masih berdiri. Matanya tak lepas dari asap dupa yang perlahan menjulang, melilit langit dengan tenang. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa tak perlu bertanya tentang makna. Segalanya cukup. Kabut yang turun, akar yang menjulur, langkah yang menyusuri setapak batu bata. Semuanya seperti puisi yang tubuhnya pahami lebih dulu daripada pikirannya.
Ia mendekat, tak berkata apa-apa. Mbok Rahayu menoleh, tersenyum, lalu memberinya sejumput beras kuning.
“Sudah waktunya kau ikut menabur doa, Tomi,” katanya lirih.
Tomi masih mematung. Entah dia mendengarkan perkataan Mbok Rahayu atau memikirkan sesuatu hal yang lain
Tomi menerima sejumput beras kuning itu dengan ragu. Telapak tangannya terbuka perlahan, seolah takut menjatuhkan sesuatu yang lebih berat dari sekadar butiran padi. Mbok Rahayu mengangguk pelan, lalu kembali menunduk, menyatukan tangan di depan dada.
“Taburkan di sisi timur pohon, dengan hatimu.”
Tomi melangkah pelan. Setiap jejaknya seperti mengetuk pintu waktu. Ia berjongkok, menatap akar beringin yang tampak seakan sedang bernafas, lalu menaburkan beras dengan gerakan sederhana namun dalam. Tangannya gemetar sedikit, bukan karena dingin, tapi karena kesadaran yang tiba-tiba tumbuh dari dalam dirinya: bahwa ini bukan hanya tentang sesaji, tapi tentang penghormatan, tentang menyambung yang sempat ia putuskan sendiri.
Seketika, angin bergerak perlahan. Dupa menari dalam aromanya, dan daun-daun tua bergoyang seperti mengangguk.
Mbok Rahayu menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Leluhur tak pernah benar-benar pergi. Mereka hanya menunggu kita berhenti membelakangi.”
Tomi menarik napas dalam. Di benaknya, wajah neneknya terbayang jelas—senyum yang hangat, tangan yang keriput namun selalu teguh saat mengusap kepalanya setelah shalat, lalu suara serak yang mengajaknya bicara tentang hal-hal yang dulu ia anggap sepele: waktu, tanah, angin, dan ucapan terima kasih kepada yang tak terlihat.
“Apa aku terlambat?” tanyanya pelan.
Mbok Rahayu menggeleng. “Tidak. Justru sekarang kau datang ketika dunia nyaris kehilangan pemiliknya.”
Perkataannya membuat dada Tomi sesak. Ia mengerti maksudnya. Desa yang dulu hijau kini mulai berubah. Tanah-tanah mulai dijual, suara mesin menggantikan desir bambu. Sungai kecil tempat ia biasa mandi kini menyempit, alirannya tersumbat oleh limbah. Orang-orang berbicara tentang kemajuan, tetapi tak satu pun menyebut keseimbangan.
“Orang-orang tak lagi percaya doa,” gumam Tomi.
Mbok Rahayu hanya menatap langit, lalu berkata, “Tapi tanah masih mau menerima air mata kita, kalau kita masih mau menangis bukan karena takut kehilangan, tapi karena sadar telah menyakiti.”
Tomi menunduk. Ia merasa seolah sedang mendengarkan bumi itu sendiri.
Tiba-tiba, dari balik kabut, suara langkah terdengar. Seorang anak kecil—lelaki berumur sekitar sepuluh tahun—datang membawa dupa lain dan sekantong bunga. Ia tersenyum pada Tomi, lalu duduk di sisi Mbok Rahayu.
“Namanya Gani,” ujar Mbok Rahayu. “Ia cucu Pak Darmin. Satu dari sedikit anak muda yang masih mau belajar tentang lelaku.”
Gani menoleh, lalu bertanya pada Tomi, “Abang mau ikut lagi minggu depan? Kita akan bersih-bersih di sungai kecil. Mbok bilang itu juga bagian dari doa.”
Tomi menatap mata Gani yang jernih. Di sana, ia melihat harapan kecil yang belum dikaburkan dunia. Ia mengangguk.
“Ya. Abang akan ikut.”
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa kepulangannya bukan hanya untuk mengenang. Tapi untuk menjaga.
Dan di bawah pohon beringin yang sudah menua, tiga generasi duduk bersama. Kabut mulai terangkat, dan cahaya matahari pagi menyusup pelan, menyinari tanah yang telah menyimpan doa-doa lama—dan kini, mungkin, sedang membuka ruang bagi doa yang baru.
Beberapa hari setelah pertemuannya dengan Mbok Rahayu dan Gani, Tomi mulai sering datang ke lapangan beringin. Ia ikut membantu bersih-bersih sungai kecil, menanam kembali beberapa pohon yang ditebang, dan mencatat cerita-cerita lama yang mulai pudar dari ingatan warga. Namun, semakin dalam ia terlibat, semakin jelas pula retakan yang selama ini ditutup kabut.
Suatu sore, saat Tomi dan Gani sedang membersihkan parit di pinggir desa, suara deru truk besar menggema di kejauhan. Gani langsung diam, wajahnya mengeras.
“Itu mereka,” katanya pelan. “Yang katanya mau bangun perumahan.”
Tomi mengernyit. “Di mana?”
“Di belakang pohon beringin. Katanya tanah adat itu sudah dijual.”
Tomi tercekat. “Siapa yang jual?”
Gani menggeleng. “Katanya tanah warisan desa. Tapi yang tanda tangan cuma tiga orang.”
Malam itu, Tomi duduk bersama beberapa warga di bale desa. Ketegangan terasa pekat. Ada yang setuju pembangunan dilakukan karena “desa butuh maju”, tapi tak sedikit pula yang menolak. Pohon beringin yang menjadi pusat tradisi lelaku justru akan ditebang demi membuka jalan utama ke kompleks elite. Sesaji dianggap “klenik”, dan suara tetua seperti Mbok Rahayu mulai dikalahkan oleh suara uang.
“Apa kita akan buang begitu saja tempat di mana leluhur kita meletakkan doa-doa?” seru Mbok Rahayu dengan suara bergetar.
“Zaman berubah, Mbok,” kata seorang lelaki muda berkemeja rapi. “Kita juga harus ikut berubah. Lagi pula, pembangunan itu bawa lapangan kerja.”
Tomi berdiri. Untuk pertama kalinya, ia bersuara lantang.
“Pembangunan yang tak menyisakan ruang untuk akar budaya dan alam, bukan kemajuan. Itu penggusuran perlahan terhadap identitas kita sendiri.”
Beberapa orang memandang sinis, tapi sebagian tampak terdiam, terguncang.
Keesokan paginya, kabut datang lebih tipis dari biasanya. Tapi suara mesin terdengar lebih keras. Truk mulai meratakan tanah. Seorang pria dengan helm putih berdiri, menunjuk-nunjuk pada peta lokasi. Seutas tali merah dipasang, melingkari pohon beringin.
Tomi berlari. Ia berdiri di hadapan pohon itu, tubuhnya menghalangi garis tali merah.
“Ini bukan sekadar pohon. Ini batas antara kita dan amnesia.”
Para pekerja bingung. Beberapa warga mulai berdatangan. Di antara mereka, Gani muncul membawa sesaji dan dupa. Mbok Rahayu berdiri di belakangnya. Mereka menata sesaji di bawah pohon, seperti hari pertama Tomi datang. Tapi kali ini, di hadapan truk dan peta proyek.
Seseorang dari perusahaan maju. “Kami punya izin, Pak. Legal semua.”
Tomi menatapnya. “Izin boleh sah di atas kertas. Tapi tak semua yang sah, benar.”
Hari itu, tak ada yang menyentuh pohon beringin. Tapi tekanan meningkat. Beberapa warga mulai dipecah dengan amplop. Yang dulu satu suara, kini saling mencurigai.