Lompat ke isi

Dokter Sofia

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Oleh jurnalwawan

Pagiku sering terbuat dari kecemasan. Sekurang-kurangnya pada minggu-minggu ini, atau barangkali jauh sebelum itu. Adi kembali dari Jepang, dan mulai mendekat padaku lagi. Juga mendekati Wan, putraku satu-satunya. Niat Adi tentu saja bisa ditebak, adalah untuk mencari perhatian dan supaya putraku yang berusia sepuluh tahun tersebut bisa menerimanya.

Adi mulai rutin mengantar Wan ke sekolah, dan menjemput pulangnya. Pada saat-saat tertentu memang sangat membantu aku yang sibuk. Tetapi, kecemasan itu tidak bisa ditepis datangnya. Bukan soal kepercayaan aku kepada Adi. Aku percaya. Hanya saja, ah, bagaimana aku mengatakan ini?

“Perceraian bukanlah segalanya, Dokter Sofia.”

Itu kata dokter Ina, teman kerjaku di poli. Barangkali karena merasakan bahwa aku telah lebih pendiam semenjak berpisah dari Gari. Kami bercerai enam bulan yang lalu.

Aku memang belum sepenuhnya pulih dari bayang-bayang musibah rumah tangga itu.

Tetapi ini bukan tentang Gari. Ini tentang Adi.

Aku memperlihatkan senyum yang tegar kepada dokter Ina, dan kemudian ia berbicara lebih lanjut.

“Kamu masih muda,” katanya.

“Iya, Dok. Aku tahu.”  Usia di bawah 35 tahun masih terbilang muda untuk seorang janda sepertiku.

Percakapan kami terhenti beberapa saat begitu seorang pasien masuk ke poli. Dokter Ina mengambil alih pasien tersebut. Aku masih duduk di meja sembari memikirkan kalimat yang tepat untuk mulai bercerita. Mungkin ia punya saran kepadaku.

Aku sudah berusaha untuk tidak menceritakan ini kepada siapapun, tetapi kebingunganku kian hari kian tidak menemui jawaban. Kecemasan-kecemasan itu seperti berjalan sendiri di tengah kegelapan, dan menumpuk di kepalaku. Semuanya berhasil menguras konsentrasi sehingga khawatir berdampak kepada caraku melayani pasien.

“Apa lagi yang harus kamu pikirkan?” respon dokter Ina dengan cepat begitu akhirnya kukatakan bahwa seorang lelaki mendekatiku. “Kamu bebas memilih. Kalau orangnya baik dan mau menerimamu dan anakmu, kenapa tidak?”

“Orangnya baik, tapi—”

“Mulailah membuka diri untuk hati yang baru,” potongnya.

“Tidak sesederhana itu,” kataku.

“Memang. Tapi, yang penting, kamu harus beranjak dari masa lalumu. Kamu berhak untuk bahagia di masa depan.”

“Adi itu juga bagian dari masa laluku.”

“Oh ya? Namanya Adi?” Mata dokter Ina menunjukkan tanda-tanda yang sangat antusias. Aku jadi menyesal menyebut nama Adi. “Bagaimana ceritanya?” sambungnya lagi. “Kenalin dong kapan-kapan.”

Aku merengut dan menghindar. Belum siap untuk menjelaskan bagian yang itu kepadanya.

**

“Ibu, Om Adi belikan aku mainan ini.”  Wan berlari menghampiriku setiba di rumah. Ia memamerkan mobil remote kontrol dengan wajah girang.

Usaha Adi tidak surut sedikit pun.

“Om Adi sudah pulang?” aku bertanya untuk memastikan. Beberapa kali Adi tinggal sampai sore untuk menemani Wan. Aku selalu merasa tak nyaman setiap begitu. Bukan apa-apa, hanya takut jika menimbulkan fitnah bagi tetangga di sekitar.

Dan yang paling penting, kehadiran Adi membuatku selalu tak tahu ingin berbuat apa. Ini yang sangat mencemaskan.

“Sudah pulang,” kata Wan. “Tapi, nanti mau datang lagi katanya.”

“Mau datang lagi?” aku terkaget.

Adi memang benar datang beberapa saat kemudian. Aku salah tingkah dibuatnya. Kubiarkan ia sendiri menemani Wan bermain di teras.

Setelah mandi sore, aku merasa tak enak jika tidak bercakap-cakap barang sejenak dengan Adi. Biar bagaimana pun aku tetap harus berterima kasih kepadanya karena sudah memberi perhatian untuk anakku.

Kuperhatikan Adi dan Wan sangat kompak. Mereka tampak benar seperti ayah dan anak. Aku jadi bertanya-tanya apakah Wan akan bisa menerima Adi sebagai ayah tirinya. Eh, seharusnya yang jadi pertanyaan, apakah aku bisa menerima Adi sebagai suamiku?

Sangat rumit.

“Aku tidak pernah berdoa supaya kamu bercerai dengan Gari. Tapi aku tidak bisa sama sekali mengubur harapan untuk tetap bisa memilikimu, Sofia. Inilah momen yang tepat. Tuhan sudah merencanakan ini dengan sebaik-baiknya. Aku harap kamu akan menerimaku,” Adi berkata tempo hari. Kalimat itu masih sering terdengar di telingaku.

“Mana bisa? Tidak bisa,” ungkapku.

“Kamu sudah bercerai. Aku masih mencintaimu. Bukankah cintamu juga tidak pernah benar-benar hilang?”

“Jangan ungkit masa lalu, Adi. Itu akan membuatku semakin terluka. Aku bersedih dengan perceraianku. Lagi pula, kita tetap saja tidak bisa—”

“Aku akan tetap menunggumu,” kata Adi kala itu.

Wan tiba-tiba menarik tanganku untuk mendekat ke Adi, membuatku terkesiap.

“Ayo kita selfie dengan mobil-mobil baru ini,” ucap Wan. Anak SD sekarang pun sudah familiar dengan  selfie. Ia segera meraih ponselku untuk dipakai memotret.

Aku sungguh grogi. Ini kali pertama, setelah sekian lama, aku berfoto lagi dengan Adi. Foto-foto kami sebelumnya sudah aku bakar sebelum menikah dengan Gari. Namun, kali ini terasa sangat berbeda. Wan berdiri di tengah-tengah aku dan Adi. Jika orang-orang melihat, ini akan sungguh tampak seperti ‘suami-istri-anak’. Tuhan, apa yang sedang terjadi?

**

Bagi Adi, aku adalah kisah yang tak sampai. Bagiku, ia adalah kisah yang sudah berakhir. Kami pernah menulis rencana untuk menikah. Dulu. Namun, rencana itu hanya menjadi tulisan di udara. Sudah hilang disapu angin ke angkasa.

Aku pernah mengalami masa-masa memperjuangkannya. Tetapi, ia sendiri yang tak sanggup bertahan. Kendatipun, tepatnya, ia tetap berusaha meski selalu berharap pada uluran waktu. Apa yang bisa diharapkan dari waktu?

“Aku harap kamu mengerti. Kuliahku saja belum selesai-selesai. Belum lagi soal pekerjaan nanti,” katanya ketika itu. Memasuki tujuh tahun kuliahnya, Adi belum sarjana, sementara aku sudah meraih gelar dokter.

“Kamu seharusnya fokus.” Saat itu hubunganku dengan Adi memang sudah berada pada titik renggang. Ia mulai jarang lagi memberi perhatian dan lebih sibuk pada dunianya sendiri.

Ketika akhirnya, sewaktu dulu, ia sungguh-sungguh datang ke rumahku, Adi sama sekali tidak membawa harapan yang meyakinkan untuk bisa memilikiku. Ia bilang masih sedang merintis bisnis—setamatnya kuliah—belum punya apa-apa. Orang tuaku tidak yakin, dan ia lebih tidak yakin kepada dirinya sendiri.

Aku sebetulnya enggan mengingat-ingat hal ini lagi. Singkat cerita, Adi merantau ke Jepang tanpa kepastian. Dan Gari, temanku di kedokteran, datang dengan penuh keyakinan. Orang tuaku senang sekali. Aku belum pernah melihat ayah dan ibuku sebahagia hari itu. Aku menerima Gari akhirnya.

Meski kami satu kampus ketika kuliah, Gari tidak pernah tahu kalau aku dan Adi pernah saling mencintai. Bukan hanya karena kami beda jurusan, tetapi memang karena aku dan Adi punya tipe yang sama: tidak senang mengumbar-umbar hubungan asmara. Kalau Gari tahu, mana mungkin ia akan menikahiku?

Di Jepang, Adi tahu pernikahan kami. Ia kaget bukan main dan berjanji tidak akan kembali ke Indonesia lagi.

“Kenapa kamu setega ini, Sofia?”

Aku masih mengingat kalimatnya lewat telepon saat itu.

“Kamu yang pergi tanpa kejelasan,” kataku.

“Tapi kenapa harus Gari?”

“Karena ia mencintaiku. Dan aku rasa, aku tidak akan merasa kehilanganmu ketika bersama Gari.”

Dan rupanya ia pulang sebab mendengar kalau aku dan Gari sudah bercerai.

“Kenapa tidak menikah dengan perempuan lain saja?” aku bertanya. Adi masih di rumahku sampai malam. Ia menungguku untuk bicara berdua setelah beberapa pasien datang untuk diperiksa di ruang praktekku. Wan sudah kusuruh masuk ke dalam untuk belajar dan tidur.

“Aku tidak bisa, Sofia.”

“Kamu yang sengaja tidak bisa.”

Aku tidak habis pikir apa yang ada di dalam benak Adi. Ia masih mengharapkanku setelah bertahun-tahun yang lewat ini.

“Ya benar. Aku yang sengaja. Karena hatiku yang memintanya demikian,” ungkapnya.

Orang banyak berkata bahwa laki-laki selalu mengedepankan rasionalitas. Hanya perempuan yang selalu mengandalkan perasaan. Namun, tampaknya tidak berlaku kepada Adi. Ia sungguh tidak rasional.

“Kita tidak bisa, Adi. Kamu terlambat. Kita sudah terlambat. Tidak ada lagi harapan.” Hatiku sampai berdesir setelah berkata begitu. Aku tahu, hatiku berikutnya akan menjadi sepi kembali. Kehilangan akan mendekat lagi. Tetapi, kenyataan telah berbicara. Waktu sudah bicara.

Setidaknya, aku pun pernah berharap untuk memiliki Adi.

**

Dokter Ina kaget ketika kuberitahu masalah ini.  Sebelum kujelaskan, ia berkata bahwa aku dan Adi cukup serasi untuk menjadi sepasang kekasih setelah melihat fotoku bertiga bersama Adi dan Wan. Tetapi, segera saja ia menarik kembali ucapannya itu.

“Kamu harus menghindarinya, Dokter Sofia.”

“Bagaimana caranya?” aku berkata.

“Mantan suamimu sudah tahu ini?”

“Belum. Bahkan Adi  juga belum pernah bertemu dengan Gari selama di Indonesia. Dia hanya pernah meneleponnya sekali untuk memberi kabar.”

Dokter Ina berpikir sejenak. Banyak penyakit telah kami obati. Namun, penyakit asmara seperti ini sungguh rumit diatasi. Bertahun-tahun di fakultas kedokteran sama sekali tidak dipelajari.

“Tapi, sebelum itu, kamu harus pastikan untuk menepis semua perasaanmu kepada Adi,” katanya.

Semula aku mengira bahwa jejak-jejak cinta bersama Adi di masa lalu bisa terhapus setelah aku memutuskan untuk mencintai dan menikahi Gari. Ternyata tidak. Jejak-jejak cinta itu hanya menghilang sesaat dan muncul kembali begitu bertemu dan dekat lagi dengan Adi. Aku sungguh tidak tahu diri. Kesadaran terhadap sesuatu memang akan timbul ketika kita telah mengalaminya.

Namun, setelah kupikir, Adi juga tak kalah tak tahu dirinya. Ia seharusnya tak menemuiku lagi.

**

“Apa kamu menyesal menikah dengan Gari?” Adi berkata.

Aku enggan menjawab.

“Atau apa kamu menyesal bercerai dengannya?”

Apakah ada orang yang menyesali telah mencintai seseorang? Kupikir tidak ada. Atau katakanlah jarang.

 Cintaku kepada Gari sudah tumbuh sejak ia melamarku, kemudian terus berkembang dan berakar setelah kami menikah dan mempunyai seorang anak. Kurasa, Adi tidak mengerti itu.

Tetapi, perceraian menjadi tidak bisa dihindari ketika aku dan Gari sudah mulai tidak sejalan dalam banyak hal.

“Sebaiknya kamu berhenti saja kerja di rumah sakit,” tegur Gari suatu hari saat Wan bertengkar di sekolahnya. Aku sebagai ibu dianggap tidak becus. Sebelum-sebelumnya, aku dan Gari sudah terlibat perdebatan-perdebatan panjang. “Kamu di rumah saja, urus anak.”

Aku bantah bahwa aku juga ingin mengabdikan ilmuku sebagai seorang dokter. Menjadi dokter di rumah sakit adalah cita-citaku sejak kecil, dan impian seluruh keluargaku. Bagaimana mungkin aku akan berhenti?

“Kita kan juga buat tempat praktek di rumah. Kamu tetap bisa berprofesi sebagai dokter.”

Pertengkaranku dengan Gari kian meruncing ketika aku malah berniat untuk sekolah lagi mengambil spesialis. Singkatnya, kami bercerai.

**

“Ibu, apa Om Adi akan jadi ayah baruku? Ibu akan menikah dengan Om Adi?” Wan bertanya.

Aku menyuruh dia untuk segera masuk tanpa menjawabnya. Malam sudah kian pekat di luar.

“Dari mana saja? Jangan membawa Wan sampai larut seperti ini,” kataku kepada Adi dengan agak jengkel. “Dan apa yang sudah kamu katakan kepadanya?”

           “Aku hanya minta pendapat bagaimana kalau kita menikah.” Adi berkata dengan tenang. Ia sepertinya menganggap hal ini sebagai sesuatu yang sepele. “Aku akan melakukan apa saja supaya kita menikah, Sofia. Lihatlah, aku sekarang laki-laki yang sukses,” imbuhnya lagi. Adi sungguh-sungguh bekerja keras untuk membangun bisnis di Jepang. Ia hanya ingin membuktikan bahwa dirinya bukan pecundang seperti dulu. “Aku tidak akan seperti Gari yang memintamu berhenti jadi dokter.”

           Kupandang Adi di bawah malam itu, dua bola matanya memancarkan ketulusan.

           “Tidak mungkin,” lirihku.

           “Apa yang tidak mungkin?”

           “Sebaiknya kamu temui Gari. Pergilah. Tidak usah terlalu sering ke sini.” Aku menghela dalam-dalam setelah mengatakan itu.

           Cahaya bulan menyinari punggung Adi yang menjauh. Kutahan mataku untuk tidak meneteskan air yang asin. Kami sama-sama adalah manusia yang menyedihkan.

**

           Kali ini pagiku terbuat dari ketakutan. Ayah Wan datang ingin menjemputnya. Sudah lama mantan suamiku itu tidak bertemu dengan anaknya. Meski hak asuh anak jatuh kepadaku, aku tidak pernah menghalangi-halangi Gari untuk menemui Wan.

           “Jangan pernah cerita tentang Om Adi kepada ayah,” bisikku ke telinga Wan. Ia mengangguk. Semoga saja ia bisa diandalkan. Dan semoga saja Adi tidak datang ke rumah hari ini.

           Ketika baru saja aku ingin menelepon Adi, rupanya mobil merah miliknya sudah merapat di depan pagar. Aku terlambat.

           Kulihat Gari cukup terkejut dengan kedatangan Adi. Mereka sama-sama terkejut. Namun, tak lama mereka saling berangkulan.  

           Aku tertegun. Tubuhku mendadak dingin bagai tak tersentuh hangatnya matahari pagi.

           “Kenapa kamu bisa ke sini?” Gari bertanya kepada Adi. Adi menoleh kepadaku. Aku berpaling ke bunga-bunga.

           “Bisakah aku menikah dengan Sofia?” Kudengar Adi berkata tanpa basa-basi.

           Aku kian menggigil.

           “Apa? Kau mau menikahi mantan istri saudaramu sendiri?”

           Aku bergegas masuk ke rumah. Aku menelepon dokter Ina untuk segera ke rumahku. Aku pasti sakit setelah ini.