Eksplorasi Ragam Budaya Sulawesi Selatan/Kabupaten Enrekang
Mengenal Lebih Dekat Budaya Massenrempulu
[sunting]Indonesia merupakan negara yang kaya dengan khazanah budaya yang semestinya harus tetap dilestarikan. Sulawesi Selatan merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki kekayaan budaya yang berlimpah dengan beragam keunikan, kekhasan dari setiap tradisi. Di Sulawesi Selatan yang didominasi oleh suku Bugis Makassar, syukuran akikah sangat kental dengan makna yang terkandung dari setiap proses ritual tersebut. Secara umum, kita dapat memahami bahwa kearifan lokal adalah pengetahuan yang dikembangkan oleh para leluhur dalam mensiasati lingkungan hidup sekitar mereka, menjadikan pengetahuan itu sebagai bagian dari budaya dan memperkenalkan serta meneruskan itu dari generasi ke generasi. Beberapa bentuk pengetahuan tradisional itu muncul lewat cerita-cerita, legenda-legenda, nyanyian-nyanyian, ritual-ritual, dan juga aturan atau hukum setempat. Suku bugis dan Makassar merupakan suku yang terbanyak di Sulawesi Selatan. Salah satu kegiatan syukuran yang biasa dilakukan yaitu syukuran hakikah yang mana masih sangat kental dengan makna kelangsungan dalam upaya penyelamatan di sekitar masyarakat dan mengandung pappasang atau pesan moral sebagai investasi jangka panjang untuk setiap generasi selanjutnya. Masyarakat menyakini bahwa sebuah tradisi harus dilakukan agar kelak kelahiran sebuah generasi baru tidak merusak atau membebani alam sekaligus menjaga tradisi gotong royong dan memelihara kekerabatan. Maka dari itu, dapat diketahui bahwa kearifan lokal adalah pemahaman yang disebar oleh para leluhur dalam menjaga lingkungan hidup sekitar mereka, dan menjadikan bahwa sebuah tradisi dari para leluhur harus dilestarikan agar kelak para generasi selanjutnya dapat memahami arti sebuah tradisi. Di Indonesia, ritual aqiqah ini kerap dipadukan dengan tradisi dan kearifan lokal sehingga menjadi sebuah peristiwa yang menarik dan penuh makna.
Salah satu ritual yang unik dan menarik adalah acara ritual tradisi Maccera Pea di desa Paladang atau lebih umum disebut dengan akikah. Tidak dapat dipungkir bahwa dalam kehidupan beragama manusia memiliki tradisi dalam segalam tindakan beragama [1]. Salah satu hal yang wajib dilakukan dalam agama Islam ketika lahirnya seorang anak yaitu aqiqah. Ini merupakan acara adat yang melambangkan rasa syukur siempunya hajat kepaada Tuhan. Ritual ‘Maccera Pea’ dilakukan setiap kali ada kelahiran bayi baru dalam setahun dan terdiri dari berbagai bentuk sesuai dengan kebutuhan momentumnya serta berhubungan dengan perjalanan hidup manusia yakni kelahiran, perkawinan dan kematian. Penyelenggaraan Maccera Pea ini pada dasarnya memiliki keterkaitan erat dengan aspek religi (agama) secara vertikal serta hubungan sosial kemasyarakatan dalam arti luas. Dari sudut pandang religi (agama) prosesi Maccera Pea dipandang sebagai medium penghubung antara kehidupan manusia yang nyata dengan sang pencipta (dunia gaib). Pada Aspek sosial, tradisi maccera pea memiliki multifungsi baik fungsi sosial, agama, ekonomi dan aspek-aspek kehidupan lainnya sekaligus memiliki kandungan makna yang sangat penting.
Referensi
- ↑ Marhani, M. (2018). Nilai Budaya Mappano’ Dalam Pelaksanaan Aqiqah Pada Masyarakat Bulisu Kecamatan Batulappa. Al-MAIYYAH : Media Transformasi Gender Dalam Paradigma Sosial Keagamaan, 11(1), 1–29.