Lompat ke isi

Eman

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Penulis

[sunting]

Naskah lakon (drama) ini ditulis oleh Putri Nurul Azizah, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Jember.

Sinopsis

[sunting]

Kepulangan seorang lelaki muda di sebuah desa membuat warga bahagia. Banyak dari warga berharap semua permasalahan dapat diselesaikan oleh seorang sarjana hukum tersebut. Namun, selama di desa, dia hanya berkumpul dengan orang-orang janger setiap malam. Orang tua lelaki itu menjadi marah. Harapan mereka pupus karena melihat anak lelakinya malah berkutat pertunjukan tidak berguna. Orang tua lelaki itu menyekolahkan anaknya hingga sarjana berharap dapat menaikkan derajat mereka. Tetapi, anak semata wayangnya malah menikmati masa-masanya di pertunjukan. Orang tua lelaki itu melarang anaknya untuk keluar. Selain menganggap tidak berguna, paman lelaki itu dulu meninggal karena terlalu laris di pertunjukan janger. Setelah pertengkaran hebat, ayah lelaki itu ambruk. Ibunya berpikir, ayahnya juga sudah kena santet.

Tokoh

[sunting]

1.    Lelaki muda: Lelaki muda, umur 23 tahun, penampilan anak muda pada umumnya.

2.    Apak: Lelaki umur 55 tahun, tubuh tambun.

3.    Emak: Wanita umur 50 tahun, tubuh kurus dan kecil.

4.    Lelaki paruh baya: Lelaki umur 45 tahun.

5.    Lelaki lain: Lelaki umur 25 tahun.

6.    Pria 1: Lelaki umur 35 tahun.

7.    Pria 2: Lelaki umur 30 tahun.

BABAK I

[sunting]

ADEGAN 1

[sunting]

CAST:

Lelaki muda

Lelaki paruh baya

Lelaki lain

Panggung terang. Di tengah panggung terdapat gubuk beratap daun pohon kelapa yang biasanya digunakan oleh warga desa untuk beronda. Musik menggambarkan kondisi desa di pagi hari. Seorang lelaki masuk panggung. Dia membawa koper. Pakaiannya rapi. Terlihat mencolok di sebuah desa kecil. Lelaki itu terlihat bahagia. Kerinduannya untuk pulang terobati. Dia melihat-lihat desanya. Lalu, memutuskan duduk di gubuk tersebut. Dia mengeluarkan vape. Asap mulai keluar dari mulutnya. Lelaki itu sangat menikmatinya.

1.    Lelaki muda: Sudah lama tidak mencium tanah ini. Biasanya, setiap pagi aku selalu duduk di pinggir sawah. Lalu siangnya duduk di sini, bersama teman-teman. Ah, bagaimana ya kabar mereka? Seharusnya aku sudah punya banyak keponakan dari mereka (terkekeh geli).

Lelaki itu berdiri, memandang ke arah sisi kiri panggung. Dia mengamati dengan sangat serius. Lalu, menggelengkan kepalanya.

2.    Lelaki muda: Waduh (memukul jidatnya), kok masih sama saja. Sudah ditinggal empat tahun. Presiden hampir ganti, jalan kok masih rusak. Siapa yang salah kalau seperti ini?

Seorang lelaki paruh baya masuk ke panggung. Dia membawa keranjang ayam yang sudah tidak ada ayamnya. Wajahnya terlihat sedih. Akan tetapi, setelah melihat orang yang ada di depannya, wajahnya menjadi ceria.

3.    Lelaki paruh baya: Eh, Lik![1] Kapan datang? Kari lawas, ya[2] tidak pernah ketemu.

4.    Lelaki muda: Bagaimana kabarnya, Man?[3] (lelaki muda itu menjabat tangan lelaki paruh baya dan mencium tangannya)

5.    Lelaki paruh baya: Waras, Alhamdulillah. Byek![4] banyak sekali barang-barangnya (mengintip koper lelaki muda, raut wajahnya berharap mendapat oleh-oleh).

6.    Lelaki muda: Ndak banyak, hanya pakaian saja.

7.    Lelaki paruh baya: Oalah (terlihat kecewa). Dapat gelar apa sekolah empat tahun?

8.    Lelaki muda: S.H, Man. Sarjana Hukum.

9.    Lelaki paruh baya: Byek! Tepak iki wis[5]. Tolong bantuin pamanmu ini untuk mengurus beberapa tanah sengketa milik bapakku, ya. Di sini tidak ada yang bisa mengurus itu. Kalaupun ada, jauuuuh sekali. Belum tentu diterima, sudah rugi duluan. Kalau tidak segera kuurus, eman sekali[6]. (sedikit berbisik) Paman lagi ndak punya banyak uang. Ayam kesayanganku harus kujual. Lihat ini! (menunjuk tas ayamnya yang kosong). (nada bicaranya kembali normal) Untung kamu pulang cepat (terkekeh).

10.   Lelaki muda: Eee … eee … coba nanti saya pikirkan ya, Man.

11.   Lelaki paruh baya: Halah, sudah. Tidak usah banyak berpikir. Minggu depan aku datang ke rumahmu ya. Salam buat apak dan emakmu! (lelaki paruh baya keluar panggung dengan bahagia).

12.   Lelaki muda: Pekerjaan saja belum dapat, tiba-tiba disuruh ngurus tanah sengketa. Kelendi karepe?[7]

Seorang lelaki lain muncul. Dia terlonjak melihat lelaki muda itu ada di desanya. Lelaki lain ini langsung memeluknya.

13.   Lelaki lain: Waduh, kangen banget sama kamu. Pulang kok ndak kabar-kabar? (sembari melepaskan pelukannya).

14.   Lelaki muda: Gilani[8]. Aman aja, ini baru sampai kok. Gimana kabar kamu?

15.   Lelaki lain: Sehat-sehat. Masih sama kayak dulu. Ndak banyak yang berubah. Aku, kami, desa ini.

16.   Lelaki muda: Iya, memang. Aku melihatnya.

17.   Lelaki lain: Bedanya orang-orang sudah bisa pakai gawai sekarang.

18.   Lelaki muda: Nenekmu juga?

19.   Lelaki lain: Ya using, Lik.[9]

20. Lelaki muda: Siapa tahu kamu ajari.

21. Lelaki lain: Ndak ah. Gini-ginio aku ndak berani durhaka sama mbah. Ya masa tak suruh mandi lumpur.

22. Lelaki muda: Bukan aku lho yang bilang begitu.

23. Lelaki lain: Iya, hanya mengutarakan kejadian di luar sana. Oh iya, belajar apa di sana?

24. Lelaki muda: Banyak.

25. Lelaki lain: Pasti habis ini kamu bakal didatangi banyak orang buat minta tolong.

26. Lelaki muda: Sudah barusan.

27. Lelaki lain: Hahaha …

28. Lelaki muda: Oh iya, kamu masih aktif di janger[10]?

29. Lelaki lain: Masih. Kenapa?

30. Lelaki muda: Kayaknya aku mau main-main ke sana.

31. Lelaki lain: Datang saja. Tidak perlu sungkan. Bebas di sana. Bebas bersuara, bebas ini itu. Semuanya bebas.

32. Lelaki muda: Baiklah. Kalau tidak lusa, mungkin tiga hari lagi.

33. Lelaki lain: Santai saja. Kamu tidak mau pulang? Apa kamu lupa jalan pulang? Mari kuantar.

Kedua lelaki tersebut keluar panggung dengan bercakap-cakap. Lampu padam.

ADEGAN 2

[sunting]

CAST:

Lelaki muda

Lelaki lain

Pria 1

Pria 2

Panggung terang. Di tengah panggung terdapat tiga pria yang sedang bercakap-cakap santai. Mereka duduk di sebuah teras sanggar janger sembari meminum kopi dan merokok. Di atas panggung sanggar tertulis nama “Setyo Budhoyo”. Tak lama kemudian, muncul lelaki yang lebih muda dari mereka. Dia berpenampilan lebih rapi daripada lainnya.

34.   Lelaki lain: Nah, akhirnya datang juga, tamu kebesaran kita.

35.   Pria 1: Duduk sini duduk.      

36.   Pria 2: Mau apa? Kopi? Teh?

37.   Lelaki muda: Kopi bain, Lik.[11]

38.   Pria 1: Byek! Magih ana bain usingane.[12]

39.   Lelaki lain: Yara hing kacang lali kulite.[13]

40.   Lelaki muda: Wajib kalau itu. Tinggal di kota apa harus jadi orang kota yang lupa dengan tanah kelahirannya?

41.   Pria 1: Mantap, Lik. Coba ceritakan, gimana sih rasanya tinggal di kota. Pasti banyak kendaraan-kendaraan besar.

42.   Pria 2: Dengar-dengar ada mobil terbang ya?

43.   Lelaki lain: Siji-siji sulung. Makene sing bingung arep nyauti.[14]

44.   Lelaki muda: HP-nya siapa yang bilang di kota ada mobil terbang?

45.   Pria 2: (menunjuk pria 3) Dia. Kemarin dikirim ke aku.

46.   Lelaki muda: Memang ada. Tapi tidak di Indonesia. Masih di luar negeri. Negeri ini masih sibuk mengenyangkan diri sendiri.

47.   Lelaki lain: Saking kenyangnya, bansos cuma dapat sekilo beras.

48.   Pria 1: Minyak sebotol.

49.   Pria 2: Sama ikan asin.

50.   Lelaki lain: Pantes, kamu bau ikan asin.

51.   Pria 3: Kurang ajar kamu.

52.   Lelaki muda: Pantas, minim kemajuan. Oh iya, ada acara ya minggu depan?

53.   Lelaki lain: Iya, di rumahnya kepala desa sebelah. Anaknya yang cantik menikah. Akan ada pesta besar-besaran.

54.   Lelaki muda: Aku boleh ikut?

55.   Pria 1: Eh, kamu?

56.   Pria 2: Mau ikut?

57.   Lelaki lain: Lah, kalian ini ndak tahu? Dia anggota teater. Kami banyak mengobrol kemarin

58.   Pria 1: Ha? Di mana?

59.   Pria 2: Di sekolahmu ada janger?

60.   Lelaki muda: Sebenarnya aku mulai tertarik sejak duduk di bangku SMA, hanya saja aku masih malu. Apalagi dengan pendapat teman-teman dan orang-orang sekitar. Akan tetapi, saat di kota aku menemukan banyak orang sepertiku yang punya tujuan sama.

61.   Pria 1: Jadi, kamu mau ikut kita?

62.   Lelaki muda: Iya. Aku selalu melihat bahwa pertunjukan ini hanya dipandang sebelah mata. Orang-orang kesenian selalu dianggap remeh. Mereka hidup sebagai remahan di masyarakat, terutama pertunjukan janger. Padahal, ini adalah sebuah budaya. Tanpa pertunjukan ini pun, mereka akan kesepian. Akan tetapi, mereka tidak pernah memikirkan hidup orang-orang di dalamnya yang lebih sepi dan sunyi.

63.   Pria 1: Benar kamu.

64.   Pria 2: Mau bagaimana lagi? Memang kenyataannya seperti ini. Kalau tidak ada tanggapan[15] ya kami harus cari pekerjaan lain. Ndak bisa untuk bergantung di sini.

65.   Lelaki muda: Aku tidak bilang agar kalian menggantungkan hidup di sini. Akan tetapi, tidak elok juga kiranya jika pertunjukan ini tidak dihargai. Aku punya banyak teman dengan jurusan teater. Mereka selalu bilang, kalau di sekitarnya orang-orang akan mengolok-oloknya. Mau jadi apa? Mau main ludruk? Mau main janger? Padahal sepi mereka di malam-malam lain selalu ditemani. Kalau memang mau main ludruk atau janger apa salahnya?

66.   Pria 2: Tidak semudah itu untuk menyamakan pendapat.

67.   Lelaki lain: Ya, makanya dia datang untuk ikut meneruskan pertunjukan ini.

68.   Lelaki muda: Mungkin tak banyak yang bisa aku lakukan. Tapi aku tidak ingin membiarkan omongan siapa pun merusak tekadku.

Keempat lelaki itu kemudian sunyi. Semuanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Suara yang terdengar hanya api terus melalap rokok-rokok mereka. Lampu redup, kemudian padam.

ADEGAN 3

[sunting]

CAST:

Lelaki muda

Bapak

Ibu

Lampu terang. Panggung berisi meja dan kursi serta beberapa perabot lain. Menunjukkan bahwa latarnya berada di ruang tamu kecil. Bapak sedang menonton Youtube dengan menggunakan kacamatanya. Sementara emak menjahit beberapa baju yang berlubang. Berkali-kali emak berusaha memasukkan benang ke dalam jarum, tetapi gagal. Dia meminta tolong pada bapak, tetapi tidak dihiraukan. Kemudian, anaknya keluar dari sebuah kamar.

69.   Ibu: Eh, mau ke mana? Emak minta tolong masukin benang ini dulu.

Lelaki muda itu menghentikan langkahnya dan membantu ibunya memasukkan benang.

70.   Lelaki muda: Biasa, Mak.

71.   Bapak: Terusno. Terusno (HP diletakkan di meja, sekarang fokus pada anaknya).

72.   Ibu: Eman, eman, hang dieman-eman. Eman, eman, hang dieman-eman. Sing weruho sing keneng dieman.[16] (dinyanyikan sesuai nada lagu “Sing Duwe Isin” karya Catur Arum).

73.   Bapak: Diem dulu, Dik!

74.   Lelaki muda: Apuwa[17] sih, Pak?[18]

75.   Ibu: Eman, eman, hang dieman-eman. Eman, eman, hang dieman-eman. Sing weruho sing keneng dieman.

76.   Bapak: Dik! (membentak ibu agar berhenti bernyanyi).

77.   Lelaki muda: Isun kepingin nguri-nguri kebudhayaan, Pak, Mak.[19]

78.   Bapak: Budaya, bahaya, bahaya, budaya. Budaya bisa bahaya. Kamu tidak tahu apa-apa.

79.   Ibu: Eman, eman, hang dieman-eman—

80.   Bapak: Dik! (membentak istrinya lagi, kali ini dia berhenti bernyanyi). Bapak nyekolahin kamu sampai setengah sawah terjual habis. Tiap bulan bapak ngirim uang ke kamu.  Kepala jadi kaki, kaki jadi kepala, jungkir balik buat kamu. Bapak ingin ngeliat kamu jadi sarjana. Sarjana dengan pekerjaan. Pekerjaan dengan gaji yang tinggi. Bukan ke sana kemari menggelandang begini. Berangkat malam, pulang pagi. Mau jadi apa kamu ini?

81.   Lelaki muda: Aku masih berusaha, Pak. Aku belum dapat panggilan sama sekali. Aku masih berusaha menghubungi rekan-rekanku. Berangkat malam, pulang pagi itu juga untuk menyiapkan pertunjukan.

82.   Ibu: Kenapa kamu ini bisa ikut janger-jangeran tidak jelas? Pasti gara-gara temanmu itu. Membawa pengaruh buruk. Makanya, emak ngelarang kamu buat temenan sama dia dari dulu. Terbukti sekarang.

83.   Lelaki muda: Aku suka kesenian, Mak. Di kampus aku juga ikut kegiatan teater.

84.   Bapak: Oalah. Jadi bapak ngirimin uang buat anak yang main janger-jangeran.

85.   Lelaki muda: Janger itu bukan seperti yang kalian pikirkan.

86.   Bapak: Terus? Seperti apa yang kamu pikirkan? Kamu ndak liat temen-temenmu yang bergantung di pertunjukan janger itu? Bisa makan apa mereka? Kalau hari ini tidak ada yang mengundang, besok mereka tidak makan. Kalau besok tidak ada undangan, lusa mereka kelaparan.

87.   Lelaki muda: Ya kan tidak sepenuhnya bergantung pada janger itu, Pak.

88.   Bapak: Ini lho, seharusnya kamu seperti yang ada di HP. Kalau memang suka kesenian. Nyanyi Inggris, biar keren.

89.   Lelaki muda: Biar apa? Tempat sendiri ndak dirawat kok malah ngerawat tempat orang.

90.   Ibu: Apa yang kamu harapkan dari pertunjukan itu? Imbalannya tidak setimpal dengan tenaga yang kamu keluarkan. Gara-gara pertunjukan itu, pamanmu juga kehilangan nyawanya.

91.   Lelaki muda: Paman meninggal bukan karena janger.

92.   Ibu: Sebab janger!

93.   Lelaki muda: Sakit, Mak!

94.   Ibu: Sebab janger!

95.   Lelaki muda: Sakit, Mak!

96.   Bapak: Disantet! Pamanmu itu terlalu tampan, terlalu laris di kalangan janger. Banyak yang tidak suka. Akhirnya apa? Hilang, ‘kan nyawanya.

97.   Lelaki muda: Berarti kan ada dampak positifnya?

98.   Ibu: Ngawur!

99.   Lelaki muda: Tapi, paman tampan kan? Laris kan?

100.  Bapak: Ndak gitu, Lik. Kamu di kota kebanyakan makan apa? Kenapa pulang-pulang ndak makin pinter, malah semakin terbelakang.

101.  Ibu: Kamu tahu kan maksud bapak sama emak? Apa kamu ini sebenarnya tidak paham?

102.  Lelaki muda: Iya, Mak, Pak. Tetapi aku punya alasan lain.

103.  Bapak: Alasan apa? Kebacut rika ikai![20]

104.  Ibu: Pokoknya apak sama emak ndak ngizinin kamu untuk ngurus pertunjukan itu lagi. Sarjana hukum harus duduk di pengadilan. Bukan sanggar janger.

105.  Bapak: Iya, betul. Jangan egois kamu.

106.  Lelaki muda: Siapa yang sebenarnya egois di sini? Aku atau apak sama emak?

107.  Bapak: Kamu berani ngelawan ya sekarang?

108.  Ibu: Jangan durhaka kamu!

109.  Bapak: Didikan kota memang seperti ini. Lebih baik kamu di desa saja dari dulu, tidak usah sok-sokan kuliah-kuliah. Mikul uyah![21] (Bapak ambruk. Dia memegangi dadanya yang sakit).

110.  Ibu: Kang! Kenapa, Kang? Kang!

111.  Lelaki muda: Pak! Pak! Apak apuwa Mak?

112.  Ibu: Ini semua gara-gara kamu!

113. Lelaki muda: Lho, kenapa bisa aku?

114. Ibu: Bapakmu ini jelas-jelas disantet.

115. Lelaki muda: Ha? Bagaimana mungkin?

116. Ibu: Ya iya, kan kamu yang ngeyel ikut janger itu. Pasti ini ada yang ndak suka sama kamu. Terus nyerang bapak.

117. Lelaki muda: Ndak mungkin, Mak.

118. Ibu: Apanya yang ndak mungkin? Pak! Bangun, Pak!

119. Lelaki muda: Biar aku telepon dokter.

120. Ibu: Jangan! Kita panggil dukun saja.

121. Lelaki muda: Ha? Bapak butuh dokter.

122. Ibu: Ini gara-gara kamu. Bapak disantet.

123. Lelaki muda: Bapak sakit, Mak!

124. Ibu: Disantet!

125. Lelaki muda: Sakit, Mak!

126. Ibu: Disantet!

127. Lelaki muda: Sakit, Mak!

128. Ibu: Santet!

129. Lelaki muda: Sakit, Mak! Bapak sakit! Sakit jiwa! Sakit pikir! Sakit budaya! Sakit adat! Sakit negeri ini!

Lampu padam.

Kota Tembakau, 28 April 2024


Catatan Kaki

[sunting]

[1] Lik: penggalan Thulik (sebutan untuk anak laki-laki di Banyuwangi).

[2] Lama sekali, ya.

[3] Man: panggilan Paman.

[4] Ungkapan terkejut atau terkagum-kagum. “Wah!” dalam bahasa Indonesia.

[5] Wah, kebetulan sekali.

[6] Sayang sekali.

[7] Gimana maksudnya?

[8] Menjijikkan.

[9] Ya tidak, Lik.

[10] Sebuah pertunjukan lakon khas Banyuwangi yang memadukan drama, komedi, musik, dan tari.

[11] Kopi saja, Lik.

[12] Wah, masih ingat dengan bahasa Using, ya.

[13] Bukan kacang lupa kulitnya.

[14] Satu-satu dulu. Biar tidak bingung kalau menjawab.

[15] Undangan pertunjukan.

[16] Sayang, sayang, yang disayang-sayang. Sayang, sayang, yang disayang-sayang. Tak disangka tak bisa disayang.

[17] Kenapa sih, Pak?

[19] Aku ingin melestarikan kebudayaan, Mak, Pak.

[20] Keterlaluan kamu ini.

[21] Memikul garam.