Lompat ke isi

Emansipasi Amerika Selatan/Bab 35

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

BAB XXXV.

MUSIBAH DI ICA.

1821—1822.

Setelah kepulangan ekspedisi dari Callao, La Serna memindahkan markas besarnya ke Cuzco, meninggalkan sekelompok pasukannya di belakangnya di lembah Jauja, di bawah naungan Canterac. Ia memperkuat garisun Puno, Arequipa, dan Tacna, dan mempercayakan pertahanan pesisir selatan kepada pasukan Peru Hulu.

Canterac mengerahkan dua pasukan ringan di bawah naungan Loriga melawan Pasco, kala pemberontakan masih terjadi di bawah naungan Otero, yang memiliki 200 pasukan reguler dengannya dan 5.000 Indian. Kala kedatangan Loriga, Otero berkirab untuk menyerangnya, dan menjatuhkannya secara mendadak, pada awal pagi 7 Desember, di desa El Cerro, tempat Royalis terhenti untuk mengumpulkan suplai. Pada persimpangan, sebagian amunisi diledakkan, dan pasukan dalam kegelapan terjerat dengan kepanikan, namun Loriga terus mengkirab mereka, menduduki gereja dan beberapa rumah sekitar, dan menunggu sampai siang, kala ia berbalih menyerang Patriot, dan sepenuhnya mengerahkan mereka, menewaskan 700 Indian.

Di Peru Hulu, kepala gerilya, menghimpun dirinya di pegunungan antara Cochabamba dan La Paz. Di Potosí, pemberontakan pecah di kalangan pasukan, yang disulut oleh Jenderal Maroto.

Indian dari Cangallo dan Huamanga kembali mengangkat senjata; namun kota Cangallo dibakar oleh Carratala, dan Waliraja mengeluarkan dekrit yang melarang upaya apapun untuk membangunnya kembali. Pemerintah peru mendirikan monumen untuk mengenang kota malang tersebut, dan Buenos Ayres membuat Cangallo menjadi salah satu nama jalan utamanya, sebagai catatan terakhir dari perbuatan barbar tersebut.

Namun, peristiwa tersebut tak memiliki dampak pada perang itu sendiri, Cordillera membentuk pembatas antara pasukan lawan yang tak ada dari mereka yang dapat lintasi. Royalis masih kalah jumlah dengan Patriot, dua banding satu, namun wilayah yang diduduki oleh mereka, yang terbentang dari pasco sampai garis depan Argentina, sangat luas, yang membuat mereka kini menjadi kuat.

Bolivar berada pada kirab melawan Quito; keberhasilan akan memperkenankannya untuk membantu San Martin untuk meremukkan pasukan Royalis di Peru, namun tak ada aliansi selaras yang memungkinkan dengan Bolívar sampai seluruh bangsa baru sepakat pada sebuah bentuk pemerintahan umum, dan wilayah tak didiami Guayaquil, yang diklaim sebagai provinsi oleh Columbia dan Peru, terancam menimbulkan pergesekan di antara mereka.

San Martin menyatakan kedaruratan. Ia mengirim kontingen 1.500 pasukan dari Peru untuk membantu Bolivar dalam operasi-operasinya melawan Quito, dan sehingga mengamankan kesuksesannya. Kemudian, menetap di satu sisi gagasan monarkialnya, ia, pada 27 Desember 1821, mengeluarkan dekrit yang menyatakan Kongres:—

"Untuk mendirikan bentuk pemerintahan definitif, dan untuk memberikan negara dengan konstitusi terbaik yang mengadaptasikannya."

Pada saat yang sama, ia melantik Marquis Torre-Tagle menjadi Wakil Pelindung, sementara ia sendiri datang ke Guayaquil dengan harapan menerima wawancara dengan Bolívar.

Tak penulis untuk meninggalkan La Serna tanpa disentuh sementara ia mengaransemen rencana dengan Pembebas Utara untuk tindakan terpadu dan desisif, ia mengerahkan Jenderal Tristan dan Kolonel Gamarra, keduanya orang Peru, dengan 2.000 pasukan, untuk menduduki lembah Ica, dan menyebarkan laporan palsu bahwa Arenales nyaris kembali dengan ekspedisi lainnya ke Dataran Tinggi. La Serna juga diberitahukan untuk mentegangkan dirinya soal laporan, dan memahami juga kualitas dua Patriot kini dalam komando di Ica.

Pada awal April, Canterac, dengan 2.000 pasukan dan tiga meriam, berkirab dari Jauja, dan Valdés dengan 500 pasukan dari Arequipa. Pasukan Patriot mengevakuasi Ica atas kesepakatan mereka, namun penarikan diri mereka pada malam hari dicampurtangankan, mereka terlempar dalam musibah dan terpencar-pencar. Royalis menahan lebih dari 1.000 orang, termasuk lima puluh perwira, merebut empat meriam dan dua bendera, dan kembali dalam kemenangan, setelah menembak pada setiap lima perwira batalion Numancia, yang mereka jadikan tahanan.

Tristan dan Gamarra diadili oleh pengadilan militer, dan menunjukkan ketidakkompetenan untuk komando semacam itu; namun kesalahan utama musibah tersebut jatuh pada San Martin sendiri, yang mengangkat mereka.

Kekalahan tersebut dalam beberapa tindakan mengkompensasi bulan berikutnya dengan kejatuhan Quito, yang menangguhkan prang di Utara, dan San Martin tak dapat mendampaki rencana wawancaranya dengan Bolívar, yang tak datang ke Guayaquil kala diharapkan, kala ia kembali ke Lima meninggalkan pemerintahan sipil di tangan Torre-Tagle, dan mencurahkan perhatiannya secara khusus kepada tentara. Ia mengeluarkan proklamasi yang ia janjikan pada rakyat Peru bahwa perang harus dilakukan pada tahun 1822, yang kemudian terjadi, dan pada 4 Juli emnandatangani perjanjian sementara dengan Columbia.

Pada saat yang sama, ia mengajukan bantuan kepada Pemerintah Chili, dan kepada para gubernur berbagai provinsi Argentina, yang berbatasan dengan pinggir timur Andes, yang kini menjadi negara-negara merdeka de facto, sebuah dorongan untuk menyatukan seluruh Amerika Spanyol dalam satu upaya besar untuk meremukkan perjuangan Royalis di kekuatan terakhirnya, Dataran Tinggi Peru.

Dengan masih mendambakan gagasan yang ia keluarkan di Punchauca dan Miraflores, ia juga menulis kepada La Serna, mencetuskan penghentian pertikaian, atas dasar pengakuan kemerdekaan Peru. Untuk itu, Waliraja kembali menjawab, "Namun untuk memanfaatkan kemerdekaan yang dapat diberikan ke Peru, ini hanya dapat diharapkan untuk atau dihimpun oleh dekrit negara (Spanyol)."

San Martin juga menulis pada dampak yang sama kepada Bolívar, namun mendapati bahwa gagasannya tak sepenuhnya selaras. Dan menulis kepada O'Higgins mencetuskan ekspedisi AL ke pesisir Spanyol.

Namun, Torre-Tagle menjadi kepala nominal pemerintahan sipil, penguasa sebenarnya adalah Menterinya, Monteagudo, seorang musuh tak terelakkan dari seluruh Spanyol, yang berpikir bahwa cara sebenarnya untuk menang adalah membuat perjuangan salah satu ras. Pada 31 Desember, ia mengeluarkan dekrit, bahwa seluruh Spanyol yang tak dinaturalisasi harus meninggalkan negara tersebut; pada Januari, mereka juga harus menggadaikan separuh harta benda mereka; dan pada Februari, infraksi dekrit tersebut harus mengikatkan pencekalan dan penyitaan. Setelah musibah Ica, dekrit yang masih lebih barbar dikeluarkan, dan sebuah komisi dibuat untuk memberlakukannya.

Dua pasukan besar dari Selatan dan dari utara nyaris bergandengan tangan dalam pengerjaan besar yang mereka berdua lakukan. Mereka merancang perjuangan revolusi dari tepi La Plata, seberang Cordillera, dan meallui Pasifik menuju Peru; ini adalah waktunya untuk mengembalikan perhaitan mereka kepada perjuangannya dari Dataran Utama Spanyol melalui New Granada dan Columbia menuju garis depan Peru di Quito.