Festival Rakyat Jember/Awal mula Festival (awal)
“Uukkhh...” pemuda itu terbangun. Masih terasa sakit semua badannya.
“Kau sudah baikkan?” seorang pak tua membantu mendudukkannya “Kau boleh tidur dulu jika masih sakit”
“Aku di mana?” ia melihat sekeliling.
“Maaf jika rumahku tidak nyaman, apalagi dipan bambuku” kakek itu mengambilkan air minum.
Pemuda belasan tahun ini minum. Agak terburu-buru dari tiga detik menghabiskan minumannya. “Hah... bagaimana aku bisa di sini?”
“Maaf jika aku tidak tahu apa masalahmu, Anak muda” ia meletakkan gelas di sebelah dipan “Aku hanya menemukanmu terkapar. Mungkin tidak lama sejak kejadian yang menimpamu. Kau mungkin beruntung, Anak muda. Kau ingat sesuatu?”
Pertanyaan tersebut tiba-tiba memanggil seluruh memori dari kepalanya. Dengan celana hijau gelap dan gelang kain yang berasal dari kaos lengan panjangnya, mata pemuda mulai merekah lebar. Dimulai dari pergulatannya dengan seorang pria tua lainnya. Begitu hampir mengimbangi, datang bantuan yang membuat pemuda ini kalah jumlah. Tidak hanya kalah teknik, jurus-jurus mereka jauh lebih kuat dari miliknya.
“Aku... kalah telak” pemuda itu tertunduk.
“Menurutku belum” kakek ini memperhatikan. Pemuda itu belum paham maksudnya. “Selama kau masih ada di sini dan kau tidak kubiarkan tergeletak di sana, kau masih belum kalah, Anak muda”
Pemuda menggeleng kepala. Tidak mau percaya.
“Terserah apa maumu saja” kakek itu berdiri “Aku tidak menerima jasa penginapan di sini”
Ia tahu maksud tuan rumah. Meski susah payah, ia berjalan menuju pintu keluar. “Terima kasih. Aku akan mengingat pertolonganmu”
“Yang kau lawan itu adalah para pemimpin Festival” jelas kakek. Pemuda itu terhenti di mulut pintu, ingin mendengarkan kelanjutannya. “Orang pertama yang kau lawan adalah pemimpin Festival Darat. Jelas sekali dari luka yang kau terima. Dua orang lainnya, tepatnya wanita, adalah pemimpin Festival Laut dan Langit”
“Bagaimana kau tahu?!”
“Aku memilih tidak berurusan dengan mereka. Karena aku tahu aku tidak punya kekuatan untuk melawan” ia menoleh ke arah pemuda yang masih berdiri di pintu “Aku terkesan dengan keberanianmu melawan mereka”
“Lalu?”
“Aku menawarkan bantuan. Umur orang tua ini sudah tidak sepertimu lagi, Anak muda” ia mengangkat tangannya “Itu pun jika kau berminat”
Pemuda itu melihat perawakan kakek ini mulai ujung kepala sampai kakinya. Ia ragu, namun apa yang telah mereka lakukan kepadanya membuat pemuda ini bertekad untuk balas dendam.
Ia menghampiri pria tua. “Baiklah” pemuda itu menjabat tangannya “Maaf jika aku kurang tata krama. Kau bisa memanggilku Jeri”
“Panggil saja aku Kyai” kakek ini mencoba tersenyum “Maaf juga jika penampilanku tidak sesuai”
Mereka berdua mengangguk. Kesepakatan telah disetujui. Namun, tidak ada yang tahu bagaimana akhir dari dua laki-laki beda generasi ini.