Gawai Kugenggam, Dunia Temaram
Sinopsis
[sunting]Tono adalah seorang anak berprestasi dan riang, hingga suatu hari dia mendapatkan hadiah kejutan. Kehidupannya berubah setelah dia menggunakan hadiah tersebut bukan untuk hal yang seharusnya.

Lakon
[sunting]- Tono
- Siti
- Bapak
- Mas Robi
Lokasi
[sunting]Kelurahan Bantarsoka, Purwokerto Barat, Jawa Tengah.
Cerita Pendek
[sunting]Hadiah Kejutan
[sunting]Suasana sore di lapangan kelurahan Bantarsoka yang terletak di provinsi Jawa Tengah memang selalu ingar-bingar. Anak-anak dan orang tua dari berbagai rentang usia berkumpul dengan wajah ceria. Nampak beberapa balita berlarian mengejar satu sama lain yang disusul gelegak tawa orang tua mereka. Di sisi lain lapangan, sekelompok anak sekolah dasar sedang sibuk bermain engklek sembari menyeimbangkan tubuh mereka agar tidak jatuh. Sedangkan lapangan utama dipakai bermain sepak bola.
“Ayo, cepat putar balik, Ton!” teriak Siti, teman sekelas Tono yang hampir tiap hari mengajak bermain.
“Ini posisinya susah loh,” keluh Tono mengernyitkan dahinya.
Tono adalah anak kelas 6 SD warga asli Bantarsoka yang bisa dibilang cukup berprestasi. Dia selalu mendapatkan posisi satu di sekolahnya. Hampir setiap mata pelajaran, dapat dia kuasai dengan baik. Dengan kulit sawo matang, rambut hitam kemerahan dan gigi yang putih bersih membuat penampilan Tono tampak menggemaskan. Dia memang dikenal sebagai anak yang riang dan gemar bergaul dengan siapa pun. Tidak heran jika hampir semua orang di desa mengenalnya.
Semakin larut dalam kegembiraan, hari semakin petang. Anak-anak balita mulai beranjak pulang dengan digendong ibu mereka. Terdengar panggilan ibadat berkumandang, Tono pun berpamitan kepada teman-temannya untuk pulang.
“Besok main lagi ya. Aku tadi hampir menang,” oceh Siti sembari melambaikan tangan tanda salam perpisahan kepada Tono.
Dalam sekejap lapangan yang semula ramai berhamburan, kini telah hening tanpa orang. Tono berjalan sambil melompat-lompat kecil dengan sandal jepit warna birunya. Sesampainya di rumah, Tono langsung mengambil handuk dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak lupa dia beribadat dengan bapak serta ibunya dan disusul mengemas buku pelajaran untuk esok harinya.
“Ton, bapak punya sesuatu buat kamu,” kata Pak Toni yang memiliki kumis tebal. Kedua tangannya bersembunyi di balik punggung.
“Ih bapak bikin kaget,” balas Tono yang sedang fokus merapikan tasnya. “Bapak punya apa memang pak?” tanya Tono penasaran.
“Coba Tono tutup mata dulu,” pinta bapak.
Tono pun menutup matanya menggunakan kedua telapak tangannya. Bapak kemudian mengulurkan tangan ke depan wajah Tono yang tertutup. Ada sesuatu di genggaman tangan beliau. Mendengar perintah bapak untuk membuka mata, Tono pun menurunkan kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya dan matanya membelalak lebar.
“Ini buat Tono pak?” tanya Tono seakan tak percaya.
“Iya, sebentar lagi kan Tono mau SMP. Katanya zaman sekarang belajarnya sudah mulai digital. Jadi bapak belikan ini buat kamu.”
Tono mengambil benda yang ternyata adalah ponsel pintar model terbaru. Dia masih tak percaya bahwa di usianya yang beranjak 11 tahun itu, sudah mendapatkan ponsel pertamanya. Bisa terlihat jelas senyum Tono yang begitu lebar. Senyum bahagia karena mendapatkan hadiah yang tak disangka-sangka.
“Makasih pak!” Tono memeluk perut buncit bapaknya dengan erat.
“Iya. Dijaga baik-baik ya. Pakai yang sewajarnya,” pesan sang bapak.
“Tono izin ke rumah mas Robi sebentar ya pak. Minta tolong dipasangkan aplikasi yang diperlukan.” Tono berpamitan setelah bapak mengangguk dengan senyuman.
Mas Robi adalah tetangga depan rumah Tono yang kini sedang mengenyam pendidikan sekolah kejuruan berbasis teknologi. Maka dari itu bisa dibilang mas Robi lebih tahu banyak tentang ponsel, selain itu juga rumahnya memiliki jaringan internet. Setelah mengucapkan salam di depan pintu rumah, Tono pun disambut oleh mas Robi dan dipersilakan duduk di kursi teras depan. Tanpa basa-basi, Tono langsung mengutarakan tujuannya malam itu dan meminta arahan dari mas Robi untuk menggunakan ponsel barunya.
“Mau dipasangkan permainan Ton? Buat hiburan waktu bosan?” tanya mas Robi.
“Lah memang ponselnya cukup mas?”
“Ya bisa lah! Nih gim yang lagi laris sekarang. Nanti aku ajari cara mainnya.”
“Wah terima kasih banyak, mas!” kata Tono dengan girang.
Tono dan mas Robi tampak asik memandang layar gawai masing-masing karena memainkan gim daring bersama. Sesekali terdengar tawa meriah yang menghiasi teras rumah malam itu. Tono memandang waktu di layar ponselnya yang menunjukkan waktu pukul delapan malam dan menyadari bahwa hari sudah cukup malam karena dia harus beristirahat supaya tenaganya pulih untuk sekolah esok. Tono mengetuk pintu tiga kali memanggil mas Robi untuk berpamitan, dan disahut oleh si pemilik rumah yang sepertinya sedang berada di dapur.
Sesampainya di rumah, Tono langsung menuju kamar mandi untuk menggosok gigi dan membasuh kaki. Selesai membersihkan diri, Tono menuju ke kamar dan mematikan lampu utama yang menyala terang, digantikan oleh lampu remang berwarna kuning yang selalu menemani tidurnya tiap malam. Dia memandang sejenak layar ponselnya dengan senyum lebar. Terbesit dalam hatinya ingin memainkan barang sebentar gim baru yang dia dapatkan.
Tono pun akhirnya tergoda dan mulai memiringkan gawainya. Malam itu terasa asyik sekali. Tanpa sadar, dia telah menghabiskan waktu dua jam memandangi layar ponsel yang kali ini muncul tanda notifikasi bahwa baterainya mulai lemah. Tono pun meletakkan kepala yang sudah mulai berat ke atas bantal dan memejamkan mata. Malam berlalu dengan singkat bagaikan usia hidup lalat capung.
Tono dan Gawainya
[sunting]Fajar menyingsing, menandakan hari sudah pagi. Tono tersentak kaget dibangunkan oleh ibunya yang suaranya sedikit meninggi karena khawatir putranya terlambat menimba ilmu. Bergegas, dia pun segera menuju kamar mandi untuk berbilas dan memakan menu sarapan.
“Kamu kok bangunnya kesiangan?” tanya bapak memandang tingkah laku anaknya yang gugup.
“Iya pak, lupa pasang alarm. Tono pamit berangkat sekolah ya, pak, bu.” Tono bergantian mencium tangan bapak dan ibunya dengan tergesa-gesa dan pergi meninggalkan rumahnya sambil sedikit berlari.
Dalam perjalanan menuju ke sekolah, Tono berjumpa dengan Siti, sahabatnya sejak kecil yang sudah sampai di depan gerbang sekolah.
“Kamu kok tumben baru berangkat? Biasanya pasti paling cepat,” tanya Siti sembari melangkah di samping Tono menuju ruang kelas.
“Iya nih, habis lembur. Ngantuk banget rasanya.”
Hari itu Tono tak seperti biasanya. Dia nampak tidak fokus dan sesekali kepalanya tertunduk karena mengantuk. Bahkan dia tak mampu menjawab pertanyaan yang dilontarkan guru. Padahal biasanya dia yang paling cepat mengangkat tangan. Betapa terkejutnya Tono waktu pelajaran bahasa Indonesia karena ada ujian mingguan hari itu. Semalam, Tono sama sekali belum belajar untuk menyiapkan ujian ini.
Waktu mulai menunjukkan pukul 13.00 tanda berakhirnya jam sekolah. Tono kembali dikejutkan karena nilai ujian bahasa Indonesianya di bawah rata-rata. Sang guru pun sampai heran karena baru kali ini Tono mendapat nilai seperti itu.
“Ton, nanti sore kita main sepak tekong yuk. Aku ajak Rani, Dio sama Joni biar tambah rame ya!” ajak Siti kepada Tono dalam perjalanan pulang ke rumah.
“Aduh liat nanti ya? Aku ada janji sama mas Robi.”
“Mas Robi? Emang mau ngapain?” tanya Siti penasaran dengan dahi berkerut.
“Hehehe. Aku belum cerita kalo punya ponsel baru ya?” dia tersenyum mengejek.
“Hah yang bener? Kamu udah dibeliin ponsel?”
“Sebentar lagi kita kan mau SMP. Kata bapak nanti pasti butuh.” Jawab Tono penuh semangat. “Aku pulang dulu ya, mau makan siang.” Tono pun masuk ke rumah dengan melambaikan tangan kepada Siti.
Dahi Siti tampak mengernyit memandang Tono masuk ke rumah. Dia hampir tak percaya apa yang didengar tadi. Baru kali ini sahabat dekatnya seolah menghindar dan berusaha menolak ajakannya. Dengan geleng-geleng kepala, Siti pun berjalan dengan lesu menuju rumah.
Sesampainya di kamar, Tono langsung mengambil gawai yang tergeletak di atas meja dan menyalakannya. Bagaikan memiliki dunia sendiri, kedua bola mata Tono tak bisa lepas dari layar gawai. Waktu berlalu begitu saja sampai-sampai dia lupa untuk mandi sore karena terdengar suara ibunya memanggil dari luar kamar. Namun Tono mengacuhkan dan masih terfokus pada benda yang digenggam kedua tangannya itu. Terdengar suara ketukan pintu dan kepala bapak muncul dari luar menengok keadaan anaknya.
“Lho, bapak kira kamu lagi tidur. Kok ternyata lagi mainan. Tadi Siti ke sini nyamper kamu, bapak bilang lagi tidur.”
“Oh iya pak? Tono ga dengar, maaf.”
“Ayo bergegas mandi!” perintah bapak.
Tono pun segera meletakkan gawainya, kemudian mandi. Tak seperti biasanya, malam itu Tono tampak lebih diam padahal dia suka bercerita kegiatan di sekolah. Namun kali ini dia enggan karena takut bapaknya marah lantaran dia mendapat nilai jelek di ujian mingguan. Bahkan sebentar lagi akan ada ujian kelulusan untuk jenjang pendidikan selanjutnya. Selesai makan, Tono izin masuk ke kamar untuk belajar.
Sesampainya di kamar dia hanya menyiapkan buku pelajaran untuk sekolah besok kemudian mengambil gawainya kembali. Lagi-lagi dia memainkan ponselnya sampai hampir larut malam. Dan terus berulang di hari-hari berikutnya.
Di sekolah, Tono pun kini tampak lebih pasif dan kurang fokus. Bahkan kini Siti enggan mengajaknya bermain karena sudah berulang kali Tono menolak ajakannya. Tono yang biasanya lebih ceria, kini menjadi pendiam. Senyumnya yang lebar hanya nampak saat dia sedang asyik memainkan gim di gawai pemberian bapaknya. Seorang anak dengan pesona dan kepribadian yang riang, kini berubah 180 derajat.
Hari Penentuan
[sunting]Beberapa Minggu berlalu, hari yang menentukan masa depan pun tiba. Pelaksanaan ujian nasional untuk anak sekolah dasar digelar selama seminggu. Tono yang biasanya nampak percaya diri di setiap ujian, kini wajahnya nampak linglung dan berkeringat. Dia hampir tak memahami soal-soal yang tertuang pada setiap lembaran kertas. Berkali-kali matanya bergantian memandang jam dinding dan pengawas. Urat-urat di sekeliling kepalanya nampak menonjol, menunjukkan bahwa dia sedang tegang. Setelah melewati semua ujian dalam rentang waktu seminggu, akhirnya Tono dan beberapa murid lain sedikit lega. Namun kelulusan masih menunggu di depan mata.
Setelah seminggu berselang, akhirnya hari yang ditunggu pun datang. Nilai hasil ujian akan dibagikan setelah jam istirahat pagi, namun murid-murid yang penasaran bisa melihat pengumuman nilai rata-rata di papan pengumuman. Tono dan beberapa teman-temannya berdesakan berusaha mencari nama masing-masing.
Alangkah terkejutnya Tono mendapati bahwa dia mendapatkan nilai diluar harapan. Baru kali ini dia harus melakukan ujian ulang karena ada dua mata pelajaran yang nilainya di bawah batas lulus. Tono hanya bisa menundukkan kepala. Perasaannya saat ini campur aduk, khawatir orang tuanya akan marah jika mengetahui hasil nilai ujiannya. Dia sangat menyesal bahwa beberapa bulan belakangan ini jarang belajar. Kegiatannya setiap hari hanya memandang layar memainkan gim di gawai pemberian bapaknya, yang seharusnya digunakan untuk membantunya belajar. Hari itu setidaknya Tono mendapat pelajaran berharga bahwa sesuatu yang memiliki nilai positif, akan menjadi hal yang negatif jika digunakan secara berlebihan.
TAMAT.