Lompat ke isi

Gempa Kecil

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Pada hari kereta-kereta berhenti beroperasi, seluruh kota seolah sepakat untuk tidak membicarakannya.

Tak ada pengumuman.

Tak ada yang bertanya.

Tapi Maya, yang baru saja pindah ke apartemen tua bekas toko bunga di atas stasiun, tak bisa mengabaikan keheningan itu.

Lenyap sudah gempa kecil yang biasa datang setiap kali kereta tiba—mengguncang tanah dan mengusir sepi bersama kedatangan kekasih, sahabat, dan kerabat ke kota kecil Teio.

Maya bukan tipe yang sentimental. Bahkan terhadap kampung halamannya sendiri, tempat ia lahir dan dibesarkan dan ketika rumah keluarganya kini harus dirobohkan karena tak ada lagi yang tinggal di sana selain dirinya,dia sudah kehabisan tenaga untuk peduli.

Pemilik toko bunga itu adalah salah satu dari yang terakhir bertahan di kota yang terlelap ini, seorang nenek yang telah menjual bunga sejak pabrik besar pertama kali dibuka.

Tapi kini pabrik itu pun telah tertidur, bersama dengan kawasan permukiman dan pertokoan di sekitarnya.

Menunggu walikota cukup peduli untuk membangunkannya kembali.

Mata Maya terbelalak.

Dia terlambat untuk rapat pagi.

Alarm biasanya sudah hilang bersama kereta—tak ada lagi pengumuman dari peron yang membangunkannya, tak ada lagi guncangan lembut dari kereta seperti nenek yang membangunkan cucunya yang malas bangun.

Blazer abu-abu dilemparkan asal. Rambut diikat tergesa dalam cepol berantakan. Sepatu hak usangnya terayun di kaki yang terburu-buru.

Dan dengan “Aku berangkat,” ia pergi, mengabaikan keheningan dari Nenek toko bunga itu.

Ini adalah bulan terakhirnya sebagai guru SD. Sekolah sudah berhenti menerima siswa karena kekurangan anak-anak, dan Maya Uchida,wali kelas 3-A, masih berlari untuk murid-muridnya.

Kenta. Nara. Shun.

Mereka bertiga adalah alasan ia bangun setiap hari.

Bukan mereka yang memutuskan pindah sekolah.

Tapi orang tua mereka.

“Teio itu jalan buntu.”

“Kenta nggak punya masa depan di sini. Aku ingin dia jadi dokter, sama seperti aku.”

“Nara lebih cocok sekolah swasta di pulau-pulau besar.”

Mengabaikan tawa dari halaman sekolah.

Mengabaikan bola sepak yang selalu Kenta bawa sejak kelas satu.

Mengabaikan bagaimana Shun mulai tertawa lebih sering sejak bermain dengan kedua temannya.

Dan di puncak frustrasinya—

Dunia terbalik.

Dia tersandung lubang jalan di samping rel yang tak terawat.

Rasa sakit yang tumpul merekah.

Namun sesuatu yang lebih dalam turut bangkit bersamanya.

Pasrah.

Maya berbaring sejenak, menatap langit biru yang terus mengejeknya sejak ia berangkat dari toko bunga.

Perlahan, ia duduk. Berkedip sekali. Dua kali.

Hening dari jalanan yang mati.

Kecuali tawa pelan yang keluar dari dirinya sendiri.

“Anak-anak itu akan baik-baik saja,” katanya pada siapa pun yang mau mendengar. “Mereka pintar. Berani.”

Pandangan matanya melirik ke rel di sebelahnya.

Sebuah pikiran aneh muncul.

Ia berdiri, limbung seperti baru bangun dari mimpi dan melangkah ke atas rel.

Tempat kereta dulu biasa melintas.

Tempat yang kini tak lagi menghadirkan kedatangan.

Tak ada lagi hiruk-pikuk.

Tak ada lagi patah hati dan kesepian.

Tak ada lagi dirinya.

Ia berdiri diam di tengah rel.

Dan kemudian.

Dari sudut matanya, sesuatu datang.

Sebuah kereta.

Melaju cepat.

Membawa serta gempa-gempa kecil itu.

Dan ketika ia melihatnya,

Ia tersenyum.