Lompat ke isi

Hustle dan Hutan Empat Musim

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
            HUSTLE DAN HUTAN EMPAT MUSIM


   Hustle sedang marah. Ia kecewa pada ibunya. Tadi sore ibunya berjanji akan membacakan cerita dari buku dongeng yang baru ia beli tadi siang. Padahal Hustle sengaja membeli buku baru dengan seluruh uang tabungannya. Tapi ternyata ibunya mengingkari janjinya. Ia sudah tidur bersama adik bayinya.
   Sekarang buku itu masih terbungkus rapi di atas tempat tidurnya. Hustle menyesal telah membeli buku yang berjudul “Hutan Empat Musim” itu. Buku pop-up yang hanya terdiri dari dua halaman.
   Hustle kemudian merasa terganggu dengan kehadiran adik bayinya. Semenjak Viro lahir, Ibu Hustle tidak memiliki banyak waktu dengan dirinya. Hustle merasa cemburu dengan kedekatan mereka. Hustle merasa disisihkan. Ia merasa tidak disayang. 
   Sebelumnya, sebelum tidur, Ibu sering membacakan dongeng untuk Hustle. Tapi sekarang, ia jarang dibacakan dongeng. Oleh karena itu, ia berusaha menabung dan membeli buku baru agar ibunya kembali mendongeng untuknya. Hustle merindukan ibunya.
   Hustle ingin sekali membaca buku, tapi usianya baru empat tahun dan ia belum bisa membaca huruf. Ia membuka bungkusan bukunya, memandang halaman judulnya, dan bergumam, “Seandainya aku dapat membaca. Tentu aku akan mengerti arti tulisan-tulisan ini.”
   Kemudian ia membuka halaman selanjutnya. Matanya terbelalak. Kamar tidurnya berubah menjadi hutan empat musim. Ia dikelilingi hijau daun yang menyejukkan mata. Tempat tidurnya berubah menjadi hammock dan ia berada di atas pohon. 
   “Wow, buku yang ajaib!” katanya kagum. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ada beruang dan rubah yang sedang tidur di bawah hammocknya. Ada tupai yang duduk di atasnya. Juga ada seekor anjing yang selalu mengibaskan ekornya.

Hustle senang, karena ia tidak lagi sendirian.

   “Apa kau mau mendengarkan aku mendongeng?” 
   “Guk.. guk...” anjing itu mengonggong dan kembali mengibaskan ekornya.
   Ajaib. Hustle bisa membaca. Ia memahami huruf-huruf yang berjajar di sana.
   “Pada suatu hari di Hutan Empat Musim, ada seorang anak yang menanti ibunya,” Hustle mulai membaca cerita. Ia membaca dengan suara lantang. Ia begitu senang.
   “Guk.. guk...” anjing itu kembali menyalak.
   “Ibunya sedang pergi ke desa tetangga untuk menukar kayu bakar menjadi ikan. Anak itu sendirian di rumah. Ia begitu merindukan ibunya. Beruntung ia tinggal di Hutan Empat Musim. Banyak hewan yang tinggal di sana. Ada Bari si beruang, Rubi si rubah, Tupi si tupai, dan sahabat terbaiknya, Gigie.”
   “Jadi namamu Gigie?” Hustle berhenti bercerita dan bertanya pada anjing itu. Gigie kembali menyalak. Hustle tersenyum.
   “Anak itu senang membaca,” Hustle kembali melanjutkan cerita. “Banyak hal yang ia dapatkan dari membaca. Ia sering membacakan dongeng untuk teman-temannya sampai mereka tertidur. Anak itu terus bercerita hingga ibunya pulang.”

Sampai di situ cerita selesai, tapi Hustle tidak mau menutup bukunya. Bari, Rubi, Tupi, dan Gigie sudah tertidur. Hustle pun sudah mulai mengantuk.

   Tiba-tiba Hustle dipeluk ibunya. “Ibu senang, Hustle sekarang sudah bisa membaca,” kata ibunya kemudian ibunya mengecup kening Hustle.
   “Bu, bacakan kembali buku ini,”kata Hustle yang sudah hampir terpejam.
   “Baiklah,” kata ibunya sambil membuka buku itu dan mulai membaca. “Pada suatu hari di Hutan Empat Musim, ada seorang anak yang menanti ibunya...” kemudian Hustle pun bermain dengan Bari, Rubi, Tupi, dan Gigie di dalam mimpinya.
   “Terima kasih, sayang. Sudah menunggu ibu dengan sabar,” kata Ibu Hustle sambil mengecup kening Hustle yang sudah terlelap.
    ****
   Ibu sengaja masih membuka buku itu.
   Enam bulan yang lalu, Hustle masih menjadi anak semata wayangnya. Belum memiliki adik. Saat itu, Hustle belum bisa bicara. Di usianya yang belum genap empat tahun, lidahnya masih kelu untuk mengucap sebuah kata. 
   Ibu Hustle tentu saja sedih. Sebagai karyawan sebuah perusahaan, dia dan Ayah Hustle memang hampir tidak pernah mengajak Hustle berbicara. Sangat disayangkan, Hustle tumbuh menjadi anak yang sendirian.
   Lalu, saat adik Hustle lahir. Ibu Hustle mengundurkan diri dari perusahaan dan mulai bekerja dari rumah. Saat malam ia memiliki waktu untuk membacakan Hustle cerita. Tidak lama. Hanya lima belas menit. Bahkan kadang sebelum cerita berakhir, Hustle sudah tertidur. 

Setiap minggu, Ibu Hustle membeli buku anak atau meminjam buku perpustakaan untuk dibacakan di malam hari. Setelah enam bulan itu, sejak kegiatan membaca di malam hari dilakukan, kosakata Hustle berkembang dengan baik. Ia kini banyak bicara.

   Hustle pun menjadi ketagihan membaca. Ia mulai belajar menabung untuk membeli buku yang ia inginkan.  Tentu saja Ibu Hustle senang. PR besar bagi dirinya hampir selesai. 
   Masih ada lagi PR untuk dirinya, yaitu menjadi orang tua yang baik untuk anak-anaknya. Mungkin suatu hari, saat Hustle sudah bisa membaca, mereka akan membaca bersama. Hustle membaca untuk dirinya, dan Ibu Hustle membaca untuk dirinya juga. Ibu Hustle menantikan saat itu.
   Dikecupnya lagi kening dan pipi Hustle yang gembil. 
   Kini ia tahu, banyak manfaat dari kegiatan membaca. Selain banyaknya kosakata yang dimiliki Hustle, ia juga semakin dekat dengan anak pertamanya ini. Ia tidak lagi canggung dan kehabisan ide untuk berbicara dari hati ke hati. 
   Kemudian Ibu Hustle mematikan lampu dan kembali ke kamarnya.