I Lo’mo Ri Antang: Jejak Abadi di Sulawesi Selatan

Sulawesi Selatan adalah tanah yang kaya akan sejarah, tradisi, dan tokoh-tokoh besar yang membentuk identitas masyarakatnya. Di antara nama-nama besar yang mewarnai perjalanan sejarah daerah ini, I Lo’mo Ri Antang menempati posisi istimewa. Ia bukan hanya dikenal sebagai seorang ulama dan tokoh spiritual, tetapi juga sebagai penjaga warisan budaya dan penggerak perubahan sosial di masa peralihan besar, yakni ketika Islam mulai mengakar kuat di tanah Bugis-Makassar.
Untuk memahami sosok I Lo’mo Ri Antang, kita perlu menempatkannya dalam konteks sejarah Sulawesi Selatan pada abad ke-16 hingga ke-17. Masa ini adalah era transformasi besar-besaran, baik secara politik, ekonomi, maupun agama. Pada masa itu, Sulawesi Selatan terdiri dari sejumlah kerajaan besar seperti Gowa, Bone, dan Luwu. Kerajaan Gowa, bersama Tallo, menjadi kekuatan dominan yang memperluas pengaruhnya ke berbagai wilayah.
Persaingan antara Gowa-Talloq dan Bone kerap memicu konflik, namun juga mendorong kemajuan politik dan militer. Di sisi lain, kehadiran VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) atau Kongsi Dagang Belanda mulai menancapkan kuku kekuasaannya, terutama setelah bersekutu dengan Arung Palakka untuk menaklukkan Gowa. Perjanjian-perjanjian yang dihasilkan mengubah peta kekuasaan dan perdagangan di kawasan ini.
Ekonomi Sulawesi Selatan kala itu bertumpu pada pertanian, terutama padi, dan perdagangan rempah-rempah. Posisi strategis sebagai gerbang ke Kepulauan Maluku menjadikan wilayah ini pusat lalu lintas perdagangan internasional. Perkembangan pertanian intensif dan perdagangan mendorong pertumbuhan penduduk dan munculnya pemukiman-pemukiman baru.
Abad ke-16 dan 17 juga menjadi saksi penting masuk dan berkembangnya Islam di Sulawesi Selatan. Kerajaan Gowa secara resmi memeluk Islam pada awal 1600-an, yang kemudian diikuti oleh kerajaan-kerajaan lain. Proses Islamisasi ini tidak hanya membawa perubahan spiritual, tetapi juga menjadi strategi politik untuk memperkuat aliansi dan kekuasaan. Di tengah perubahan ini, tradisi lokal tetap bertahan dan berbaur dengan ajaran Islam, menciptakan corak budaya yang unik dan dinamis.
Asal-Usul dan Latar Belakang Keluarga I Lo’mo Ri Antang
Sayangnya, sumber-sumber tertulis mengenai detail kelahiran dan silsilah keluarga I Lo’mo Ri Antang sangat terbatas. Namun, dari berbagai catatan dan tradisi lisan, diketahui bahwa ia berasal dari lingkungan yang sangat menghargai pendidikan dan keagamaan. Ia tumbuh di tengah masyarakat yang sedang mengalami pergeseran besar, di mana nilai-nilai Islam mulai meresap ke dalam sendi-sendi kehidupan sosial dan budaya.
Kedekatannya dengan tokoh-tokoh agama seperti Dato’ ri Pangengtungang dan Yusuf menunjukkan bahwa keluarga dan lingkungannya sangat mendukung pendidikan agama. Sejak muda, I Lo’mo Ri Antang telah menempuh perjalanan intelektual dan spiritual, belajar kepada para syekh di berbagai tempat seperti Bulu Saraung, Lanti Mojong, dan Bawakaraeng. Hal ini menandakan bahwa ia dipersiapkan untuk menjadi pemimpin spiritual dan intelektual di tengah masyarakatnya.
Jaringan Ulama dan Proses Islamisasi
I Lo’mo Ri Antang hidup di masa ketika Islam mulai diterima secara luas di Sulawesi Selatan. Proses Islamisasi di wilayah ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui upaya gigih para ulama, bangsawan, dan tokoh masyarakat. Kerajaan Luwu dikenal sebagai salah satu kerajaan pertama yang menerima Islam, diikuti oleh Gowa dan Bone. Para ulama memainkan peran penting dalam mengajarkan ajaran Islam, membangun institusi pendidikan, dan menanamkan nilai-nilai baru di tengah masyarakat.[1]
Sebagai bagian dari jaringan ulama, I Lo’mo Ri Antang berperan aktif dalam proses ini. Ia dikenal sebagai sosok yang tidak hanya mengajarkan agama, tetapi juga mampu menjembatani tradisi lokal dengan ajaran Islam. Hubungannya dengan tokoh-tokoh seperti Dato’ ri Pangengtungang dan Yusuf memperkuat posisinya sebagai penggerak utama dalam penyebaran Islam di Sulawesi Selatan.[2]
Legenda, Kisah Mistis, dan Unsur Supranatural
Seperti banyak tokoh besar dalam sejarah Nusantara, I Lo’mo Ri Antang juga dikelilingi oleh berbagai legenda dan kisah mistis. Dalam tradisi lisan masyarakat Sulawesi Selatan, ia sering digambarkan sebagai sosok yang memiliki kelebihan spiritual dan kemampuan supranatural.
Salah satu cerita yang terkenal adalah Pada tahun 1644, dalam perjalanan menunaikan ibadah haji bersama Syekh Yusuf dengan kapal Melayu, Lo’mo Ri Antang wafat di tengah laut. Karena dikhawatirkan jenazahnya membusuk, tubuhnya kemudian ditenggelamkan. Menurut keajaiban, ketika kapal tiba di Jeddah, Syekh Yusuf menemukan Lo’mo sudah berada di sana selamat tanpa cedera yang membuatnya digelari Hayyun Fiddar (yang hidup di dua tempat) oleh masyarakat Sulawesi Selatan.[3]
Beberapa cerita juga menyebutkan bahwa I Lo’mo Ri Antang mampu melakukan hal-hal luar biasa, seperti menyembuhkan orang sakit, mengetahui hal-hal gaib, dan melindungi masyarakat dari mara bahaya. Kisah-kisah ini berkembang seiring waktu, menjadi bagian dari mitologi lokal yang memperkuat posisi beliau sebagai wali dan tokoh keramat .
Kisah-kisah mistis ini tidak lepas dari proses integrasi antara ajaran Islam dan tradisi lokal. Dalam banyak kasus, tokoh-tokoh penyebar Islam di Nusantara memang sering dikaitkan dengan kemampuan supranatural sebagai bentuk legitimasi spiritual di mata masyarakat. Hal ini juga terjadi pada I Lo’mo Ri Antang, di mana unsur mistis menjadi bagian dari narasi besar tentang dirinya .
Makam dan Tradisi Ziarah
Makam I Lo’mo Ri Antang berlokasi di Jalan Antang Raya, Kecamatan Manggala, Makassar, Sulawesi Selatan. Di kompleks makam ini terdapat dua pusara utama: I Lo’mo dan istrinya (I Daeng) serta makam pendamping yaitu Bongga Kanangna yang dikenal sebagai asisten atau ajudan sang ulama besar.
Struktur makam tercat putih, berbentuk segi delapan dengan lantai tegel hijau, dikelilingi pohon besar dan tanaman pandan yang sering digunakan sebagai simbol nazar pengunjung. Rutin diadakan tradisi Kitta' Ati atau pembacaan Kitab Hati selama 1–7 Suro, sebagai warisan spiritual lisan yang diyakini turun-temurun.
Sekitar 200 meter dari makam, terdapat sumur tua keramat bernama Bungung Lompoa Ri Antang. Sumur ini diyakini muncul atas doa dan izin Tuhan melalui I Lo’mo. Meskipun hanya setinggi ember dan dangkal, airnya tidak pernah kering sepanjang tahun, bahkan saat musim kemarau panjang. Ini menjadikannya simbol berkah bagi masyarakat setempat. Sumur ini kini masih digunakan oleh penduduk sekitar untuk mandi, mencuci, dan mengambil air wudu karena diyakini membawa keberkahan. Setiap musim pemilihan legislatif, lokasi ini juga ramai dikunjungi oleh calon legislatif yang hendak mencari berkah.
Daftar Pustaka
[sunting]- ↑ https://portalcelebes.com/sejarah-sang-tokoh-ulama-lomo-ri-antang/#:~:text=Makassar%20Portalcelebes,kepada%20seseorang%20yang%20sangat%20paham
- ↑ https://portalcelebes.com/sejarah-sang-tokoh-ulama-lomo-ri-antang/#:~:text=Makassar%20Portalcelebes,kepada%20seseorang%20yang%20sangat%20paham
- ↑ https://putraindonews.com/nusantara/jejak-i-lomo-ri-antang-sebagai-pembaharu-masyarakat-antang-makassar/