Lompat ke isi

Ibet Penari Pampaga

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Lamin tempat menari

Bunyi bambu beradu menjadi irama yang harmoni. Kaki-kaki lincah berayun dengan gerak rancak menjejak lantai ulin lamin. Ibet gadis remaja itu menjadi salah satu penari tarian Pampaga. Tarian ini menjadi satu di antara 6 jenis tarian yang disuguhkan kepada pengunjung Lamin Etam rumah adat Dayak di desa budaya Pampang. Tarian ini menggambar upaya mengusir burung-burung pemakan padi di sawah. Kayu yang dimainkan di antara kaki-kaki yang lincah menghindar melambangkan perangkap yang dipasang untuk menjepit leher burung pipit yang kerap memakan bulir-bulir padi. Ritual Pampaga kerap dilakukan oleh Suku Dayak Kenyah sebelum panen tiba.

Ibet, satu dari 6 gadis yang menarikan tarian Pampaga. Tarian ini dimainkan dengan alat semacam galah yang terbuat dari bambu. Empat orang memegang bambu dan menggerakkannya hingga mengeluarkan irama. Dua sisanya akan bergerak diantara bambu-bambu itu. Semakin lama, irama bambu semakin cepat, sehingga gadis yang bergerak diantaranya harus semakin lincah tariannya. Jika tidak, maka kaki mereka akan terjepit bambu.

Usai menarikan Pampaga, Ibet duduk di sudut Lamin, menyusut keringat yang masih terus mengalir. Siang yang terik seperti biasa. Samarinda kalau tidak hujan ya panas terik seperti ini. Pertunjukan tarian di Lamin Besar dimulai dari pukul 14.00 Wita sampai selesai. Biasanya Pampaga menjadi pertunjukan kelima dari rangkaian tarian yang disajikan kepada pengunjung rumah adat tiap akhir pekan.

Ibet merasakan lelah yang luar biasa. Sejak Lamin direnovasi dan pertunjukan tarian ditiadakan untuk sementara, Ibet merasakan hari Minggu menjadi hari yang menyenangkan. Usai renovasi, rutinitas menarik membuatnya bosan. Kali ini ia berjanji dalam hati, pekan depan tidak ada lagi Pampaga dalam hidupnya.

“Aku bosan, “bisiknya pelan.

Minggu siang ini berbeda, sayup terdengar lagu Oh Adingkoh dari Lamin. Tak lama lagi lagu itu akan berganti lengkingan Sampek, musik khas Dayak Kenyah yang menjadi pengiring tarian-tarian yang disajikan untuk menghibur pengunjung Lamin Besar di desa budaya Pampang.

Ibet hanya bisa memandang Lamin dari jauh. Penampilannya sebulan lalu benar-benar menjadi yang terakhir.

“Terus, kamu mau berhenti? “ tanya Novi sahabat baiknya.

“Iya. Kamu tahu nggak rasanya melakukan sesuatu yang kamu tidak lagi merasakan ruhmu ada di situ. “