Lompat ke isi

Ikat Rambut

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Gerah.

Kata itulah yang pertama kali muncul di benaknya saat ia terbangun dengan rambut yang berantakan ke mana-mana. Bola matanya seketika menelusuri ke segala arah tempat tidurnya, mencari sesuatu.

Perasaan tadi malam kusimpan di sini, deh, batinnya.

Gadis itu menyugar rambutnya yang sudah lebih kering dari semalam, saat ia memutuskan untuk keramas. Berharap bisa mengurangi gerah yang dirasakannya. Cuaca akhir-akhir ini memang lagi panas-panasnya, sekali pun di pagi hari.

“Gak usah diikat dulu deh,” pikirnya dengan kesal saat tak juga menemukan apa yang sedang dibutuhkannya.

Ia sebenarnya bukan tipe gadis yang sering mengikat rambutnya setiap waktu—ia lebih suka mengaitkannya dengan jeday. Namun, ikat rambut lebih mampu mencegah rambutnya mencuat ke mana-mana saat ia harus memakai jilbabnya, seperti hari ini.

Ia bergegas beranjak. Mencoba melupakan insiden 'kehilangan ikat rambutnya' pagi ini.

Hari-hari berlalu, waktu semakin berjalan ke depan. Ia mulai membiasakan diri dengan hidup tanpa ikat rambut. Bahkan ia mulai lupa, apakah ikat rambut itu benar-benar diperlukannya.

Kehilangan sesuatu memang tak jarang membuat kita malah memperoleh dua hal:

1. Mengenal apa yang sebenarnya benar-benar kita butuhkan. 2. Mengetahui bahwa ternyata, hidup kita akan terus berjalan, meskipun kita telah kehilangan sesuatu. Dan kita bisa baik-baik saja dengan hal itu.

Pagi ini berjalan seperti biasa, ia akan terbangun 10 menit lebih awal dari jam alarmnya yang berbunyi pada pukul 04.00 pagi. Merenggangkan badan sebentar sembari membaca doa bangun tidur, ia mencoba mengumpulkan kesadaran. Setelah dirasa kantuknya lebih berkurang, ia beranjak dari kasur dan langsung menghidupkan lampu. Ruangan kamar bercat merah muda dengan luas minimalis itu seketika terang benderang. Diambilnya sapu lidi kecil, dan dikibaskannya ke permukaan kasur.

Tiba-tiba, kibasannya mengenai sesuatu. Terlempar cukup jauh dari arahnya berdiri saat itu. Ia berjalan meraihya. Saat menyadari apa yang ditemukannya, ia tertegun. Sudut bibirnya perlahan naik ke atas. “Satu pelajaran berharga pagi ini,” bisiknya lirih dengan perasaan yang menghangat.


Apa yang menjadi milikmu, akan tetap jadi milikmu. Apa yang ditakdirkan untukmu akan selalu punya jalannya sendiri untuk menemukanmu. Maka tak perlu meratapi apa yang telah hilang, diambil, atau pergi darimu. Hiduplah seperti biasa. Sebab yakinilah, bahwa takdir selalu akan memulangkan sesuatu yang sedari awal memang diciptakan hanya untuk kita.