Lompat ke isi

Jam Kota Ardenthal

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Jam Kota Ardenthal

[sunting]

Di jantung kota Ardenthal, berdiri Menara Kronos. Jam raksasa yang tak pernah berhenti berdetak sejak dibangun oleh para Chronomancer, penyihir waktu yang kini tinggal legenda. Kota ini hidup dari uap dan roda gigi, dari kereta udara yang melayang di atas rel magnetik, dan dari lentera-lentera minyak eterik yang menyala dengan nyala biru sihir.

Namun, waktu di Ardenthal mulai retak.

Jam Menara Kronos tiba-tibas berhenti. Detik terakhirnya menggema seperti lonceng kematian. Mesin-mesin mulai rusak, sihir menjadi liar, dan langit berubah warna menjadi merah tembaga.

Di Tengah kekacauan, seorang mekanik muda bernama Mordecai menemukan jurnal tua milik mendiang kakeknya yang merupakan seorang Chronomancer terakhir yang dibuang dan diasingkan oleh Kementerian Chronomancer Ardenthal karena menolak menyatu dengan teknologi. Di dalam jurnal itu tertulis dengan gaya tulisan ala Era Victorian.“Waktu bukan hanya roda gigi. Ia adalah makhluk. Dan ia sedang marah”

Mordecai, dengan tangan yang dilumuri oleh minyak dan pikirannya penuh teka-teki, membangun jam jiwa, sejenis mesin yang mampu berkomunikasi dengan entitas waktu. Ia mencampurkan sihir darah, logam kuno, dan kristal eter untuk menciptakan semacam perangkat yang bisa ’memohon’ kepada entitas waktu agar kembali mengalir seperti biasanya. Namun, waktu menuntut harga.

Dimana Mordecai harus mengorbankan satu kenangan paling berharga baginya agar jam kembali berdetak seperti semula lagi. Yakni kenangan tentang ibunya, satu-satunya pelukan hangat yang tersisa dalam hidupnya.

Saat jam Kronos kembali berdetak, kota Ardenthal pada akhirnya hidup kembali. Tapi Mordecai berdiri di bawah bayangan menara jam seorang diri, merasa ada sesuatu yang hilang dan kosong di dalam benak hatinya. Ia nggak tahu apa yang hilang dan kosong. Hanya ingatannya saja yang terasa begitu samar, sekaligus sunyi.

Dan waktu pun kembali tersenyum lagi, seumur hidup.