Lompat ke isi

Jambret

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Jambret

“Arrgh!” Ratna berteriak ketika melihat jarum jam menunjuk angka tujuh lebih sepuluh menit. Semalam, ia harus menyelesaikan bahan presentasi hingga larut. Buru-buru ia mandi dan berdandan seadanya. Namun ia lupa memasukkan dompetnya ke dalam tas. Sampai di dalam angkot, Ratna baru sadar bahwa dompetnya tidak ada.

“Ahh, sial!” Ratna mengeluh. Untungnya, ia menemukan selembar uang sepuluh ribuan di kantong blazernya. Jarak dari rumah ke kantornya tidak begitu jauh, sehingga Ratna tidak perlu menghabiskan banyak uang untuk bergonta-ganti angkot. Meskipun, ia harus menahan lapar karena tidak ada uang untuk membeli makan siang..

“Ratna! Laporan insentif dua bulan lalu tolong buat rekapnya! Lalu berikan kepada saya,” ujar Bu Mita, atasan langsungnya.

“Baik, Bu!” jawab Ratna. Padahal hari itu ia harus menyelesaikan grafik sales 2013 selama satu tahun.

“Ratna! Undangan rapat dewan direksi sudah disebarkan?” Pak Djony datang menghampirinya. Beliau adalah Direktur Marketing.

“Sudah, Pak!” jawab Ratna tegas.

“Tapi katanya, Direktur PPIC belum terima? Rapatnya tiga hari lagi loh,” Pak Djony terlihat gusar. Suaranya meninggi.

“Saya sudah sampaikan ke sekretarisnya, Pak!” Ratna membela diri.

“Langsung?”

“Kemarin sih, lewat stafnya di bagian administrasi, karena sekretarisnya sedang tidak ada di tempat, Pak,” ujar Ratna merendah.

“Tolong kamu telusuri. Saya nggak mau ada yang tidak datang dalam rapat penting nanti,” Pak Djony berkata datar. Lalu tanpa berbicara banyak, langsung melangkah ke ruangannya.

---

Hari ini sangat melelahkan bagi Ratna. Perutnya terasa perih. Pun tugas menuntutnya untuk selalu kerja ekstra cepat. Pulang tepat waktu pun tidak pernah bisa dilakukannya.

Malam itu, pukul delapan, Ratna baru bisa keluar dari kantor. Uang di kantongnya tersisa lima ribu rupiah. Ratna merasa sangat lapar. Kebetulan ia membawa uang yang cukup besar. Uang itu baru saja diambilnya dari bagian keuangan untuk keperluan penjilidan materi meeting. Ia berpikir bisa memakainya dulu untuk membeli sebungkus pecel lele di warung depan jalan.

Ratna berjalan lenggang dengan tas kerja di pundaknya. Kantornya tidak berada di tepi jalan raya. Ia harus berjalan dulu sejauh 500 meter untuk menemukan angkot. Atau naik ojek agar bisa lebih cepat.  Namun saat itu uangnya tidak mendukungnya untuk menyewa ojek.

Saat berjalan tepat di tepi trotoar, sebuah motor memepetnya. Pengendara belakang menendangnya sambil menarik tas dari tangan Ratna dengan cepat. Ia belum begitu sadar apa yang terjadi pada dirinya. Yang ia tahu, tubuhnya terhempas di trotoar dan menghantam pembatas. Setelah sadar apa yang terjadi, Ratna berteriak, “Jambret! Jambret!”

Namun sayang, kedua pengendara itu telah menjauh. Ratna pasrah pada nasibnya yang sial hari ini.

---

Di kantor polisi Ratna menjelaskan seluruh kejadian yang menimpanya. Pelipisnya masih berdarah. Punggung tangannya lecet. Di belakangnya salah satu pelaku yang menjambret tasnya terlihat babak belur, sedangkan yang lain sedang dalam perawatan di rumah sakit.

Tadi, setelah ia berteriak, beberapa orang membantu mengejar pelaku. Namun, pelaku yang mengendarai motornya dalam kecepatan tinggi tak bisa menghindari lubang besar di jalan. Akhinya sang pembonceng terhempas, lalu tertabrak motor yang tengah mengejarnya. Sedangkan satu orang yang berada di depan, habis dihakimi tukang ojek di ujung jalan.