Jangan Ragu Berbuat Baik
Sinopsis
[sunting]Adi, Timmy dan Satya, kisah keseharian kakak beradik bersama Ibunya yang selalu memberi pembelajaran tentang kehidupan. “Nyadran” ke Jogja dari Bandung.
Lakon
[sunting]- Mamah
- Adi
- Timmy
- Satya
Lokasi
[sunting]Perjalanan di Stasiun kereta api Bandung pada tahun 1997 menuju Yogyakarta[1]
Cerita Pendek
[sunting]Perjalan hidup untuk jadi pelajaran.
[sunting]Pada waktu liburan berkunjung ke Yogyakarta[1].
Peristiwa ini terjadi pada tahun 1997. Sebelum bulan puasa, biasanya kami ke Yogya[1] untuk acara “Nyadran[2]” (Ziarah Kubur). Saya berangkat dengan kedua anak saya Timmy dan Satya, waktu itu mereka masih SMP dan SD.
Dengan rencana naik Kereta Api, kami berangkat diantar oleh Adi. Barang bawaan saat itu cukup banyak. Anak saya Adi paling ringan tangan, semua barang akan dia bantu bawakan.
Tetapi adik-adiknya harus saya bagi tugas, mereka juga harus membantu sesuai dengan umurnya.
Sesampainya di stasiun KA sekitar pukul 7 pagi, sebelum naik kereta, anak saya Timmy berkata.
“Beli bento dulu mah, untuk sarapan di kereta”. Ucapnya.
“Oh Boleh. Sana beli. Nanti kamu nyusul ke gerbong 2 no 9 yah”. Sahut saya kembali.
“Iya mah” Ucap Timmy sambil mengangguk.
Barang bawaan Timmy dan Satya langsung mau di serahkan ke Adi. Kakaknya secara otomatis.
“Oke sini di gabung”. Walaupun barang bawaan Adi saat itu sudah banyak.
Saya yang tidak sengaja juga menyaksikan langsung merespon.
“Sudah bawa masing-masing saja sambil beli Bento sana, itu kan bawaanya juga ringan”. Melanjutkan menuju gerbong.
Singkat cerita Timmy dan Satya sudah beli Bentonya dan mereka sudah duduk di kereta, tidak lama dari itu kereta mulai berjalan. Perjalanan baru berlangsung sebentar, saya berfikir.
“Wah nanti saya disangka lebih sayang dengan Adi dari pada Timmy dan Satya, karena tadi Adi saja sudah mau bawakan barang, kenapa saya tidak perbolehkan”.
Akhirnya saya tanya kepada Timmy dan Satya.
“Kamu tau ngga kenapa tadi mama tidak mengijinkan barang-barang kamu di bawa mas Adi?”
“Gatau mah”. Ucap Timmy dan Satya
“Ingin tau?. Mau tau ngga?”. Pancing saya, agar mereka mau mendengarkan alasanya
“Gapapa ko mah”. Ucap Timmy.
“Iya, tapi kamu pengen tau ga kenapa alasanya?”. Pancing saya.
“Iya mah mau tau.” Kembali ucap Satya
“Begini. Kalau tadi mas Adi yang bawa semua barang-barangnya, pahalanya untuk mas Adi semua. Makanya mumpung Mama masih bisa membagi, jangan semua diambil mas Adi. Kamu juga harus kebagian pahalanya”. Sembari diam sejenak, lalu saya melanjutkan.
“Kamu nanti besar sudah sama-sama lulus sekolah. Nanti akan punya pekerjaanya masing-masing. Mas Adi akan gampang untuk mencari dan menerima pekerjaan karena pahalanya banyak. Kalau nanti kamu sulit mama sudah tidak bisa membatu lagi”.
“Makanya karena mama sayang sama kamu, dari sekarang mama sudah membagi-bagi pahala agar kalian berkah kedepanya”. Ucap saya agar mudah dimengerti anak-anak saya.
“Oohh begitu ya mah, Terimakasih ya mah”. Ucap Timmy dan Satya.
“Oh yaa”. Sembari mengagguk dan membelai Timmy dan Satya.
Setelah sampai di Jogja saat menurunkan koper-koper. Saya juga mau membantu. dengan sigap Timmy dan Satya langsung berkata
“Sudah mah biar Timmy dan Satya yang menurunkan, Mamah santai saja” “Ogitu, Trims yaa”. Senyum saya.
Untuk kedepanya. Alhamdulillah anak-anak saya sudah tidak usah di suruh-suruh lagi. Semua berlomba-lomba mencari pahala, saya mengambil hikmah dan pelajaran dari peristiwa ini.
“Semua anak pada dasarnya mau enak sendiri. Kewajiban orangtua adalah untuk mengarahkan. Yang penting tepat waktunya, sehingga anak tersebut mengerti”.
Semoga Allah SWT selalu memberikan petunjuk dan bimbingannya untuk kita semua. Aamiin YRA
TAMAT