Janji Terlanggar
Sebuah kilatan cahaya muncul di tempat terpencil di sudut gedung bertingkat dua. Tempat yang sunyi dari keramaian dan disanalah tangisan seorang anak laki-laki tangguh, tersungkur di atas tanah tempatnya duduk, memukul-mukul tanah sambil menyalahkan dirinya. Di sampingnya hanya tersisa satu teman yang berusaha kuat, namun ia tak bisa menguatkan diri lagi dan air matanya tumpah walau tak dibersamai oleh suara. Bulan itu sama; sama bulat dan benderangnya dengan waktu tiga sekawan itu pertama kalinya meloncati ruang dan waktu, membawa misi penting menyelamatkan sang guru.
“Dia bohong ham, katanya dia akan kembali dengan kita kesini. Mana dia? kenapa dia malah menyelamatkan kita. Aku tidak mau diselamatkan. Aku ingin kita kembali kesini, bertiga” Randy meremas tanah dan berkali-kali memukulkan tangannya, beberapa kali Ilham merangkul temannya itu, mengelus menyabarkan dia dari kesedihan. Mereka ditinggalkan teman terbaiknya.
Tak ada nisan untuk dikunjungi dan tak ada tanda duka dari keluarga dekat. Iya tinggal sendiri. Mereka ingat “Jangan terlalu sedih saat kita berpisah, toh kita nanti di kuburan pun akan sendiri. Biasa saja”. Ilham tahu Deri temannya itu tak bermaksud melanggar janjinya. Tapi kondisi mencekam saat itu, memaksa Deri lebih memilih menyelamatkan kedua teman berharganya daripada mereka bertiga jatuh dari tebing landai. Peristiwa yang tak ada dalam daftar petualangan mereka; kematian dan ditinggalkan.