Lompat ke isi

Jawaban Untuk Permintaan Kala Itu

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

“Ini merupakan tulisan sederhana, yang ditulis ditengah ke-hectic-kan rapat program kerja pertama, tugas uas yang datang beruntun serta waktu yang rasanya selalu kurang, ditambah jam makan dan jam tidurku yang berantakan bahkan seringkali dirangkap bersamaan, tepat ditengah lautan barang-barangku yang berserakan tak sempat aku rapikan."

“Dek mau kemana?” Seorang perempuan dengan rambut gelombang diatas bahu itu menyapaku. Ternotice melihat kehadiranku didepan gerbang keluar kos sore itu. Aku segera menatapnya, buru-buru aku menjawab cepat, seiring sadar aku waktu sudah hampir maghrib. “Mau kedepan kak, nyari makan dulu, laper betul”. Ia menatapku penuh penasaran, sedikit rasa khawatir tergambar dari ujung sorot matanya. “Oh iya? Sekarang banget? Hati-hati ya, apa mau aku temenin?” Itu pertanyaan yang terlontar untuk membayar rasa tatap khawatir dari sorot matanya. Aku segera menggeleng, ah, hanya didepan, tidak jauh, ini bukan masalah besar, aku bisa sendiri kok, batinku. “Oke, hati-hati ya, bentar lagi maghrib kabarin kalo ada apa-apa”.

Aku bergegas pulang, tak memperhatikan sekitar. Yang ada dibenakku hanya satu, pulang dan kekamar Kak Mia. Sesampainya di kos, ruang tengah sedang ramai, semua berkumpul. Aku sedikit mengurungkan niatku pergi kekamar Kak Mia, aku memutuskan untuk kekamar. Melihat aku yang berjalan sempoyongan dan sedikit masam air muka, ia segera bertanya. “Dek, kenapa?” Nada khawatir terdengar jelas dari suaranya. Tak bisa tertahan, air mataku berderai deras berjatuhan, tak tertampung. Aku menangis didalam pelukannya, mengadukan semua yang terjadi hari itu.

Benar saja semua yang ia khawatirkan sebelumnya, benar saja, pasti akan ada hal yang terjadi. Ia menyesal karena mengurungkan niatnya membuntuti-ku saat akan pergi tadi sebelum maghrib. "Kalau saja tadi aku jadi ikutin kamu, kayanya ga bakal separah ini deh nangisnya." Aku masih tertegun dalam isak tangis. Tak pernah disangka hal besar itu akan terjadi. Sebuah ledakan besar terjadi di depan saat aku melintas. Itu tiang listrik yang disambar petir. Hampir saja mengenaiku.

Teringat sudah dengan semua doa-doa ku sebelumnya, agar dapat dilindungi dari marabahaya. Setelah sedikit tenang, aku menceritakan semuanya kepada Kak Mia dan teman-teman disana.

Ternyata, doa itu sangat penting. Meski berbeda waktunya, aku yakin, ini adalah jawaban untuk permintaanku kala itu.