Jelajah Langkah/Dari Beda Jadi Bersama
Satu per satu wajah baru yang menyandang predikat siswa baru berdatangan menanti giliran pengecekan barang bawaan di aula asrama yang akan dilakukan oleh para kakak pendamping kamar yang sekaligus akan menjadi teman belajar kita nantinya. Semua berkumpul dan saling beradu tatap menelusuri tiap pasang mata, satu demi satu orang, barangkali ada yang dikenal. Ternyata, usaha tersebut percuma, karena setelah 15 menit berlalu tidak satupun ada yang dikenalnya.
Tiba giliran pemeriksaan barang bawaan, tampak cukup menegangkan, meskipun harusnya tidak perlu merasa demikian, karena sebuah hal yang dilakukan pertama kali seringnya tak lepas dari evaluasi. Begitu juga, dengan dirinya saat itu, ternyata beberapa barang yang dibawanya tidak masuk dalam ketentuan. Alhasil, dia harus siap merelakan barang itu kini kembali pulang, ya benar, benda itu adalah celana jeans. Sebuah barang yang kerap kali gemar ia kenakan. Kini, harapan memakai celana jeans terlampau sirna. Harapannya pupus. Pasalnya, celana tersebut tidak masuk dalam ketentuan pakaian yang bisa dikenakan oleh siswa di asrama tersebut, tata tertib di sana memang mengharuskan mahasiswanya memakai celana berbahan kain yang tidak terlalu ketat. Mau tidak mau beberapa celana yang telah dibawanya, harus dipulangkan ke almari kamarnya di rumah.
Kesedihan terhadap celana mari kita sudahi saja sampai di sini, karena hal - hal menyenangkan sedang menanti untuk dihadapi, salah satunya adalah berjumpa dengan banyak teman yang datang dari seluruh penjuru negeri, datang merantau untuk menimba ilmu di tempat yang sama, dan beberapa juga datang dari teman warlok alias warga lokal.
Saat usai pemeriksaan barang bawaan, setiap siswa mendapatkan kunci kamar masing-masing. Tibalah waktu akan tiba pertama kalinya bertemu teman kamar yang akan menemaninya selama satu tahun ke depan.
Kunci kamar telah berada di tangannya, kini dia berjalan menuju kamar sesuai nomor yang tertulis di gantungan kunci kamar tersebut, angka 12 tampak jelas di sana. Rupanya tak terasa dia telah berada di depan pintu kamar yang dimaksud itu, dia membuka dengan penuh rasa menggebu semangat sekaligus bercampur aduk kepanikan walau sedikit. Benar saja, dia panik karena ini akan menjadi pengalaman pertama dalam hidupnya harus tinggal di asrama, sungguh tidak pernah terbayangkan sama sekali olehnya sebelumnya, tiba-tiba pergi jauh merantau menimba ilmu di kota orang, tanpa satu pun orang yang telah dikenalnya, lalu kian satu kamar bersama teman sebayanya yang belum pernah dia kenal sebelumnya terlebih tiba-tiba 9 orang sekaligus hidup bersama dalam satu ruangan yang tidak terlalu sempit maupun juga tidak terlalu luas, berbagi cerita, berbagi pengalaman, berbagi banyak hal hingga makan bersama berbagi lauk satu dengan yang lainnya. Sungguh baginya ini adalah hal yang asing namun justru kini akan sering ia rasakan selama satu tahun ke depan di asrama.