Lompat ke isi

Jelajah Langkah/Langkah Laskar Pelangi

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Deru angin meraung-raung saat kami keluar, rupanya pesawat menurunkan penumpang di jalan beraspal yang cukup jauh dari pintu bandara. Bandara Hanandjoeddin, bandara kecil pikirku, tak seperti Bandara Juanda yang biasa menyambut penumpang dengan lorong ber-AC. Di sekililing aspal bandara terhampar lahan berkapur yang jarang-jarang. Sesampai di dalam bandara, kami mengambil koper yang butuh waktu tak lama. Di pintu luar, kami juga tak menunggu lama untuk dijemput warga lokal yang menyewakan mobil pribadinya untuk wisatawan. Hal biasa yang ditawarkan warga lokal kepada wisatawan untuk menghemat ongkos wara-wiri daripada menggunakan mobil dari aplikasi daring. Kami mengantar pemilik ke rumahnya, sebelum kami menggunakan mobil tersebut untuk berkeliling pulau ini. Tak dibekali STNK dan prosedur rumit lain seperti foto selfie atau setor KTP dan KK, atau buku nikah. Kami sudah bisa membawa mobilnya bersafari.

Di pantai Tanjung Tinggi.

Berjejer warung-warung lauk ikan laut dengan nuansa cat biru saat kami memarkirkan mobil tak jauh dari pantai. Semilir angin menyapa telinga dengan jernih bak menggunakan airpods ternama, penuh bass, tanpa bising kerumunan orang-orang, jetsky, atau kapal pesiar mewah. Ombak yang melipir seakan menjadi batas kaki melangkah. Dia meraih tangan kananku, menunjuk batu besar yang terdampar di ujung timur.

bersambung...